
"Nes, kemarin lo nyatat materi matematika yang di papan tulis nggak?" tanya Vella saat mereka berdua bersantai di taman baca.
"Ada, emang kenapa?" jawab Nessa sembari melirik Vella.
"Pinjem buku catatan ya? Kemarin gue gak sempet nyatat, hehe."
"Kirain lo nyatat. Oke deh, ntar pulang sekolah lo mampir bentar di rumah."
"Sip, makasih bestie."
"Ye." jawab Nessa dengan malas.
Tiba-tiba Deca datang ke arah mereka sambil membawa beberapa cemilan di tangannya.
"Boleh gabung?" izin pemuda itu sambil berdiri mematung.
Vella melirik Nessa sambil memberikan kode.
"Boleh, silahkan!" balas Nessa memberikan izin. Jadilah mereka kedatangan satu orang. Nessa duduk berdampingan dengan Vella, sedangkan Deca duduk sendiri di hadapan mereka.
"Buat kalian, sebagai ucapan terimakasih karna udah ngijinin gue gabung." Dece menyodorkan cemilan yang tadi dia bawa.
"Serius?" tanya Vella dengan mata berbinar.
"Iya. Makan aja." balas Deca.
"Uuuuu, makasih, Ca. Tumbenan lo baik, gak ada niatan apa-apa kan?" Vella menyipitkan kedua matanya memandang pemuda itu curiga.
"Ada, banyak. Salah satunya mau nyulik lo, trus gue buang ke penangkaran buaya." balas Deca jengkel dengan Vella.
"Eh buset! Kalo ngomong sekate-kate." Vella tidak marah atau apapun, ia hanya tertawa receh saat melihat ekspresi Deca yang sedikit tertekan.
"Udah, udah. Jangan berantem, ntar jodoh baru tau rasa." sahut Nessa menimpali.
"No no no! Jangan ngomong gitu, Nes. Nih ya, gue tuh cewek terhormat, gak menganut asas pacaran. Stay halal, sister."
"Gayanya." balas Nessa terkikik mendengar perkataan Vella. Stay halal?
"Amit-amit. Mending gue jomblo selamanya daripada dapet jodoh cewek kek gitu." ujar Deca memasang wajah geli.
"Awas karma." seru Nessa memancing keduanya.
"Najis!" koor keduanya kompak.
"Gue tandain." sahut Nessa lagi sambil mengerlingkan matanya.
Tring
Suara notif pesan masuk membuat suasana sunyi seketika. Mereka hanya saling pandang, berusaha mencari arah sumber suara.
"HP gue. Bentar ya?" iya, itu suara ponsel Nessa.
Gadis itu kembali mematikan ponselnya saat sudah selesai dengan urusannya.
"Siapa, Nes?" tanya Vella ikut kepo.
"Kepo, lo!" sambung Deca ikut-ikutan.
"Serah gue dong." balas Vella tidak terima.
"Dari Mami." jawab Nessa.
"Kenapa Mami lo?"
"Gak pa-pa. Gue disuruh ke butik mau ambil baju nanti pulang sekolah." sebenarnya isi pesan tadi adalah Maminya memintanya untuk pergi ke butik salah satu langganan keluarganya untuk fitting baju pernikahannya. Sementara Nessa mengatakan pada Vella hanya untuk mengambil baju.
Vella hanya mengangguk-angguk.
"Nanti malam aja deh gue ke rumah lo buat minjem buku."
"Pulang sekolah aja, biar lo gak bolak-balik. Gak pa-pa kok, nanti gue juga mau pulang ke rumah buat ganti baju lagi. Gak mungkin kan ke butik pake baju seragam?"
"Iya juga sih, boleh lah."
🌼🌼🌼
Sepulang sekolah, Vella langsung melajukan motornya menuju rumah Nessa. Keduanya berangkat bersama menggunakan motor Vella.
Nessa langsung mengajak Vella masuk ke kamarnya begitu mereka sampai. Karena tidak ingin membuat Nessa kerepotan, Vella langsung meminjamkan buku Nessa dan setelah itu baru pulang.
"Istirahat bentar lah, Vel, baru juga sampai udah mau pulang aja." ujar Nessa sembari melepas jilbabnya yang melekat. Toh mereka juga sama-sama cewek.
"Gue langsung pulang aja. Nanti Mami lo nungguin lagi."
"Nggak kok, Mami pasti ngerti kalau ada lo."
"Kapan-kapan deh gue ke sini. Gue langsung pulang ya?"
Akhirnya Nessa pun membiarkan Vella pulang. Rasanya sungguh suntuk hanya sendirian di rumah, ada Mbok Jum sih. Tapi, ya begitu.
"Ya udah, lo hati-hati ya? Gue anter ke depan."
"Nggak usah, lo di sini aja. Gak pa-pa kok. Santai aja." tolak Vella mentah-mentah.
"Oke, bye, Nes."
Nessa hanya menganggukkan kepalanya. Akhirnya gadis itu keluar dari kamar Nessa.
Sesampainya di depan rumah Nessa, Vella melihat ada sebuah mobil yang baru saja memasuki pekarangan rumahnya. Jika dilihat mobil tersebut bukan mobil orang tua Nessa. Lalu, mobil siapa?
Mobil itu berhenti. Tepat saat itu pintu mobilnya terbuka. Vella? Gadis itu melebarkan matanya saat melihat orang yang baru saja keluar dari mobil.
"Bapak kok ada di sini?" tanya Vella terkejut bukan main. Apa orang itu salah rumah? Ah entahlah.
"Vella?"
"Iya, saya, Pak." jawan Vella. Namun, bukan itu jawaban yang ia inginkan.
"Bapak ngapain di sini?" seloroh Vella masih sama dengan pertanyaan sebelumnya.
"Kamu juga ada di sini?" balas Endi balik bertanya. Ya, Endi, gurunya.
"Saya ke sini minjam buku Nessa, Pak. Lalu, Bapak ngapain di sini?" tidak bosan-bosannya Vella bertanya.
Endi yang ditanya seperti itu juga bingung. Ia ingat obrolannya dengan Ness waktu lalu. Gadis itu memintanya untuk menyembunyikan hubungan mereka. Apalagi dengan terkait pernikahannya.
Pria itu hanya menggaruk kepalanya tidak gatal. Ia masih dengan pakaian khas mengajarnya, dan juga penampilan masih sama saya berasa di luar. Alias cupu, oleh karena itu Vella mengenali gurunya.
"Ini rumah Nessa? Saya baru tau. Soalnya saya ke sini ada dengan Pak Ibrahim." ucap Endi menemukan alasan yang entahlah. Apa bisa dipercaya atau tidak.
Vella menyipitkan kedua matanya. Sementara itu, Nessa yang melihat dari balkon kamarnya sudah kalang kabut.
"Kamu mau pulang kan? Hati-hati pulangnya, jangan ngebut." ujar Endi mengalihkan pembicaraan.
Mendengar itu membuat Vella mengangguk pelan. Namun, rasanya ada yang sedikit mengganjal di hatinya.
"Kalau begitu saya pulang dulu, Pak." ingin rasanya Vella berkata kalau Papi Nessa tidak ada di rumah. Sungguh, alasan gurunya itu tidak masuk akal. Seharusnya pria itu tau kalau orang tua Nessa sibuk bekerja. Memikirkan itu sudah membuat Vella pusing tujuh keliling. Belum lagi kalau nanti ia mengetahui kabar yang sebenarnya.
"Iya, Vella. Hati-hati."
Endi bernafas lega saat motor yang dikendarai Vella sudah tidak terlihat lagi.
Endi langsung melangkah menuju pintu dan mengetuknya.
"Eh! Aden? Masuk atuh."
"Makasih, Mbok." jawab Endi lalu masuk saat sudah dipersilahkan oleh Mbok Jum.
"Non Nessa-nya ada di atas, mungkin lagi bersih-bersih. Sebentar ya? Biar Mbok panggilkan."
Endi hanya mengangguk sopan. Ini adalah kali keduanya ia berkunjung ke rumah Nessa. Pria itu duduk di ruang tamu sembari menunggu Nessa turun.
Tidak lama Nessa turun dari kamarnya dengan memakai pakaian sopan, tidak lupa ia membawa tasnya untuk penyimpanan ponsel dan lain-lain. Di belakangnya juga ada Mbok Jum yang mengekori anak majikannya.
"Aden mau dibuatin minum?" tawar Mbok Jum ketika sudah sampai di bawah.
"Nggak usah, Mbok. Langsung berangkat aja."
Mbok Jum melirik Nessa yang masih berdiri di sampingnya.
"Buatin aja, Mbok. Biar ditunggu." ucap Nessa yang diangguki oleh Mbok Jum.
"Baiklah, kalau gitu Mbok ke dapur dulu."
"Iya, Mbok." jawab Nessa.
Gadis itu ikut duduk di sofa berseberangan dengan Endi. Keduanya saling diam sebentar.
"Duduk dulu. Bapak juga baru sampai kan?" tanya Nessa saat melihat kebingungan di wajah pria itu.
Endi hanya mengangguk mengerti.
"Tadi ketemu Vella di depan?" tanya Nessa.
"Iya."
"Dia nanya apa?"
Endi pun mulai menceritakan obrolannya yang tidak sengaja dengan Vella tadi.
"Kenapa gak dikasih tau?" seru Endi.
"Nessa butuh waktu aja, Pak. Gak ngebayangin gimana nanti reaksi Vella."
Endi menghembuskan nafasnya pelan. Saat itu juga Mbok Jum datang sambil membawa minuman lalu pergi agar tidak menganggu obrolan keduanya.
"Kalau tidak dikasih tau, mungkin reaksinya beda lagi. Mungkin Vella akan merasa kecewa karna kamu sebagai sahabatnya tidak memberitahu yang sebenarnya."
Nessa terdiam. Apa yang dikatakan oleh pria itu benar. Namun, rasanya Nessa sungguh berat, takut sekaligus.
"Ya sudah, jangan dipikirkan. Lebih baik kita langsung berangkat. Semuanya sudah menunggu di butik." ujar Endi yang tidak ingin membuat Nessa kepikiran.
Setelah meminum minumannya setengah, Endi langsung mengajak Nessa berangkat ke butik karena memang kedua orang tua mereka sudah menunggu di sana.