My Teacher

My Teacher
MT part 32



"Siang, Bapak." sapa Vella begitu melihat Endi di ambang pintu masuk.


"Siang, Vella."


"Bapak manggil Nessa ya? Nih Nessa nya, Vella kasihin. Jangan lama-lama ya?"


Nessa sontak mencubit lengan Vella. Mulut sahabatnya itu sungguh ember. "Apaan sih, Vel!?" kata Nessa pelan.


"Apa? Orang gue bener kok." balas Vella berbisik.


"Lagi ngomongin apa bisik-bisik gitu?" tanya Endi membuat mereka tersadar.


"Enggak kok, Pak. Lagi ngomongin Nessa yang menang lomba aja."


Endi hanya mengangguk-angguk percaya.


"Bapak gak mau ngasih selamat ke Nessa?" ujar Vella mendapat pelototan tajam dari Nessa.


"Selamat atas kemenangan lombanya, Nessa. Kamu mau hadiah apa?" tanya Endi. Ucapannya itu sungguh terdengar terpaksa. Dan pria itu juga sebenarnya sadar. Namun, ia hanya ingin menjaga hubungan mereka agar tidak diketahui publik.


"Eh? E-enggak, Pak. Vella tuh suka ngawur, jangan didengerin."


"Sudah, jangan berdebat. Saya ke sini manggil kamu cuma mau minta tolong. Kasihin soal remedial kepada teman-teman kamu yang lain. Kalau tidak selesai hari ini lanjut besok, paling lambat besok setelah pulang sekolah. Saya tunggu."


Endi memberikan beberapa lembar kertas soal karena yang mengikuti remedial hanya ada beberapa, tidak termasuk Nessa.


"Baik, Pak. Kalau gitu saya sama Vella pamit. Assalamu'alaikum."


"Iya, wa'alaikumsalam."


Endi hanya terdiam melihat kedua anak muridnya pergi menjauh.


Sementara itu, di sepanjang perjalanan menuju kelas, Vella sedari tadi mengoceh hingga membuat Nessa pening sendiri. Bagaimana tidak, sahabatnya itu terus berbicara tentang Endi.


"Diem. Nih bantuin gue bagiin ke orangnya yang remedial." saat itu juga Vella langsung kicep dan menuruti perkataan Nessa.


🌼🌼🌼


Hari yang ditunggu-tunggu oleh semua anak-anak adalah pembagian raport. Pembagian raport diambil melalui wali siswa-siswinya masing-masing. Oleh karena itu, kini lapangan yang memiliki luas hampir sama dengan lapangan bola ini sudah penuh, dipenuhi oleh kehadiran orang tua. Sementara siswa-siswinya tidak diperbolehkan ikut.


Pembagian raport Nessa kali ini diambil oleh Maminya, iya Mami Hana. Untuk Vella juga begitu, raportnya akan diambil oleh Mamanya. Jadilah kedua wanita itu bergosip. Saling bercerita, entah tentang anak mereka ataukah tentang pekerjaan.


Sementara Nessa di rumah sudah berdebar-debar. Gadis itu tengah melakukan video call dengan Vella tentunya. Untuk melupakan sejenak debaran itu, keduanya memilih untuk bercerita.


"Nes, kapan akad?" layar ponsel Nessa dipenuhi wajah Vella.


Nessa yang saat itu berbaring setengah menelungkup hanya mengangkat kedua bahunya.


"Kabarin ya? Gue juga pengen liat sekaligus ngantar sahabat gue ke tujuannya."


"Eh! Tujuan gue bukan buat nikah ya. Ngadi-ngadi lo, Vel. Sebenernya gue juga belum siap, gue masih remaja, Vel, belum bisa membina rumah tangga. Gue takut nantinya rumah tangga yang gue jalani gak sesuai dengan impian masa depan gue. Lo tau kan umur gue sama Pak Endi itu beda jauh, gue takut itu yang jadi permasalahannya. Pikirannya lebih dewasa dari gue." curhat Nessa membuat suasana mellow di antara mereka.


"Walaupun umur lo masih kecil seperti biji jagung. Tapi, pemikiran lo dewasa, Nes. Lo harus bisa ngejalanin itu semua. Lo harus bisa berjuang, tau kan kalau pernikahan itu hanya sekali seumur hidup?"


Nessa menganggukkan kepalanya.


"Makanya, harus lo jaga baik-baik. Apalagi kan secara Pak Endi tuh ganteng, cuma bersembunyi aja dibalik penampilan culunnya. Pasti nanti kalau udah berubah ya, banyak tuh cewek-cewek yang ngedeketin dia. Nah! Tugas lo itu ngusir mereka, jangan sampai mereka deket-deket sama Pak Endi."


Vella hanya menggaruk kepalanya tidak gatal sambil cengegesan.


"Kan kalau nanti udah, Nes. Lo mah gak peka."


"Iya, iya. Gue simpen nih saran lo."


"Jangan cuma disimpan, dipake dong."


Obrolan mereka begitu lama hingga mereka tidak sadar kalau jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Nessa yang saat itu mendengar deru mesin mobil segera mengakhiri obrolannya dengan Vella.


Tidak berlama-lama Nessa langsung turun ke bawah untuk menemui Maminya. Jantungnya sudah berdebar, deg-degan, dan cemas sekaligus karena takut nilainya tidak sesuai dengan ekspektasi.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Gimana nilai Nessa, Mi?" belum juga duduk, Nessa sudah menghadiahi beberapa pertanyaan hingga membuat Maminya menggelengkan kepalanya.


"Sabar, Sayang. Mami duduk dulu. Mbok! Buatin minum ya."


"Siap, Nyah."


"Gimana, Mi?" pernyataan itu terus keluar dari mulut kecil Nessa. Sungguh! Dirinya begitu penasaran. Apalagi saat melihat ekspresi Maminya yang susah ditebak.


"Semester depan coba lagi ya, Sayang?" Mami Hana mengelus pucuk kepala Nessa yang terbebas jilbabnya.


Wajah Nessa langsung sendu.


"Ya udah. Nanti Nessa coba lagi. Tapi, nilai Nessa berapa?" tanya Nessa berusaha menutupi kekecewaannya. Senyum lebar yang ia khayalan pupus seketika.


"Dua, Sayang."


Dua? Ya tidak apa-apalah. Batin Nessa.


"Dua umum." kata Mami Hana lagi dengan suara bahagia.


"Mami serius?" pekik Nessa merubah ekspresinya. Bagaikan bunglon yang merubah warna tubuhnya.


"Iya, serius kok. Mami cuman becanda tadi. Selamat ya putri Mami. Mami sama Papi bangga sama kamu." dua kalimat yang membuat Nessa terharu.


Gadis itu langsung masuk ke pelukan Maminya sambil menangis terharu. Ia berhasil untuk yang kesekian kalinya.


"Syutt... udah ya? Jangan nangis lagi. Kamu berhasil kok. Mami bangga banget malahan."


Dengan setia Mami Hana menepuk pelan bahu Nessa. Suara sesegukan gadis itu terdengar di telinganya.


"Liburnya berapa lama?" tanya Nessa dengan suara seraknya.


"Dua minggu. Kamu siap kan?" siap yang Mami Hana maksud adalah siap untuk memulai semuanya.


Nessa hanya mengangguk saja karena mau bagaimanapun itu semua akan terjadi dan semuanya sudah menjadi jalan hidupnya. Jalan hidupnya yang menikah di usia muda. Semoga saja apa yang dicita-citakan Nessa nantinya tidak akan terhambat hanya karena statusnya yang sudah berbeda.


"Jum'at depan. Tolong kamu persiapkan diri kamu, Sayang. Mami akan bantu."


Jum'at. Hari ini adalah hari sabtu. Tersisa 6 hari untuk hari H. Ini bukan mimpi kan? Iya, bukan mimpi.


Hanya akadnya saja. Dan semua dokumen-dokumen penting sudah dipersiapkan dari awal. Liburan sekolah sekaligus liburan untuknya nanti dengan status barunya.