My Teacher

My Teacher
Perkara Soal



Bel sekolah berbunyi, seluruh siswa berhamburan menuju gerbang sekolah. Angel dan Erlyn berjalan beriringan sesekali mereka tertawa sambil bercerita ria.


"Angel, hari ini Arlan akan mengantarku pulang. Apa kau tidak keberatan aku tidak pulang bersamamu?" Cetus Erlyn. Angel tersenyum lalu mengangguk. "Tentu saja. Aku akan meminta Daniel untuk mengantarku"


"Baiklah Angel aku duluan ya"


"iya"


Angel kini berjalan seorang diri menyusuri koridor. Ia harus mencari keberadaan Daniel terlebib dahulu. Angel mengambil ponselnya mencari kontak Daniel.


"Halo, Daniel kau dimana aku mencarimu"


"Aku sudah di parkiran"


"Baiklah aku segera kesana"


"akan ku tunggu"


Angel menatap layar ponselnya, ia merasa ada yang aneh dengan nada bicara Daniel. Tidak biasanya ia bicara sesingkat itu. Angel berusaha berfikir positif.


"Angel. Namamu Angel bukan?" Angel mengalihkan pandangannya kepada seorang pria. Tampan dan menawan siapa lagi jika bukan William.


"Iya, Saya Angel. Ada yang bisa saya bantu sir?" William berjalan mendekati Angel.


"Ikut keruangan saya" Angel terdiam mendengarkan perintah tegas William. Diaatu sisi Daniel pasti sudah menunggunya tapi jika Angel menolak bagaimana jika guru itu akan mengatakan sesuatu yang penting tidak sopan jika dia meninggalkannya begitu saja.


"Maaf sir, apa ada sesuatu yang penting?" Tanya Angel. William mengangguk.


"Jadi temui aku diruanganku segera"


"Tapi-"


"Apa saya harus mengulangi perkataan saya lagi?" Angel tidak punya pilihan ia terpaksa mengikuti kemauan William.


..


Angel tiba di ruangan William. Terlihat pria itu tengah duduk tenang sambil menatapnya. William membuka laci dan mengeluarkan sebuab buku.


"Ketika aku menyuruh kalian mengerjakan soal. Aku mendapati banyak kesalahan khususnya pada tugasmu. Dan pada saat aku menjelaskan materi kau bahkan tidak bisa menjawab satu pertanyaanku dengan benar" Angel menunduk. Ia merasa sangat bodoh dan menyadari kesalahannya itu. "Dan kata dewan guru yang lain kau adalah salah satu siswa yang berprestasi." William tersenyum remeh "Aku jadi meragukan hal itu sekarang" Lanjutnya.


Angel merasa sangat tersinggung dengan perkataan William yang terang terangan berkata seperti itu.


"Maafkan saya sir, saya akan belajar lebih keras lagi" William mengangguk lalu menyodorkan buku itu kearah Angel. Angel menerima buku itu lalu membukanya


Hanya ada soal dan tanpa penjelasan atau ringkasan materi di sana.


"Kau kerjakan minimal lima puluh soal dari buku ini. Jika kau berhasil menjawab empat puluh soal dengan benar maka aku bisa mentoleransi nilaimu yang rendah ini. Dan jika kau tidak bisa menjawab dengan benar minimal Empat puluh soal itu maka aku akan menambah tugasmu dua kali lipat" Angel meneguk ludahnya. Ia tidak menyangka ada guru sekejam ini memberikan siswanya tugas. Apa dia sudah menjadi sangat bodoh hingga harus di beri tugas khusus


Angel mengangguk.


"Baiklah sir, saya akan mengerjakan soalnya" Angel membungkuk hormat lalu keluar dari ruangan itu.


"Tunggu" Langkah Angel terhenti, ia menghela nafas lalu kembali menuju ruangan William. "Iya sir"


"Aku belum mengijinkanmu untuk keluar"


"Apakah ada tugas yang harus saya kerjakan lagi sir?"


"Tidak, aku hanya ingin memberi tahu bahwa kau harus mengerjakan dua puluh lima soal pertama disini. Sebelum selesai kau tidak ku perbolehkan untuk pulang"


"T..tapi sir, teman saya sudah menunggu saya. Saya pasti akan mengerjakannya dengan benar dirumah"


"Apa saya akan percaya? sebagian besar kemungkinan kau akan mencari jawaban di internet atau meminta temanmu untuk mengerjakannya"


"Maaf sir, saya tidak pernah menyuruh orang lain untuk mengerjakan tugas rumah saya" kata Angel. Yang tentu saya itu adalah kebohongan. Ia sering menyuruh Erlyn mengerjakan tugas rumahnya. Tapi ini demi keselamatan mentalnya dia tidak bisa mengerjakannya didepan guru itu.


"Tidak ada pencuri yang mau mengaku. Kerjakan sekarang juga atau nilaimu akan saya kurangi!"


Dengan berat hati Angel mengerjakan tugas itu. Ia berharap Daniel tidak marah kepadanya.


30 menit kemudian...


"Tetap disitu sebelum saya selesai memeriksa pekerjaanmu"


"Baik sir" Angel mulai gelisah, diam diam William melirik Angel yang tidak bisa duduk dengan tenang di sofa.


"Ada sembilan belas soal yang salah. Untuk itu saya akan menambah jumblah tugas yang saya berikan menjadi enam puluh sembilan. Tujuh puluh, yah kamu akan mengerjakan tujuh puluh soal dan harus dikumpul sebelum jam istirahat besok"


Jika membunuh orang bukan sebuah dosa maka William lah orang pertama yang ia bunuh detik ini juga. Tapi itu semua tidak penting. Angel harus segera menemui Daniel, dia pasti sudah lama menunggunya.


"kau boleh keluar" Angel membungkuk hormat lalu bergegas pergi.


Ia berlari menuju parkiran. Dengan nafas terengah engah ia mencari keberadaan Daniel. Angel merasa sedih ia tidak bisa menemukan Daniel dimana pun. Dia pasti sudah pulang duluan.


"Maafkan aku Daniel" Angel memeriksa ponselnya. Ada lima panggilan tak terjawab dan tiga pesan yang belum dibaca.


...'Angel dimana ku? Aku sudah lama menunggumu.'...


'Cepatlah Angel, aku sedang terburu buru.'


'Baiklah sepertinya kau sangat sibuk aku pergi duluan. Jaga dirimu'


Angel menghela nafasnya. Ia merasa sangat bersalah membuat Daniel menunggu lama.


"Dia bahkan tidak berniat untuk mencariku" Guamnya.


^^^^^^'maafkan aku Daniel, aku harus menyelesaikan sesuatu terlebih dulu tadi' ^^^^^^


balas Angel. Ia bingung harus pulang bagaimana.


"Apa temanmu meninggalkanmu?" Angel berbalik kebelakang mendapati William yang berdiri dengan cool menatapnya.


"iya, sepertinya dia pulang duluan" William mengangguk ia berjalan melewati Angel. Dalam hati Angel dilema. Ia bisa saja meminta tolong agar William mengantarnya. Tapi sangat malu untuk mengatakannya.


Angel menatap mobil mewah yang berjalan kearahnya.


"Saya akan mengantarmu pulang" Angel menggeleng. Ia merasa tidak enak hati harus diantar dengan guru baru.


"Tidak sir, saya akan pulang sendiri"


"Apa kau yakin. Sepertinya didaerah sini banyak preman"


"Saya yakin sir, saya akan pulang sendiri"


"Kau keras kepala rupanya. Cepatlah naik aku tidak punya waktu"


"Tidak sir.Terimakasih"


William mengehela nafas kasar. Ia turun dari mobil lalu berjalan mendekati Angel.


"Masuklah, saya hanya ingin mengantarmu bukan menculikmu. Jangan khawatir"


"Tapi sir.."


Angel kaget ketika William membukakan dirinya pintu. Angel tidak punya alasan lagi untuk menolaknya.


"Masuklah" Angel menghela nafas. Ia tersenyum lalu mesuk kedalam mobil itu.


"Terimakasih sir"


Diperdebatan mereka tidaak ada yang menyadari seseorang dari kejauhan tengah tersenyum bahagia melihat kedekatan mereka. Ia mengambil gambar Angel ketika William membukakan dirinya pintu.


"Angel yang malang. Bagaimana reaksi Daniel jika pujaan hatinya ternyata bermesraan dengan pria lain" Katanya sambim tertawa sinis.


"Lihat saja. Akulah yang akan menikam jantungmu dari belakang"


"Sudah cukup aku melihat kedekatan kalian berdua selama beberapa tahun ini. Sekarang akan kuhancurkan hubungan kalian. Tunggulah Angel sayang"