My Teacher

My Teacher
MT part 21



Semua yang terjadi adalah skenario yang Allah ciptakan.


~Nessa_Endi~


🌼🌼🌼


Duduk bersitegang, siapa yang mau berada di kondisi itu? Pasti semuanya menolak kan? Begitu juga dengan Nessa, namun gadis itu tidak bisa menolak jalan yang sudah Allah tetapkan. Sama halnya juga dengan Endi.


Suasana yang biasanya dipenuhi canda tawa kini berganti dengan bersitegang. Perang antara pikiran dan batin.


"Jelaskan!" titah Papi Ibra langsung ke intinya. Sementara yang lainnya hanya diam sambil menunggu giliran.


"Maaf untuk semuanya, Om, Tante, Mama, Papa. Ini semua gak sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran kalian. Kita-Rey dan Nessa gak melakukan apa-apa--"


"Cukup! Nessa?"


Nessa mengeratkan genggaman tangannya sendiri untuk mencari kekuatan.


"Benar, Pi. Nessa cuma mau ambil flashdisk aja, Papi kan tau itu. Trus pas Nessa nyari tiba-tiba flashdisknya gak ada--"


"Papi mau dengan alasan kalian, bukan ceritanya!"


Nessa menundukkan kepalanya takut. Baru kali ini ia melihat kemarahan Papinya, dan itu sangat-menyeramkan.


"Maaf menyela, Om. Tapi, saya hanya membantu Nessa mengobati lukanya saja. Dia menangis karna kesakitan, bukan karna saya apa-apain, Om. Jujur, gak ada satu pun niatan saya untuk melukai anak Om. Karna saya tau, kalau Nessa itu sangat berharga bagi semuanya. Jadi, bagaimana mungkin saya menyakiti perempuan sebaik dia." potong Endi menjelaskan secara singkat.


Nessa mengangkat wajahnya, menatap lekat ke arah pria itu lalu mengalihkan dan menatap wajah Papinya. Sorot matanya tidak pernah berbohong, Ibrahim tau itu.


"Kami sudah memutuskan untuk menikahkan kalian berdua."


Apa!


Keduanya sontak terbelalak dengan mulut ternganga. Apa-apaan ini?


Nessa melotot dengan sempurna. Bagai petir yang menyambar di siang bolong saat ia mendengar penuturan dari Resa.


Kalau anak remaja seusianya ada di posisinya, pasti mereka sudah berteriak. Namun, berbeda dengan Nessa. Gadis itu mendapat didikam dari orang tuanya agar kalau saat sedang marah tidak mengeluarkan bentakan atau suara yang nyaring.


Namun, kali ini rupanya yang berteriak adalah Papinya sendiri. Nessa memaklumi itu.


"Pa, Ma. Mami, Papi?" Nessa menatap satu per satu dari mereka.


"Tolong hargai keputusan kami. Silahkan kalian diskusikan."


Apa lagi ini!? Mana ada orang yang akan dinikahkan berdiskusi, apalagi terpaksa. Ingat ya! Tidak ada yang namanya surat perjanjian segala macam dengan syarat apa lah itu. Pernikahan itu adalah hal yang sakral dan suci. Pernikahan sekali seumur hidup. Dan kalau cerai itu nauzubillah. Allah melarang umatnya.


🌼🌼🌼


Nessa menangis sejadi-jadinya. Saat ini mereka berdua masih belum beranjak dari duduknya. Sementara para orang tua sudah menjauh, memberikan ruang untuk mereka. Namun, rupanya keputusan itu membuat Nessa sangat syok.


Pernikahan? Itu jauh sekali di pemikirannya. Yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah sekolah, lalu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan bekerja, membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi sekarang, apa ini?


"Nessa." panggil Endi lembut.


"N-nessa gak m-mau nikah mu-da... hikss hiksss..."


Biar bagaimana pun juga Nessa adalah anak remaja yang usianya masih berada di angka 17. Tentunya di umur segitu, mereka kebanyakan labil alias plin plan. Kalau mengambil keputusan harus berpikir dua kali sebelum memutuskannya.


Oke baiklah. Kali ini pria itu akan lebih bersabar. Sedari tadi dirinya tampak tenang, namun tidak di dalam hatinya yang penuh dengan kebingungan.


"Nessa."


"Nggak! Gak mau."


"Nessa, hei, Nessa. Lihat mata saya, tenang."


Perlahan, Nessa yang awalnya memberontak kini lebih tenang. Hanya terdengar suara sesegukannya saja.


"Lihat saya, tatap mata saya!"


Perlahan mata keduanya saling terkunci. Nessa merasakan sesuatu hal yang berbeda dari dirinya saat menatap mata itu dan sedikit menyelaminya. Ketenangan yang ia dapat, kenyamanan yang ia rasakan.


Nessa menganggukkan kepalanya pelan.


"Saya paham apa yang kamu rasakan saat ini. Kamu boleh renungkan, mintalah petunjuk kepada-Nya, memohon ampun. Supaya hati kamu tenang, kamu juga bisa mendapatkan petunjuk atas apa yang kamu minta."


"K-kenapa Bapak b-isa setenang i-ini?" tanya gadis itu terbata.


Endi memberikan senyumannya. "Saya juga seperti kamu. Saya kalut, saya panik, saya takut, semuanya campur aduk. Tapi, saya sebagai lelaki tidak boleh menunjukkan itu semua. Saya harus tetap terlihat tenang, supaya saya bisa berpikir jernih. Kamu paham?"


"P-aham, Pak."


"Sekarang kamu tidur, tidurlah di kamar saya. Nanti saya akan tidur di luar."


"Nessa pulang aja, Pak."


Endi menggelengkan kepalanya.


"Istirahat."


"Iya, Bapak juga."


Endi menganggukkan kepalanya. Pria itu mengantarkan Nessa sampai depan pintu kamar.


Tangannya dengan ragu terulur menggapai pucuk kepala Nessa yang terlindungi oleh jilbabnya yang sudah lumayan kusut karena gadis itu tidak berhenti menangis dan sekarang baru bisa berhenti.


"Jangan banyak pikiran. Selamat istirahat, semoga mimpi indah." ucap Endi lalu menurunkan tangannya lagi.


Hal itu sontak membuat jantung Nessa berdebar. Pria itu sungguh dewasa dalam menyikapi permasalahan. Perlahan gadis itu masuk ke kamar dan menutup pintunya kembali. Membaringkan tubuhnya di atas kasur empuk. Aroma khas pria itu menyeruak ke hidungnya membuatnya tanpa sadar terpejam.


Sementara itu, Endi langsung turun ke bawah untuk menemui para orang tua.


"Nessa mana?" tanya Winanti.


"Tidur." jawab Endi.


"Dia baik-baik aja kan?"


Endi hanya mengangguk menanggapi.


"Rey, maafin Om yang sudah kasar sama kamu. Om lepas kendali, itu semua di luar batas sadar Om." ucap Papi Ibra meminta maaf.


Endi hanya tersenyum mengerti.


"Tidak apa-apa, Om. Rey mengerti, Nessa itu putri kesayangan Om, yang Om rawat dengan sepenuh hati, Om sudah menjaganya dengan baik, tidak membiarkan seorang pun laki-laki yang mencoba untuk menyakitinya."


"Kamu bijak, Rey. Om tidak salah pilih."


"Om-"


"Soal kalian, biar Om yang bujuk Nessa. Perlahan dia akan mengerti."


"Baik, Om."


"Sekarang kamu juga istirahat, Om akan pulang. Titip Nessa, jaga dia untuk Om."


"Insyaa Allah, Rey akan berusaha semampunya."


"Wina, Resa. Kami pulang dulu." pamit Mami Hana cipika-cipiki dengan Winanti.


"Iya. Kalian hati-hati di jalan."


"Oh ya, untuk Nessa, besok dia akan izin satu hari. Mungkin dia tidak masuk sekolah."


"Kenapa?"


"Lihat saja sendiri besok. Tolong jaga Nessa."


"Gak perlu kamu minta, Ib. Nessa udah aku anggap sebagai anakku sendiri."