My Teacher

My Teacher
MT part 37



Hal yang baru untuk Nessa. Beruntung dirinya tidak berteriak sekaligus menendang pria yang kini tertidur di sampingnya seperti waktu pertama kali mereka tidak sengaja tertidur dengan berbagi kasur.


Tidak terpikir oleh Nessa, kini ia sudah berstatus sebagai seorang istri. Seorang istri yang masih harus banyak belajar, saling mengenal, saling melengkapi.


Hal baru, status baru, dan tentunya perubahan baru pasti dirasakan. Begitu membuka matanya, Nessa sudah melihat sosok pria yang kini entah sejak kapan sudah membuka matanya.


Sontak saja Nessa menutupi wajahnya dengan selimut tebalnya dan berbalik badan.


Endi yang melihatnya hanya menahan senyum melihat tingkah istrinya yang terlihat malu-malu.


"Ayo bangun, waktunya subuh." ujar pria itu sambil menyibakkan selimut yang menutupi setengah badannya lalu perlahan menyibakkan selimut istrinya.


"Iya, duluan." jawab Nessa kemudian telah terduduk dan mencari ikat rambutnya. Gadis itu merasakan tidak enak pada perutnya, bukan karena ingin buang hajat, tapi, rasanya itu. Semoga saja tidak. Batin gadis itu.


"Baiklah. Nanti Adek nyusul." ucap Endi mulai bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Adek? Jantung Nessa rasanya sungguh tidak aman. Masih subuh, tapi, pria itu sudah membuat jantungnya maraton.


Tidak lama Endi pun keluar dengan pakaian lengkapnya khas rumahan. Pria itu berjalan untuk mengambil perlengkapan sholat termasuk baju koko dan sarungnya, tidak lupa juga dengan peci.


Saat itu juga Nessa pun bangkit, menuju kamar mandi. Sementara Endi tampak mendekati kasur setelah menyiapkan perlengkapan sholatnya. Dahi pria itu mengernyit saat melihat kasur bekas Nessa tempati tadi. Terdapat noda darah di sana.


"Dek!"


Nessa yang saat itu baru akan memasuki kamar mandi setelah mengambil handuknya langsung berhenti dan berbalik.


Gadis itu menatap Endi dengan raut wajah seperti bertanya ada apa.


"Sini deh!" kata Endi meminta Nessa untuk mendekat.


"Apa?" Nessa pun menurut.


"Adek datang bulan? Bocor ya?" tutur Endi membuat Nessa terkejut bukan main. Ia langsung berjalan cepat dan melihat kasur yang ditempatinya tadi terdapat noda darah di sana. Nessa pun menoleh ke belakang, dan benar saja, ia melihat pakaian belakangnya sudah tembus.


Sontak gadis itu membalikkan tubuh suaminya hingga membelakanginya.


"Jangan dilihat!" titah Nessa yang kini sudah merasakan malu bukan main. Bagaimana tidak, pertama kalinya ia datang bulan dilihat oleh pria yang kini baru berapa hari menjadi suaminya.


Endi yang diperlakukan seperti itu hanya bisa menurut tanpa membantah. Lagi pula ia pasti tau bagaimana perasaan Nessa saat ini. Malu, tentu saja. Dan Endi paham kalau sekarang Nessa masih butuh privasi.


Nessa langsung menarik selimut itu serta seprainya hingga terlepas dari kasur. Lalu Nessa menyimpannya di atas keranjang tempat pakaian kotor. Biarlah seprai dan selimut nanti akan ia cuci, untuk sementara itu Nessa akan membersihkan dirinya terlebih dahulu.


"Udah."


Endi membalikkan badannya lagi dan melihat kasur yang sudah polos tanpa adanya seprai dan selimut. Hanya ada bantal dan guling karena setelah Nessa melepas itu semua, gadis itu sempat menaruh kembali bantal dan guling itu di atas kasur.


Karena istrinya sedang berhalangan, jadilah kini Endi melaksanakan sholat subuh sendirian. Untuk jamaah ke masjid pun rasanya tidak sempat karena sudah lewat adzan.


Sementara itu, saat Nessa akan mengambil pembalut, ia tidak melihat barang tersebut yang biasa selalu ada di lemarinya. Apa iya stoknya sudah habis? Nessa juga baru ingat kalau dirinya lupa belanja untuk kebutuhan pribadi bulanannya.


Nessa berjalan bolak-balik di kamar mandi. Saat mengetahui barang tersebut tidak ada, Nessa kembali masuk ke dalam kamar mandi. Apa ia harus membelinya sendiri? Tapi, Nessa takut nanti malah tambah bocor karena tidak mengenakan pembalut. Gadis itu bimbang dan bingung. Mau meminta tolong rasanya Nessa masih mali dengan kejadian tadi. Jelas-jelas pria itu melihat noda darahnya di atas kasur. Nessa jadi kepikiran.


Entah berapa lama gadis itu berada di dalam kamar mandi. Hingga Endi selesai sholat subuh, gadis itu masih betah berlama-lama di dalam sana. Karena tidak melihat istrinya keluar lagi, Endi jadi khawatir. Pria itu mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali hingga terdengar sahutan suara Nessa dari dalam.


"Pak."


Karena tidak mendapat balasan dari suaminya, Nessa baru sadar panggilan itu reflek keluar dari bibirnya.


"M-mas."


"Iya?" jawab Endi.


"Bisa tolongin Nessa gak?" ujar gadis itu tanpa membuka pintunya.


"Minta tolong apa, Dek?" tanya Endi yang tentunya bersedia.


Nessa menggigit bibir bawahnya ragu.


"Dek?"


"Beliin pembalut." ujar gadis itu akhirnya bernafas lega karena sudah memberitahunya. Tapi, ia juga khawatir kalau pria itu tidak mau menolongnya. Biasanya kan kalau laki-laki disuruh membeli barang keramat itu pasti menolak. Mereka bilang malu, apalagi kalau sudah berada di kasir. Pasti kasir cowok maupun kasir cewek akan melihat mereka sambil menahan tawa.


"Itu aja?" tanya Endi balik.


Nessa hanya mengangguk, sesaat ia menyadari kalau anggukannya itu tidak terlihat oleh Endi.


"Iya. Yang ada sayapnya."


"Iya, tunggu sebentar ya? Mas keluar dulu, assalamu'alaikum."


Nessa hanya membalas salamnya di dalam hati. Karena ia sadar tempatnya masih di dalam kamar mandi.


Endi dengan cekatan mengambil jaket dan kunci motornya. Pria itu hanya memakai baju kaos abu-abu dan celana training panjang.


Saat sudah berada di bawah, Endi tidak sengaja berpapasan dengan mertuanya.


"Mau ke mana subuh-subuh gini, Rey?" tanya Mami Hana.


"Mau ke alfamart, Mi. Rey pamit ya? "


"Ya sudah, kamu hati-hati di jalan."


"Iya, Mi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mami Hana yang saat itu baru saja dari dapur langsung kembali masuk ke kamarnya. Saat sudah berada di atas, Mami Hana melihat pintu kamar anaknya setengah terbuka. Di lantai atas, terdapat 3 kamar. Kamar Nessa yang berada di paling ujung, sementara kamar Mami dan Papinya berada di dekat tangga, dan kamar di tengah tersebut kosong.


Karena penasaran, Mami Hana langsung masuk ke dalam kamar putrinya. Kebetulan saat itu Nessa sudah keluar dan akan masuk ke kamar mandi lagi sambil membawa selimut dan seprainya untuk ia cuci.


Nessa yang melihat keberadaan Maminya cukup kaget.


"Mami?"


"Iya, kamu kenapa, Sayang? Bocor?" tebak Mami Hana yang sudah hafal kebiasaan putrinya yang kalau datang bulan selalu di waktu subuh.


Nessa hanya mengangguk sambil tangannya menunjukkan selimut dan seprai.


"Tadi Mami ketemu Rey di bawah, katanya mau ke alfamart."


Nessa hanya menyengir menampakkan deretan gigi putihnya.


"Hehe, iya. Stok Nessa abis, Mi. Ini aja Nessa gak pake."


Mami Hana hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Di kamar Mami juga gak ada sih, soalnya belum belanja. Ya udah, kamu tunggu aja Rey, mungkin bentar lagi sampai."


"Iya, Mi."


"Kalau gitu Mami ke kamar dulu ya?" Nessa mengangguk.