Partner In . . .

Partner In . . .
Bab 43



Tiiin.... Tiiiin... Bunyi klakson mobil tepat di depan halte bus disaat kunyahan bibir Esar dan Millie sedang panas-panasnya.


Sontak Esar dan Millie melepas tautan bibir mereka.


"Masih mau disini atau pulang?!" Teriak Arthur.


Ya kubu ketiga itu tak lain dan tak bukan adalah Arthur dan Nancy.


FLASHBACK ON.


Begitu panggilannya dengan Esar berakhir, Arthur cepat-cepat keluar dari dalam unit apartemennya dan berjalan ke unit apartemen Nancy.


Arthur menekan tombol apartemen Millie dengan tidak sabaran.


Ceklek. Nancy yang baru selesai mandi membuka pintu unit apartemen dengan masih menggunakan bathrobe dan handuk yang melilit di kepalanya.


"Kenapa? Kok kayak orang kesurupan gitu loe?" Tanya Nancy dengan ekspresi yang biasa saja.


Tapi tidak dengan Arthur. Ia malah salah fokus dengan belahan dada bathrobe Nancy yang sedikit terbuka. Dan memperlihatkan sedikit gumpalan bakpao rasa susu milik Nancy.


Melihat mata Arthur menatap ke arah lain, Nancy pun mengikuti kemana arah mata Arthur.


"Mesuuuuum!!!" Teriak Nancy sambil merapatkan belahan bathrobenya.


BRAAAK. Nancy langsung menutup pintu apartemen dengan kasar.


Ting Tong Ting Tong. Arthur menekan bel berulang-ulang agar Nancy kembali membuka pintu apartemennya.


"Apa? Mesum!!" Bentak Nancy dari layar monitor.


"Buka Cy, ada yang mau gue omongin penting!!" Jawab Arthur.


"Apa bilang?" Tanya Nancy masih dengan nada ketus.


"Esar sama Millie kesasar, mereka minta jemput." Jawab Arthur.


"Hah... kesasar? Kok bisa?" Tanya Nancy kaget.


"Gue juga gak tau gimana ceritanya. Gue cuma di suruh jemput."


"Ya udah loe lacak aja dari ponselnya, gue pake baju dulu."


"Lah... terus gue gak disuruh masuk gitu Cy?"


"Gak!!! Disitu aja loe, mesum!!"


"Haish!!!" Kesal Arthur.


Mau tak mau Arthur pun harus rela menunggu Nancy di depan pintu apartemen sambil melacak posisi Esar dan Millie.


Sepuluh menit kemudian.


Ceklek. Pintu apartemen Millie-Nancy pun terbuka.


"Lama banget sih loe!!" Omel Arthur. Tapi Nancy tidak menanggapi omelan Arthur.


"Udah nemuin mereka dimana?" Tanya Nancy.


Arthur menganggukkan kepalanya.


"Ya udah ayo." Nancy pun berjalan lebih dulu dan diikuti Arthur dari belakang.


Lima belas menit kemudian.


Dengan mengikuti jalur yang di tunjukkan pelacak, akhirnya mobil yang Arthur kendarai sampai juga di halte bus tempat Millie dan Esar berteduh.


Tapi Arthur tak langsung berhenti tepat di depan halte bus itu, karena Arthur melihat Millie dan Esar sedang menikmati kunyah mengunyah bibir. Sebagai sahabat yang baik dan sebagai duta perdamaian dua kubu, Arthur memilih untuk menunggu Esar dan Millie melepas tautan bibir mereka.


"Ekhem..." Nancy berdehem karena merasa risih melihat Millie dan Arthur saling mengunyah bibir dengan panas.


Nancy melirik Arthur yang malah menghayati adegan kunyah mengunyah bibir secara langsung itu.


PLAAAAK. Nancy memukul lengan Arthur.


"Jalan!!!" Bentak Nancy.


"Biar aja lah Cy, tunggu mereka puas dulu. Selama ini kan mereka adu bacot, sekarang biarin mereka adu bibir dulu." Jawab Arthur.


"Jalan gak gue bilang!!!" Kata Nancy lagi sambil mencubit perut Arthur yang tidak sixpack dan juga tidak onepack.


"Aaargh... iya... iya... ampun!!!" Jerit Arthur.


Arthur pun pasrah menjalankan mobilnya sampai tepat di depan halte bus.


Tiiin.... Tiiiin.... Dengan tidak sabaran Nancy membunyikan klakson.


FLASHBACK OFF


"Haish... mengganggu aja nih orang!!!" Gerutu Esar.


Beda dengan Esar yang kesal karena Arthur datang tiba-tiba, Millie malah malu dan salah tingkah karena terciduk sedang ciuman dengan Esar.


"Udah ayo cepetan!!" Ucap Millie.


Esar dan Millie pun masuk ke dalam mobil di kursi belakang.


"Cepet banget sih datengnya!!!" Omel Esar.


"Dih... kan loe tadi yang minta di jemput cepet-cepet!!" Balas Arthur tak mau disalahkan.


"Emangnya kalian mau ngapain kalau kita jemput lama?" Tanya Nancy ketus.


"Apaan sih loe Cy." Malah Millie yang menjawab.


"Udah jalan!!" Bentak Millie pada Arthur.


Arthur pun menjalankan mobilnya.


Begitu mobil jalan, Esar mengambil tangan Millie hendak menarik tubuh Millie agar Millie bisa berbaring di pundaknya, tapi Millie menolak, ia malah menepis tangan Esar.


Esar membulatkan matanya hendak melayangkan protes. Tapi belum juga sempat protes, Millie sudah balik memberi tatapan tajam pada Esar.


Esar pun terdiam seketika.


"Jadi kalian udah pacaran nih ceritanya?" Goda Arthur.


"Kenapa? Iri loe?" Tanya Esar nyolot.


"Cih..." decih Arthur dan Nancy bersamaan.


"Gimana rasanya setelah saling mengakui perasaan masing-masing? Lega kan?" Tanya Nancy.


Baik Esar dan Millie tak ada yang menjawab tapi dalam hati mereka mengatakan 'iya'.


💋💋💋


Kini mereka sudah sampai di apartemen.


"Mau ngapain kalian?" Tanya Millie saat melihat Esar dan Arthur mengikuti mereka sampai depan pintu apartemen mereka.


"Mau mastiin loe sampe di kamar dengan selamat." Jawab Esar.


"Lebay!! Udah sana kalian balik ke apartemen kalian!!"


"Tapi kita belum makan Mill." Kata Arthur.


"Iya juga yah, kita semua kan belum pada makan." Gumam Millie dalam hati.


Keenam pasang mata pun melirik ke arah Nancy, satu-satunya orang yang bisa masak di antara mereka.


"Apa?!" Tanya Nancy ketus. Ia sudah tau maksud tatapan keenam pasang mata itu.


"Apalagi Cy, kalau bukan masak buat kita." Jawab Millie sambil mengedip-ngedipkan matanya merayu Nancy.


Nancy menghela nafasnya.


"Beban hidup!" Gumam Nancy.


"Ya udah ayo, tapi loe bantuin gue yah, terus kalian berdua yang cuci piring dan beresin dapur!!" Balas Nancy.


"Siap. Laksanakan." Kata Millie, Esar dan Arthur kompak.


Mereka pun masuk ke dalam unit apartemen Millie-Nancy dan langsung berjibaku memasak di dapur.


💋💋💋


Setelah selesai mengisi perut mereka, Millie pun membersihkan tubuh nya, sedangkan Arthur dan Nancy membersihkan dapur, ah.. ralat, hanya Arthur karena Nancy hanya menjadi mandor. Lalu Esar? Esar pergi ke supermarket untuk membeli cemilan dan bir kaleng untuk merayakan hari jadian Millie dan Esar.


Beres-beres dapur pun selesai, Millie pun juga sudah selesai membersihkan tubuhnya dan sudah berkumpul bersama Nancy dan Arthur di ruang tengah.


Ting Tong Ting Tong. Bunyi bel apartemen Millie-Nancy.


"Buka sana Thur." Perintah Millie.


"Loe aja, kan gue tamu disini." Tolak Arthur. Ngajak ribut Nyai Kompeni rasanya Arthur.


"Buka gak!!!" Perintah Millie sekali lagi dengan tatapan mengintimidasi.


"Iya... Iya!!" Arthur pun mengangkat bokongnya dari atas sofa.


"Kirain kalau udah pacaran jadi lembut gitu, eh... tetap aja bar-bar!!!" Gerutu Arthur sambil jalan menuju pintu.


Tanpa melihat terlebih dahulu ke layar monitor, Arthur langsung membuka pintu apartemen itu.


Mata Arthur langsung membelalak saat melihat tiga orang yang berdiri di depan pintu. Karena orang yang menekan bel bukan lah Esar. Melainkan tiga orang bertopeng dengan tubuh tinggi besar.


BUGH.. Salah satu dari ketiga orang itu langsung memukul kepala Arthur sampai Arthur jatuh pingsan.


Bersambung...