
Sebuah mobil sedan berwarna merah menyala tampak berhenti di depan gerbang kampus. Tidak lama setelahnya tampak seorang gadis keluar dari mobil tersebut. Ia mengenakan kacamata hitam, membuatnya terlihat lebih keren. Rambut panjangnya tergerai bebas diterpa angin.
Seketika ia menjadi pusat perhatian semua orang. Kakinya melangkah memasuki area kampus. Berjalan perlahan sambil menelusuri sudut-sudut tempat itu hingga netranya terhenti pada seorang gadis yang duduk di kursi di bawah pohon besar.
Ia mempercepat langkahnya, berlari pelan menuju gadis tersebut.
"Tiara." panggilnya berhasil membuat perhatian gadis yang duduk di bangku itu teralihkan.
Tiara terdiam meneliti gadis seusianya dari bawah sampai ke atas. Alisnya mengerut, seperti pernah melihat wajah gadis di hadapannya ini.
Sedangkan lawan bicaranya tampak mendengus panjang. "Ini gue, Vella." ujarnya memberitahu.
Seketika mata Tiara membulat. Vella? Gadis itu sudah sampai di Indonesia? Batinnya bertanya-tanya.
"Haaa??" hanya satu kata yang bisa Tiara ucapkan. Vella yang melihat itu malah tersenyum gemas.
"I- ini seriusan Vella?" tanya Tiara masih tidak percaya. Vella yang ia lihat lewat foto ataupun video call jauh berbeda. Menurutnya Vella sangat cantik jika dilihat secara langsung.
"Ck! Iya, ini gue. Nessa mana?" datang-datang bukannya berkenalan secara langsung, Vella malah bertanya tentang keberadaan sahabat tercintanya. Ia sudah sangat sangat sangat rindu sekali. Ingin memeluk erat dan bahkan bercerita panjang lebar. Vella sangat tidak sabar bertemu dengan Nessa. Ia sengaja tidak memberitahu Nessa bahwa sekarang ia sudah sampai.
"Tadi ke toilet." Tiara menunjuk ke arah belakangnya. Namun, sesaat ia tertegun.
"Perasaan lama banget deh." lirihnya tidak terdengar.
"Apa lo bilang?" tanya Vella.
"Itu, tadi Nessa izin ke toilet. Ini udah lewat dari setengah jam." jawab Tiara.
Vella langsung memukul dahinya sendiri. "Oh God. Lain kali jangan biarin Nessa sendiri, Ra." Vella jelas kalang kabut. Ia hanya takut sesuatu yang buruk terjadi kepada sahabatnya. Apalagi setelah mendengar cerita Nessa yang mendapat perlakuan tidak enak dari kakak tingkatnya.
"Toilet sebelah mana?"
"Anterin gue, cepetan." tanpa menunggu jawaban dari Tiara, Vella langsung menarik tangan Tiara membawanya entah kemana tidak tau arah karena dirinya baru pertama kali datang ke kampus itu.
Vella berjalan cepat mengikuti Tiara dari belakang. Ia tampak membuka ponselnya untuk menelfon Nessa. Entah kenapa firasatnya tidak enak.
Tiga kali panggilan tidak tersambung berhasil membuat jantung Vella dibuat berdetak cepat, sangat cepat sehingga ia merasakan sesak di dadanya.
"Nes, lo dimana? Gue dateng buat jemput lo." lirih Vella memandangi layar ponsel yang menampilkan kontak Nessa.
"Di sana!" Tiara menunjukkan toilet yang berada di ujung.
Mendengar itu, Vella langsung memberikan ponselnya kepada Tiara. "Pegang. Lo ikutin gue dari belakang."
Tiara hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Vella mendekati toilet tersebut. Namun, ia malah mendengar suara yang saling bersahutan di samping toilet. Vella langsung bergerak cepat.
"Kalian ngapain??!!" sontak mahasiswi yang berjumlah sekitar lima orang itu langsung berhamburan.
Namun, Vella langsung bertindak cepat. Ia menarik kerah baju salah satu mahasiswi tersebut. "Kalian ngapain di sini?" tanya Vella menginterogasi.
"Ngapain lagi selain buang air kecil dan ngerapiin make up." kilah mahasiswi tersebut.
"Gue tanya sekali lagi. Kalian ngapain rame-rame di sini? Dan juga kenapa pintu toilet ditutup? Kalo lo gak jawab sekarang, nih rambut lo bakal copot semua dari kepala lo." ancam Vella.
Mahasiswi itu bergetar ketakutan. Hanya dirinya sendiri, sementara teman-temannya sudah melarikan diri.
"I-itu--"
"Jawab!!"
"Gue gak tau jelas. Yang gue tau namanya itu Nessa--" belum sempat ia meneruskan perkataannya, Vella sudah murka. Ia menjambak rambut gadis itu hingga membuat kepalanya mendongak ke atas.
"Siapa lagi yang ada di dalam?"
"Cuma berdua. Nessa dan Sisi, mantan anggota BEM."
"Iya?" jawab Tiara cepat. Jujur, ia sedikit ngeri melihat Vella. Di pertemuan pertama mereka, ia harus menyaksikan sisi buruk dari seorang Vella.
"Buka pintunya!"
"Oke."
Tiara bergegas membuka pintu toilet. Namun, pintunya ternyata dikunci. "Gak bisa. Ini dikunci."
Mendengar itu, Vella langsung menjambak lebih kuat rambut gadis yang sedang ketakutan itu.
"I-iya iya. Kuncinya di bawah pot." Vella mengedarkan pandangannya dan menemukan satu pot yang terletak di samping toilet.
Ia langsung mendorong keras gadis itu membuatnya hampir terjungkal jika saja tidak menahan tubuhnya.
Vella langsung mengangkat pot bunga tersebut dan menemukan sebuah kunci. Tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Vella langsung mengambilnya dan berjalan cepat menuju pintu untuk membuka kuncinya.
Ceklek
Brakkk!!!
Vella langsung menendang kasar pintu toilet tersebut. Membuat dua orang wanita di dalam sana terkejut.
Mata Vella menyorot tajam. Hatinya mendidih begitu melihat seseorang yang sangat berarti di hidupnya tampak lemah tidak berdaya terduduk bersandar di dinding. Kilatan matanya langsung mengarah pada pelaku yang sudah membuat kondisi Nessa bisa dibilang berantakan. Jilbab yang selalu dikenakan hampir 24 jam itu terlepas. Wajah yang selalu tersenyum menyejukkan penuh dengan air mata. Tangannya memegang erat perutnya.
Tangan Vella mengepal kuat. Ia berjalan cepat mendekati seorang wanita yang berdiri mematung di depan cermin wastafel.
"LO APAIN DIA!!?" teriak Vella. Karena emosi, ia langsung mencengkram kuat lengan wanita yang bernama Sisi itu.
Sedangkan Sisi menunjukkan ekspresi santainya. Ia berpikir kalau Vella sama halnya dengan Nessa. Sama-sama lemah.
"LO! PENGECUT TAU GAK!! LO NGERASA JAGOAN? LAWAN GUE SINI KALO LO JAGOAN."
Sisi tersenyum menyeringai menatap balik kilatan marah mata Vella.
"Lo dengan dia, sama-sama cupu. Gak usah sok jagoan. Aslinya mah kayak tisu dirobek. Kalian berdua sama aja, sama-sama cupu. Oh, atau kalian juga sama-sama murahan. Dia itu sok alim. Lo gak tau ya? Kemarin dia jalan bareng om-om, dan sekarang malah ngedeketin cowok-cowok di kampus ini."
Hati Vella berdenyut kuat. Sakit, sesak, nyeri, rasa itu bersatu padu. Ia mengencangkan cengkraman tangannya sehingga kukunya menancap sempurna di pergelangan tangan Sisi. Sisi yang merasakan itu sontak meringis.
"Lo mau tau sesuatu gak? Dia..." Vella menoleh sekilas ke arah Nessa. "Dia itu bagaikan permata bagi gue. Dari dulu sampai sekarang gue gak pernah sekalipun buat dia nangis, kecuali nangis bahagia. Dan sekarang, udah keberapa kalinya lo bikin dia nangis. Lo tau? Itu sakit. Sakit banget. Gue ngerasa hancur berkeping-keping. Lo boleh ngehina gue, tapi, jangan sekalipun lo ngehina dia. Lo gak pernah tau, lo gak pernah ngerasain jadi dia. Asal lo tau, gue bukan islam. Seandainya gue ngebunuh orang, dosa yang gue dapatkan gak seberapa besar, asal itu untuk orang yang gue sayang. Kita memang gak saling kenal, tapi, lo malah ngenalin diri secara langsung ke gue. Lo sendiri yang udah masuk ke kandang singa. Lo sendiri yang akan nerima akibatnya kalau terjadi apa-apa dengan Nessa. Gue, Vella Trialuvitaa berjanji akan membalas apa yang udah lo perbuat."
Sisi tertegun sempurna. Ia berusaha untuk menunjukkan ekspresi biasa. Namun, perkataan serta janji Vella malah membuatnya merinding dan sedikit takut.
"Ini udah yang kedua kalinya lo nyakitin Nessa. Jika ketiga kalinya, siap-siap lo akan pergi ke alam baka."
"Gue gak takut." ucap Sisi.
"Ya itu terserah lo."
"Arghhhhh..."
Sebuah jeritan seorang wanita membuat Vella tersadar. Ia telah dikuasai emosi sampai lupa dengan keadaan Nessa.
"Lo akan benar-benar mati. Ingat itu!" tekan Vella sebelum akhirnya ia mendekati Nessa. Vella bahkan menggendong sahabatnya tanpa memikirkan bahwa bobot tubuh Nessa sudah bertambah faktor kehamilannya.
.
.
.
maap gesπ aku ngetik ini sampe mewek saking hanyut ke dalam peran Vella. Ngeri juga sih ancamannya gak main-main kayaknya, ππ
Tim Vella balas dendam mana nihβπ€£π€£