My Teacher

My Teacher
MT part 22



Suara adzan subuh membangunkan penghuni rumah di rumah Winanti. Begitu juga dengan Nessa. Namun bedanya, gadis itu terbangun dengan kondisi tubuhnya yang lemas serta kepalanya yang terasa sangat berat.


Tepat saat Nessa akan bangkit, tiba-tiba pintu diketuk.


"Masuk." jawab Nessa lirih karena menahan di kepalanya.


"Kamu udah bangun, Nak?" tanya Winanti lalu mendekat.


Nessa hanya mengangguk.


"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Winanti melihat keanehan dari Nessa.


Gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. "Gak pa-pa, Ma. Kepala Nessa cuman sakit aja."


Winanti dengan sigap mengecek suhu badan Nessa dengan cara meletakkan telapak tangannya di kening Nessa. Suhu badannya sedikit panas.


"Panas, Nak. Istirahat aja dulu ya."


"Nessa baik-baik aja kok, Ma." tolak Nessa.


"Ya sudah, kita sholat dulu. Abis sholat kamu bisa lanjut istirahat?"


"Iya, Ma."


Dengan langkah pelan Nessa berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelahnya gadis itu keluar dengan tubuhnya yang lumayan segar, namun kepalanya masih sedikit nyeri.


Winanti yang masih ada di dalam kamar, segera mendekati Nessa dan menuntunnya untuk keluar kamar.


Ruang tengah adalah tempat mereka melakukan sholat berjamaah. Dua rakaat pun telah terlewati.


Sesudah sholat, Nessa langsung kembali ke kamarnya. Lalu tanpa sadar membaringkan tubuhnya ke atas kasur tanpa melepas mukena yang melekat di tubuhnya.


Sinar matahari yang menerpa wajahnya tidak membuat seorang Nessa terbangun. Gadis itu terlalu nyenyak, jam pun sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Seharusnya Nessa sudah berkemas untuk pergi ke sekolah. Namun, untuk membuka mata rasanya sangat sulit, apalagi untuk berjalan ke kamar mandi.


Perlahan dengan seiring sinar matahari terus menerpa, Nessa membuka matanya dengan susah payah. Matanya terasa perih, badannya terasa remuk.


Ceklek


Nessa menoleh ke arah pintu. Dan saat itu juga pintu terbuka menampakkan sosok Winanti datang sambil membawa nampan sarapan.


Wanita itu menyimpan nampan sarapan tepat di atas nakas, ia berjalan untuk membuka gorden yang masih tertutup rapat. Perlahan sinar matahari langsung menerpa ruangan itu, membuat Nessa mengarahkan tangannya untuk menghindari sinar matahari menerpa wajahnya.


Winanti kembali mengecek suhu tubuh Nessa yang ternyata malah bertambah panas. Tangannya seperti menyentuh air panas yang baru mendidih.


Jelas wanita itu panik dan khawatir tentunya.


"Tunggu di sini ya? Mama ke bawah sebentar." ucap Winanti dengan cepat keluar dari kamar Nessa untuk mengambil perlengkapan kompres seperti baskom, air hangat, dan handuk.


Wanita itu kembali dengan membawa perlengkapan tersebut. Lalu duduk di sisi kasur dan langsung membasahi handuk dengan air hangat kuku lalu mengompres kening Nessa.


Nessa hanya diam tanpa protes. Rasanya untuk mengeluarkan suara saja sudah tidak bisa. Begitulah Nessa, gadis itu akan terkena demam panas saat malamnya banyak menangis atau banyak pikiran.


"Mama ke bawah dulu buatin kamu bubur."


Winanti sadar kalau tadi ia membawa nasi putih dan beberapa lauk sehat. Namun, pastinya Nessa akan susah menelannya. Maka dari itu, Winanti berinisiatif untuk membuatkan Nessa bubur.


"Mama bikin apa?" tanya Endi yang baru keluar dari kamarnya. Pria itu sudah rapi dan siap untuk pergi mengajar.


"Bikin bubur." jawab Winanti sambil memotong wortel.


"Bubur?" ujar Endi tampak bingung.


"Iya, ini Mama bikin bubur buat Nessa."


Tanpa menjawab, Endi langsung beranjak dari sana.


"Lah, ke mana itu anak?" gumam Winanti sambil menggelengkan kepalanya.


Sementara itu, Endi tampak menaiki anak tangga menuju kamarnya yang Nessa tempati. Pintu kamarnya itu terbuka lebar, jadi, Endi tidak perlu masuk ke dalam untuk melihat keadaan Nessa saat ini.


"Kamu gak ngajar, Rey?" tanya Resa yang baru keluar dari kamarnya dan melihat putranya berdiri di ambang pintu. Ya, kamar Endi da kamar orang tuanya bersebelahan.


"Bentar lagi, Pa." jawab Rey menegakkan tubuhnya.


"Humm, baiklah."


"Oh ya, soal Nessa, kamu tau kan apa yang harus kamu lakukan."


"Iya, Pa. Rey tau."


🌼🌼🌼


Setelah Endi berangkat, Mami Hana dan Papi Ibra pun datang. Keduanya sudah tau bagaimana kondisi Nessa saat ini, karena kondisi tersebut tidak jarang Nessa alami saat gadis itu kelelahan. Mami Hana tampak menenteng tas kecil di tangannya, isinya adalah baju ganti Nessa.


"Maaf ya, Sayang. Mami dan Papi harus ke kantor, kamu di sini dulu sementara ya?" ujar Mami Hana sambil membelai lembut kepala Nessa.


"Mami sama Papi hati-hati." balas Nessa tersenyum dengan bibirnya yang pucat.


"Pasti. Kamu cepat sembuh. Jangan banyak pikiran, obatnya jangan lupa dimakan. Nanti pulang dari kantor, Mami dan Papi bakal jemput kamu. Baju gantinya Mami simpan di atas sofa."


Nessa hanya menganggukkan kepalanya.


Papi Ibra yang berdiri di sampingnya mendekat lalu membelai lembut kepala Nessa.


"Papi berangkat. Jangan lupa istirahat." ujar Papinya.


Nessa hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan kepala.


Mami Hana dan Papi Ibra pun pamit karena mereka harus bekerja. Apalagi posisi keduanya sangat berarti bagi karyawan dan pastinya menjadi panutan.


Siang harinya Nessa sudah merasa tubuhnya lebih baik dari sebelumnya. Gadis itu juga sudah keluar dari kamar dan saat ini ia tengah duduk di ruang tengah sambil menonton ditemani cemilan. Begitu juga dengan Winanti yang menemani Nessa di sampingnya. Wanita itu begitu pengertian, merawat Nessa dengan penuh kasih sayang.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Nessa menoleh ke samping dan menemukan Endi dengan seragam lengkapnya sudah pulang.


"Tumben pulangnya cepat?" tanya Winanti menyambut tangan Endi yang menyalaminya.


"Sengaja, Ma. Ya udah, Rey ke atas dulu mau ganti baju."


Winanti hanya mengangguk. Sementara Nessa sedari tadi hanya diam sambil memandangi pria itu.


Tiba-tiba terlintas di benaknya saat mengingat penuturan para orang tua semalam. Ia melamun, sampai tidak sadar bahwa Winanti memanggilnya beberapa kali.


"Sayang, kamu kenapa?"


Nessa tersentap dengan suara itu. Ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Pasti soal semalam kan?" tebak Winanti tepat sekali.


"Kenapa harus itu keputusannya, Ma?" tanya Nessa dengan ragu.


"Kamu mau tau alasannya? Nanti ya, tunggu Mami sama Papi kamu datang."


Sebenarnya Nessa juga heran dan bingung, kenapa mereka mengambil keputusan seolah-olah itu perkara mudah. Namun nyatanya itu bagaikan mimpi bagi Nessa.


Nessa sabar menunggu kedatangan orang tuanya, gadis itu juga ingin tau apa alasan dari keputusan mereka. Ingat ya! Nessa itu masih sekolah, bahkan lulus pun belum, bagaimana ceritanya mau dinikahkan.


Nessa tidak tau nanti respon Vella jika tau kalau dirinya akan dinikahkan dengan gurunya sendiri, yaitu Endi.


Banyak sekali yang ingin Nessa tanyakan. Persoalan semalam, persoalan Endi yang berpenampilan berbeda jika di rumah dan sekolah. Entahlah, kenapa hidup Nessa yang awalnya tenang kini menjadi rumit.


Menikah? Kalimat itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Seakan-akan ada sebuah suara yang terus membisikkan ke telinganya. Nessa pening, dan bimbang sekaligus. Diusianya yang sekarang, ia harus dihadapkan dengan permasalahan seperti itu. Rasanya sungguh tidak masuk akal. Namun, itu nyata adanya.