
Sekarang Nessa sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Seluruh anggota keluarganya tampak berkumpul di ruangan tersebut sambil mengobrol-ngobrol. Endi dengan sentiasa menemani sang istri sejak istrinya keluar dari ruang IGD. Setiap pergerakan Nessa tidak luput dari pengawasannya. Kali ini Endi lebih ketat dan waspada dalam menjaga istrinya. Apalagi sejak tau bahwa istrinya tengah hamil kembar.
Yang lebih mengejutkan lagi Nessa hamil kembar 3. Namun, karena insiden tadi siang membuatnya harus kehilangan satu di antara ketiganya. Endi benar-benar dibuat terkejut. Ia kira tadi bayi yang ada di dalam kandungan Nessa akan benar-benar hilang. Namun, ternyata Tuhan telah menentukan pilihan yang terbaik sehingga baik Nessa maupun suaminya tidak merasa kehilangan. Namun, mereka juga sedih. Keduanya juga baru tau bahwa Nessa hamil kembar karena sebelumnya mereka sama sekali tidak melakukan USG.
Endi tampak duduk di samping ranjang istrinya sambil mengupas kulit buah-buahan, sementara orang tua mereka duduk di sofa dan bahkan ada yang menggelar karpet di lantai karena sofa tidak bisa menampung banyak muatan.
"Papi akan mengurus pelakunya segera. Ini udah termasuk tindakan kekerasan. Papi gak terima putri kesayangan Papi diperlakukan seperti itu." kata Papi Ibra kepada semuanya.
"Mami setuju." sahut Mami Hana mendukung keputusan suaminya.
"Apalagi ini bukan kali pertama dia memperlakukan Nessa seperti itu. Heran sama anak zaman sekarang, pikirannya rata-rata pendek." seru Bunda Dita juga ikut bicara.
"Berarti Nessa juga termasuk dong." sahut Nessa menambahi.
Saat itu juga Endi langsung memasukkan potongan apel kecil ke mulut istrinya sehingga membuat Nessa tidak bisa berbicara. "Itu beda lagi. Emangnya adek mau jadi orang jahat?"
Nessa menggelengkan kepalanya seraya mengunyah potongan kecil buah apel di mulutnya.
"Papi akan sewa bodyguard untuk menjaga kamu." ucap Papi Ibra sontak mendapat protes dari putrinya.
"Jangan dong, Pi. Itu kan cuma kecelakaan, lagian ngapain juga sewa bodyguard." protes Nessa.
"Kecelakaan apa, Sayang? Ini udah lebih dari satu kali dan Papi gak mentolerir."
"Mungkin cuma khilaf aja, Pi."
"Khilaf khilaf. Mana ada khilaf sampai membahayakan nyawa orang, udah gitu sampai--" Endi tidak dapat melanjutkan perkataannya karena itu menyangkut salah satu calon anaknya yang sudah tiada.
Tok... tok... tok...
Tiba-tiba dari arah luar terdengar pintu diketuk. Semua anggota keluarga Nessa saling pandang.
"Biar Mami aja yang bukain." kata Mami Hana lalu beranjak dari duduknya.
Ceklek
"Siapa?"
"Assalamu'alaikum, Tante." sapa Tiara yang baru saja datang untuk menjenguk Nessa.
"Eh, wa'alaikumsalam. Ayo masuk, nak!" Mami Hana mempersilahkan Tiara masuk ke dalam ruang rawat Nessa.
"Iya, Tante. Makasih."
"Sama-sama, nak."
"Assalam'alaikum, Om, Tante." Tiara menyalami satu persatu anggota keluarga. Di sana ada Papi Ibra, Bunda, Dita, dan juga Ayah Rio.
"Wa'alaikumsalam. Ini Tiara ya?" tanya Ayah Rio mendapat anggukan kepala dari gadis itu.
"Iya, Om."
Selepas menyapa para orang tua, Tiara berpindah mendekati Nessa yang tampak duduk bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya.
"Hai, Nessa, Pak Endi." sapa Tiara.
Nessa dan Endi tersenyum dan menganggukkan kepala. Karena tidak ingin menganggu keduanya, Endi langsung berpindah tempat. "Mas ke sana dulu ya?" ujar Endi sembari mengusap pucuk kepala istrinya.
"Iya, Mas." balas Nessa. Kemudian ia langsung mengalihkan pandangannya, menatap Tiara.
"Sama siapa ke sini?" tanya wanita itu.
"Sendiri. Aku minta maaf ya, Nes."
Alis dan kening Nessa mengerut. Ia memandang bingung Tiara. "Maaf kenapa?"
"Itu, soal tadi siang. Aku bukan teman yang baik buat kamu, Nes. Harusnya aku gak ninggalin kamu sendirian di toilet." sesal Tiara.
"Tapi, Nes--"
"Udah, ini udah lewat. Gak mungkin kan kita terus melihat ke belakang?"
Akhirnya Tiara menganggukkan kepalanya pasrah.
"Eh ya, Vella dimana?" tanya Nessa. Karena tadi dalam situasi darurat, jadinya Nessa tidak terlalu fokus dengan sekitar. Ia hanya terfokus pada kandungannya.
"Enggak tau. Tadi dia nelfon aku katanya ada urusan sebentar. Nanti malam dia bakalan ke sini." balas Tiara.
Nessa yang tidak ingin su'udzon pun mengangguk. Mungkin saja memang Vella sedang ada urusan. Nessa tidak lupa apa tujuan Vella kembali yang ingin mengurus berkas-berkas penting di sini.
.
.
.
Apa yang Nessa pikirkan itu salah. Nyatanya Vella bukan mengurus urusannya, melainkan mengurus pelaku yang sudah membuat Nessa kehilangan salah satu calon bayinya. Bukan Vella namanya kalau tidak turun tangan langsung. Sedari SMA dulu bukankah dia selalu menjaga Nessa. Setiap ada yang menyakiti Nessa, maka, Vella yang akan turun tangan. Karena Vella tau Nessa tidak akan pernah berbuat hal tidak baik. Salah satu keistimewaan Nessa, yaitu ia diam ketika ada yang mencelakai. Namun, diam-diam Nessa hanya mendo'akan.
Selama ini Vella diam ketika ada yang menyakiti Nessa karena ia juga sadar bahwa jarak diantara mereka itu terlalu jauh. Namun, sekarang Vella sudah kembali. Vella marah, sangat marah.
Sisi lain dari Vella kembali bangkit. Ia tidak akan suka jika ada yang menganggu bagian dari hidupnya.
Vella langsung mencari keberadaan Sisi. Sangat mudah bagi Vella untuk mendapatkan informasi tentang Sisi. Sebagian informasinya ia dapatkan dari Rendi yang notabene adalah ketua BEM sekaligus teman Sisi.
Namun, ternyata Sisi tidak ada di kediamannya. Hal itu membuat Vella sedikit geram. Ia sudah berkeliling untuk mencari keberadaan Sisi. Namun, Vella belum juga menemukannya.
Hari sudah malam. Tapi, Vella masih betah berada di luar. Ia tampak duduk di sebuah cafe untuk meredam emosinya. Sampai sekarang Vella belum juga menemui dan menyapa Nessa. Saat pertama bertemu pun ia dalam keadaan kalut. Pikirannya hanya tertuju pada Nessa.
Suasana cafe tampak lumayan sepi. Hanya ada beberapa pengunjung yang datang ke sana. Vella memejamkan matanya sejenak sambil menikmati suasana di dalam cafe tersebut.
Tring
Satu pesan masuk lalu disusul banyak pesan lainnya. Vella hanya melirik sekilas tanpa mau membukanya.
Drtttt
Tiba-tiba ponselnya berdering. Sontak Vella langsung mengambil ponselnya di atas meja dan melihat nama kontak si penelepon. Gadis itu menggeser layar tombol berwarna hijau ke atas dan panggilan pun tersambung.
"Halo."
"Kamu kemana aja? Kenapa belum pulang? Padahal pesawatnya udah landing tadi siang. Papa kamu dari tadi udah ngomel-ngomel." baru juga mengucapkan kata Halo, Vella sudah mendapatkan banyak sekali pertanyaan. Seketika kepalanya pening mendengarnya.
"Vella di luar, Ma. Maaf belum bisa pulang. Tadi ada kecelakaan." jawab Vella menjelaskan.
"Siapa yang kecelakaan?" terdengar nada khawatir dari seberang sana.
"Nessa, Ma." kata Vella pelan.
"Trus kabarnya gimana? Nessa gak apa-apa kan? Mama pengen jenguk Nessa."
"Nessa baik-baik aja, Ma. Tapi--" perkataan Vella terjeda.
"Tapi apa?" tanya sang mama.
"N- Nessa keguguran, Ma." lirih Vella menahan sesak di dadanya.
.
.
.
aku kasih beberapa part cerita tentang Vella ya😊