
Nessa tampak berbaring di dalam pelukan sang suaminya saat malam sudah tiba. Seperti malam-malam biasanya, mereka terbiasa mengobrol dan bercerita sebelum akhirnya pergi ke alam mimpi.
"Mas, boleh ya aku masuk kuliah lusa?" Nessa mendongakkan wajahnya, menatap wajah sang suami yang ketampanannya semakin bertambah hari demi hari. Namun, sedikit ada yang berbeda dengan penampilan pria itu. Sekarang suaminya sudah mempunyai jenggot tipis di bagian dagunya..
"Lusa?" ulang Endi sambil menepuk-nepuk pelan bahu istrinya.
"Huummm..." Nessa menganggukkan kepalanya.
"Boleh gak ya?" goda Endi menaik turunkan alisnya.
"Boleh dong."
"Kata siapa?" ujar pria itu sedikit menggoda istrinya.
"Kata mas suami." balas Nessa.
"Kalau enggak boleh, gimana?" pria itu semakin gencar menggoda.
"Harus boleh."
"Kenapa gitu?"
"Kalau enggak kuliah, trus aku ngapain di rumah? Kan dedeknya juga pengen ikutan belajar di sekolah sambil dengerin dosen jelasin."
"Bawanya dedek mulu. Kasian kan dedeknya gak salah masa dibawa-bawa."
Nessa terdiam. Jari-jarinya tampak bergerak tidak beraturan di dada bidang suaminya. Kancing piyama yang awalnya terpasang sempurna kini langsung terbuka setengah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Nessa.
"Oke, oke. Mas izinin lusa boleh masuk kuliah lagi. Tapi, ingat! Jangan terlalu capek." final Endi merasa gemas dengan tingkah sang istri yang mempreteli kancing bajunya.
Nessa yang mendengarnya langsung tersenyum dengan mata berbinar. "Yeayyyy... makasih, Mas." terlalu senang membuat Nessa tanpa sadar mencium suaminya.
"Jangan nakal, hem..." ujar Endi menutupi wajah istrinya menggunakan telapak tangannya.
"Mas." Nessa mendusel-duselkan wajahnya di dada bidang suaminya tanpa adanya penghalang sedikitpun.
Endi hanya berdehem menyahut.
"Gak pengen USG dedeknya cewek atau cowok? " tanya Nessa.
"Belum bisa, Sayang. Usianya baru satu bulan. Kalaupun nanti udah cukup, Mas gak pengen tau cewek atau cowok. Biar itu jadi kejutan. Yang penting sehat."
"Beneran gak pengen tau cewek atau cowok?" tanya Nessa memastikan.
"Iya, Sayang. Dikasih cowok atau cewek Mas udah bahagia. Apalagi kalau dikasih dua-duanya." Endi gemas, ia menciumi kening istrinya berulang kali.
"Emangnya boleh?" balas Nessa.
"Apa sih yang enggak boleh? Dikasih dua, tiga, empat juga boleh."
"Ish, banyak amat." cibik Nessa.
"Eh! Gak boleh gitu. Mau banyak atau sedikit itu namanya rezeki."
"Hehe, iya." Nessa menyengir menyadari kesalahannya.
"Niatnya Mas mau bikin berapa?" tanya Nessa frontal.
Endi menundukkan wajahnya. Ia bergerak mendekat, mengikis jarak mereka.
Cup
"Semampunya adek."
"Aku mampu kok." Nessa tampak tersenyum geli saat menyadari apa yang ia katakan.
Sementara suaminya langsung terkekeh geli.
"Mampu apa, hem?" tanya Endi terkekeh pelan.
"Mampu kasih banyak keturunan untuk Mas."
Endi gemas kepada istrinya. Ia menangkup wajah Nessa dan langsung menyerangnya dengan banyak ciuman di pipi, kening, hidung, dan terakhir bibirnya. "2 udah cukup, Sayang." ujar Endi menjauhkan kembali wajahnya.
"Katanya banyak anak itu banyak rezeki." seru Nessa.
"Kejam juga ya, Mas. Apa-apa kayaknya salah."
"Bukan salah, Sayang. Ya memang di pandangan orang-orang itu salah. Tapi, hanya Allah yang tau."
"Kebanyakan anak zaman sekarang itu nikah muda."
"Contohnya aku dong." sahut Nessa memang betul.
"Kamu ini! Mas belum selesai ngomong loh." disentilnya ujung hidung istrinya.
"Lahh, terus? Emang bener kok. Mas nikahin aku aja aku masih sekolah."
"Ya Allah. Punya istri rasanya pengen dicium."
"Cium aja, kan Mas udah punya istri." sahut Nessa enteng.
Endi hanya bisa menggeram gemas melihat istrinya yang selalu menyahut cepat, bahkan sebelum ia melanjutkan perkataannya.
"Maksud dari perkataan Mas tadi tuh gini. Kebanyakan anak zaman sekarang itu nikah muda karena kekhilafan. Adek ngerti gak?" Nessa tidak menjawab.
"Tau kan pergaulan zaman sekarang itu kayak gimana. Mereka bebas mau melakukan apa aja. Contohnya, maaf, mabuk-mabukan, juudii, zina secara terang-terangan. Hal itu udah melanggar hukum islam loh. Ya memang yang mereka rasakan itu enak, nikmat, dan bahkan candu. Tapi, akhir dari itu belum. tentu enak. Contohnya kalau mabuk-mabukan, bahaya loh pengaruh alkohol dan semacamnya. Akibatnya bisa mengancam nyawa manusia. Nah, kalau juudii itu udah tau kan haram. Tapi, sebagian anak zaman sekarang mencari pendapatan itu dari hasil juudii. Contohnya apa tuh aplikasi domino dan semacamnya. Itu yang online. Kalau secara langsung beda lagi.
"Terus yang terakhir zina. Allah aja jelas-jelas melarang. Seperti yang tertulis di dalam Al-quran surat Al-Isra' ayat 32. Wa laa taqrobuz-zinaaa innahuu kaana faaḥisyah, wa saaa-a sabiilaa yang artinya Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. Itu sih udah melanggar hukum islam. Keterlaluan. Tapi, semakin banyak larangan, semakin banyak pula yang melanggar. Larangan itu udah enggak berarti apa-apa buat mereka yang udah terlanjur terjun." tutur Endi panjang lebar.
"Nah, kalau kasus adek ini beda lagi. Ya emang sih nikah muda. Tapi, kan ada Mas yang halalin."
"Lagian, nikah muda itu enak kan?" goda Endi kepada sang istri.
"Apanya yang enak ih!"
"Ini enak, sebelum tidur ada yang peluk dan nina boboin. Pas bangun tidur ada yang ngucapin selamat pagi, sayang. Trus ada yang kasih jajan tiap hari. Bukannya itu enak ya?"
"Iya sih enak." jawab Nessa tidak membantah itu semua. Ya memang apa yang dikatakan suaminya itu benar. "Tapi, bukan itu loh arti enak yang sesungguhnya." lanjut Nessa melarat perkataannya.
"Yang sesungguhnya itu apa?" tanya Endi.
"Enak yang sesungguhnya itu bisa berbagi kisah kepada pasangan masing-masing. Berbagi kebahagiaan dan terutama berbagi kesedihan. Mana ada orang nikah ngambil enaknya doang. Dikira nikah itu pake dengkul." cibir Nessa membuat suaminya langsung tertawa.
"Ada kok orang nikah ngambil enaknya doang." balas Endi.
"Contohnya Mas. Semua yang Mas ambil dari pernikahan itu enak. Karena apa? Karena Mas sangat mensyukuri apa itu arti pernikahan yang sesungguhnya. Saling menerima dan melengkapi kekurangan pasangan. Intinya bersyukur. Bersyukur karena Allah udah ngirim pasangan untuk kita."
"Kalau yang enggak bersyukur, gimana dong?"
"Ya berantem terus. Karena kan mereka enggak bersyukur dengan apa yang dimiliki pasangannya."
"Mas bersyukur gak nikah sama aku?"
"Banget. Kalau adek?"
"Enggak kayaknya. Soalnya aku pengen banget berantem sama Mas. Setiap aku mau ngajak berantem itu, Mas selalu ngalah dan sabar. Heran aku."
"Adek beneran mau berantem sama Mas?" tanya Endi memastikan.
Nessa menganggukkan kepalanya.
"Ya udah. Ayok berantem sekarang! Kita lihat, siapa yang bakal menang dan siapa yang kalah."
"Ayok! Siapa yang mulai duluan nih?"
"Mas aja!"
"Mas! Katanya berantem. Lah kok ini--" Nessa tidak dapat lagi menyelesaikan perkataannya karena sekarang ia mengerti apa maksud dari kata "berantem" yang suaminya maksud.
Endi langsung menjauhkan sedikit wajahnya lalu menatap sang istri penuh damba. "Berantem yang ini pastinya dapat pahala dan ridho dari Allah, Sayang." bisik Endi lirih sebelum akhirnya melabuhkan serangannya.
.
.
.
kita ngobrol santai aja ya🤣 jangan tanya-tanya aku dapat ide dari mana dialog di atas☝😁🤣🤣