My Teacher

My Teacher
MT part 34



Endi keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Saat keluar, pria itu menemukan istrinya yang tengah berkutat dengan riasan di kepalanya di depan meja rias.


Pria itu tau kalau istrinya tengah kesusahan untuk membuka aksesoris itu. Perlahan, ia mendekat.


"Eh?" Nessa tersentak saat ada sesuatu yang memegang kepalanya.


"Saya bantu." ujar Endi perlahan melepas satu per satu aksesoris yang melekat di kepala Nessa.


Lewat pantulan cermin, Nessa bisa melihat aktivitas Endi yang melucuti aksesoris di kepalanya. Sampai aksesoris itu semuanya terlepas, tangan Endi pun terhenti.


Keduanya membeku. Nessa ragu, antara membuka jilbabnya ataukah tidak. Biar bagaimanapun juga gadis itu masih sangat asing jika berduaan di dalam satu ruangan dengan lawan jenis. Saat pertama kali mereka satu ruangan dan tidur bersama, itupun ketidaksengajaan.


Endi memutar kursi Nessa hingga gadis itu menghadapnya. Pandangan mereka bertemu, dan netra matanya langsung terkunci.


"Boleh saya buka ini?" tany Endi izin telebih dahulu untuk membuka jilbab Nessa.


Sebenarnya Nessa mau menolak dan mengatakan bahwa dirinya bisa melepasnya sendiri. Namun, gadis itu ingat dengan statusnya. Dan kata orang tuanya, menurutlah dengan suami selagi itu di jalan yang benar.


Nessa hanya mengangguk. Bibirnya terkatup rapat.


"Ma Syaa Allah." ucap Endi pelan saat berhasil membuka jilbab Nessa hingga kini jilbab itu terlepas.


Sekali lagi Endi terpukau saat ia menarik pelan sanggul Nessa hingga rambutnya yang panjang kini terurai. Mahkota Nessa kini terjun bebas.


Sementara Nessa saat itu juga sudah memejamkan matanya erat. Ia malu, dan belum terbiasa dipandangi oleh lawan jenis.


"N-nessa ke kamar mandi dulu, P-pak." gadis itu langsung beranjak tanpa menunggu persetujuan dari Endi. Sementara pria itu hanya tersenyum saat melihat wajah Nessa memerah.


Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Nessa langsung mengunci pintunya rapat. Ia bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya yang berdebar. Berulang kali ia menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Namun, debaran itu tidak kunjung hilang seiring dengan ingatannya yang berputar.


Saat sudah sedikit tenang, Nessa pun mencoba untuk melupakannya sejenak karena dirinya ingin membersihkan diri. Badannya sudah terasa lengket, beruntung saat make up tadi ia meminta kepada perias untuk merias dirinya tidak terlalu menor alias natural.


Saat baru akan membuka kebayanya, Nessa teringat kalau dirinya tidak membawa handuk serta baju ganti. Gadis itu menepuk pelan keningnya sambil meringis pelan. Mau tidak mau ia harus keluar lagi untuk mengambil barang-barang penting tersebut.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka yang otomatis langsung melihat kasur. Tampak Endi setengah berbaring sambil memejamkan matanya. Netra pria itu teralihkan saat mendengar derit pintu kamar mandi.


"Kenapa?" tanya pria itu. Nessa tidak menjawab, melainkan langsung berjalan ke lemari dan mengambil handuknya beserta baju santai.


Setelah mengambil barang-barang tersebut, Nessa kembali masuk.


Kini ia merutuki dirinya sekali lagi. Karena saat akan membuka resleting kebayanya, tiba-tiba resletingnya macet. Nessa menggigit bibir bawahnya, ragu untuk meminta tolong. Sudah berapa kali ia mencoba, namun rupanya masih gagal.


Karena merasa Nessa terlalu lama di dalam kamar mandi, membuat Endi gelisah sekaligus khawatir. Pria itu bangkit dan berjalan mendekati kamar mandi.


"Tok... tok... tok..."


"Nessa? Kamu tidak apa-apa?"


Di dalam sana, Nessa sudah gelagapan.


"Ya?" jawab Nessa hanya satu kata.


"Kamu kenapa?"


Nessa ragu. Namun, akhirnya ia memberanikan diri. Kalau dibiarkan pasti tidak tau kapan bisa selesau.


"Mmmm, resletingnya macet, Pak." jawab Nessa.


"Macet? Sudah dicoba?"


"Udah, Pak. Tapi, tetep aja gak bisa."


"Ya sudah, mau saya bantu?" tawar Endi.


"Saya di luar, sedangkan kamu di dalam. Bagaimana saya mau bantu kamu?"


Benar juga. Nessa baru sadar itu.


Ceklek


Begitu pintu terbuka, Nessa tidak kunjung keluar. Maka dari itu Endi memberanikan diri untuk masuk.


"Mana?"


Nessa mulai membelakangi Endi hingga tampaklah resleting yang macet tersebut.


Tangan kekar itu mulai menyentuh baju Nessa tanpa kulit mereka bersentuhan.


Nafas Endi tercekat saat melihat punggung Nessa yang putih dan mulus. Biar bagaimanapun juga pria itu laki-laki normal, dan juga ini pertama kalinya ia melihat secara langsung.


"Sudah."


Nessa berbalik hingga mereka berhadapan. Tangan gadis itu memegang pakaian bagian depannya agar tidak melorot.


"Makasih, Pak."


"Sama-sama."


Setelah mengatakan itu, Endi pun keluar dengan netra matanya berkedip beberapa kali.


Pria itu memutuskan untuk berbaring saja, rasanya jiwa dan raganya lelah. Tanpa sadar matanya terpejam hingga masuk ke alam bawah sadarnya.


Nessa yang baru keluar pun merasakan sunyi. Ia pun mengerti saat melihat Endi yang tertidur di kasurnya.


Saat itu juga Nessa memutuskan untuk turun ke bawah dan menemui keluarganya yang masih berada di sana.


"Rey mana, Sayang?" tanya sang Mami saat melihat putrinya yang turun sendirian.


"Tidur, Ma. Kayaknya kecapean."


Maminya hanya mengangguk-angguk.


"Nenek dan Kakek mana, Mi? Kok sepi?" gadis itu celingukan.


"Oh ya, Mami lupa mau ngasih tau kamu. Tadi Nenek dan Kakek kamu sudah pulang, katanya gak bisa nginap di sini karna ada urusan penting di sana."


"Yahhh, kok gitu sih? Baru ketemu bentar, eh udah pulang aja. Trus Papi juga ke mana?" balas Nessa sedikit kecewa karena dirinya masih rindu dengan Nenek dan Kakeknya.


"Ada tuh, biasa di depan lagi nyantai."


Nessa hanya mengangguk, mau ke depan pun rasanya malas karena dirinya tidak mengenakan jilbab. Jadi, gadis itu memutuskan untuk berada di dalam rumah saja sambil ceki-ceki sama Maminya.


"Ikut Mami ke dapur yuk! Kita masak." kata Mami Hana sambil menarik pelan lengan Nessa.


Sesampainya di dapur, Mami Hana langsung mengeluarkan bahan-bahan untuk memasak dari kulkas.


"Mami mau masak apa?" tanya Nessa meneliti.


"Yang simpel aja. Kamu juga boleh ikut masak, coba masakin buat Rey. Kamu tau kan makanan kesukaannya?"


Nessa menggeleng sambil menyengir. Bagaimana mau tau, mereka menikah baru aja tadi. Dan sebelum-sebelumnya hubungan mereka pun hanya sebatas guru dam murid, tidak lebih. Lagian Nessa juga tidak berani tanya-tanya lebih saat hubungan mereka masih diambang menunggu. Dan untuk sekarang, mungkin bisa melakukan pendekatan lebih.


"Tanya ya? Mami tau kamu masih canggung, tapi, secanggung apapun kalian, kamu jangan pernah melupakan tugas seorang istri." kata Maminya, mungkin sebagai nasehat.


"In Syaa Allah, Mi."


"Pelan-pelan aja. Kamu bisa tanya sama Mami cara untuk membahagiakan suami."