
William melajukan mobilnya dengan kecepatan rata rata, sesekali dia melirik Angel yang duduk lemas di sampingnya.
"Saya bisa mengantarmu kerumah sakit jika kamu mau" Angel membuka matanya perlahan lalu menggeleng.
"Tidak sir, saya rasa saya hanya kurang tidur saya baik baik saja"
"Kamu kurang makan bukan kurang tidur, kamu memiliki asam lambung yang tinggi bisa serius jika kau mengabaikannya" Jelas William, Angel tetap menggeleng ia merasa lebih baik jika tetap berada di dalam rumah.
"Dimana rumah mu?" Angel kembali membuka matanya.
"Rumah ke empat setelah pagar berwarna biru itu."
William menurunkan Angel di depan rumahnya, ia kembali menanyai Angel apakah dia mau kerumah sakita atau tidak. Tapi Angel tetap menolaknya.
"Terimakasih sir"
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu Daniel, kau bahkan tidak perduli ketika Angel diantar oleh guru itu" Daniel menghempaskan ponselnya sembarangan lalu memijat pelipisnya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Menghentikannya? Menjadi pahlawan kembali untuk Angel? Sungguh aku muak dengan semua itu"
Arlan menatap sekilas kearah Daniel.
"Apa yang kau bicarakan pada Erlyn tadi?" Daniel menoleh kearah Arlan. Pria itu tampak serius, Daniel sedang tidak berselera menjawabnya ia hanya mengedikan bahunya.
"Tidak ada"
"Lalu, kenapa kalian sangat lama berbicara hingga kau tidak tau Angel pingsan di depan kelas?"
"Tidak ada yang penting. Sudahlah aku ingin pulang"
"Pulang?" Beo Kenzo
"kenapa?"
"Ayolah Daniel ini masih jam sekolah, kau bisa di hukum ayahmu jika tau kalau kau membolos"
"Kau pikir aku peduli? Urus saja urusanmu sendiri!" Daniel meninggalakan ketiga temannya disana. Arlan tiba tiba berdiri dan menarik baju Daniel dengan kasar.
"Sial. Apa magsudmu?"
BUGH
"Arlan! Apa yang kau lakukan?!"
Daniel dan Arlan tiba tiba tersulut emosi tanpa alasan. Kenzo dan Lardo beruaha menghentikan mereka berdua.
"Apa magsudmu huh. Apa hanya karna gadis itu kau memukulku. Jadi hanya sebatas ini pertemanan kita?"
Arlan menatap datar kearah Daniel, dia mengelap ujung bibirnya yang terluka.
"Hanya karna gadis katamu? Jadi apakah aku harus membelamu? membela lelaki yang rela meninggalkan gadisnya tanpa alasan demi untuk gadis lain? Apa kau sadar gadis yang kau dekati itu adalah sahabat Angel. KEKASIHKU, GADISKU!!"
BUGH
Arlan meringis ketika tinjuan Daniel kembali mendarat di tulang pipinya.
" Kendalikan dirimu Daniel, Arlan kontrol emosimu"
Daniel merapihkan kerah bajunya kembali.
"Aku muak dengan kalian" Daniel meninggalkan mereka disana. Ketiga teman Daniel merasakan perubahan Daniel yang begitu derastis.
16: 45
Angel bangun dari tidurnya, kepalanya terasa sangat pusing ia menyibak selimut lalu menuruni ranjang.
Angel melihat Erlyn tengah menyiapkan makanan untuknya.
"Apakah kau sudah merasa baikan"
"Ku rasa aku sudah baikan"
"Kalau begitu makanlah ini, aku membuatkan mu bubur lalu minum obat mu setelah kau menghabiskan makananmu"
"Baiklah, apa kau sudah makan?"
"Sudah. Ah iya, Daniel mengatakan akan datang kesini sebentar lagi"
Angel menghentikam suapannya ketika mendengar nama Daniel.
"Untuk apa dia datang kesini?"
"Mana aku tau, yang pacarnya itu kamu bukan aku" Erlyn tersenyum lalu meninggalkan Angel di meja makan.
"Tapi yang kali ini dekat dengannya adalah kau bukan lagi aku" Lirih Angel ketika Erlyn pergi.
Beberapa menit kemudian..
Angel menyelesaikan makan nya ia duduk di sofa sambil menonton tv. Jujur pikirannya tertuju pada Daniel kali ini. Bagaimana tidak setelah apa yang terjadi kini pria itu akan datang kerumahnya.
"Apa peduliku, mau dia datang atau tidak aku sama sekali tidak peduli" Angel berusaha fokus dengan film yang di tonton tapi tetap saja tidak bisa ia tidak bisa mengendalikan pikirannya.
Jam terus berdetak Angel tidak bisa duduk dengan tenang. Sesekali ia menoleh kearah pintu berharap ada yang mengetuk atau membunyikan bel rumah.
Ting Tong Ting Tong
"Apa ini" Angel berjongkok melihat sebuah kotak kecil di depan pintunya. Angel penasaran dan mulai membukanya.
BRAK
"Aaaaakhhhh..... aaaaaaaa"
Angel merasakan pusing begitu hebat di kepalanya tubuhnya bergetar hebat. Angel hampir kehilangan kesadarannya.
BRUK
"Angel, angel"
Sekilas Angel merasakan lega melihat pria yang ia nantikan akhirnya datang.
"Da..Niel" Angel memeluk erat tubuh Daniel, ia merasa lebih tenang ketika mencium aroma mint dari Daniel.
Angel menangis dalam pelukan Daniel, ia menuangkan semua ketakutan yang ia rasakan.
"Kendalikan dirimu, ada apa Angel?"
Angel menunjuk kearah kotak yang ia temukan itu. Daniel melihat kotak itu dan membuka kotak itu dengan satu tangannya karna tangan yang satunya di gunakan untuk merangkuh Angel.
Daniel mengerang kesal melihat apa didalamnya. Ada bangkai tikus yang berlumuran darah disana juga ada foto Angel yang di edit menjadi buruk.
"Siapa yang berani melakukan hal ini" Kesal Daniel. Daniel membawa Angel kedalam rumah dan mendudukannya diatas sofa.
"Minumlah"
"Bagaimana perasaanmu? Apa kau sudah merasa lebih baik?" Angel mengagguk lemah.
"Apa yang ingin kau katakan hingga datang kerumah ku?"
"Aku... Aku hanya.."
"Angel apa yang terjadi? Daniel? Kau disini?" Perkataan Daniel terpotong ketika suara Erlyn memotongnya.
"Ada seseorang yang meneror Angel dengan mengirim nya tikus mati yang berlumuran darah." Erlyn langsung duduk di samping Angel berusaha menenangkan gadis itu.
"Tenang lah Angel tidak apa apa, kami ada bersama mu jangan takut"
"Siapa yang mengirimnya padaku. Erlyn aku sangat takut."
"Tidak apa apa Angel. Aku ada bersamamu"
Daniel tampak berpikir serius.
"Aku harus segera pergi" Angel menatap Daniel yang tiba tiba pergi bahkan sebelum mengatakan hal yang ingin dia katakan.
"Mari masuk kedalam kamar"
"Dia mengirimnya tikus mati yang berlumur darah dan foto Angel yang di edit menjadi buruk" Jelas Mark. William tampak menyeringai sambil menyesap rokoknya.
"Apa masih ada yang menggunakan tak tik muraha seperti ini? Cepat selidiki aku ingin kau mendapatkan siapa pelakunya sekarang juga" Perintah William.
"Aku sudah menemukannya, kau hanya perlu memantaunya Liam" Jawab Mark. William mematikan rokoknya.
"Liam sampai kapan kau seperti ini, apa kau akan selalu menjadi orang ketiga diantara mereka"
"Orang ketiga? Aku tidak pernah menjadi orang ketiga Mark. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milik ku"
"Ku harap kau berhasil"
Disisi lain Daniel tengah uring uringan mencari siapa yang melakukan hal ini pada Angel. Ia menghubungi Kenzo dan Lardo bebedapa kali tapi mereka tidak mengangkatnya.
"Sialan itu tidak mengangkat telfonku"
Daniel kembali menghubungi seseorang. Dia adalah Ana-Asisten Daniel.
"selidiki siapa yang meneror Angel setengah jam yang lalu. Aku ingin kau mendapatkan informasi nya saat ini juga!" Perintah Daniel.
Perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Bukan hanya perasaan bersalah tapi juga dilema. Pilihan yang mana yang akan ia ambil kali ini.
Jika dia meningalkan Angel ia tidak bisa melindungi Angel dengan baik. Tapi jika ia bertahan ia pasti terkesan egois.
"Aku tidak peduli. Keselamatan Angel yang terpenting. Maafkan aku jika suatu hari nanti aku adalah alasan kekecewaan dan akulah yang akan membuatmu paling terluka"
------
KENZO
---
LARDO
---
ARLAN