Partner In . . .

Partner In . . .
Na Thur 25



"Jawab dong Kak Acy." Teriak Nanda, adik Nancy.


"Iya Kak, cepetan jawab." Timpal Xena.


"Mmm... Iya, aku bersedia." Jawab Nancy.


Mata Arthur membulat mendengar jawaban Nancy. Antara percaya tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


Arthur pun berdiri dari posisi berlututnya.


"Coba ulang. Aku gak denger." Kata Arthur.


"Ish!! Iya, aku bersedia." Jawab Nancy sambil memukul pelan lengan Arthur.


"Aaaakkkh..." teriak Arthur kegirangan.


Sangking girangnya, Arthur langsung menggendong Nancy dan memutar-mutar Nancy.


Tamu yang ada di ruangan itu pun bertepuk tangan sambil bersorak-sorai melihat Arthur yang di terima oleh Nancy.


"Turunin pusing!!" Protes Nancy sambil memukul-mukul pundak Arthur.


Arthur pun menurunkan Nancy, lalu memeluk Nancy dan memberikan ciuman ke wajah Nancy dengan brutalnya.


Melihat anaknya di ciumi oleh Arthur, Ayah Nancy langsung berjalan mendekati Arthur dan Nancy yang ada di altar.


"Belum sah!! Main cium-cium aja!!" Protes Ayah Nancy sambil menarik Arthur menjauh dari Nancy.


Nancy yang malu hanya bisa menundukkan kepalanya sedangkan Arthur menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Langsung sah-in aja Thur, mumpung kita ada disini." Teriak Papa Arthur.


Tanpa Papa-nya suruh pun, memang niat Arthur seperti itu.


Tiba-tiba saja Nando, adik laki-laki Nancy datang menghampiri sang Ayah lalu menarik Ayahnya untuk kembali duduk.


"Ayo duduk Yah, biar bisa lanjut nikah massal-nya." Ucap Nando sambil menarik sang Ayah kembali ke tempat duduk mereka.


"Apa acara sudah bisa dilanjutkan?" Tanya pemuka agama.


"Sudah." Jawab Arthur dan Xena dengan lantang.


Sedangkan Nancy, ia masih menundukkan wajahnya malu.


Lalu bagaimana dengan Dewa? Yang pastinya ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah dan ikhlas menerima pernikahannya dengan Xena.


"Baiklah, saya akan lanjutkan acaranya." Ucap pemuka agama.


"Tapi ngomong-ngomong siapa yang duluan mau mengucapkan janji suci?" Tanya pemuka agama.


"Mereka dulu." Jawab Arthur dan Dewa bersamaan. Arthur menunjuk Dewa-Xena dan Dewa menunjuk Arthur-Nancy.


"Loe dulu!!" Arthur memberi pelototan pada Dewa.


"Loe lah!!" Balas Dewa tak kalah melotot.


"Loe kan lebih tua dari gue!! Ya loe dulu lah!!" Balas Arthur.


"Tapi Nancy kan lebih tua dari nih Titisan Tante Lala." Balas Dewa sambil melirik Xena.


Kesal karena Dewa terus-terusan menyebutnya Titisan Tante Lala, Xena pun membuka suara.


"Kami duluan yang mengucapkan janji suci." Ucap Xena pada pemuka agama.


"Loe!!!" Geram Dewa sambil menggertakkan gigi-nya.


Dan Xena pun menjulurkan lidahnya sedikit mengejek Dewa.


"Baiklah, kita mulai." Ucap pemuka agama.


"Dewa Anggara, apakah Saudara bersedia menerima Xena Paramitha sebagai istri Saudara dalam suka dan duka, senang dan susah, sakit dan sehat?" Tanya pemuka agama.


"Mmmm...." Dewa ragu menjawab.


Ia melirik sesaat Xena lalu tersenyum licik.


"Ini kesempatan gue untuk nolak." Gumam Dewa dalam hati.


Dewa pun menarik nafasnya dalam-dalam untuk mengatakan kata TIDAK.


Tapi yang keluar dari mulutnya malah kata...


"Iya, saya bersedia." Jawab Dewa.


Mata Dewa membulat seketika saat dirinya sadar dengan apa yang baru saja ia katakan.


"Astaga ini mulut, kenapa jadi bilang iya!!" Dumel Dewa dalam hati.


Xena tersenyum mendengar jawaban Dewa.


"Xena Paramitha, apakah Saudari menerima Dewa Anggara menjadi suami Saudari, dalam suka dan duka, senang dan susah, sehat dan sakit?" Kini pemuka agama beralih pada Xena.


"Iya, saya bersedia." Jawab Xena dengan lantang.


"Dengan ini saya menyatakan, Saudara Dewa Anggara dan Saudari Xena Paramitha, telah sah menjadi pasangan suami-istri." Ucap pemuka agama.


"Saudara Dewa, silahkan sematkan cincin di jari manis istri Anda." Kata pemuka agama lagi sambil memberikan cincin yang sudah disediakan sebelumnya.


Mau tak mau, dengan wajah yang sama sekali tidak mengeluarkan senyum, Dewa mengambil cincin itu dan menyematkan di jari manis Xena.


Setelah Dewa menyematkan cincin di jari Xena, gantian, pemuka agama meminta Xena menyematkan cincin di jari manis Dewa.


PROK.. PROK.. PROK..


Orang-orang yang ada diruangan itu pun bertepuk tangan setelah cincin sudah terpasang di jari manis keduanya.


"Saudara Dewa, silahkan Anda cium istri Anda sebagai tanda Anda mengasihi dan menyayangi istri Anda." Ucap pemuka agama.


Dewa menelan salivanya kasar. Meski dirinya sudah pernah mencium Xena, tapi waktu itu dirinya dalam keadaan emosi dan hanya ingin balas dendam pada Sagita. Tapi kali ini dirinya dalam keadaan seratus persen sadar.


"Bisa di skip aja gak Pak, bagian itu-nya." Ucap Dewa pelan.


"Gak pa-pa, gak usah malu. Kalian kan udah suami-istri sekarang." Jawab pemuka agama yang menyangka Dewa tak mau melakukan itu karena malu.


"Ta..." belum sempat Dewa membalas kata-kata si pemuka agama, Xena langsung menarik jas yang Dewa pakai lalu menarik tengkuk Dewa. Dan...


Cup. Kecupan manis Xena daratkan dibibir Dewa.


Mata Dewa membulat dengan aksi Xena.


PROOK.. PROOK.. PROOK.


Semua orang yang ada diruangan itu pun bertepuk tangan melihat Dewa dan Xena berciuman.


Bersambung...