My Teacher

My Teacher
MT part 53



Di atas kasur yang empuk itu, terdapat sepasang suami-istri yang kini tengah menerima panggilan telfon yang isinya terkena semprotan, alias omelan. Tepatnya sang suami yang kini hanya terdiam pasrah saat Mamanya mengomeli dirinya lantaran tidak mengatakan kalau yang berada di rumah sakit itu bukan dirinya. Jadinya Mamanya khawatir bukan main saat mendapati pesan dari putranya yang mengatakan berada di rumah sakit. Walau awal-awalnya beliau percaya saat melihat sosok pria yang terbaring lemah di atas ranjang pasien, namun, setelah melihat respon yang berbeda, wanita separuh baya itu curiga.


"Iya, Ma. Rey tutup telfonnya dulu. Assalamu'alaikum."


Setelah memutuskan panggilan telfonannya, Endi menghela nafas. Sementara istrinya yang berada di sampingnya itu memasang wajah mengejek.


"Coba dari awal Mas bilang ke Mama, gak gini kan jadinya." ujar Nessa.


"Ya, lagian itu juga salah Mas. Lupain aja deh, mending kita tidur. Udah malam, waktunya istirahat."


"Tapi, tugas Nessa ada yang belum kelar." beritahu Nessa akan tugasnya yang masih belum selesai.


"Udah, besok subuh aja dilanjutin." Endi menepuk-nepuk lengannya, mengkode Nessa untuk berbaring dengan lengannya sebagai bantalan.


Nessa pun beringsut pelan, membaringkan kepalanya di lengan suaminya. Tangannya secara reflek memeluk pinggang pria itu.


Endi sedikit mengangkat kepala dan menunduk, mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah sang istri. Nessa seketika memejamkan matanya saat bibirnya dikecup hangat dan dalam lalu dilepaskan. Ciumaan itu kini berpindah pada kening, lalu kelopak mata, sampai terakhir ke bibir itu lagi yang memabukkannya.


"Mas, apa Mama nginap di rumah sakit?" tanya Nessa sambil mengamati lamat-lamat wajah suaminya dari bawah.


"Emmm... nggak tau sih. Tadi juga Mama gak bilang kalau mau nginap." jawab Endi setengah ragu.


"Hmmmm..." gumam Nessa lalu menelusupkan wajahnya tepat di dada bidang pria itu. Tiba-tiba matanya meredup, seiring dengan rasa nyaman dan hangat yang ia rasakan. Pelukannya semakin di pererat oleh suaminya. Sedangkan Endi yang tau kalau istrinya sudah tertidur pun ikut menyusul. Menaikkan selimut sampai sebatas pinggang mereka.


🌼🌼🌼


Sepulang sekolah Nessa ditelfon oleh mertuanya, memintanya untuk datang ke rumah sakit dan membawakan baju ganti. Bukan untuk mertuanya, namun untuk pria yang digadang-gadang adalah kembaran suaminya. Nessa pun terpaksa meminjamkan baju suaminya.


Sedangkan Vella yang memang selalu lengket dengan Nessa pun tak kalah ketinggalan. Buktinya gadis itu memaksa ingin ikut pergi bersama Nessa, padahal Nessa sudah mengatakan jangan karena memang takut menganggu waktu istrinya Vella. Namun, bukan Vella namanya kalau tidak keras kepala.


Buktinya sekarang mereka sudah berada di dalam perjalanan menuju ruangan Erlan. Saat baru membuka pintu diiringi ucapan salam, mereka sudah melihat Winanti yang tengah mencoba membujuk pasien untuk memakan makanannya.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Nessa? Duduk, Sayang." suruh mertuanya sambil menunjukkan sofa yang kosong.


"Ini Vella kan?" tanya Winanti memastikan bahwa yang datang bersama Nessa itu adalah Vella.


"Iya, Tante. Ini Vella." balas Vella mengantri di belakang Nessa demi untuk mencium punggung tangan wanita separuh baya itu.


"Maaf ngerepotin ya? Seharusnya kalian istirahat setelah pulang sekolah, bukannya langsung ke sini." ucap Winanti tidak enak hati kepada menantu dan sahabat menantunya.


"Nggak pa-pa, Ma. Lagian kalau di rumah Nessa kesepian karna Mas Rey juga belum pulang." sahut Nessa.


"Oh ya, Ma. Itu kenapa?" tanya Nessa sambil menunjukkan pria yang setengah terduduk itu menggunakan dagunya.


"Ini?" tunjuk Winanti lalu menjeda perkataannya. "Mama gak tau, mungkin beneran ini bukan kembaran suami kamu. Soalnya sifatnya berbanding terbalik." jelas Winanti yang geleng-geleng kepala.


Alis Nessa langsung terangkat sempurna sebagai pertanda kebingungannya.


"Kayak preman." sambung Winanti lagi.


Sedangkan yang menjadi bahan obrolan hanya terdiam dengan bola mata memutar.


"Lagian kenapa gue harus di sini sih? Ini gak banget, masa cowok gentle harus terbaring lemah di atas tempat tidur." seru pria itu.


"Tuh kan! Apa Mama bilang, dari omongannya aja udah beda." keluh Winanti yang sudah pusing.


"Gentle apaan!" cibik Vella yang merasa kesal sendiri. Dirinya yang belum tau apa-apa saja sudah kesal. Sebelumnya gadis itu juga sudah sempat mendengar cerita singkat dari sahabatnya yaitu Nessa.


"Apa lo bilang?!" sarkas Erlan merasa tidak terima dengan perkataan Vella.


"Katanya sakit, teriak-teriak kok bisa?" sindir Nesaa buka suara. Sindir-sindiran bukanlah gayanya, tapi, untuk kondisi sekarang izinkan dirinya untuk melakukan itu.


"Kamu mau sembuh kan? Nah! Ayo makan ini buburnya dulu." ucap Winanti pelan dan menahan sabar.


"Mangap, Vel!" ujar Nessa menahan tawa akan reaksi sahabatnya.


Relfek Vella menutup mulutnya sempurna. Matanya dengan tajam melirik Erlan yang dengan santainya setelah mengatakan hal tadi. Apa pria itu tidak tau kalau Nessa sudah punya suami? Ah, rasanya Vella sungguh gemas dan ingin sekali menjentik gintal pria itu.


"Mumpung Mama pegang mangkuknya, biar Mama aja ya?" balas Nessa tetap tenang.


"Gue gak mau!" tolak Erlan.


"Tapi saya di sini yang keberatan."


"Kenapa?"


"Karna status saya sudah bersuami, walau sekalipun kamu itu saudara kembar Mas Rey." ucap Nessa singkat dan dengan bijak. Ya sekian itu juga, dirinya bahkan belum percaya sepenuhnya.


"Lo mau disuapin kan?" tanya Vella tanpa embel-embel.


Erlan mengangguk. Sedari tadi Vella sudah geram akan tingkah pria itu. Sementara Winanti yang menyaksikan itu pun hanya terdiam membiarkan mereka berdebat.


Vella bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ranjang pasien. Dirinya meminta izin kepada mertua Nessa untuk mengambil alih mangkuk dari tangan Winanti.


Lalu tanpa aba-aba gadis itu menyodorkan sesendok bubur tepat di hadapan Erlan. Membuat alis pria itu menyatu dan terangkat ke atas.


"Lo mau makan kan? Nih! Gue suapin, spesial suapan ala Vella Trialuvitaa, bukan Nessa."


"Nih!" Vella menyodorkan lebih dekat hingga ujung kepala sendok itu menyentuh bibir Erlan yang sedikit pucat. Vella sampai heran, sudah tau sakit kenapa masih bisa berdebat?


Erlan mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Sedangkan Nessa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya.


"Ayok, nih! Mau cepet sembuh kan? Aaaakkk dulu, cepet!!" desak Vella terus menyodorkan sesendok bubur. Karena terus dipaksa, Erlan pun mau tidak mau harus membuka mulutnya. Vella yang melihatnya pun hanya tersenyum menyungging.


"Pelan-pelan dong!" protes Erlan yang merasa kesusahan menelan makanannya dan malah sudah disodorkan lagi oleh Vella.


"Oh iya, maaf." ujar Vella tanpa rasa bersalah. Biarlah dirinya yang menyuapi pria itu dari pada sahabatnya.


Suapan demi suapan telah masuk ke lambung Erlan. Setelahnya Winanti mengunjukkan beberapa obat yang harus pria itu minum.


"Mau dibantu juga?" tawar Vella dengan baik.


"Ck! Kalo aja gue bisa sendiri, ogah banget minta bantuin bocah kayak lo!" sungut Erlan memasang wajah dongkolnya.


"Siapa juga yang mau bantuin lo! Gue juga terpaksa kali!" balas Vella tak mau kalah. Gadis itu jengkel seketika, dan lebih memilih menjauh lalu duduk di samping Nessa. Akhirnya sesi minum obat pun digantikan oleh mama Winanti.


Vella duduk dengan tangan bersila di dadanya. Sedangkan Nessa yang melihatnya hanya bisa menutup mulut menahan tawa.


Tiba-tiba pintu ruangannya diketuk lalu tidak lama disusul dengan salam. Kebetulan juga saat itu Erlan sudah selesai minum obat. Jadinya dirinya masih dalam posisi tetengah bersandar di belakang kepala ranjang.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." jawab mereka kompak kecuali Erlan.


Rupanya yang datang itu Endi. Pria itu segera mendekati sang Mama dan menyalaminya. Lalu melangkah menuju istrinya yang masih terduduk di sofa bersama Vella.


Nessa segera mengulurkan tangannya lalu mengecup punggung tangan suaminya dengan penuh penghayatan. Endi pun membalas dengan mengusap pucuk kepala istrinya menggunakan tangan kirinya. Vella yang melihatnya pun memilih melipir, berpindah duduk tepat di hadapan mertua Nessa, lebih tepatnya di sisi kiri ranjang pasien.


"Ngapain lo pindah ke sini!?"


Perkataan Erlan barusan malah membuat Vella geram. Ingin sekali dia mencabik-cabik wajah pria itu yang terbaring lemah di atas ranjang.


"Lo gak liat?!!" sungut Vella dengan mata berapi-api.


Winanti yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala sambil terkekeh pelan. Wanita separuh baya itu seperti melihat tom dan Jerry yang sedang bertengkar.