
Nessa berangkat sekolah seperti hari kemarin, diantarkan oleh supir pribadi di kediaman Winanti. Sementara Endi juga ikut berangkat bersama, namun bedanya pria itu berangkat sendiri menggunakan kendaraan roda duanya dan berkendara tepat di belakang mobil yang ditumpangi Nessa.
Ingatannya melayang pada kejadian dini hari tadi tepatnya subuh. Apakah pria itu tidak sadar kalau mereka baru saja tidur bersama? Dan itu tidak melakukan apa-apa. Hanya sebuah KETIDAKSENGAJAAN. Sebuah ketidaksengajaan yang membuat dirinya berada dalam sebuah lingkaran bimbang. Apalagi setelah mendengar semua ucapan Papanya melalui telfon.
Pria itu juga baru sadar kalau tadi penampilannya tidak seperti biasanya saat dia berada di sekolah ataupun di luar. Hal itu membuatnya takut kalau gadis itu membocorkannya. Namun, kalau dipikir-pikir sepertinya tidak.
Sesaat pria itu tersadar saat sekolah tempat ia mengajar sudah hampir sampai. Ia tidak mau mengambil resiko karena melamun saat mengendarai kendaraan.
Sedangkan Nessa sudah berjalan menuju kelasnya dengan pikiran kosong. Apa kejadian tadi adalah mimpi? Untuk memastikannya gadis itu mencoba menampar wajahnya.
"Sakit?" gumamnya saat merasakan perih di pipinya.
"Ah astaga! Apa yang barusan gue lakuin." lirihnya sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.
Karena tidak fokus gadis itu sampai tidak menyadari bahwa dirinya sudah berada di dalam kelasnya dan menjadi pusat perhatian teman-temannya terutama Vella.
Vella yang melihat itu langsung menarik pelan tangan Nessa dan membawanya ke bangku tempat duduknya.
"Ngapain sih?" tanya Vella melihat bola mata Nessa yang berbeda.
"Gue gak pa-pa, Vel. Mungkin kurang tidur, soalnya semalam gue ngedrakor sampe larut malam." jawab Nessa berbohong.
Pletak
Tidak tanggung-tanggung Vella menoyor kening Nessa.
"Lo tuh!"
"Apa?"
"Pinternya kebangetan. Besok-besok sekalian gak usah tidur. Kasian kasurnya lo baringin mulu, dia juga butuh istirahat." ujar Vella.
"Bener juga ya?" Nessa mengangguk-angguk. Hal itu membuat Vella tidak tahan untuk mencubit kedua pipi Nessa.
"Lo-kebangetan sumpah. Hari ini lo gak gue traktir." ancam Vella.
"Ya, gue kan emang gak minta ditraktir." balas Nessa.
"Nes... lo nyebelin sumpah!" Vella terlihat kesal menghadapi sikap Nessa sedari awal. Rasanya Vella ingin menenggelamkan sahabatnya itu ke dasar laut dan setelah itu dimakan oleh ikan paus raksasa.
🌼🌼🌼
Brummmm
"Nessa, mau pulang bareng?" tawar Endi sambil menoleh kanan kiri dan merasa suasana sepi, ia langsung menawarkan.
"Nggak usah, Pak." balas Nessa menolak.
"Udah, nggak pa-pa, bareng saja."
"Jemputan bentar lagi sampe, Pak."
"Oh ya, mungkin yang jemput kamu nggak ada. Soalnya Pak Jon lagi anter Mama ke butik. Ayo, naik!"
Nessa jelas bimbang. Keadaan sekolah pun sudah sepi karena semuanya sudah pulang. Mau tidak mau akhirnya Nessa menerima.
Nessa pun menaiki jok belakang dengan perlahan. Berpegangan dengan tas gurunya karena takut terjatuh. Endi pun tidak mempermasalahkan, perlahan ia melajukan motornya dengan kecepatan sedang.
Tidak lama mereka pun sampai di kediaman Winanti. Endi segera memarkirkan motornya di garasi. Keduanya berjalan menuju pintu utama, dan saat itu juga masuklah mobil yang biasa mengantarkan Nessa ke sekolah. Lalu tampak Winanti baru saja keluar dari mobil tersebut.
Wanita itu segera mendekati Nessa dan Endi yang masih berdiri di depan pintu.
"Gak pa-pa, Ma. Lagian Nessa juga udah pulang."
"Ya udah, masuk yuk! Istirahat dulu, kalian pasti capek."
Keduanya mengikuti Winanti masuk ke dalam rumah. Jangan lupakan Wulan yang masih menginap di rumah mertuanya.
Saat sampai di ruang tengah mereka sudah disambut oleh Enze yang sedang merangkak di atas karpet bulu. Ya, balita itu sudah memasuki tahap merangkak.
"Hai, Enze. Kakak ke kamar dulu ya?" sapa Nessa sebelum masuk ke dalam kamar tamu. Perlu diketahui bahwa Endi sudah tinggal bersama kedua orang tuanya saat malam senin. Jika ditanya kenapa tidak hari minggu? Pria itu harus membereskan semua perlengkapannya di kost-annya dulu. Dan saat sampai ke rumah, rumah dalam keadaan sepi karena memang semua penghuni rumah sudah masuk ke dalam kamar. Begitu juga dengan Nessa yang ketiduran di kamar Wulan.
Saat itu Endi langsung saja masuk ke dalam kamarnya. Memang kamarnya itu dipakai oleh Nessa untuk lima hari ke depan.
"Iya, Kak Nessa." balas Wulan meniru gaya suara anak kecil. Nessa hanya terkekeh. Sebelum masuk ke kamarnya, gadis itu mengalami Wulan lalu berganti dengan Winanti.
"Rey juga ke kamar, Ma, Kak." sahut Endi diangguki oleh keduanya.
Selesai bersih-bersih, Nessa langsung keluar dan menemui Winanti dan Wulan yang masih berada di ruang tamu.
"Makan dulu, Nak. Ajak Rey juga." ucap Winanti membuat Nessa tersenyum kaku. Jujur ia masih malu dengan hari ini.
"Tuh! Rey udah turun." sahut Wulan sambil menunjukkan Endi yang baru saja turun dari kamarnya menggunakan dagunya.
Seketika Nessa bernafas lega. Ia jadi tidak perlu untuk memanggil pria itu.
"Ya udah, gih kalian makan dulu." titah Winanti tanpa mengantarkan keduanya.
Nessa menurut, lalu berjalan menuju dapur diikuti oleh Endi yang berada di belakangnya.
Gadis itu langsung menduduki kursi. Piring, dan beserta perlengkapan makan sudah tersedia di atas meja. Lauknya pun sudah tertata rapi di atas meja yang ditutupi oleh tudung saji.
Srekkk
Bunyi kursi yang baru saja ditarik oleh Endi dan menimbulkan suara. Pria itu langsung duduk dan berhadapan dengan Nessa.
"Kenapa gak makan, Nessa?" tegur Endi langsung membuat Nessa tersadar.
"I-iya, Pak. Bapak juga makan." cicit Nessa pelan.
Endi hanya mengangguk, ia juga tau kalau saat ini Nessa merasakan canggung diantara mereka. Saat ini penampilan Nessa tidak seperti biasanya, jika dirinya yang hanya berdua dengan Winanti, maka gadis itu akan melepaskan jilbabnya. Dan saat ini karena sudah ada pria asing, gadis itu mengenakan jilbab instan. Takut saja, cukup satu kali dirinya menampakkan diri dalam keadaan terbuka alias lepas jilbab. Dan saat kejadian itu, kebetulan Nessa hanya memakai baju tidur berlengan pendek bermotif bunga-bunga, beruntung celananya panjang.
Endi merasa tangannya akan sulit menggapai wadah nasi di seberang sana. Pria itu akhirnya mengangkat piringnya dan menyodorkannya ke arah Nessa karena kebetulan wadah nasi berada di dekat gadis itu.
Nessa yang dihadapkan situasi itu jelas bingung, dan menatap gurunya dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Nasinya terlalu jauh. Tolong ambilkan-Nessa?"
Dengan gugup Nessa pun mengambilkan nasi dan menaruhnya di piring Endi. Kalau dipikir-pikir, kenapa tidak Nessa berikan saja wadah nasi itu. Dan kenapa ia lebih memilih mengambilnya melalui tangannya sendiri meski lewat sendok. Ya begitulah, selain karena kesal, gugup, takut, maka Nessa akan sedikit lupa alias susah berpikir.
"Terima kasih."
"I-ya, Pak." balas Nessa sedikit salting saat mendapati Endi memberikan senyumnya.
Penampilan pria itu sungguh berbeda 180°. Hal itu membuat Nessa sedikit pangling. Cewek mana sih yang tidak terpesona saat melihat sosok pria yang tengah menjelma menjadi dewa. Dengan stelan baju kaos oblong dan celana training abu panjang, Endi tampak lebih fresh dari biasanya. Nessa baru tau kalau gurunya itu tidaklah rabun, kacamatanya yang biasa ia pakai hanyalah pajangan semata. Dan perkataannya waktu lalu saat mereka dari perpustakaan umum, Nessa rasa pria itu berbohong.
Ini bukan Nessa yang sebenarnya, sebelumnya gadis itu sangat santai saat berhadapan dengan Endi, baik di lingkungan sekolah maupun saat tidak sengaja bertemu di luar sekolah. Gadis itu yang biasanya memulai obrolan, tapi, kenapa sekarang rasanya lidahnya itu kelu untuk mengeluarkan satu patah kata.
"Nessa, saya mau bicara."