
Pagi hari sekali tampak Nessa sedang berkemas, memasukkan beberapa pakaian ke dalam koper berukuran kecil.
Ditinggal? Ini adalah pengalaman pertama Nessa ditinggal oleh sang suami. Yup, Endi akan melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Nessa mendapat kabar dari suaminya kemarin malam. Rasa berat untuk melepaskan tentulah ada. Tapi, tidak mungkin kan Nessa akan melarang. Biar bagaimana pun juga hal itu demi dirinya.
Untuk mengantisipasi kalau istrinya kesepian, Endi memintanya untuk tinggal bersama sang mami untuk sementara waktu. Jika diperkirakan lama waktu Endi berada di luar negeri sekitar satu minggu atau lebih.
Saat sedang mengambil pakaian dari lemari, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perutnya. Nessa hanya tersenyum dan tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Adek bayi apa kabar?" bisik pria itu tepat di telinganya. Tangannya bergerak mengelus perut Nessa yang masih datar.
Nessa tersenyum tipis. "Alhamdulillah, baik. Katanya kangen sama Abi-nya." balas Nessa menghentikan pekerjaannya sejenak.
"Abi?" gumam Endi mengembangkan senyumnya. "Adek jadi anterin Mas ke bandara?" tanya Endi membuka topik pembicaraan.
"Jadi dong. Sekaligus anterin Mama dan Papa. Jadwalnya kan sama." jawab Nessa.
Endi hanya mengangguk-angguk. Tidak disangka tempat tujuannya sama dengan kedua orang tuanya. Jadilah ketiganya memutuskan untuk berangkat dengan jadwal yang sama.
"Mas, bisa lepas dulu? Aku pengen selesain ini dulu." pinta Nessa merasa pergerakannya tidak bebas.
Cup
Endi mendaratkan satu kecupan di pipi kirinya. "Mas ke bawah dulu." ujar Endi sambil melepaskan pelukannya.
Selepas kepergian sang suami, Nessa langsung melanjutkan pekerjaannya. Memasukkan beberapa pakaian penting ke dalam koper. Untuk pakaian sehari-hari, Nessa hanya memasukkan beberapa baju koko dan sarung.
Sepuluh menit kemudian, pekerjaan itu sudah selesai. Bertepatan dengan Endi yang baru masuk ke kamar. Entah apa yang pria itu lakukan di lantai bawah.
"Udah selesai?" tanya Endi menghampiri istrinya yang saat itu sedang duduk di sisi kasur. Di samping bawahnya terdapat koper kecil yang akan Endi bawa.
"Humm..." Nessa hanya bergumam dengan anggukan kecil.
Endi mengikutinya duduk di sisi kasur. Tangan pria itu langsung mendarat lembut di perutnya. Setelah mengetahui kehamilan sang istri, tidak pernah sekalipun Endi untuk tidak mengusapnya. Bagaimana tidak, pria itu sudah sangat menantikan kehadiran sang buah hati.
"Rasanya berat untuk meninggalkan kalian berdua. Tapi, mas sadar ini juga demi masa depan kita. Mas cuma berharap, semoga kamu bisa jaga kesehatan dan dedek bayi. Masa akan berusaha untuk pulang cepat, nanti kalau ada apa-apa kamu bisa telfon Mas saat itu juga. Kalau Mas lagi sibuk, kamu bisa minta tolong sama Mami atau siapapun. Jaga kesehatan ya?"
"Seharusnya yang ngomong gitu aku, Mas. Di sini aku punya keluarga yang selalu melindungi aku, sedangkan Mas? Sendiri di negeri orang. Intinya Mas harus jaga kesehatan, makan teratur dan istirahat cukup. Aku akan menunggu Mas di sini." balas Nessa.
"Jangan lupa jaga hati. Mas udah punya istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah." lanjut Nessa lagi. Ya, ia hanya bercanda. Nessa tau suaminya bukan pria yang suka aneh-aneh.
Endi yang mendengar itu hanya terkekeh kecil. Tangannya langsung menjepit ujung hidung istrinya karena merasa gemas.
"Untuk perpisahan sementara ini... apa Mas boleh jenguk adek bayi?"
Kedua netra mata hitam pekat itu langsung bertemu. Nessa bisa melihat kilatan mata suaminya yang telihat berbeda. Semenjak tahu istrinya hamil, Endi tidak pernah sedikitpun menyentuh istrinya. Katanya takut kalau terjadi hal yang tidak diinginkan akibat dari keegoisan.
Setelah terdiam sejenak, akhirnya Nessa mengangguk kecil. "Masih ada waktu dua jam, Mas."
.
.
.
"Hampir saja kamu telat, Rey. Kamu ngapain aja?" pertanyaan itu keluar dari bibir Papa Resa saat anak dan menantunya datang terlambat. Sebelumnya mereka akan berangkat bersama dari kediaman orangtuanya. Namun, rupanya sepasang suami-istri itu kebablasan waktu. Alhasil keduanya menyusul langsung ke bandara.
"Emm... itu, Pa. Maaf, tadi Rey sempat ketiduran." jawab Endi tergagap.
"Udah, udah. Lagian Rey gak telat-telat amat kok. Masih bisa ditoleransi. Lagian, dulu Mas juga suka gitu, malahan lebih buruk dari Rey." sahut Mama Winanti membela anak dan menantunya.
Nessa langsung mengangkat wajahnya mendengar perkataan mertuanya.
"Itu kan dulu, Ma." cicit Papa Resa langsung kalah telak.
"Oh ya, katanya Nessa bakalan tinggal di rumah mami? Mending di rumah Mama aja, sayang. Tasya sendirian gak ada temennya. Gimana?"
"I-iya juga sih, Ma. Kalau gitu Nessa sama Tasya aja. Kamu setuju, Mas?" tanya Nessa meminta pendapat kepada suaminya.
"Boleh, boleh. Atau gak biar Tasya aja yang ke rumah. Biar nanti rumah ada yang jaga, kalau di rumah Mama kan masih ada Bik Ijah yang jaga."
"Ya udah, senyamannya kamu aja ya? Apapun itu." ucap Mama Wina sembari mengelus lengan Nessa.
"Iya, Ma." jawab Nessa tersenyum.
Obrolan mereka langsung terhenti kala suara pengumuman kepada para penumpang agar segera memasuki pesawat.
"Jaga kesehatan ya? Jangan lupa minum vitaminnya. Mama titip Tasya dan juga calon cucu Mama."
"In Syaa Allah, Ma. Mama dan Papa juga jaga kesehatan. Sering-sering ngasih kabar."
Keduanya melepaskan pelukan. Lalu Nessa langsung berpamitan kepada Papa Resa, ia hanya mencium punggung tangan mertua itu.
Kini saatnya Nessa berpamitan kepada suaminya. Seketika matanya langsung mengembun, seakan-akan air matanya mendesak keluar. Seminggu tidaklah sebentar. Apalagi ini pengalaman pertamanya ditinggal jauh.
"Mas berangkat dulu ya? Jangan mellow gini dong. Nanti Mas malah gak jadi berangkat." tutur Endi sambil merengkuh tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya.
"Mas harus sering-sering kasih kabar." balas Nessa menghirup dalam-dalam wangi khas suaminya.
"Iya, sayang, iya. Mas akan sering kasih kabar. Nanti kalau udah sampai di sana Mas janji akan langsung telfon."
"Janji?"
"Iya, janji."
Satu menit sudah mereka berpelukan, akhirnya dengan terpaksa Endi melepaskan pelukannya. Tangannya langsung menghapus air mata yang mengalir di pipi istrinya.
Cup
Endi langsung mencium kening Nessa dengan penuh penghayatan. Lalu ciuman itu langsung berpindah di kedua pipi Nessa.
"Mas sayang kalian. Jaga kesehatan." Endi kembali memeluk Nessa sebagai salam perpisahan.
Lelehan air bening itu kembali jatuh saat melihat kepergian suaminya disertai lambaian tangannya. Wanita itu terdiam. Setelahnya ia langsung menghapus air matanya. Menghembuskan nafasnya kasar sebelum beranjak pergi dari sana.
Untuk pulang, Nessa menggunakan taksi. Dirinya tidak ingin terhanyut akan kesedihan karena takutnya nanti akan berimbas kepada calon buah hatinya. Dan juga hari ini ia ada kelas siang.
.
.
.
maaf alur berantakan 😂otaknya juga ikut berantakan 🤣cerita ini dibuat hanya untuk senang² saja 😀😀kalau ada yg nanya kenapa ceritaku suka lama update, so tau lah jawabannya ya. see you next time 😍😍