
Lantunan sholawat Nabi terus mengiringi perjalanan mereka yang keluar dari bibir Endi. Malam ini dirinya sangat bahagia. Sangat, sangat, dan bahkan sangat bahagia. Hanya hal sederhana sudah membuat hatinya berdesir.
Selang beberapa waktu akhirnya motor yang dikendarai Endi telah tiba di pekarangan rumah mereka. Di dalam perjalanan tadi, istrinya itu hampir saja tertidur. Beberapa kali kepala gadis itu terantuk ke helm Endi membuatnya terkaget. Matanya sayup, kalau ditanya pun hanya bergumam saja.
"Dek, jangan tidur dulu ya?" kata Endi belum juga turun dari motornya.
"Iya, Mas." jawab Nessa dengan suara serak. Gadis itu turun dari jok belakang dengan sedikit sempoyongan. Melihat hal itu, Endi bergegas turun dan dengan cepat menarik pelan tangan istrinya agar tidak terhuyung.
"Eh, eh... awas, Dek! Bentar loh ini, Mas masukin motor ke garasi dulu." Endi menuntun istrinya untuk duduk di kursi teras rumah mereka. Dengan gesit pria itu menyimpan motornya masuk ke dalam garasi. Setelahnya ia langsung berlari pelan menyusul istrinya yang tampak terduduk lesu di kursi.
Melihat istrinya yang tampak setengah sadar, Endi langsung menggendong tubuh Nessa. Reflek gadis itu langsung melingkarkan kedua tangannya ke leher suaminya. Serta wajahnya ia benamkan di dada bidang pria itu.
Endi yang melihatnya hanya mampu menggelengkan kepala. Ada-ada saja tingkah istri kecilnya itu.
Dengan pelan Endi menendang pintu kamarnya sehingga terbuka lalu menurunkan bobot tubuh istrinya ke atas kasur empuk.
"Dek." panggil Endi tetapi tidak digubris oleh Nessa. Malahan gadis itu tiba-tiba menarik tangannya yang masih tergalung di leher suaminya. Alhasil membuat tubuh pria itu kini kian merapat.
Endi hanya mendengkus pelan. "Adek, bangun dulu bentar. Ayok! Ganti baju." seru Endi memberitahu.
"Nanti aja." gumam Nessa dengan mata terpejam.
"Kalau gak mau ganti sekarang, biar Mas gantiin aja. Mau?"
"Hmmm, iya." jawaban Nessa sungguh di luar dugaan. Membuat Endi hanya memijat pelipisnya. Kepalanya terasa nyut-nyutan. Lama-lama kalau begini terus mana tahan dirinya. Apalagi melihat tubuh molek istrinya yang terkapar di atas kasur, ingat ya. Hanya istrinya seorang!
"Serius ini, Dek?" tanya Endi sekali lagi untuk memastikan.
"Iyaaaaa, Masssss." jawab Nessa dengan tempo nada panjang.
Baiklah. Pria itu akan mencoba bertahan. Namun, sebelum itu dirinya terlebih dahulu bersih-bersih sebentar lalu mengganti pakaiannya. Setelah berganti baju, Endi datang kembali sambil membawa sebaskom air hangat kuku dan handuk kecil.
Pertama-tama Endi membuka jilbab yang masih terpasang di kepala istrinya. Setelah itu tangannya bergerak, membuka sweeter kebesaran itu. Pria itu menahan nafasnya saat melihat sesuatu yang masih terasa asing baginya. Ya walaupun sudah sepasang suami-istri yang halal, namun, baginya itu sangat asing.
Dengan nafas tercekat, Endi membasahi handuk kering itu lalu mulai menyatukan handuk basah itu di badan istrinya. Begitu juga seterusnya sampai kini Nessa sudah lengkap dengan baju piyamanya.
"Pules banget sih tidurnya, Dek." ujar Endi menatap lekat wajah istrinya sambil tangannya mengelus-elus rambutnya.
Endi mendekatkan wajahnya lalu mengecup pelan kening istrinya. Kemudian ikut berbaring di samping Nessa dan memeluknya erat.
🌼🌼🌼
Hari-hari mereka lewati dengan bahagia dan rasa syukur yang nikmat atas karunia-Nya. Namun, sudah beberapa hari ini Nessa selalu tidak sengaja bertemu dengan pria yang mirip dengan Endi.
Suatu hari Nessa tengah berbelanja dan mengajak Vella untuk menemaninya. Karena suaminya itu tengah sibuk dan belum pulang, akhirnya Nessa terpaksa mengajak Vella. Bahan-bahan masakan di rumahnya itu benar-benar sudah habis, mungkin kalau dihitung hanya tersisa dua butir telur.
"Belum, lo udah?"
"Gue juga belum kali. Semoga aja soalnya baik sama kita." ujar Vella berharap.
"Mana ada soal ujian itu baik, hadeh." Nessa sampai menggelengkan kepala.
Beberapa waktu ke depan, akhirnya Nessa sudah selesai berbelanja. Gadis itu bersama sahabatnya langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Setelahnya langsung menuju jalan pulang.
Setelah barang-barang belanjaan Nessa dibawa pulang, gadis itu pun mengantarkan Vella pulang karena memang sebelumnya Nessa menjemput Vella dan mereka berangkat menggunakan motor Nessa.
Saat dalam perjalanan menuju rumah Vella, tiba-tiba dari arah depan terjadi kerumunan yang menyebabkan jalanan macet. Nessa bahkan sempat mengeluh karena teriknya matahari sore langsung menerpa tubuhnya.
"Pak, di depan ada apa ya?" Nessa pun berinisiatif untuk menanyakan hal itu kepada salah satu bapak-bapak yang kebetulan lewat dari arah kerumunan.
"Oh, itu, Neng. Ada kecelakaan."
"Innalillahi wainnailaihi roji'un."
"Ya udah, makasih ya, Pak." ucap Nessa berterima kasih.
"Sama-sama, Neng."
"Gimana? Mau puter arah?" tanya Vella setengah berteriak karena suara mereka terhalang oleh helm.
"Mau lewat mana? Ini cuma satu-satunya jalan."
Akhirnya mereka pun terpaksa menunggu jalanan kembali lancar. Setelah beberapa menit, kendaraan yang sempat berhenti pun kembali berjalan.
"Siapa sih yang kecelakaan?" Nessa hanya mengidikkan kedua bahunya sebagai respon.
Saat sedang berkendara denga pelan, tiba-tiba dari arah berlawanan ada seorang bapak-bapak yang meminta mereka berhenti. Alhasil Vella pun memberhentikan motornya.
"Ada apa, Pak?" tanya sahabat Nessa.
"Kalian bisa tolong bantu korban kecelakaan gak? Tolong bawa ke rumah sakit ya?" pinta si bapak dengan raut wajah memohon.
Sementara Nessa dan Vella hanya saling memandang. Apa ini? Mereka bahkan tidak mengenal si korban yang masih tergeletak di pinggir jalanan.
"Tolong ya? Hanya kalian saja yang bisa membantunya. Saya sih mau membantunya, tapi, keadaan tidak memungkinkan. Istri saya berada di rumah sakit mau melahirkan." jelas bapa itu membuat Nessa dan Vella hanya menghela nafas panjang. Akhirnya mereka pun mengiyakan permintaan bapak itu. Tapi, ngomong-ngomong kenapa tidak sekalian saja si bapak membawa korban kecelakaan itu ke rumah sakit? Bukannya tujuannya saat ini ke rumah sakit? Dan juga kenapa harus mereka? Tidak adakah orang yang mau membantunya selain Nessa dan Vella?
"Terima kasih, sebentar lagi ambulans datang. Kalian bisa tunggu di sini. Kalau gitu saya pamit dulu."
Kedua hanya mengangguk sambil memberikan senyuman terpaksa.