
Erlyn menghela nafas lega melihat Angel tengah berbaring di atas ranjang kamarnya, ia berjalan mendekati Angel lalu mengelus rambut halus Angel.
Angel merasa terusik dan membuka matanya
"Eengghh... Erlyn, kau sudah pulang?" Erlyn tersenyum lalu memeluk erat Angel.
"Dari mana saja kau hm? Kau menghilang semalaman aku hampir mati karna panik memikirkanmu" Erlyn melepas pelukannya.
"Malam itu, setelah aku membeli keperluan di dapur aku bertemu beberapa begal di jalan. Ku kira aku akan mati di tempat itu. Lalu, seseorang menolongku dan membawaku ke Apartemen miliknya"
"Seseorang menolongmu?" Angel mengangguk "Siapa?"
"Entahlah, begitu aku sadar dia sudah tidak ada. Dia hanya mengirim pengawalnya untuk mengantarku pulang"
"Sukurlah kalau begitu. Lain kali kau harus lebih berhati hati. Kau tau Daniel rela meninggalkan pelajarannya demi dirimu" Jelas Erlyn. Angel terkekeh kecil mengingat kekonyolan Daniel.
"Itu benar. Dia sangat panik hingga tidak mau pergi kesekolah"
"Ku rasa dia benar benar mencintaimu Angel. Lalu, mengapa kau tidak menerima cintanya?"
Angel menuruni ranjang sambil mengedikan bahunya.
"Aku lebih nyaman seperti ini. Lagi pula jika dia memang jodohku kita pasti akan bersatu meski tidak berpacaran" Erlyn berjalan menyusul Angel dari belakang.
"Tapi, tetap saja ini tidak benar. Daniel sangat mengharapkanmu Angel. Kau tidak bisa menggantungnya seperti ini"
"Aku sama sekali tidak menggantungnya Erlyn. Aku hanya memberinya kebebasan. Kau tau sendiri Daniel adalah pria tampan kaya dan memiliki pesona. Banyak gadis diluar sana yang menginginkan dirinya. Dia terkenal dan aku ingin dia menikmati semua ini. Aku tidak mau dia merasa risih atau terikat karna hubungan kita."
Erlyn menghela nafas panjang. Percuma menjelaskan pada Angel. Dia tidak akan paham dengan istilah banyak tikungan didepan sana.
"Karna itulah Angel. Banyak sekali gadis yang menginginkan dirinya, terlebih ketika Daniel meng-klaim bahwa kau bukan kekasihnya. Apa kau mau gadis gadis itu merebut Daniel darimu?"
"Jika dia benar benar mencintaiku, dia tidak akan berpaling meski ribuan gadis menggodanya. Ah sudahlah Erlyn kau pasti lelah. Istirahatlah, dan aku akan keluar untuk mencari udara segar"
"Baiklah, kembalilah segera"
"hm..."
Angel berjalan jalan di sekitar taman, yah taman ini adalah tempat yang paling sering ia kunjungi. Dulu ketika ia masih di Junior High School ia sering datang ketempat ini berasama Daniel dihari minggu.
Angel duduk di bangku sambil melihat anak anak yang bermain di taman ini. Matanya terfokus kepada seorang anak yang bermain bersama kedua orang tuanya. Mereka terlihat begitu bahagia.
"Andai aku bisa merasakannya juga" Guamnya menatap sendu kearah keluarga itu.
"hiks hiks ... daddy .. hiks" Pandangan Angel beralih kepada anak kecil yang tengah menangis di dekatnya. Anak lelaki itu sangat menggemaskan.
"Hai... kenapa kau menangis?"
Anak itu menatap Angel dengan mata yang berair.
"Daddy meninggalkan ku disini hiks.."
"Benarkah? siapa namamu? aku akan mencoba mencarikan orang tua mu"
"Namaku Peter"
"Baiklah Peter, dimana dad mu meninggalkan mu? mungkin saja dia masih ada disini?" Peter mengusap air matanya. Ia menunjuk kearah prosotan.
"Mari ku antar kau kesana. Jangan sedih dad mu tidak akan meninggalkan mu sendiri"
Angel menggendong peter kearah prosotan itu.
"Duduklah disini. Aku akan bertanya kepada mereka" Peter menurut dia duduk di atas bangku yang ada disana.
"Emm... permisi, apa kalian melihat seorang pria yang bersama anak itu tadi?" Tanya Angel kepada Seorang wanita. Wanita itu melirik kearah Peter. Sesaat ia berusaha mengingat kejadian sebelumnya.
"Ah iya aku melihatnya, tadi pria yang bersama anak itu pergi bersama dua orang pria lainnya"
"Benarkah? Lalu apa kau tau kemana pria itu pergi?"
Wanita itu menggeleng.
"Dia pergi menggunakan mobil, aku tidak tau dia pergi kemana"
"Peter, apa kau tidak lapar? mari makan sesuatu. Dad mu mungkin sedang dijalan dia pasti akan menjemputmu" Peter menatap Angel sekilas lalu mengangguk.
"Apa daddy benar benar akan menjemputku?" Tanya nya denga polos. Angel tidak tega melihatnya tapi apa boleh buat dia tidak punya pilihan lain selain memberi harapan kepada peter. "Aku yakin daddy mu pasti akan menjemputmu. Ayo makan dulu kau pasti sudah lapar"
Akhirnya mereka berdua makan, sesekali Peter bertanya mengapa daddynya belum juga menjemputnya. Angel mulai khawatir pasalnya hari sudah semakin sore dan belum ada tanda tanda seseorang akan menjemputnya.
Hingga beberapa lama kemudian. Seorang wanita tua berlari kearah mereka berdua.
"Tuan muda, ternyata anda disini" Angel tersedak mendengar panggilan Peter.
'Tuan muda? Apa Peter anak orang kaya?' Batin Angel
"Maaf anda siapa?" Wanita tua itu membungkuk hormat didepan Angel.
"Saya Mora pengasuh Tuan muda. Dan siapa anda? Mengapa tuan muda bisa bersama anda?" Angel tersenyum kemudian memperkenalkan dirinya.
"Saya Angel, Aku menemukan Peter sendiri ditaman sambim menangis. Katanya dia ditinggal oleh ayahnya" Wanita bernama Mora itu mengangguk.
"Terimakasih sudah menjaga tuan muda, Tuan muda mari pulang, ayahmu sudah menunggumu" Peter menurut.
"Aunty, aku akan mengajak daddy menemuimu dan makan bersama disini lain kali" Angel tersenyum lalu mengangguk
"Tentu saja. Kita teman mulai sekarang" Kata Angel sambil mengelus rambut Peter.
Angel bernafas lega akhirnya Peter berhasil pulang, kini hari sudah sangat sore Angel memutuskan kembali kerumah. Ia berjalan sambil tersenyum mengingat wajah anak itu yang begitu menggemaskan.
Angel tiba dirumah nya, ia kaget melihat Daniel yang keluar dari rumahnya.
"Sedang apa Daniel disini" Guamnya sambil berjalan masuk.
"Daniel" Daniel menoleh kearah Angel, ia tersenyum lalu mendekati Angel.
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Aku datang untuk menemuimu, tapi kata Erlyn kau sedang tidak diruma jadi aku putuskan untuk pulang saja" Jelas Daniel.
"Benarkah? maafkan aku aku baru pulang dari taman tadi"
"Memangnya ada apa kau mencariku? Apa ada yang ingin kau katakan?" Tanya Angel
"Tidak ada, aku hanya ingin memastikan keadaanmu saja dan sepertinya kau sudah baik baik saja."
"Iya aku sudah merasa lebih baik"
"Baiklah kalau begitu. Aku harus segera pulang ibuku menungguku dirumah" Angel mengangguk lalu sekilas mereka berpelukan. "Hati hati dijalan. Kabari aku jika kau sudah tiba dirumah"
"Baiklah. Sampai jumpa besok"
Tanpa mereka sadari sepasang mata penuh kebencian menatap mereka dari kejauhan. Tangannya mengepal seolah ia harus segera menumpahkam kebencian itu.
"Perpisahan yang sangat manis" Guamnya.
Angel melangkahkan kakinya masuk, Ia melihat Erlyn tengah membaca buku di sofa.
"Angel dari mana saja kau? Lihatlah jam berapa ini kau bahkan belum mengerjakan tugas mu. Angel kau tau Daniel mencarimu tadi dan kau malah tidak pulang" Angel menghela nafas panjang. Ia merasa kesal mendengar ceramah Erlyn ketika ia melakukan kesalahan.
"Erlyn aku hanya pergi ketaman. Dan apa kau tau aku bertemu dengan seorang anak yang kehilangan ayahnya. Anak itu malang sekali"
"Benarkah? Lalu bagaimana anak itu sekarang apa dia berhasil bertemu ayahnya?"
Angel menggeleng.
"Dia tidak menemukan ayahnya. Tapi seorang wanita menemui anak itu. Mungkin dia adalah pengasuhnya dia memanggil anak itu dengan sebutan tuan muda " Jelas Angel.
"ah mungkin saja dia anak orang kaya. Dad nya meninggalkannya karna urusan pekerjan"
"Entahlah. Aku sangat lelah aku mau tidur"
Erlyn menatap kepergian Angel yang meninggalkannya begitu saja.
"Dan sekali lagi kau mengabaikan Daniel"