
Kejujuran, kepercayaan, komitmen. Tiga hal tersebut adalah hal yang paling inti, kunci sukses dalam membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah. Tidak lupa diselingi do'a dan kerja keras.
Kejujuran dan kepercayaan, keduanya saling berhubungan erat di antara setiap hubungan. Andai kata ada satu kebohongan, maka kepercayaan itu akan hilang. Begitu juga sebaliknya.
Setiap hubungan pasti ada kerikil yang menjadi ujian setiap orang. Namun, kita balikkan lagi itu kepada orangnya. Apakah ia mampu melawannya, apakah ia mampu menjalaninya, apakah ia mampu menerimanya. Semua kalimat itu perlu dipertanyakan.
Manusia memang makhluk ciptaan Allah yang memiliki kesempurnaan di masing-masing diri. Namun, banyak orang yang tidak menyadari akan kesempurnaan itu karena buta, iri akan kesempurnaan orang lain padahal kesempurnaan di dirinya itu ada. Bersyukur yang terpenting. Alhamdulillah, MasyaAllah, Subhanallah. Kalimat itu memang mudah diucapkan, namun tidak semua orang bisa melakukannya.
Pernikahan juga bukanlah hal yang remeh. Banyak hal yang bisa dipelajari, salah satunya sudah menjalankan perintah Allah. Menikah itu butuh kesiapan dan kematangan. Menikah bukan hanya menyatukan dua insan berbeda jenis dalam satu rumah, melainkan menyatukan dua pendapat, perbedaan, hati, pikiran, dan masih banyak lagi.
Kenyataan memanglah tidak sesuai dengan harapan. Banyak orang yang putus asa dengan harapan mereka. Banyak yang mengatakan Allah itu tidak adil. Tidak adil bagaimana? Allah hanya tidak ingin hamba-hambanya tersesat karena terlalu terfokus pada titik itu. Dia hanya ingin hambanya sadar kalau harapan itu bukanlah yang terbaik.
Malam ini, bintang banyak bertaburan di langit gelap. Sinar bulan yang terang seakan-akan berkata, kemarilah! Lihat dan tatap aku. Mereka seperti menyeru beramai-ramai, meminta gadis yang saat ini berbaring di kasur untuk melihatnya.
"Dek, tugasnya udah dikerjain belum?" tanya pria yang berstatus sebagai suaminya.
"Udah itu, Nessa taruh di atas meja. Coba liat, bener gak?" jawab Nessa sembark mematikan ponselnya dan menyimpannya di atas nakas.
Endi pun membuka buku Nessa dan melihat tugas gadis itu.
"Tafsirannya?" tanya Endi sambil membolak-balikan buku itu. Nessa yang melihat Endi kebingungan pun beranjak dari tempatnya.
Tiba-tiba gadis itu mengunjukkan bukunya yang ia ambil dari tumpukan buku.
"Ini! Tadi Nessa lupa nyalinnya."
Setelah beberapa menit mengecek tugas Nessa, akhirnya pria itu kembali menyimpan buku tugas Nessa ke atas meja.
Pria itu beranjak mendekati Nessa yang saat ini masih berada di dekatnya, lebih tepatnya duduk di kursi meja belajar.
"Udah bersih-bersih?" tanya Endi sambil mengelus surai rambut hitam lebat istrinya.
Nessa mendongak dan menganggukkan kepalanya tipis.
"Ya udah, langsung tidur ya? Nanti Mas nyusul."
Nessa hanya mengangguk, lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah kasur. Sementara Endi mulai memasuki kamar mandi.
Nyatanya, Nessa tidak langsung tertidur. Tampak ia masih mengotak-atik ponsel di genggaman tangannya, hingga tidak lama kemudian Endi datang. Pria itu melihat istrinya yang masih terjaga, padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Nessa yang melihat kedatangan pria itu pun menaruh ponselnya di atas nakas.
"Kok belum tidur?" tanya Endi sambil perlahan menaiki kasur.
Nessa mendekatkan tubuhnya saat suaminya mengkode dirinya agar mendekat.
"Hmmm... belum ngantuk." balas Nessa sambil memejamkan matanya, menikmati elusan tangan di kepalanya.
"Mmmmm, ya udah sini peluk." Endi merentangkan tangannya sambil sedikit terkekeh. Nessa menerimanya dengan senang hati, ia pun masuk ke dalam pelukan suaminya. Ya, pelukan yang akhir-akhir ini selalu ia inginkan. Hangat, nyaman, tenang, Nessa merasakan semua itu. Walaupun mereka belum mengungkapkan cinta, ah apakah rasa itu ada? Nessa hanya merasakan nyaman yang teramat saat berada di dekat suaminya dan Nessa juga merasakan gugup sekaligus. Jantungnya selalu tidak aman kalau berdekatan denga pria itu. Nessa juga merasakan rindu bila berjauhan dengan suaminya. Apakah itu bisa dinamakan cinta? Kalau iya, tolong sadarkan Nessa. Gadis itu masih awam dengan dunia percintaan.
Di dalam pelukan itu, Nessa menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang sudah menjadi candu baginya. Gadis itu mendongakkan kepalanya ke atas, reflek Endi mengendurkan sedikit pelukannya.
"Kenapa?" tanya pria itu membalas tatapan istrinya.
Endi senang saat istrinya yang akhir-akhir ini suka bermanja dengannya.
"Mas belum cerita." gumam Nessa pelan, terhalang akan dada bidang itu.
Endi pun mulai mengerti. Pria itu masih juga belum menceritakan kepada istrinya. Satu-satunya rahasia yang ingin sekali ia tutup rapat. Tapi, bukankah seorang istri itu adalah tempat ternyaman dan teraman untuk mencurahkan segala isi hati? Katakanlah saja begitu.
"Janji jangan dipotong dulu?" Nessa mengangguk pelan.
Sambil bercerita, Endi sama sekali tidak melepaskan pelukannya dan juga usapan tangannya di kepala Nessa.
"Sebenarnya Mas bukan anak kandung Mama dan Papa."
Satu kalimat yang berhasil membuat Nessa sedikit syok. Endi? Winanti, Resa?
Nessa yang terkejut dan ingin menanyakan sekaligus pun tidak jadi karena ingat dengan janjinya tadi untuk tidak memotong penjelasan Endi.
"Dulu waktu bayi, Mas terlahir kembar. Kata Mama, saudara kembar Mas sudah meninggal setelah dilahirkan. Sedangkan orang tua kandung Mas itu sudah melarikan diri entah ke mana dan apa penyebabnya. Dia menitipkan Mas kepada Mama dan Papa yang waktu itu memang ada di rumah sakit."
"Kamu pasti mau tau kan apa alasan Mas yang selalu berpenampilan berbeda saat di luar?" Nessa hanya mengangguk.
"Sebenarnya Mas berpenampilan seperti itu sudah lama, mungkin sejak masa SMA dulu. Sebelumnya penampilan Mas ya seperti biasa, tapi, karena kejadian itu Mas memutuskan untuk mengubah penampilan. Yang tau Mas sebenarnya seperti apa itu hanya keluarga terdekat aja."
Flashback on
Seorang pemuda tampak berjalan di trotoar sambil membawa sebuah buku catatan. Kulitnya berwarna sawo matang, alis tebal, hidung mancung, serta sorot mata yang meneduhkan.
Pemuda itu pulang ke rumah dengan berjalan kaki, jarak sekolah dan rumahnya itu memang tidak terlalu jauh. Karena tidak ada yang menjemputnya, akhirnya dirinya memberanikan diri untuk berjalan kaki.
"Lo yang jalan kaki. Sini lo!" tiba-tiba dari arah berlawanan meneriaki pemuda itu.
Awalnya ia tidak memperdulikan, namun, orang tersebut memanggil lagi.
"Saya, Bang?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya.
"Iya, emang siapa lagi selain lo di sini?" ujarnya dengan suara keras membuat pemuda itu memejamkan matanya.
Pemuda itu adalah Endi, Dimas panggilannya saat semasa sekolah dulu. Pemuda itu baru menginjak bangku sekolah menengah atas yaitu kelas 10. Iya, baru beberapa minggu dirinya bersekolah di salah satu sekolah favorit di daerahnya.
.
.
.
hola ges pembaca kesayangan. Di sini aku cuma mau sedikit mempromosikan karya akak tersayang. Dijamin bakalan nagih.
tuh☝☝nampak kan, wkwk. Mampir ya karya si Neng Syantik. Selain itu, ada juga karya-karyanya yang lain. Janji deh dijamin bakalan nagih. Kalian cari aja di kolom pencarian atas nama author Neng Syantik, atau kalian cari judul novelnya😁mampir ya kesayangan. Oke, cuman itu aja semoga pembaca kesayanganku sehat selalu 🥰🥰🥰