
Sinar matahari hari ini tampak malu-malu muncul dari balik awan putih. Suara burung dari rumah tetangga sebelah yang biasanya terdengar kicauannya kini tidak bersua. Suara kokokan ayam yang biasa menjadi alarm juga tampaknya memilih untuk diam karena takut menganggu tidur seorang gadis. Ralat, bukan seorang gadis lagi, melainkan wanita.
Sepasang suami-istri itu kini tampak masih asik bergelung dengan selimutnya. Bukan keduanya, melainkan hanya sang istri yang masih tertidur. Sedangkan sang suami telah bangun sekitar sepuluh menit yang lalu. Tidak ingin membuat tidur istrinya terganggu, akhirnya sang suami memilih berdiam diri sambil memandangi lekat wajah istrinya yang tampak bersinar.
Ingatannya berputar kembali pada kejadian tadi malam dan sesudah subuh tadi. Tanpa sadar dirinya mengulum senyum. Hatinya menghangat mengingat semalam istrinya sendirilah yang mendatangi dirinya. Diawali dengan sholat sunnah dua raka'at dan niat, keduanya melewati malam yang indah dan syahdu. Dan bahkan mereka kembali mengulangi lagi setelah sholat subuh tadi. Dan itulah yang membuat istrinya tepar di atas kasur.
Suara lenguhan kecil yang keluar dari bibir mungil itu kala merasa tidurnya terusik. Siapa lagi kalau bukan ulah suaminya yang memainkan wajahnya menggunakan jari telunjuknya. Menyentuh alis, bulu mata, hingga hidungnya.
Matanya berkedip-kedip menyesuaikan dengan pencahayaan. Setelah dirasa matanya sudah menyesuaikan dengan pencahayaan ruangan, akhirnya matanya benar-benar terbuka. Hal yang pertama kali ia lihat adalah sosok pria tampan yang berstatus sebagai suaminya tengah tersenyum kepadanya.
Seakan teringat dengan kejadian semalam, dirinya reflek menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimutnya termasuk dengan kepalanya. Namun, kepalanya menyembul kembali saat melihat tubuhnya yang ternyata masih polos di balik selimut yang berbeda dari semalam. Begitu juga dengan seprainya.
"Bangun yuk! Bersih-bersih dulu, terus sarapan." seru Endi masih nyaman dengan posisinya yang sekarang.
"Masih ngantuk." ujar Nessa dengan suara seraknya. Matanya sedikit satu lantaran semalam kurang tidur. Ditambah dirinya baru tidur pagi tadi sekitar jam enam. Dan sekarang sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Hummm... tapi, kan harus sarapan dulu." bujuk Endi.
Nessa hanya mengangguk lemah. Perlahan bangkit dari baringnya tanpa melepaskan selimut yang melindungi tubuhnya.
Sementara Endi yang sudah mengenakan pakaiannya tadi langsung melangkah menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Pria itu keluar dari dan mendekati istrinya.
Endi sedikit menunduk dan mengulurkan kedua tangannya. Sesaat Nessa memekik tertahan saat dirinya sudah berada dalam gendongan suaminya.
"Mas! Aku bisa jalan sendiri." protes Nessa.
"Jangan menolak. Mas tau kamu masih sakit."
Nessa yang malu langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya yang terlapisi kaos tipis.
Sesampainya di kamar mandi, Endi langsung menurunkan istrinya tepat di samping bathtub yang kini sudah terisi air hangat. Pria itu juga sudah menambahkan sabun cair di dalamnya.
"Eh, ngapain?" Nessa panik saat melihat suaminya membuka selimut yang melingkari tubuhnya.
"Selimutnya lepas dulu, nanti basah." balas Endi memegang ujung selimut.
"Ya udah, Mas keluar aja dulu." kekeuh Nessa yang sudah merasa malu.
Endi tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Perlahan menarik selimut itu sampai kini teronggok ke bawah. Nessa tidak kuasa menahan selimutnya lagi, alhasil kini dirinya dalam keadaan polos di hadapan suaminya. Nessa memejamkan matanya erat karena tidak sanggup menahan malu.
Tangan Endi terangkat memegang ujung dagu istrinya dan mengangkatnya sedikit ke atas. "Kenapa malu? Bukankah Mas sudah melihat semuanya." lirih Endi berbisik tepat di telinga istrinya.
Sontak Nessa membuka kedua matanya. Saat itu juga mata keduanya saling bertemu. Tangan Nessa reflek menutup bibirnya saat suaminya semakin mendekat.
"Jangan lagi." gumam Nessa tertahan akan telapak tangannya. Kepalanya menggeleng pelan.
Endi hanya terkekeh melihat wajah satu istrinya. "Enggak kok. Cuma pengen kasih vitamin aja." tutur Endi.
"Vitamin apanya? Tadi malam udah, subuh juga udah. Mau vitamin yang mana lagi?"
"Yang ini aja." telunjuk Endi menyentuh bibir ranum istrinya.
"Udah kan? Jadi, Mas keluar dulu. Aku mau bersih-bersih." Nessa menjauhkan kembali wajahnya.
Perlakuan istrinya barusan membuat Endi tidak tahan untuk menarik kedua ujung bibirnya ke atas.
"Mau bareng?" tawar Endi menggoda.
"Kapan-kapan." balas Nessa yang jengah langsung membalikkan tubuh Endi dan mendorongnya pelan. Selain itu juga, dirinya masih malu. Apalagi keadannya saat ini polos.
Tawa Endi terdengar dari luar. Membuat Nessa yang sudah masuk ke dalam bathtub bergidik. Tidak menyangka kalau suaminya itu sungguh gagah. Bahkan tubuhnya kini sudah banyak terdapat stempel kepemilikan. Bayangkan saja, semalam mereka baru tertidur tepat pada pukul satu dini hari. Kemudian bangun subuh hari untukmu melaksanakan sholat subuh berjama'ah. Lalu setelah sholat berjama'ah, keduanya kembali mereguk kenikmatan yang seakan sudah menjadi candu.
Selang lima belas menit kemudian, Nessa yang sudah merasa tubuhnya lebih rileks pun segera mengakhiri acara berendamnya. Dirinya membilas tubuhnya yang penuh busa dengan air bersih dari pancuran shower. Setelah benar-benar bersih, Nessa langsung mengambil handuknya lalu mengeringkan seluruh tubuhnya kemudian mengambil handuk kimono untuk ia kenakan.
Keluar dengan handuk yang membungkus kepalanya, Nessa melihat suaminya kini tengah bersandar di sandaran sofa. Sepertinya suaminya itu baru selesai merapikan kamarnya, terbukti dengan kamar yang sudah rapi karena sebelumnya memang cukup dibilang sedikit berantakan. Apalagi pakaian mereka yang teronggok di bawah, kini pun sudah rapi di dalam keranjang baju kotor.
"Bunda mau ke sini." beritahu Endi sambil bangkit dari duduknya setelah meletakkan remot televisi di atas meja.
"Kenapa gak bilang dari tadi?" sambar Nessa merasa panik. Bahkan dirinya saja belum menginjakkan kaki di dapur, apalagi sekedar untuk merapikan rumah. Dalam hati panik, ingin sekali dirinya bergerak cepat. Namun, keadaan tubuhnya yang kini benar-benar terasa remuk seakan menyuruhnya untuk berbaring manja. Apalagi matanya terasa mengantuk sekali. Seumur-umur, baru kali ini dirinya bergadang semalam itu dan tidurnya hanya kurang lebih dari tiga jam.
Endi dengan santai berjalan mendekati istrinya. Tangannya langsung menghentikan pergerakan tangan istrinya yang saat ini tengah menggosok pelan rambutnya. Pria itu langsung mengambil alih pergerakan Nessa.
"Bunda juga baru ngasih tau barusan kok. Katanya gak usah repot masak karena Bunda udah bawa masakan dari rumah. Spesial buat adek."
"Bunda sendiri?" tanya Nessa dibalas anggukan kepala oleh Endi.
"Gak pa-pa kan, kalau Mas tinggal lagi?" Nessa langsung meraih tangan suaminya yang otomatis pergerakan Endi langsung terhenti di situ. Badannya menyamping dan mencondongkan sedikit tubuhnya.
"Gak pa-pa kok. Lagian nanti kan ada Bunda. Bila perlu nanti aku ajakin Mama, kalau mau ajakin Mami pasti gak bisa karena Mami lagi sibuk bantuin Papi di perusahaan."
"Pinternya istri Mas ini. Jadi pengen gigit." perkataan Endi barusan mendapatkan pelototan tajam dari istrinya. Pria itu hanya terkekeh pelan. Dirinya hanya bercanda saja. Mana mungkin juga dia membuat istrinya tertekan.
"Kita bikin jadwal ya? Mungkin tiga kali dalam seminggu." tutur Endi menawarkan.
Nessa merasakan pipinya sedikit memanas. Sekarang suaminya bahkan sudah terang-terangan mengungkit perihal tentang hubungan intim di pernikahan mereka. Padahal sebelum-sebelumnya Endi sangat jarang membahas itu.
Hanya membalas dengan senyuman tipis, Nessa menganggukkan kepalanya. "Terserah Mas aja kapan baiknya. Datangi aku kapanpun kamu mau."
"Mas. Mas kepengen gak punya anak?" tanya Nessa tiba-tiba.
Kening Endi jelas bertaut. Jelas pria itu menginginkan adanya anak di pernikahan mereka sebagai penguat pernikahannya lagi. Kalau diberi ya bersyukur dan kalau belum waktunya pria itu akan berusaha sekeras mungkin dengan diselingi do'a.
"Kenapa nanya gitu? Intinya Mas belum nuntun kamu buat hamil sekarang juga. Kita jalani dulu yang sekarang, kalau sudah waktunya pasti akan tiba. Emangnya Adek udah siap jadi orang tua?"
Nessa terlihat kebingungan. Mau menjelaskan bagaimana!
"Kalau aku sedikasihnya aja. Kalau Mas pengen banget punya anak, aku bakalan coba buat belajar. Belajar jadi calon ibu yang baik nantinya."
"Kamu gak sendirian. Ada Mas di sini, sejak namamu sudah Mas sebutkan di ijab qabul. Saat itu juga, semua yang ada di diri kamu sudah menjadi tanggung jawab Mas. Mas bertanggung jawab besar. Bukankah sifat istri bergantung pada suami? Kalau suami baik, otomatis istri juga baik. Namun, kalau suaminya kurang baik, sudah dipastikan istri akan berjalan di jalan yang salah karena kurangnya bimbingan dari seorang imam."