
Dua puluh menit kemudian.
Ceklek. Pintu kamar mandi terbuka.
Nancy keluar dari dalam kamar mandi dengan menggunakan bathrobe dan handuk kecil yang menggulung kepalanya.
Sontak Arthur menoleh ke arah pintu kamar mandi.
Melihat penampilan Nancy yang seperti itu, Arthur menelan salivanya susah payah.
Jiwa lelakinya meronta-ronta dan ingin segera mengguncang ranjang dengan Nancy.
Tapi, sekali lagi rasa insecure kembali merasuki pikiran Arthur.
"Kok bengong!! Sana mandi!!" Ucap Nancy.
Arthur pun mengangkat bokongnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Tak sampai sepuluh menit Arthur pun selesai mandi. Sebelum keluar dari dalam kamar mandi, Arthur menatap pantulan tubuhnya di cermin.
"Abang Jago, mari kita tempur!!" Ucap Arthur pada Abang Jago-nya.
Arthur pun memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu, tapi baru dirinya memegang handle pintu, ide licik terlintas di kepala Arthur.
Arthur kembali berjalan menuju wastafel, lalu membuka handuk dan membasahi handuk itu sebagian.
Dengan handuk yang sengaja ia basahkan, Arthur kembali berjalan mendekati pintu kamar mandi.
Ceklek. Arthur membuka pintu kamar mandi sedikit.
"Cy.. Nancy..." teriak Arthur.
"Apa sih teriak-teriak!!" Jawab Nancy.
"Ambilin handuk dong."
"Kan ada handuk disitu."
"Basah Cy, jatuh tadi."
"Kenapa bisa di jatuhin sih!! Kayak anak kecil aja!!" Dumel Nancy.
"Gak usah ngomel Cy, cepetan!! Dingin nih."
"Iya.. iya!!" Nancy pun berjalan menuju lemari kecil tempat penyimpanan handuk hotel.
Sedangkan di dalam kamar mandi, Arthur cekikikan sendiri.
"Bukan kayak anak kecil Cy, tapi trik untuk bikin anak kecil." Gumam Arthur.
"Ini bathrobe-nya." Kata Nancy. Ia tak berdiri tepat di depan pintu, melainkan agak kepinggir sedikit.
Tangan Arthur pun menjulur dari balik pintu.
"Mana." Tanya Arthur karena tangannya tak sampai menggapai bathrobe yang Nancy berikan.
Nancy pun sedikit maju agara bathrobe itu sampai di tangan Arthur.
Dapat, bathrobe pun sudah berada ditangan Arthur sekarang.
"Eh.. Cy, ini handuk basahnya, jemur sekalian di balkon." Kata Arthur.
"Ya udah mana cepet." Jawab Nancy.
Arthur pun mengeluarkan handuk itu dari balik pintu.
"Ini.." kata Arthur.
Nancy pun mengambil handuk itu dari tangan Arthur, tapi tanpa Nancy sangka-sangka, Arthur malah menahan tangannya dan membuka pintu lebar-lebar lalu menarik tangan Nancy hingga Nancy masuk ke dalam kamar mandi.
"Aaargh... apa-apaan sih loe!!" Teriak Nancy sambil menutup matanya karena Arthur kini dalam keadaan polos.
"Gak usah di tutup gitu dong matanya, ini semua tuh punya loe Cy!!" Balas Arthur.
"Tau akh!! Minggir loe, gue mau keluar!!"
Tapi Arthur tak menghiraukan kata-kata Nancy. Ia malah berjalan mendekati Nancy dan menggendong Nancy lalu berjalan menuju wastafel.
"Astaga Thur!! Loe mau ngapain?! Jangan macem-macem!!" Protes Nancy.
"Emangnya salah kalau gue macem-macemin istri sendiri?" Balas Arthur sambil menarik tangan Nancy yang menutupi wajahnya lalu menahan kedua tangan itu agar tidak bisa menutup wajah-nya lagi.
"Buka mata loe Cy!" Perintah Arthur.
"Gak mau!! Loe pake dulu bathrobe loe, baru gue buka mata!" Balas Nancy.
"Kenapa harus di pake Cy, kalau ujung-ujungnya dia akan teronggok di lantai." Balas Arthur.
"Gue pengen lanjutin yang tadi sempat terjeda karena suara perut loe Cy." Bisik Arthur di telinga Nancy.
Mendengar itu, Nancy menelan salivanya susah payah.
Tak perlu menunggu persetujuan dari Nancy, Arthur langsung menarik tengkuk Nancy dan mendaratkan bibirnya di bibir Nancy.
Bersambung...