
"Ada apa, Bang?" tanya Dimas dengan polos walau hatinya sudah tidak karuan karena di sekitarnya sepi, tidak ada orang yang lewat.
"Sini lo!"
Mendengar suara yang menurutnya seram, Dimas pun mengambil ancang-ancang untuk berlari. Dia takut, bahkan jantungnya sudah berdebar. Beberapa kali bahkan ribuan kali dia beristighfar dan berdo'a semoga dia diberikan keselamatan.
Selain karena suara, Dimas juga takut saat melihat penampilan mereka. Pakaiannya yang robek sana-sini, bukan karena gembel, namun ya namanya preman pastinya pakaiannya modelan seperti itu.
Bugh
Saat baru saja berlari beberapa langkah Dimas sudah merasakan tubuhnya limbung dan tersungkur di jalan. Pandangannya mulai gelap dan saat itu juga Dimas tidak tau apa yang terjadi selanjutnya.
Matanya mengerjap dan menyipit saat baru saja membuka kedua matanya. Dan melihat sekelilingnya dipenuhi oleh barang-barang rongsokan. Bahkan berdebu.
"Uhukkk... uhukkk..." Dimas terbatuk lantaran menghirup debu di dalam ruangan itu. Sangat-sangat kotor, bahkan tikus-tikus yang berjalan sudah tak takut lagi bahwa ada orang di ruangan itu.
Dalam posisinya duduk di kursi dan tangan terikat di belakang membuat Dimas kesulitan untuk bergerak. Rasanya badannya sedikit pegal-pegal.
"Bos, mau diapakan anak itu?" samar-samar Dimas mendengar obrolan preman tersebut. Karena posisi Dimas di depan sedangkan preman tersebut di belakang, jadi, saat Dimas bangun preman tersebut tidak mengetahuinya.
"Tunggu perintah dari Bos besar dulu. Kalau mau bermain-main sedikit gak masalah." balasnya sambil tersenyum smirk.
"Baik, Bos."
Sekumpulan preman itu langsung berjalan menuju Dimas dan mereka terkejut saat melihat pemuda itu sudah terbangun tanpa memberontak ataupun berteriak meminta untuk dilepaskan.
"Heh, anak kecil! Udah bangun Lo?!"
Dimas terdiam mendapat bentakan dari salah satu preman itu. Dalam posisi sulit pun ia masih bisa bersikap tenang, tapi, hatinya tidak bisa dibohongi bahwa dirinya takut.
Tiba-tiba rahangnya dicengkram kuat membuat Dimas memejamkan matanya menahan sakit.
"Lo bisu!?" bentak preman itu.
Dimas masih tetap diam.
"Ck!" cengkraman nya dilepas kasar, menimbulkan bekas merah di rahang Dimas.
"Bos, saya rasa dia berbeda dari biasanya?" bisik preman satunya.
"Beda gimana?" tanya ketua preman mereka.
"Matanya."
Sontak ketua mereka langsung memajukan wajahnya dan melihat bola mata Dimas dengan tatapan tajamnya.
Setelah meneliti, preman itu langsung menegakkan tubuhnya kembali.
"Kalian urus dia."
"Baik, bos." mereka hanya menurut saat ketuanya memerintahkan mereka sementara ketuanya pergi entah ke mana.
Keesokan harinya Dimas terbangun masih di tempat yang sama. Pemuda itu sedari kemarin terdiam, sama sekali tidak memberontak.
"Bang." akhirnya Dimas buka suara.
Hari masih subuh, adzan subuh pun sudah berkumandang, sementara preman-preman itu masih tertidur lelap di lantai beralaskan kotak bekas.
Karena tidak mendapati respon, Dimas tidak kehabisan akal. Ia melirik ke bawah dan menemukan kaleng bekas teronggok di samping kakinya.
Klontang
"Mau mati Lo, hah!! Ganggu orang tidur aja." umpat preman itu kesal.
"Bang, bisa lepasin saya sebentar?" pinta Dimas.
"Jangan harap!"
"Saya gak bakalan kabur kok, Bang. Tuh adzan sudah berkumandang, menyeru para umatNya untuk menghadap-Nya."
"Apa hubungannya adzan sama kamu minta dilepaskan!?"
"Saya mau sholat, Bang. Abang tau sholat kan?" jawab Dimas.
Preman tersebut hanya diam, lalu dia membangunkan temannya yang masih tertidur.
"Bangun woy! Tuh bocah temenin."
Dengan terpaksa temannya itu terbangun. Mereka melepaskan tali yang mengikat tubuh Dimas.
Dimas akhirnya bernafas lega. Walau banyak sekali pertanyaan yang bersarang di benaknya. Tentang kenapa dia diculik? Apa salahnya? Dan masih banyak lagi. Dimas berpikir nanti setelah sholat subuh, ia akan mengatur strategi untuk kabur. Pasti orangtuanya khawatir karena dirinya tidak pulang sejak kemarin siang.
Dengan dikawal satu preman itu, Dimas pun akhirnya selesai beribadah. Pemuda itu masih duduk bersimpuh sambil berlama-lama berdzikir.
Sedangkan preman itu terduduk bersandar di tembok. Tanpa sadar matanya terpejam. Dimas yang melihatnya langsung cepat tanggap. Dengan seribu langkah tanpa diketahui ia berhasil kabur. Saat berada di luar, ia tidak sengaja menemukan sebuah foto yang teronggok di ambang pintu. Dengan ragu ia mengambilnya.
Deg
Betapa terkejutnya Dimas saat melihat foto tersebut. Foto tersebut memperlihatkan seorang pemuda yang seumuran dengannya. Dan yang membuat Dimas kaget adalah wajahnya. Wajah itu hampir mirip dengannya. Ralat, bahkan 99,99% sama. Yang membedakannya hanya warna bola mata. Bila mata Dimas berwarna hitam pekat sedangkan orang di dalam foto itu bola matanya berwarna hitam sedikit keabu-abuan.
Dengan hati tidak karuan, Dimas membawa ikut foto itu pulang. Dengan dibantu warga sekitar akhirnya ia bisa kabur dan pulang dengan selamat.
Flashback off
"Jadi, Mas pulang itu sama siapa?" tanya Nessa yang setia mendengarkan cerita suaminya dari awal.
"Ada bapak-bapak yang kebetulan ada di sekitar situ." jawab Endi, tangannya sedari tadi tidak berhenti membelai rambut istri kecilnya.
"Mas gak mau nyari tau tentang foto itu?" tanya Nessa sembari mendongakkan kepalanya.
Endi menggeleng kecil.
"Biarkan aja. Biar Allah yang mengaturnya."
Nessa hanya mengangguk. Tidak terasa hari sudah larut dan mereka sampai tidak sadar karena terlalu asik mengobrol.
"Mas, besok kan minggu. Kita jenguk Mami ya?"
Ya, memang keduanya sudah tinggal di rumah sendiri. Tepatnya satu minggu yang lalu. Dan alhamdulillah selama seminggu itu keduanya sudah merasa nyaman dengan suasana baru.
"Iya, sekarang tidur ya?"
Nessa pun mengangguk, gadis itu membalikkan badannya menghadap kanan, membelakangi suaminya. Sementara Endi itu Endi mematikan lampu dan menyisakan lampu tidur saja. Setelahnya dia mulai merapatkan diri, memeluk istrinya dan perlahan mulai menyusul memasuki alam mimpi.
.
.
.
maap baru bisa up 😪lagi sibuk²nya latihan buat acara sekolah nanti, do'ain ges semoga aku bisa lancar bikin kriya nya dalam waktu 3 jam trus dipamerin lagi di lapangan wkwk, mna aku itu pemalu🤣🤣🤣ah astaga kok jadi curhat sih😕