
Kedatangan Vella sedikit membawa kebahagiaan untuk Nessa. Ya, sahabatnya itu datang setelah setengah jam acara dimulai dan para tamu undangan berdatangan. Vella datang bersama Deca, keduanya tampak lebih akur dari biasanya. Vella juga membawakan kado berukuran besar untuk Nessa, entah apa isinya Nessa tidak tau itu.
Para orangtuanya juga tampak menyambut kedatangan teman-teman mereka. Mereka berkumpul dan tampak membincangkan pembicaraan yang entahlah apa itu. Hanya segerombolan ibu-ibu yang tau.
"Congrats ya, beb. Gak kerasa udah hari H aja. Semoga rumah tangganya sakinah mawaddah warahmah. Hehe, udah kayak ukhty-ukhty bercadar kan gue." celetuk Vella sambil memeluk Nessa. Nessa bahkan sampai bercucuran air mata. Ia sangat terharu.
"Lo cepetan juga nyusul." balas Nessa menyeka air matanya menggunakan tisu.
"Sabar ya. Tunggu aja undangan, haha."
"Selamat ya, Pak. Tolong jagain Nessa. Dia suka rewel kalo banyak pikiran. Ya saya tau kalau bapak tau tentang itu, cuma pengen ngasih tau." tutur Vella sambil menyengir.
"Terimakasih karna udah datang ya. In Syaa Allah saya akan menjaga sahabat kamu dengan baik. Oh ya, rencananya mau lanjut di mana?" pertanyaan itu keluar dari bibir Endi.
"Agak jauh sih, Pak. Hehe."
"Sekalian gue pamit ya, Nes."
"Pamit ke mana?" tiba-tiba suasana menjadi mellow saat Vella berucap seperti itu. Nada bicara Nessa pun sudah berubah menjadi sendu.
"Gak jauh kok. Cuman ke London aja. Do'ain gue ya."
"Haa? Jauh amat. Tega banget sih lo, Vel. Hiksss... cuman lo sahabat gue punya, masa lo tega ninggalin gue sendirian. Yang nemenin gue kalau mau ke mana-mana siapa? Trus yang nemenin gue jalan pas weekend siapa?" Nessa sudah bercucuran air mata. Kabar langsung dari Vella membuatnya sedikit syok. London? Andai kata dirinya masih melajang, pasti Nessa akan ikut bersama Vella menimba ilmu di sana.
"Cup cup cup. Cuman bentar doang kok. Abis kelar pendidikan di sana gue pasti pulang. Gue juga bakal pulang kalo liburan semester."
"Makasih ya, Vel. Makasih karna selama tiga tahun ini lo udah nemenin gue. Cuman lo sahabat gue yang mau temenan sama gue dengan tulus. Kalo seandainya lo udah ada di sana, tolong jaga kesehatan. Sesering mungkin kita komunikasi, kalo lo mau ganti kartu kabarin gue. Seperti biasa, lo udah tau kan gimana dunia luar di sana, pasti bebas. Gue mohon lo bisa jaga diri, jangan sampai terjerumus pergaulan di sana. Jauhi teman-teman yang menurut lo gak baik. Satu lagi, tolong jangan libatin laki-laki dalam pendidikan lo. Sebisa mungkin lo jauhi yang namanya pacaran. Lo bisa kan, Vel? Kalo aja gue bisa ikut, udah ikut gue. Tapi, keadaan udah beda. Gue bukan cewek bebas lagi. Gue punya tanggung jawab yang besar, bukan cuman suami aja, tapi, perlu melibatkan pasangan."
Vella menundukkan kepalanya sambil mengeratkan tangannya yang berada di genggaman tangan Nessa. Persahabatan mereka terjalin begitu tulus. Hanya membutuhkan tiga tahun mereka sudah seperti kakak beradik. Dan memasuki tahun keempat keduanya harus terpisah jarak karena Vella yang memilih menempuh pendidikan di negeri orang.
Satu tetesan air mata persahabatan mengalir dengan begitu deras dari mata Vella. Gadis itu bahkan tidak bisa membendung isak tangisnya. Bibir dan punggungnya bergetar hebat. Lalu tanpa aba dirinya memeluk Nessa dengan begitu erat.
"Gue bakal berjuang nantinya untuk pulang lebih cepat. Nanti pas gue pulang pasti keponakan gue udah pada gede. Pas pulang, gue pengen denger mereka manggil gue Aunty. Aunty Velvel. Pasti lucu, Nes." Vella berkata dengan sesegukan di dalam pelukan sahabatnya.
"Request diterima." balas Nessa merasakan sesak di dadanya. Rasanya begitu berat, bahkan sangat berat.
Vella menguraikan pelukannya dan menatap wajah sahabatnya yang sudah basah akibat air mata, begitu juga dengan dirinya.
"Jangan nangis terus pas gue tinggalin. Make up lo luntur, Nes. Jadi kayak badut." sontak Nessa menghadiahi sebuah pukulan pelan di lengannya.
"Canda gue, Nes. Biar sejelek gimanapun lo di mata gue pasti jelek." ujar Vella berusaha mencairkan suasana. Terbukti dengan Nessa yang sempat tertawa dengan candaan sahabatnya itu.
Tangan Nessa langsung terulur untuk menghapus air mata Vella. Dirinya sempat memberikan senyum.
"Kapan lo berangkat?" tanya Nessa.
"Tiga hari lagi. Gue sengaja cepetin, soalnya harus ngurus pendaftaran di sana." terang Vella. Nessa pun menarik nafasnya panjang lalu mengeluarkannya secara perlahan diikuti dengan senyuman di bibirnya.
"Semoga lancar ya."
"Berangkat sendirian? Nanti gue anter ke bandara."
"Enggak kok, kebetulan ada sepupu gue yang juga pengen balik ke sana. Makasih ya, Nes."
"Syukur deh. Nanti tinggal di mana? Bareng sepupu lo juga? Cewek atau cowok?"
Vella terkekeh pelan. "Tinggal di apartemen, Nessa. Sepupu gue cewek, jadi, tenang aja."
"Gue pasti kangen sama lo, Vel." ekspresi wajah Nessa langsung berubah.
"Sama, gue juga pasti gak kangen." sesaat kemudian disusul dengan tawa Vella karena melihat sahabatnya sudah cemberut. "Gue juga pasti kangen banget sama lo, Nes." ralatnya.
Obrolan keduanya terhenti saat Deca datang sambil membawa kado di tangannya.
"Hai, Nes. Hai, Pak Endi. Selamat ya, semoga pernikahan langgeng sampai kakek nenek." ucap Deca sambil menyerah kado di tangannya.
Mereka pun tampak mengobrol banyak. Tapi sayang, Deca pun harus pamit pulang. Dan kini tinggal Vella yang menemani Nessa. Karena hari juga sudah malam, Vella pun harus terpaksa pamit pulang.
Sepanjang obrolan tadi, Nessa bahkan sempat melupakan suaminya. Beruntung Endi paham dan mengerti kalau keduanya memerlukan waktu untuk saling mengobrol sebelum keduanya terpisah jarak.
"Sayang. Mami sama Papi pulang dulu ya? Udah malam soalnya. Tenang aja, besok ada petugas yang akan membersihkan kekacauan ini." seru sang Mami mendatangi mereka.
"Yahhh, kok cepet sih, Mi? Gak nginap aja?" balas Nessa sedikit kecewa.
"Nggak, Sayang. Ini hari malam spesial kalian berdua, dan Mami gak mau ganggu. Udah dulu ya, Mami pamit dulu. Kasian Papi besok harus masuk kantor lagi."
"Hmmm... iyadeh." balas Nessa memejamkan matanya saat sang Mami mengecup keningnya sayang. Ya, wanita separuh baya itu tidak malu mencium putrinya di depan menantunya. Baginya Nessa tetaplah Nessa. Putri kesayangannya yang apa-apa selalu bercerita dengannya termasuk dengan hal privasi sekalipun.
"Jaga putri Mami ya, Rey. Mami sama Papi pamit dulu."
Endi langsung menyalami tangan mertuanya. "Iya, Mi. Rey pasti akan jaga Nessa."
"Papi pamit ya? Kapan-kapan main ke rumah biar Mami sama Papi ada temen ngobrol." sang Papi mendekat dan memperlakukan hal yang sama seperti Maminya. Kecupan sayang mendarat di keningnya.
"Papi sama Mami jaga kesehatan ya. Maaf kalau nanti Nessa jarang main ke rumah."
"Gak pa-pa. Yang penting jangan nakal." Papi Ibra mencubit ujung hidungnya.
"Papi juga jangan nakal." balas Nessa tak mau kalah.
"Udah, udah. Papi, jadi gak nih pulangnya? Kalau ngobrol terus nanti malah keterusan." tegur Mami Hana.
Nessa hanya menyengir, begitu juga dengan Papinya. Setelah menyapa putrinya, Papi Ibra pun menyapa menantunya dan sedikit memberikan nasihat. Lalu setelahnya kedua orangtua Nessa benar-benar pulang.
Tidak lama kemudian mertuanya pun datang dan mereka pun sama-sama ingin pamit pulang. Mama Winanti, Papa Resa, Bunda Dita, Ayah Rio, dan Kakek Toni pun pamit kepada keduanya. Ngomong-ngomong tentang keberadaan Erlan, saudara kembar Endi. Pria itu sudah pamit pulang lebih awal dari tamu-tamu yang lain. Makanya sedari tadi baik Nessa dan Endi tidak melihat pertengkarannya dengan Vella. Biasanya kalau dua manusia itu dipertemukan, mereka akan seperti tom dan Jerry. Erlan yang suka nyolot dan memancing emosi dan Vella yang sedikit bar-bar.