
"Kenapa, Sayang?" tanya Bunda Dita langsung bangkit dari duduknya dan mendekati Nessa.
Nessa menyeka mulutnya yang basah setelah dia basuh dengan air keran di wastafel. Perutnya seperti diaduk-aduk membuatnya gejolak itu kini kian terasa. Nessa menutup mulutnya menggunakan tangan kirinya.
Nessa menggelengkan kepalanya sebagai respon dari pertanyaan mertuanya. Wanita itu tidak sanggup untuk bersuara karena sedikit saja dirinya bersuara, maka gejolak itu akan datang lagi.
"Kenapa?" tanya Bunda Dita yang khawatir, bahkan dia sampai menghentikan makannya. Begitu juga dengan Tiara yang tampak bingung dan tampak raut wajahnya khawatir, biar bagaimana pun juga Nessa adalah temannya.
Nessa terdiam sejenak untuk menetralkan rasa mualnya. "Gak pa-pa, Bun. Kayaknya masuk angin deh." balas Nessa menerka-nerka.
"Beneran masuk angin?"
Wanita itu menganggukkan kepalanya pelan.
Bunda Dita menuntun Nessa untuk kembali duduk di kursi meja makan. Namun, rupanya Nessa menolak lantaran merasa dirinya kembali mual saat melihat tampilan tumis capcay seafood di piringnya. Apalagi baunya yang menyengat di hidung Nessa. Sebenarnya bau masakan itu sangatlah menggugah selera. Tapi, entah kenapa tubuh Nessa seakan menolak. Alhasil kini Nessa beranak pergi, memilih untuk ke ruang tengah saja sambil menunggu mertua dan temannya selesai makan siang.
"Kamu tau Nessa kenapa?" tanya Bunda Dita kepada Tiara saat menantunya sudah tidak menampakkan batang hidungnya.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil berhedem untuk menghilangkan rasa canggung. "Tiara nggak tau, Tan. Tadi pas di kampus sehat-sehat aja. Mungkin emang lagi masuk angin karena telat makan siang." tebak Tiara berpikiran positif.
Bund Dita akhirnya menganggukkan kepala saja kemudian kembali duduk di kursi meja makan untuk melanjutkan makan siang mereka yang sempat tertunda. "Hummm, ya sudah. Ini makannya di lanjut lagi. Makan yang banyak ya, jangan sungkan anggap saja ini rumah kamu."
"Iya, Tante." balas Tiara sopan. Keduanya pun menghabiskan makan siangnya dengan keheningan. Karena seharusnya makan tidak boleh sambil mengobrol kan?
Sementara Nessa saat ini tengah mengobrol bersama kakek Dharsono. Saat ini Nessa tidak merasakan mual sedikitpun. Saat keduanya mengobrol, tiba-tiba Bunda Dita datang bersama Tiara. Mereka sudah selesai dengan makan siangnya.
"Sayang, kamu udah enakan? Gak mual lagi?" pertanyaan itu sekilas membuat kakek Dharsono tersenyum bahagia. Nessa dan yang lainnya melihat pria tua itu tersenyum pun dilanda heran.
"Kakek, kenapa senyum? Ada yang lucu ya?" tanya Nessa to the point.
Kakek Dharsono langsung tersenyum ke arahnya. Senyuman yang berbeda dari sebelumnya. "Bukan apa-apa. Tadi kata bunda, kamu lagi mual ya?" Nessa dengan ragu menganggukkan kepalanya. Dirinya semakin bingung dibuatnya.
"Sudah dicek?" tanya kakek Dharsono. Nessa menggelengkan kepalanya.
"Nanti biar minta obat aja, Kek. Mungkin lagi masuk angin soalnya tadi telat makan siang." jelas Nessa dengan pikiran awalnya.
Senyum yang semula lebar kini surut perlahan seiring dengan penjelasan wanita itu. Kakek Dharsono hanya bisa menyembunyikan raut kecewanya dengan sebuah ulasan senyum.
"Ya sudah, jangan lupa obatnya diminum ya?" Nessa menganggukkan kepalanya mendengar penuturan dari kakeknya.
Dua jam kemudian...
"Dahhhh, makasih ya, Ra. Lain kali mampir ke rumah." seru Nessa berdiri di sisi jalan halaman rumahnya sambil melambaikan tangannya saat Tiara melesatkan kendaraan roda duanya meninggalkan kawasan rumah Nessa.
Setelah menyaksikan Tiara pulang, Nessa segera masuk ke dalam rumahnya. Masih sepi, karena suaminya masih berada di kantor. Mungkin sebentar lagi akan sampai mengingat waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore. Nessa menaiki anak tangga dengan langkah pelan, badannya terasa lengket dan sedikit akibat pancaran sinar matahari.
Setelah bersih-bersih, Nessa memutuskan untuk pergi ke dapur. Suasana sepi membuat Nessa semakin suntuk, tidak ada teman bicara ataupun bercanda. Begitulah keseharian.
Setelah melihat isi kulkas, Nessa mengeluarkan bahan-bahan masakan yang diperlukannya. Seperti tahu, sayur bayam, dan dua butir telur. Sayur bayamnya Nessa bawa ke wastafel untuk dicuci bersih. Setelah dicuci bersih, kini waktunya untuk memotongnya. Setelah memotong dengan ukuran yang diinginkan, Nessa mulai beralih ke keranjang bawang. Wanita itu mengambil beberapa siung putih dan bawang merah. Namun, saat baru akan mengupas kulit bawang putih, Nessa merasa baunya sangat menyengat di hidungnya. Nessa masih menahan bau menyengat itu dengan tetap mengupas kulitnya namun dengan jarak yang lumayan jauh.
"Hacyhihhhh..." reflek Nessa menggosok hidungnya gatal saat bersin mendatanginya.
"Huekkkk!" saat itu juga dirinya langsung melepaskan pisau dan bawang lalu meletakkannya di atas meja secara asal. Nessa berlari menuju wastafel saat merasakan perutnya kembali bergejolak, seakan-akan semua makanan yang sebelumnya ia makan ingin mendesak keluar.
Namun, setelah mengeluarkannya hanya ada cairan bening yang keluar. Bukan makanan yang sudah masuk ke dalam lambungnya. Nessa lemas. Tenaganya terasa terkuras habis. Dirinya benar-benar tidak sanggup untuk melanjutkan aktivitas memasaknya itu. Nessa melangkah gontai menuju ruang tengah. Wanita itu langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang. Kedua matanya terpejam, menahan gejolak di perutnya yang serasa diaduk menggunakan mixer.
Tidak sadar dirinya tertidur di sofa yang empuk itu. Setengah sadar Nessa mendengar suara derit pintu dibuka dan suara sepatu pantofel bergesekan dengan lantai keramik.
"Sayang... kenapa tidur di sini? Ayo, pindah ke kamar aja." suara itu kini kian masuk ke gendang telinganya.
Matanya terbuka menyipit, melihat sosok pria yang kini berpenampilan khas kantoran tengah membungkukkan badannya di hadapannya.
"Gendong." rengek Nessa menjadi manja.
Sedangkan Endi yang melihatnya hanya menghembuskan nafas panjang lalu menarik kedua ujung bibirnya tipis ke atas. Pria itu meletakkan tas kerjanya di sofa kosong. Bergerak mendekati istrinya dan membungkukkan badannya. Tangannya kanannya menyelip memegang punggung belakang Nessa dan lengan kirinya kini ia selipkan di paha Nessa. Lalu setelahnya pria itu langsung mengangkat tubuh Nessa.
Reflek wanita itu mengalungkan tangannya di leher suaminya. "Kenapa tidur si sofa sih? Di kamar kan bisa, Dek." ujar Endi sembari menurunkan pelan tubuh istrinya ke atas kasur empuk. Namun, lehernya tangan Nessa masih betah di lehernya. Endi langsung menyeka sedikit keringat di dahinya. Berat tubuh Nessa lumayan, ya bisa dibilang sekitaran 45 kg dengan tinggi badannya hanya mencapai 157 cm.
Nessa tidak menjawab, melainkan kembali menarik tangannya lebih dekat, otomatis jarak keduanya pun semakin dekat. Nessa meletakkan kepalanya di ceruk leher Endi. Endi yang merasa tubuh berkeringat dan pastinya akan beraroma tidak sedap langsung berusaha melepaskan pelukannya.
"Jangan gini, Sayang. Mas masih bau dan keringetan. Nanti aja setelah mandi." bujuk Endi setelah berusaha membujuk istrinya.
"Mas wangi. Aku suka." Endi sempat terperangah saat mendengar perkataan istrinya yang berbanding terbalik dengan keadannya sekarang. Jelas-jelas baru pulang kerja, pastilah berkeringat dan bau badan. Dan istrinya malah mengatakan dirinya wangi.
"Mana ada keringat wangi, Sayang. Mas belum mandi lho." Nessa menggelengkan kepalanya. Endi pun menghela nafas panjang saat melihat istrinya itu susah sekali dibujuk.
"Mas, laper. Pengen makan sate di dekat kuburan itu." pinta Nessa dengan gumamannya.
Endi yang merasa tubuhnya pegal langsung beralih posisi hingga dirinya berbaring di samping Nessa. Tangannya bergerak melepaskan lilitan tangan di lehernya dan memindahkannya di pinggangnya. Kemudian tangannya bergerak mengelus punggung belakang Nessa. "Ini sudah mau maghrib, nanti aja ya?" tawar Endi mengingat waktu.
Beruntungnya kali ini Nessa tidak menolak. "Ya udah, Mas mandi dulu bentar ya? Gak lama kok." ujar Endi.
Dengan terpaksa Nessa melepaskan pelukannya dan membiarkan suaminya itu bersih-bersih dulu di kamar mandi.
.
.
.
yg nungguin cerita ini, maaf ya aku ga bisa up tiap hari. Otaknya butuh waktu luang, digempur habis²an kalau masih lanjut ini ditambah tugas belum lagi bentar lagi mau ulangan🥵🤣🤣mau ulangan bukannya free ya, istirahat² gitu, eh malah dikasih tumpukan tugas 🤣🤣