
Malam minggu adalah malam di mana semua pasangan tengah menghabiskan waktu bersama entah itu jalan-jalan kelua. Seperti di pusat alun-alun kota ini, banyak sekali pasangan muda-mudi yang tengah bermesraan.
Suasananya yang bising dengan suara hiruk piruk masyarakat di sana.
Pria dia puluh enam tahun itu memberhentikan motornya tepat di area parkir. Melepaskan helm yang terpasang di kepalanya lalu menengok ke belakang di mana gadia yang kini berstatus sebagai istrinya itu tengah memeluknya erat.
"Udah sampai, Dek." ujar Endi membuat lingkaran tangan di perutnya terlepas.
Nessa langsung turun dengan berpegangan pada tangan pria itu yang menyambutnya.
Endi ikut turun, berdiri mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tubuh istrinya lalu tangannya langsung melepas helm yang terpasang di kepala istrinya.
Pria itu meletakkan helmnya di stang motornya lalu membenarkan letak jilbab istrinya yang sedikit berantakan. Kemudian tanpa aba-aba pria itu melepas jaketnya dan memakaikannya kepada istrinya.
"Gak dingin, Mas." ujar Nessa memberitahu.
"Udah, gak pa-pa. Untuk jaga-jaga, lagian baju Mas ini lengan panjang kok." seru Endi sambil menautkan kedua tangan mereka.
Nessa hanya mengangguk tanpa bisa membantah perkataan suaminya.
Keduanya berjalan beriringan dengan tautan tangan begitu erat. Endi tidak membiarkan sedikitpun istrinya itu menjauh, katanya takut tersesat di keramaian. Padahal kan Nessa itu bukan anak kecil lagi.
"Mas, itu apa rame-rame?" tunjuk Nessa pada sekumpulan keramaian dengan hiruk piruk suara orang.
"Gak tau. Mau liat?" tawar Endi mendapat anggukan kepala oleh Nessa.
Mereka pun mendekati keramai itu, tidak terlalu dekat karena takut akan terdorong. Jadilah keduanya hanya sedikit mendekat hingga apa yang membuat penasaran itu terjawab. Rupanya keramaian itu terjadi karena adanya sebuah permainan. Permainan? Iya, permainan.
Permainan yang harus diikuti setiap pasangan. Membawa masuk balon ke dalam keranjang dalam posisi balon diletakkan di dahi masing-masing. Posisi itu mengharuskan setiap pasangan memiliki konsentrasi dan fokus, tidak boleh membiarkan balon itu terjatuh ke tanah. Ya kalau terjatuh sudah pasti kalah atau tereliminasi. Bagi setiap pemenang pastilah akan mendapat hadiah kecil-kecilan.
"Mau ikut?" tanya Endi menawarkan.
"Hayuk mahh." jawab Nessa begitu bersemangat.
Mereka pun terlebih dahulu mendaftarkan namanya. Bagi yang mengikuti bukan asal-asalan ikut. Harus mendaftarkan terlebih dahulu, dan setelah mendaftarkan dan mendapat urutan bermain, barulah mereka akan bermain.
Rupanya yang mendaftarkan permainan itu lumayan ramai. Mungkin kalau pasangan muda-mudi yang mengikuti pasti tidaklah asing, namun, kali ini bahkan ada pasangan kakek nenek yang mendaftarkan. Sebagian yang menontonnya pun merekam aksi pasangan kakek nenek itu. Mereka salut, umur yang sudah tidak lagi muda bukanlah penghalang keromantisan mereka.
Nessa bahkan sampai-sampai dibuat tersenyum malu dan bahagia sekaligus melihatnya. Sesekali ia mendongakkan wajahnya menatap paras suaminya yang kini menjelma menjadi pangeran berkuda putih.
Endi yang melihatnya pun membalas senyuman itu. Tangannya merangkul pundak istrinya. "Nanti kita pasti akan begitu." bisik Endi pelan.
Nessa tidak menjawab melainkan tersenyum tersipu. Bagaikan anka abg yang baru saja jatuh cinta, seperti itulah Endi. Ya kalau Nessa kan memang abg.
Tibalah waktu nama mereka dipanggil. Keduanya langsung berjalan ke tengah-tengah kerumunan, Nessa sedikit risih karena dirinya memang tidak suka menjadi pusat perhatian. Tapi, untuk malam ini tidak apa lah. Pikirnya.
"Oke semuanya. Posisinya tangan di belakang, tidak boleh membetulkan letak balon tersebut menggunakan tangan. Kalau ketahuan membetulkan posisi balonnya menggunakan tangan, nanti langsung di diskualifikasi dan dinyatakan kalah."
3
2
1
Baik Nessa maupun Endi yang mendengar aba-aba itu langsung bergerak dengan segala kefokusan mereka. Tangan mereka dengan rapi berada di belakang tubuh masing-masing.
"Eh! Mas, mau jatuh." pekik Nessa merasa khawatir saat balon di kening mereka sedikit ke samping dan hampir jatuh ke tanah.
Sifat Endi yang tenang membuat pria itu hanya tersenyum geli melihat kepanikan yang dirasakan istrinya itu. Tiba-tiba tangannya yang semula berada di belakang kini ia bebaskan.
"Mas, gak boleh loh pakai tangan." peringat Nessa.
"Enggak kok. Tangan Adek siniin, gak bakal dibenerin pakai tangan kok. Ayok!" pinta Endi mengulurkan kedua tangannya di depan Nessa. Sementara kaki mereka hanya melangkah kecil.
Wajah mereka yang berdekatan hanya terhalang balon membuat keduanya bisa jelas melihat wajah pasangannya masing-masing, begitu juga dengan Nessa.
Endi memejamkan matanya lagi sebagai kode untuk istrinya. Dengan ragu Nessa menyambut tangan suaminya hingga kini tangan mereka bertaut. Pria itu menggenggam erat sambil membenarkan letak balon mereka yang hampir jatuh.
Sepanjang melangkah, netra mata mereka bertemu. Seakan-akan orang di sekeliling mereka hanyalah mengontrak. Satu balon sudah berhasil masuk, keduanya bergegas berbalik ke tempat semula untuk mengambil balon kedua. Batas waktu yang diberikan adalah 2 menit. Ya, lumayan panjang.
"Stop! Waktu habis!" seru seorang laki-laki yang menjadi wasitnya.
Sudah terhitung, pasangan atas nama Nessa dan Endi mendapatkan balon sebanyak 3 balon.
🌼🌼🌼
"Suka?" tangan Endi menyeka keringat di pelipis Nessa. Gadis itu hanya mengangguk. Walaupun tidak mendapat juara pertama, tapi, keduanya mendapat juara kedua. Mereka pun mendapatkan hadiah kecil-kecilan.
"Gelangnya bagus." puji Nessa sambil melihat gelang couplean mereka. Ya, itulah hadiah perlombaan tadi. Sangat kecil bukan? Gelang couple dengan inisial nama masing-masing. Nessa memakai gelang inisial R. R? Kenapa bisa R? Jawabannya adalah karena baginya R itu lebih unik. R, diambil dari inisial nama terakhir Endi yaitu Rey.
"Ini juga, cantik." bukannya melihat gelangnya, Endi malah melihat Nessa.
"Gelangnya apa Nessa?" tanya gadis itu terkekeh pelan.
"Orangnya." jawab Endi mempertemukan netra mata mereka.
Dengan cepat Nessa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Debaran jantungnya kini mulai terasa. Berpacu dengan cepat membuatnya ingin sekali mengumpat.
"Udah larut, mending kita pulang ya? Gak baik lama-lama di luar. Adek mau mampir ke mana lagi?" tanya Endi mengalihkan pembicaraan saat tau istrinya salah tingkah.
"Hummm... nggak kok. Pulang aja." jawab Nessa mulai menemukan kantuknya.
"Ya udah."
Pria itu bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya kepada istrinya. Namun, rupanya gadis itu menolak, terbukti dengan dirinya menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Endi bingung dengan tangannya masih terulur di hadapan istrinya.
"Gendong." ucap Nessa tiba-tiba dengan manjanya.
Endi menundukkan kepalanya seraya tersenyum. Sesaat ia langsung mengangkat wajahnya menatap istrinya yang kini tengah menatapnya juga.
Tiba-tiba pria itu berjongkok membelakangi Nessa. Ia menoleh ke belakang dengan senyum yang mengiringi bibirnya.
"Ayo!"