
Drttttt
Suara dering telfon milik Nessa berbunyi. Gadis itu segera merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya itu. Vella yang berada di sebelahnya hanya melihat pergerakan Nessa.
"Wa'alaikumsalam."
"Siapa?" bisik Vella pelan.
Nessa menjauhkan ponselnya lalu menjawab pertanyaan Vella lewat gerakan bibir tanpa mengeluarkan suaranya.
Sahabatnya itu pun hanya membulatkan bibirnya membentuk huruf O.
Sementara itu, kini Nessa mulai terhanyut akan obrolannya dengan orang yang menelfon. Setelah beberapa menit menjelaskan, akhirnya Nessa pun mengakhiri obrolannya dan menutup panggilan telfon.
"Ngomongin apa?" tanya Vella sedikit kepo.
"Biasa, nanya lagi di mana karna rumah sepi." jawab Nessa.
Vella pun hanya mengangguk paham.
Tiba-tiba pintu ruangan IGD terbuka, menampakkan sosok laki-laki memakai jas putih kebesarannya.
"Dengan keluarga pasien?" tanya dokter itu.
Sontak Nessa dan Vella pun bangkit, sedikit mendekati dokter. "Bukan, Dok. Kami cuma bantu bawa korban ke rumah sakit." jelas Nessa.
"Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan pasiennya, Dok?" sambung Nessa lagi.
"Saat ini pasien memerlukan donor darah karna sebelumnya pasien kehilangan banyak darah. Kebetulan stok golongan darah oadieiri rumah sakit itu habis."
Nessa dan Vella saling pandang.
"Kalau boleh tau golongan darahnya apa ya, Dok?" tanya Nessa.
"Golongan darah pasien adalah O."
Mendengar itu membuat kedua sekali lagi saling pandang. Ingin sekali membantu korban, namun, golongan darah mereka tidaklah sama.
Ngomong-ngomong soal korban kecelakaan itu, sampai kini Nessa dan Vella bahkan tidak melihat wajahnya karena sebelumnya wajah si korban dipenuhi oleh darah, jadilah mereka tidak mengenali sosok itu.
"Assalamu'alaikum." tiba-tiba terdengar suara pria mengucap salam. Membuat Nessa langsung mengalihkan pandangannya dan melihat suaminya menyusulnya.
"Wa'alaikumsalam, Mas. Kenapa nyusulin?" tanya Nessa sambil menyalim punggung tangan suaminya. Sementara Vella yang melihat kedatangan gurunya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Melihat adegan yang menurutnya romantis, membuat Vella tersenyum. Rupanya sahabatnya itu benar-benar berada di tangan laki-laki yang tepat.
"Nggak pa-pa, Mas cuma khawatir saja sama kamu." jawab Endi, kedua tangan mengapit kepala Nessa sambil meneliti keadaan istrinya dan memastikannya baik-baik saja.
"Oh ya, gimana kabar korban tabrakan?" tanya Endi.
"Katanya butuh donor darah, stok darah di rumah sakit ini juga habis kata dokter. Trus tadinya Nessa mau donorin, tapi gak jadi karna golongan darahnya beda." jelas gadis itu.
"Golongan darahnya apa?"
"O."
"Biar Mas aja yang donorin."
"Mas, serius?" Endi mengangguk yakin.
Pria itu menatap manik mata istrinya, seolah-olah tengah menyalurkan sebuah rasa yang kini membuat Nessa pun mengangguk menuruti.
"Dokter, saya yang akan menjadi pendonor untuk pasien." tutur Endi kepada dokter yang kini bahkan masih menunggu konfirmasi dari mereka.
"Baiklah. Sekarang silahkan mas ikuti saya."
"Gak pa-pa, Mas pergi dulu ya? Bentar kok, Adek tunggu di sini bareng Vella. Vella, tolong jagain istri saya." ucao Endi menenangkan hati istrinya sambil mengelus pucuk kepala gadis itu.
"Siap, Pak." jawab Vella spontan. Jangankan diminta, dia sendiri bahkan rela untuk menjaga sahabatnya itu. Sosok sahabat yang pertama kali dia temui di muka bumi ini yang memiliki hati bak bidadari syurga.
"Assalamu'alaikum." ucap Endi sambil melangkah mengikuti dokter tadi.
"Ekhemm... kayaknya udah mulai cinta nih." sindir Vella.
"Apa?" tanya Nessa disertai dengan delikan matanya.
"Hehe, enggak kok. Semoga langgeng sampai maut memisahkan ya. Nanti lulus jangan lupa undang."
"Aamiin. Iya, nanti pasti gue undang, tunggu aja kabar baiknya."
Selang beberapa waktu, akhirnya Endi sudah kembali. Pria itu tampak sedikit lemas karena darahnya diambil sebanyak empat kantong. Nessa yang melihatnya pun langsung menyuruh suaminya untuk duduk terlebih dahulu.
Sambil mengobrol, Nessa mengatakan bahwa biaya administrasinya belum diurus, selain itu dirinya juga bingung karena tidak tau identitas korban kecelakaan tersebut. Namanya saja tidak tau apalagi wajah serta alamat rumah dan segala macamnya.
"Mau ke mana?" tanya Nessa saat suaminya bangkit dari duduknya padahal kondisi pria itu masih lemas.
"Administrasi, katanya harus segera diisi." jawab Endi.
"Tapi kan Mas itu masih lemas, jangan capek-capek dulu lah. Biar Nessa aja nanti yang ke bagian administrasi." tolak Nessa menahan tubuh suaminya.
"Emangnya tau?"
Nessa hanya menyengir menampakkan deretan gigi putihnya. "Enggak sih, tapi, Mas jangan paksain dulu. Nanti kalau kenapa-kenapa gimana?"
"Ya gampang, kan Mas ada istri yang selalu perhatian." balas Endi membuat kedua pipi Nessa merona. Gadis itu jadi merasa malu, apalagi ada Vella di dekatnya. Sedangkan Vella yang merasa dirinya jadi obat nyamuk hanya pura-pura tidak mendengar obrolan keduanya. Dirinya pun pura-pura sibuk memainkan ponsel di tangannya. Membiarkan pasangan halal itu berdebat indah.
"Apaan sih!? Orang serius juga." Nessa memalingkan wajahnya malu.
"Iya, Mas juga serius. Ini udah kuat kok, bisa jalan juga."
"Ah, terserah Mas aja deh." akhirnya Nessa pun mengalah saja dari pada nantinya akan berbuntut panjang kan bisa berabe. Lagi pula kalau dipikir-pikir, mana mungkin mereka akan bertengkar hanya karena gara-gara hal sekecil itu.
"Emmm, Nes... gue pulang dulu ya? Mama nyariin soalnya, katanya ada tamu di rumah." ujar Vella tidak enak hati.
"Eh ya, maaf ya, Vel. Lo jadi harus nunggu gini. Gue anter ya!"
"Nggak usah, Nes. Gue bisa pulang naik ojol kok, jangan khawatir." tolak Vella dengan halus.
"Udah, gak pa-pa. Kan gue harus jadi orang yang bertanggungjawab."
"Nggak usah, nggak pa-pa kok Nes. Lo jangan gitu, nanti kalau lo anterin gue, trus Pak Endi siapa temennya di sini? Mau lo kalau suaminya sendiri digodain perawat di sini? Perawat di sini pada cantik-cantik loh, trus melajang juga." gertak Vella sambil senyum-senyum sendiri.
"Mana ada gitu!?" cetus Nessa pelan.
"Udah, udah. Vella, kamu bawa motor Nessa aja. Kebetulan saya ke sini naik mobil." lerai Endi.
Nessa mengangguk setuju.
"Beneran nih?" tanya Vella sekali lagi untuk memastikan.
"Iya, bener. Nih! Kunci motor, bawa aja ke rumah lo. Besok tinggal jemput gue aja." Nessa memberikan kunci motornya kepada Vella.
"Mmmm, oke. Gue pulang dulu, makasih ya, Nes, Pak."
"Gak masalah, Vella. Hati-hati pulangnya."
"Iya, Pak. Nes, gue pulang duluan." sahabatnya itu langsung memeluk dirinya. Ya mungkin bisa dikatakan pelukan salam perpisahan, maksudnya perpisahan sebentar karena pasti besok mereka akan bertemu kembali.
"Hati-hati, dahhh Vel."
Vella hanya mengacungkan jari jempolnya. Langkah kakinya kini kian menjauh dari penglihatan Nessa.
"Jadi ke administrasi?" tanya Nessa setelah benar-benar menyaksikan sahabatnya itu pulang.
Endi hanya mengangguk pelan.
"Ya udah, Nessa temenin tapi."
"Takut beneran ya apa yang dibilang Vella tadi?" goda Endi langsung mendapat cubitan pertama di pinggangnya. Pria itu hanya tertawa geli melihat istri yang salah tingkah.