Partner In . . .

Partner In . . .
Na Thur 40



London.


Pagi ini Millie entah ada angin apa atau hidayah dari mana, Millie bangun pagi-pagi sekali untuk membuatkan sarapan untuk dirinya dan Esar.


Memangnya Millie sudah bisa masak? Jawabannya, sudah. Tapi hanya bisa menghasilkan masakan dengan satu rasa, rasa ingin muntah.


Millie turun dari ranjang dan berjalan perlahan melewati Esar yang tidur disofa. Ya, tadi malam Esar dan Millie kembali adu bacot karena Esar menghabiskan setengah botol parfume Millie. Padahal Millie sendiri yang menyuruh Esar untuk memakai parfume Millie jika ingin berdekatan dengan Millie, tapi begitu tahu parfume-nya habis setengah botol Millie mengamuk tak jelas, adu bacot pun tak terelakkan dan ujung-ujungnya Esar harus pasrah tidur di sofa.


Tak lama setelah Millie keluar dari kamar, Esar pun membuka matanya. Sebenarnya saat Millie berjalan mengendap-endap keluar kamar, Esar sudah bangun tapi ia pura-pura tidur.


Esar mengambil ponselnya untuk melihat jam yang ada di ponselnya.


"Masih jam lima." Lirih Esar saat melihat jam yang ada di layar ponselnya.


"Mau bikin apa tuh Nyai jam segini bangun." Guman Esar.


Tak lama...


Kumprang.. kumprang.. kumprang. Bunyi alat masak yang berjatuhan.


"Millie!!" Pekik Esar saat mendengar suara itu.


Panik takut terjadi apa-apa dengan Millie, Esar pun langsung beranjak dari sofa dan berlari keluar dari kamar lalu turun kelantai bawah.


Sesampainya di lantai bawah, ia langsung kedapur karena hanya lampu dapur yang menyala di lantai bawah.


"Loe ngapain Mil?" Tanya Esar sesampainya di dapur.


Millie yang sedang serius mengukur tingkat kebesaran api kompor sontak menoleh kearah Esar.


"Loh kok udah bangun?" Millie malah bertanya.


"Ya bangun lah, orang gue kaget denger suara panci berjatuhan! Gue kirain loe kenapa-kenapa!" Jawab Esar.


"Loe mau ngapain sih?" Tanya Esar lagi sambil berjalan mendekati Millie.


Esar pun tak jadi melanjutkan langkah kakinya.


"Gue mau masak!" Ucap Millie.


"Masak? Loe mau masak makanannya siapa?Mimo?" Mimo adalah nama anjing poodle yang baru dua bulan lalu mereka adopsi.


"Enak aja!! Ya makanan kita lah!!" Balas Millie terima.


Mata Esar yang setengah ngantuk langsung membulat sebesar-besarnya. Otaknya langsung teringat akan rasa masakan Millie yang pernah beberapa kali Millie masak untuk mereka.


"Gak usah Mill, gak usah repot-repot!! Mending kita pesen aja atau nanti sebelum ke kampus, kita singgah sarapan dulu di kafetaria di bawah."


"Gak, gue gak repot kok! Kan ini demi kebaikan loe juga. Habisnya gue gak tega ngeliat loe selalu terpaksa makan-makanan di luar." Ucap Millie.


"Tapi gue lebih tertekan batin lagi kalau harus makan masakan loe Mil!!!" Jerit Esar dalam hati.


"Siapa bilang gue kepaksa!! Gak kok!! Gue udah mulai terbiasa kok sama makan makanan di luar!" Balas Esar.


"Pokoknya gue tetep mau masak buat loe! Udah loe diem aja, jangan bawel! Gue akan buat loe terkesima dengan masakan gue!" Balas Millie.


"Mending loe tidur lagi aja deh, gue grogi kalau di liatin, nanti hasil masakan gue gak enak lagi gara-gara loe liatin!" Usir Millie.


"Cih!!! Tanpa gue liatin juga udah yakin masakan loe gak bakal enak!" Dumel Esar dalam hati.


"Udah sana pergi!!" Usir Millie lagi.


"Iya, iya bawel!!" Balas Esar.


Esar pun pergi dari ruang makan yang berdekatan dengan dapur itu menuju ruang tengah. Sambil menunggu Millie selesai menghasilkan eksperimen yang akan membuat perutnya mual dan mulas, Esar memilih untuk tidur lagi, ya hitung-hitung sekalian mengumpulkan tenaga sebelum dirinya keracunan makanan karena masakan Millie.


Bersambung...