
Angel keluar dari mobil William setelah mengucapkan terimakasih. Angel melihat mobil William melesat kearah barat. Entah seberapa jauh rumah William hingga dia membawa mobil dengan kecepatan diatas rata rata.
Angel masuk kedalam rumah, ia mendapati Erlyn tengah duduk di sofa dan seorang pria didepannya.
"Angel kau sudah pulang?"
Angel membeku ketika melihat wajah Daniel yang tiba tiba menatapnya. Sorot mata Daniel terasa asing oleh Angel. Dingin, tajam, dan mengintimidasi. Angel berusaha mengontrol detak jantungnya ketika Daniel berjalan mendekatinya.
Erlyn hanya berdiri dalam diam, entah apa yang mereka bicarakan tadi, wajah Daniel tampak sangat marah. Ah tidak wajah itu tampak seperti ekspresi kekecewaan dari pada kemarahan.
Daniel masih berjalan sambil menatap datar Angel, dia berjalan perlahan hingga akhirnya ia berhenti didepan Angel.
Daniel menyeringai tipis sambil memiringkan kepalanya, Angel tau persis wajah itu, ekspresi itu tidak selalu keluar. Raut wajah itu muncul ketika Daniel tengah kecewa berat kepada seseorang.
"Semurah itukah dirimu hm?" Angel membeku, jantungnya terasa tertikam belati ketika mendengar perkataan Daniel. suara serak dan terdengar seperti bisikan itu ternyata bisa menusuk perasaannya.
"D..daniel" Lirih Angel. Daniel tersenyum remeh dia berjalan melewati Angel yang tengah membeku.
Angel langsung ambruk, ia tidak bisa menahan tangisnya. Ini benar benar seperti mimpi baginya. kata 'semurah itukah dirimu' menggema jelas di kepala Angel.
Erlyn langsung berlari mendekati Angel.
"Angel kendalikan dirimu, sudahlah jangan menangis"
"Apa barusan dia mengatakan aku ini murah?" kata Angel di sela sela tangisannya.
"Angel sudahlah, Daniel pasti tidak bermagsud seperti itu"
"Tidak, pasti terjadi sesuatu padanya. Katakan padaku apa yang kalian bicarakan sebelum aku pulang tadi?"
Erlyn terdiam, ia tidak tau harus mengatakan apa. Erlyn mengginggit bibir bawahnya sambil berpikir keras.
"Itu kami... ummm.. kami.."
"Katakan apa yang kalian bicarakan? Apa dia marah karna aku tidak pulang bersamanya?" Angel semakin tidak terkendali dia menangis meraung raung sambil memukul mukul dadanya.
"Angel... sudahlah... jangan seperti anak kecil begini" Angel menatap Erlyn dengan mata sembabnya.
"Anak kecil katamu? Kau tau betapa aku mencintai dia Erlyn. Apa kau tau rasanya ketika orang yang kau sayangi menganggapmu rendah?"
"Angel!!"
"Kenapa? Kau sama sekali tidak memahamiku" Angel mengambil tasnya lalu berlari menuju kamar dan menutup pintu dengan keras.
Erlyn masih berada di posisi yang sama.
"Kau yang membuat luka lalu mengapa kau yang merasa paling tersakiti?"
Disisi lain Angel tengah menangis meraung raung didalam kamar, dia melempar semua barang barang di meja dan membuang semua barang yang ditemuinya.
"Daniel, sebenarnya siapa aku dimatamu? Aku tidak menyangka kau mengatakan hal itu padaku. Apa salah ku Daniel apa apa dengan mu? Kau tidak seperti Daniel yang aku kenal"
Angel berteriak dan merobek semua gambar gambarnya bersama Daniel. Tangan Angel berhenti merobek ketika melihat gambarnya bersama Daniel. Ia tengah berada di Paris saat itu. Mereka mengambil gambar dengan latar menara Eiffel. Daniel dan Angel tampak bahagia mereka menikmati waktu kebersamaan mereka saat itu.
"Ku kira kau akan selalu membuat aku bahagia. Tapi kali ini kaulah alasanku terluka"
"Daniel, apa yang terjadi padamu?"
Angel menangis sangat keras berharap sakit hatinya akan terobati dengan tangisan ini.
--
"Bagaimana apa kau menemukannya?"
"Iya, dia sangat cantik dan wajahnya tampak sangat lugu"
Pria itu menyesap Wine nya hingga tandas lalu menuangnya kembali.
"Benarkah? Itu sangat aneh"
"Aneh? Apanya yang aneh?"
"Aku sudah mengenalmu selama bertahun tahun tapi ini pertama kalinya aku mendengarkan kau memuji seorang gadis kecil sepertinya."
"Kau tidak paham Mark, akan ada masanya sesuatu akan mengubah dirimu" Jelas William sambil terkekeh. Meski sudah meminum banyak gelas ia masih sadar dengan baik.
"Apa sekarang gadis kecil itu telah mengubah pandanganmu? Ku kira kau adalah pria yang tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis mu" Mark melirik sekilas Ekspresi William. Seperti biasa ekspresi pria itu sangat sulit dibaca.
"Sstt... sepertinya kau juga telah berubah Mark"
Mark menautkan alisnya.
"Aku?" beo-nya sambil menunjukan dirinya sendiri. William mengangguk.
"Akhir akhir ini kau lebih banyak bicara dan mengurusi urusanku. Biasanya kau tidak peduli dengan apapun yang terjadi padaku"
"Apa kau tengah mengalihkan pembicaraan sekarang? Aku bertanya tentang gadis itu bukan tentang perubahanku"
"Gadis yang mana Mark? Mengapa kau menanyakannya lagi? Bukankah aku pernah menyurumu untuk mencari informasi tentang gadis itu? lalu apa lagi yang harus kau tanyakan padaku?" Mark mengendus kesal. Tidak ada guananya bicara pada pria ini itulah yang mungkin dia pikirkan.
Mark mengumpat lalu meninggalkan William yang terkekeh melihat kekesalan temannya.
"Ah.. gadis itu membuatku gila. Tunggulah sebentar lagi sayang, aku akan segera memilikimu"
---
Disisi lain Daniel tengah termenung di balkon kamarnya. Dia menatap langit yang gelap tanpa bintang dan tanpa bulan.
"Apa yang sedang memenuhi pikiranmu sayang?" Daniel membalikan tubuhnya menatap wanita cantik berkulit putih dengan riasan sederhana itu tengah memandanginya sambil tersenyum membawa segelas susu hangat.
"Mom, sejak kapan kau disini?"
Mommy Daniel berjalan mendekat sambil membawa susu hangat itu.
"Minumlah" Daniel menerima uluran gelas susu itu lalu meminumnya. Meminum susu dimalam hari adalah kebiasaan Daniel sejak masih di sekolah dasar.
"Apa mom memerlukan sesuatu?" Wanita itu menggeleng. Ia menatap kearah langit sambil tersenyum.
"Aku hanya penasaran apa yang dipikirkan anakku hingga tidak mendengar panggilanku" Daniel terkekeh sambil menggaruk tengkuknya, dia terlalu fokus dengan pikirannya hingga tidak menyadari kedatangan ibunya.
"Entahlah, mommy bolehkan aku bertanya"
"Tentu saja"
"Jika kita mencintai seseorang, apa itu berarti kita harus memilikinya?"
Mommy Daniel terkekeh, ia mengelus rambut tebal anaknya.
"Apakah menurutmu seperti itu?"
"Apakah harus menjawab pertanyaan dengan pertanyaan? mommy aku membutuhkan jawaban"
"Ah... anaku belum dewasa juga rupanya"
"Setiap orang mmeiliki konsep yang berbeda tentang cinta, dan menjalani cinta itu berdasarkan konsep yang mereka miliki. Tapi tidak semua berjalan seperti yang kamu inginkan. Cinta itu bukan batu kau tidak bisa menggenggamnya dan membawanya kemanapu yang kau mau. Tapi, cinta itu seperti air kau tidak bisa mengendalikannya atau menggenggamnya. Biarkan dia mengalir kemanapun arahnya"
Daniel menautkan alisnya
"Aku tidak paham"
"Sederhananya. Cinta memiliki takdirnya sendiri kau tidak bisa memaksa cinta untuk tetap bertahan jika memang ia ingin pergi"
"Jadi, apakah artinya cinta itu tidak harus memiliki"
"Cinta itu tentang bagaimana kita membuat 'nya' bahagia. Cinta tidak mengenal ke-egoisan, jika memang dia lebih bahagia tanpa mu maka sedalam apapun perasaanmu kau harus rela meninggalkannya. Apa gunanya mempertahankan hubungan jika memang salah satunya tidak bahagia?"
"Sebaiknya kau memahami konsep cintamu. Jangan memaksakan sesuatu yang tidak bisa di paksakan. Ingat cinta adalah tentang bagaimana kau membuatnya bahagia cinta dan jauhkan rasa egoismu karna cinta tidak membutuhkannya." Wanita iit tersenyum lalu meninggalkan Daniel yang masih termenung.
"Jika cinta tidak bisa egois, lalu bagaimana jika pilihannya malah akan membuatnya menderita. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi."
"Angel, sebenarnya siapa yang ada di hatimu?"
---