My Teacher

My Teacher
MT part 44



Nessa merapatkan dirinya masuk ke dalam selimut. Suasana di luar sungguh tidak mendukung, hujan lebat mengguyur kota itu serta angin yang sedikit kencang. Awan-awan hitam pun menghalangi cahaya matahari untuk menampakkan dirinya.


Setelah sholat subuh tadi Nessa memutuskan untuk kembali bergelung dengan selimut hangatnya. Dan sekarang sudah menunjukkan pukul enam pagi, namun, gadis itu belum menunjukkan tanda-tanda untuk bangun.


Endi yang mengerti kondisi istrinya hanya membiarkan, sementara itu pria itu mulai menyiapkan sarapan. Setelah selesai, Endi kembali masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya yang masih betah di atas kasur empuk.


Pria itu mendekat, menarik pelan selimut yang membungkus seluruh tubuh Nessa. Lalu tangannya bergerak menyibakkan mahkota indah gadis itu ke samping.


Lama Endi memandangi, karena gemas pria itu akhirnya tidak tahan untuk membangunkan istrinya.


"Dek, bangun. Udah pagi loh ini." ujar Endi pelan sambil memainkan bulu mata lentik gadis itu.


Nessa hanya menggeliat kecil dan mengerjapkan matanya karena merasa geli.


"Dek, katanya mau ke rumah Mami." kata Endi masih berusaha.


"Bentar, Mas. Dingin." gumam Nessa membalikkan tubuhnya hingga posisinya membelakangi pria itu.


"Hujannya udah reda. Ayo bangun, mandi." suruh Endi tetapi istrinya masih juga belum bangun. Apa mungkin efek tidur larut semalam, belum lagi mereka bangun dini hari untuk melaksanakan sholat tahajjud, dan bangun subuh lagi.


Endi mulai gemas, pria itu terpaksa menarik selimut yang membungkus tubuh istrinya hingga selimut itu teronggok di lantai.


"Mas, dingin!"


Nessa mulai membuka kelopak matanya dan langsung terduduk dengan muka bantalnya.


"Jangan dilihat!" larang Nessa saat Endi menatapnya lama.


"Siapa yang melarang?"


"Nggak ada." jawab Nessa memalingkan wajahnya ke samping.


Wajahnya pasti sudah memerah karena malu. Hal tersebut memanglah hal umum, namun, masih saja Nessa merasakan malu dan canggung terutama saat bangun tidur dan mendapati dirinya ditatap lekat.


"Masih dingin?" tanya Endi dan mendapat anggukan polos oleh Nessa.


Endi yang awalnya duduk di pinggiran kasur kini mulai merangkak naik. Dirinya juga sama kedinginan, namun, masih bisa dilawan.


Pria itu mendekat dan merapat membuat Nessa merasa was-was. Apalagi pria itu kini kian mendekat dan membuat Nessa mentok ke sandaran kepala kasur.


Reflek Nessa menutup mulutnya menggunakan satu tangannya saat pria itu mendekat.


Endi menaikkan satu alisnya ke atas.


"Nessa belum cuci muka." jelas Nessa yang belum melepas tangannya.


Pria itu hanya tersenyum kilas. Tangan Nessa langsung tergerak mendorong pria itu dan akhirnya ia bisa terbebas. Gadis itu langsung berlari menuju kamar mandi dengan jantung berdebar tidak karuan.


15 menit Nessa bersih-bersih, dan akhirnya sudah siap dan rapi. Keduanya langsung turun ke bawah menuju dapur.


Saat sudah sampai, Nessa terkejut saat melihat sarapan sudah tertata rapi di atas meja.


"Mas?"


Endi langsung memegang kedua bahunya dan menuntunnya duduk di kursi meja makan lalu disusul dirinya.


"Sarapan dulu, ke rumah Mami kapan? Atau siang aja?"


"Makasih, Mas. Gimana baiknya aja."


"Kalau gitu biar nanti siang aja."


🌼🌼🌼


Siang hari keduanya sudah menyambangi rumah orang tua Nessa dan mereka disambut dengan hangat. Kebetulan weekend, jadi, kedua orangtuanya stay di rumah.


"Alhamdulillah, sehat. Kalian gimana?"


"Alhamdulillah, sehat juga, Mi. Oh ya, Papi mana?"


"Ada di kamar. Bentar ya, Mami panggilin dulu."


Endi hanya mengangguk. Pria itu pun duduk di sofa ruang keluarga sembari menunggu mertuanya.


"Kenapa? Kangen rumah ya?" tanya Endi saat mendapati respon istrinya yang hanya diam.


Nessa hanya mengangguk.


"Kapan-kapan boleh nginap kok."


Nessa tersenyum. Rasanya sangat bersyukur memiliki suami yang pengertian. Tidak hanya pengertian, suaminya itu juga baik, baik dalam akhlak maupun agama. Setidaknya gadis itu tenang karena ada yang membimbingnya.


"Makasih, Mas." ujar Nessa terharu.


"Sama-sama." Endi membalas senyuman istrinya.


"Ekhem... ngomongin apa nih?" seru Papi Ibra baru datang.


"Eh, Papi." celetuk Nessa sambil menyengir.


"Kabarnya gimana? Rumah jadi sepi nggak ada kalian." Papi Ibra duduk di samping Nessa setelah keduanya menyalami Papi Ibra.


"Hehe, alhamdulillah baik, Pi. Nessa juga kadang bosen kalau sendirian di rumah. Biasanya kalau pulang sekolah kan ada Mbok Jum, trus malamnya sama Mami Papi." curhat Nessa.


"Ya kan namanya udah berumah tangga. Baik-baik ya sama suami. Ini udah semester 2, jadi, jangan terlalu banyak pikiran biar nanti ujian nggak drop."


"Iya, Papi. Nessa inget kok."


"Sayang, temenin Mami masak yuk! Biar Papi sama Rey ngobrol, kamu buatin dulu minuman buat mereka." sahut Mami Hana mengajak Nessa ke dapur.


"Iya, Mi. Pi, Nessa ke dapur dulu ya?"


"Iya, Sayang."


"Mas, Nessa ke dapur dulu." bisik Nessa pelan berpamitan kepada suaminya.


Endi hanya mengangguk saja mengizinkan.


Sementara Nessa membantu Maminya memasak, sedangkan Endi dan Papi Ibra tampak mengobrol serius di ruang tengah.


Obrolan mereka terhenti saat Nessa menyeru mereka karena makan siang sudah selesai disiapkan.


Setengah hari itu, Nessa mendapat banyak sekali nasehat dan masukan baik dari Mami dan Papinya begitu juga dengan Endi. Intinya keduanya mendapat banyak pengalaman. Baik Nessa dan Endi pun mendengarkan secara khidmat tanpa menyela. Karena Endi pria matang, jadi Mami Hana dan Papi Ibra hanya berpesan agar membimbing Nessa dan selalu sabar. Salah satunya sabar kalau Nessa belum menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri yang sesungguhnya. Dan Endi pun sebenarnya tidak memaksa, karena cinta tidak harus memaksa. Dan pria itu juga sadar bahwa cinta bukanlah naf*su semata.


Karena cinta itu adalah fitrah dan anugerah terindah dari Allah. Lalu bagaimanakah cinta terhadap lawan jenis? Seperti sudah dikatakan bahwa cinta itu adalah fitrah dan anugerah. Setiap ciptaannya pasti merasakan cinta. Lalu, bagaimana menyikapinya bila cinta terhadap lawan jenis yang bukan mahramnya? Banyak cara yang bisa dilakukan salah satunya mendekatkan diri kepada Allah. Katakanlah bahwa cinta itu adalah hanya untuk kepada-Nya.


Apakah ada yang mau menjadi Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib? Iya, cinta dalam diam yang berakhir dengan bersatu.


Ataukah menjadi Rasulullah dan Aisyah? Yang tumbuh rasa cinta setelah mereka menikah? Anggaplah saja begitu.


Semuanya, cinta adalah fitrah. Jangan katakan bahwa cinta itu salah. Tapi, ingatlah cinta adalah anugerah dari Allah yang akan kita kembalikan lagi kepada Allah.


.


.


.


heyo, cuma mau ngasih tau. Itu novel Om Zaf ama Ceisya udah up lagi ya, udah direvisi juga. Jadi, silahkan kalau yang mau baca πŸ˜‡πŸ˜‡ kalau mau baca silahkan lanjutanny silahkan baca di bab 64, untuk yg masih ada tanda revisi berarti blm aku revisi ya, tunggu aja waktunya 🀣πŸ₯°