
Beberapa hari terlewati, setelah kejadian siang itu Nessa lebih banyak menghindar. Menghindari kontak mata mereka, karena setiap kali bertatapan jantung Nessa rasanya tidak aman.
Teriknya sinar matahari pagi tidak membuat gadis itu terusik di balik selimut tebalnya. Bahkan ia dengan santainya kembali mengeratkan selimut itu. Endi yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Memang setelah sholat subuh, Nessa memutuskan untuk kembali tidur karena kepalanya sedikit sakit. Jadilah Endi membiarkannya. Namun, tidak untuk kali ini.
"Morning!"
Nessa tidak terusik sama sekali. Matanya masih terpejam erat.
"Adek Sayang, ayo bangun!"
Gadis itu hanya menggeliat kecil. Nessa bahkan menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya lalu berbalik membelakangi suaminya yang berada di sebelahnya.
"Dek, ada Mami manggil."
"Hmmm, suruh masuk aja." gumam Nessa setengah sadar. Pria itu hanya terkekeh, rupanya caranya tidak ampuh.
Karena gemas, Endi langsung menarik selimutnya hingga terlepas. Nessa memasang wajah sebalnya lantaran tidurnya diganggu.
"Apasih, dingin tau." cibik Nessa masih dengan mata terpejam.
"Dingin ya?" tanya Endi tersenyum menyeringai.
"Huuummmm..."
"Ayo bangun dulu, abis itu mandi."
"Dingin."
"Iya tau dingin, makanya bangun. Kalau gak bangun, Mas kasih hadiah loh."
Tanpa memperdulikan ucapan suaminya, Nessa kembali meringkuk di atas kasur. Hal itu membuat Endi gemas. Tanpa aba-aba ia langsung menarik tangan Nessa hingga gadis itu terduduk dengan wajah bantalnya. Akhirnya, mau tidak mau gadis itu membuka matanya.
"Jangan dilihat!" Nessa mengusap kasar wajah suaminya.
Sedangkan Endi hanya pasrah saat Nessa mengusap wajahnya kasar.
"Kenapa? Gak boleh?"
"Bukan gitu. Malu, masih berantakan." cicit Nessa pelan sambil menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya.
Melihat itu, Endi langsung menarik kembali tangan istrinya.
Bruk
"Begini masih malu?" tanya Endi yang sudah berada di atas istrinya.
Nessa mengangguk kecil. Bukan malu lagi, tapi, malah tambah malu. Tangannya mendorong dada bidang pria itu berharap ia bisa terbebas. Tapi, tangannya sudah ditangkap dan diletakkan di samping kepalanya.
Tiba-tiba pria itu mendekatkan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa centi saja. Sontak Nessa memalingkan wakahnya ke arah samping. Hal itu membuat dahi Endi berkerut.
"Jangan dulu! Belum cuci muka." jelas Nessa membuat Endi tersenyum mengerti.
Nessa berpikir bahwa suaminya mengerti dan akan melepaskan. Namun, rupanya dugaannya itu salah besar. Nyatanya pria itu masih tetap ngeyel.
Perlahan Nessa memejamkan matanya saat pria itu mengikis jarak. Menyatukan indera perasa mereka dengan begitu hangat. Awalnya yang hanya bertemu kini bertambah menjadi *******. Sinar matahari yang masuk melalui celah-celah gorden dan suara kicauan burung seakan-akan menjadi nyanyian bagi mereka. Nessa sadar kalau dirinya sudah jatuh ke dalam pesona gurunya yang menjadi suaminya itu.
Mereka melakukannya sama-sama melewati naluri masing-masing. Karena hal tersebut adalah hal yang baru dan tabu bagi mereka. Berdekatan dengan lawan jenis pun rasanya tidak mungkin apalagi sampai melakukan hal yang aneh-aneh.
Pria itu memberikan jeda hanya untuk memberi oksigen untuk istrinya. Setelah cukup, ia kembali menyatukan indera perasanya dengan begitu menghayati. Nessa hanya mampu menikmati, karena dirinya masih terlalu kaku, bahkan belum bisa membalas perlakuan suaminya.
Suara ketukan pintu dari luar baru membuat mereka tersadar. Reflek Nessa mendorong dada bidang pria itu dan perlahan bangkit. Bukan menuju pintu, namun menuju kamar mandi. Rasanya gadis itu sudah kehilangan muka untuk bertatapan dengan suaminya. Bukan! Ini bukan pertama kalinya mereka melakukan hal tersebut. Dan perlu diingatkan, mereka hanya sekedar bertukar rasa. Pria itu juga tidak sampai hati untuk merenggut kehormatan istrinya. Karena apa? Karena pria itu juga sadar kalau istrinya itu masih duduk di bangku sekolah.
Ceklek
Pintu dibuka oleh Endi setelah ia merapikan penampilannya.
"Pi?"
"Nessa udah bangun?" tanya mertuanya yaitu Papi Ibra.
"Ada, lagi mandi."
"Papi kenapa senyum-senyum?" tanya Endi melirik kembali penampilannya. Tidak ada yang salah!
"Masih bisa tahan kan, Rey?"
"Apanya, Pi?" beo Endi dengan alis menyatu.
Papi Ibra hanya tersenyum saja. "Bukan apa-apa. Jangan lupa turun, sarapan." ujar Papi Ibra yang awalnya hanya ingin memberitahu. Tapi, laki-laki itu dibuat tersenyum saat mendatangi kamar putrinya.
"Iya, Pi." balas Endi kikuk sendiri karena merasa mertuanya itu sungguh tidak jelas.
Setelah Papi Ibra pergi, Endi kembali menutup pintu kamarnya dan berjalan ke arah cermin untuk melihat apakah ada yang salah dengan penampilannya.
"Papi aneh." gumam Endi sembari berjalan menuju cermin yang terletak tepat di samping lemari pakaian.
"Siapa yang aneh, Mas?" tanya Nessa yang tiba-tiba muncul. Gadis itu sudah berpenampilan rapi karena baru selesai mandi. Bedanya kepalanya masih terbungkus oleh handuk.
"Oh, enggak. Itu, tadi Papi nyuruh kita turun buat sarapan. Tapi, Papi aneh deh. Masa liat Mas sambil senyum-senyum." curhat Endi akan mertuanya.
Nessa yang tidak tau hanya mengangkat kedua bahunya. Gadis itu berjalan menuju meja riasnya dan membuka handuknya, bersiap-siap untuk mengeringkan rambutnya.
"Astaghfirullah, Dek. Ini ulah kamu?!"
Sontak Nessa menaruh kembali hairdryer di tangannya dan melirik suaminya yang tangah berdiri di depan cermin.
"Apanya?" tanya Nessa dengan wajah bingung sekaligus penasaran.
"Sini deh!" pinta Endi sambil melambaikan tangannya.
Langsung saja Nessa mendatangi suaminya yang saat itu, ah entahlah susah untuk dijelaskan.
"Ulah Nessa apa?" tanya Nessa penasaran.
"Lihat!"
Sontak Nessa menutup mulutnya sambil menahan tawa.
"Sorry, Nessa gak sengaja." ujarnya lalu tertawa.
"Pantes Papi ngetawain aku. Eh ternyata ini ulah kamu."
"Sorry, Mas. Itu gak sengaja loh tadi. Sini, sini, Nessa obatin." Nessa menarik tangan Endi lalu menyuruhnya duduk di tepi kasur.
Sementara itu, Nessa tampak membuka laci nakas dan mencari barang yang ia perlukan. Setelah menemukannya, Nessa duduk di samping Endi lalu membuka tutup salep itu.
"Perih gak?" tanya Nessa sambil mengolesi leher suaminya yang sebelumnya sempat terkena kukunya. Eh cakaran lebih tepatnya.
Endi menggeleng pelan.
"Udah." Nessa menutup salep itu kembali dan menaruhnya ke tempat semula.
"Makasih, Dek, baik deh. Nanti belanja keperluan kamu jadi kan?" tanya Endi. Ya, karena memang waktu liburan sudah hampir habis. Jadilah waktunya Nessa berbelanja keperluan sekolahnya.
"Jadilah, yakali enggak." balas Nessa langsung beranjak dari tempat duduknya dan itu diikuti oleh Endi dari belakang.
Nessa kembali melanjutkan aktivitasnya. Namun, saat akan menyalakan hair dryernya, tiba-tiba Endi menangkap pergelangan tangan Nessa membuat gadis itu mematikan hair dryer di tangannya.
"Kenapa?" tanya Nessa bingung.
"Biar Mas bantu."
Nessa hanya mengangguk pasrah. Dan menerima saja saat suaminya mulai mengeringkan mahkotanya yang tergerai bebas.
.
.
.
haha ampun 🙈baru segini udh tremor 🤣apalagi kalo langsung ke intinya🙄