My Teacher

My Teacher
MT part 85 (Tamat)



Beberapa bulan kemudian...


Tidak terasa waktu telah berlalu. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Jangan tanyakan rintangan apa yang sudah mereka hadapi. Tentunya tidak akan pernah lepas dari yang namanya musibah dan masalah.


Pagi itu seperti biasanya Endi selalu menemani sang istri untuk sekedar berjalan-jalan di sekitaran komplek mereka. Menyapa para tetangga dan ikut bermain bersama anak-anak kecil di taman.


"Adek capek?" tanya Endi perhatian sembari menyeka keringat di wajah istrinya.


"Hu'umm..." Nessa menganggukkan kepalanya.


"Kita duduk di sana dulu ya?" tunjuk Endi pada sebuah kursi kayu memanjang.


"Ayo, pelan-pelan." pria itu menuntun istrinya berjalan pelan menuju kursi.


"Makasih, Mas." ucap Nessa berterima kasih karena suaminya selalu membantunya.


Endi hanya menganggukkan kepala. "Nanti siang kita periksa ya? Kata dokter, minggu ini kan udah masuk HPL-nya."


"Iya, Mas. Tapi, aku gak ngerasain sakit, cuma ya gitu, mereka suka nendang."


Endi tersenyum menatap istrinya yang tampak lebih berseri dalam balutan jilbab panjangnya. Endi beranjak dari duduknya, berganti posisi menjadi berjongkok tepat di bawah kaki istrinya.


"Mas gak sabar, Sayang. Kita akan menjadi orang tua." ujarnya dengan nada bahagia tidak dapat disembunyikannya. Matanya berbinar terang menatap wajah istrinya, lalu turun ke bawah, menatap perut istrinya yang tampak membuncit besar.


Sementara Nessa hanya diam sambil tersenyum menatap raut wajah bahagia terpancar jelas di wajah suaminya.


Tangan Endi beralih memegang perut istrinya. Ia mendekatkan wajahnya di sana. "Halo, baby twins. Sehat-sehat ya, Sayang. Sebentar lagi kita akan bertemu." ucapnya pelan lalu mencium perut Nessa berulang kali.


*Dugh


Dugh*


Keduanya langsung terjingkrak kaget karena sama-sama merasakan tendangan yang cukup kuat dari perut Nessa. Wanita itu meringis pelan menahan rasa nyeri di perutnya. Terasa sangat sesak karena kini rahimnya dihuni oleh dua mahkluk lucu.


"Nakal ya di perut Umi. Kasian nih Umi kesakitan karena tendangan kalian. Lain kali jangan kuat-kuat nendangnya." Endi seperti menasehati anak-anak yang sudah lahir ke dunia.


Benar saja, saat Endi berkata, tendangan di perut Nessa seketika berhenti. Endi yang melihatnya langsung tersenyum.


"Udah gak sabar ya ketemu Abi, hem?"


*Cup


Cup*


Cup


Endi mengecup perut Nessa di kedua sisinya lalu di tengah-tengah. Seolah-olah membagi rata kasih sayangnya. Kecupan ketiga sengaja Endi berikan untuk calon anaknya yang kini mungkin sudah bahagia di atas sana. Endi tidak tau rupa paras wajahnya. Namun, suatu saat mereka akan bertemu di akhir kehidupan di dunia.


"Masih sakit, hem?" tanya Endi pada istrinya yang tampak menahan sakit.


"Dikit." jawab Nessa jujur. Karena yang ia rasakan sekarang memang sakit. Nyeri di perutnya sampai-sampai membuatnya berkeringat dingin.


"Adek masih bisa jalan? Kita langsung ke rumah sakit sekarang. Mungkin aja mereka udah gak sabar untuk melihat dunia barunya." balas Endi yang tidak ingin panik. Andai saja dirinya panik, lalu siapa yang akan memenangkan istrinya. Memberikan kata-kata semangat.


"Insya Allah bisa, Mas." ujar Nessa.


"Jalan pelan-pelan ya sambilan Mas nelfon orang tua kita."


Nessa menganggukkan kepalanya. Menuruti setiap perkataan dari suaminya. Jujur, di saat-saat seperti ini, inilah yang ingin Nessa rasakan. Memiliki suami yang begitu pengertian. Bahkan suaminya rela bekerja dari rumah hanya untuk menjaganya. Endi selalu sedia 24 jam menjaganya, memenuhi setiap kebutuhannya. Sungguh! Nessa tidak dapat mengutarakan rasa nikmat itu. Rasa nikmat yang Allah berikan sungguh luar biasa baginya hingga rasa sakit yang ia rasakan kini malah terasa sangat nikmat. Ya, Nessa menikmati rasa sakit untuk berjuang menjadi seorang wanita sempurna yang memberikan keturunan untuk rumah tangganya.


"Adek masih kuat?" tanya Endi. Bukannya tidak mau menggendong istrinya, namun, pesan dari dokter selalu ia ingat. Perbanyakan bergerak maka itu akan mempermudah jalan keluarnya.


"Insya Allah, Mas."


"Mas gendong aja ya?" Endi sudah bersiap untuk menggendong istrinya. Namun, Nessa langsung menolak keras.


"Ini udah deket kok, Mas. Ingat kan pesan dokter apa? Banyakin bergerak."


"Mas gak akan lupa. Sekarang, coba adek tarik nafas dalam. Lalu hembuskan pelan."


Nessa menarik nafasnya dalam lalu ia hembuskan panjang.


"Mbok, tolong ambil tas di dalam kamar ya? Sekalian sama perlengkapan bayi." beritahu Endi begitu masuk ke dalam rumahnya.


Mbok Jum yang mendengar itu tanpa bertanya langsung bergerak cepat mengambil barang yang diminta oleh Endi.


"Mbok ikut juga."


"Baik, Den." balas Mbok Jum ikut khawatir mendengarnya.


.


.


.


"Uuuuwwww... lucunya cucu nenek. Bikin gemes aja sih ini."


"Semua bagian wajahnya hampir mewarisi ayahnya. Cuma matanya aja yang mirip dengan ibunya."


"Iya, Nessa cuma kebagian matanya doang, Pi. Lihat tuh! Kerjaannya tidur terus dari tadi malam."


"Mungkin kecapean, Mi."


"Emangnya habis lari maraton apa?"


"Dia capek dikurung terus di dalam kandungan. Makanya, nih! Bukannya nyapa kakek dan neneknya eh malah enak-enakan bobok."


Semua keluarga tengah dilanda bahagia dengan lahirnya dua bayi laki-laki mungil di tengah-tengah Nessa dan Endi. Ya, wanita itu sudah melahirkan tepatnya tadi malam. Beruntungnya Nessa bisa melahirkan secara normal.


Sebenarnya dokter menyarankan Nessa untuk operasi caesar saja mengingat Nessa hamil kembar. Ditambah umurnya yang masih sangat muda. Namun, berkat perjuangan dan do'a dari keluarga, Allah memberikannya kemudahan.


Semenjak kejadian semalam, Endi terus menempel pada istrinya. Bukan tidak ingin menggendong anaknya, namun, ia hanya sedikit takut. Melihat perjuangan istrinya untuk melahirkan keturunannya membuat Endi merasakan takut sekaligus bahagia.


"Selamat atas kelahiran bayinya, Nes. Aku turut bahagia. Mereka sangat lucu." ucap Tiara yang juga ikut datang menjenguk siang itu.


"Makasih karena udah mau datang, Ti. Semoga cepat menyusul ya?" goda Nessa sempat-sempatnya.


Tiara langsung terkekeh geli mendengarnya. "Masih lama, Nes."


"Becanda, Ti. Semoga kamu mendapatkan jodoh yang terbaik dari Allah."


"Makasih atas do'anya."


"Sama-sama."


"Selamat juga buat Pak Endi karena udah menjadi ayah."


"Iya, terima kasih, Tiara. Semoga kamu juga cepat menyusul."


Tiara tersenyum. "Kenapa do'anya pada gitu semua sih?" batinnya.


"Eh! Aku ke sana dulu ya, Nes, Pak. Mau lihat dedek bayinya."


Baik Nessa maupun Endi langsung menganggukkan kepala.


"Mereka bener-bener lucu. Oh iya, namanya siapa?" tanya Bunda Dita yang berdiri di samping besannya yang menggendong salah satu bayi Nessa. Sementara yang satunya diperebutkan oleh Papi Ibra dan juga Ayah Rio. Sedangkan Mama Winanti dan juga Papa Resa masih belum bisa ikut karena mereka masih berada di luar negeri. Katanya mereka akan pulang dalam 2 atau 3 hari kemudian.


Begitu mendengar pertanyaan dari Bunda Dita, Nessa langsung menoleh ke arah suaminya.


Endi tersenyum. Seolah tau istrinya meminta kode kepada dirinya.


"Daffa Irsyad Reynand, Daffi Arshad Reynold."


Endi tersenyum ke arah istrinya.


"Daffa dan Daffi." ucap Nessa langsung membuat semuanya tersenyum.


.


Tamat