
"Mas, marah??" Nessa begitu menghargai pria yang menjadi suami itu. Hingga kesalahan kecil pun sampai membuatnya kepikiran. Perlu ditegaskan, gadis itu akan langsung drop apabila banyak pikiran.
Nessa berdiri tepat di hadapan Endi. Lalu pria itu pun mendongak, melihat raut wajah Nessa yang tampak sendu. Endi jadi merasa bersalah dibuatnya.
Tiba-tiba tanpa adanya aba-aba pria itu langsung menarik tangan Nessa hingga istrinya jatuh terduduk di pangkuannya. Nessa yang mendapatkan serangan mendadak pun terkejut bukan main. Hampir saja ia berteriak, namun segera ia kondisikan.
"Siapa yang marah?" tanya Endi sambil mendekap erat pinggang istrinya itu.
"Mas, tadi--"
"Mas cuman becanda aja, jangan kepikiran. Tau kan kalau kamu banyak pikiran pasti langsung drop?" Nessa mengangguk pelan.
"Mas." panggil Nessa yang kini mulai nyaman saat suaminya mendekapnya erat. Bahkan kepala pria itu terbenam di ceruk lehernya.
"Hmmm?" gumam Endi menduselkan wajahnya di sana.
"Mas, geli!" ujar Nessa mencoba mendorong kepala Endi.
"Sebentar, Dek." Endi tampak protes saat kenyamanannya sedikit terganggu.
"Tapi, Nessa geli." balas gadis itu menjauhkan wajah suaminya dari lehernya.
Sejenak keduanya terdiam. Netra mata mereka saling bertemu, saling bertaut menyelami masing-masing. Tiba-tiba pria itu tanpa aba mengikis jarak, membuat Nessa menahan nafas sejenak karena jarak keduanya begitu dekat.
Cup
Satu kecupan mendarat di kening gadis itu membuat Nessa benar-benar memejamkan matanya.
"Mas gak bisa marah sama kamu." mata Nessa langsung terbuka kemudian tertutup lagi saat suaminya mendaratkan satu kecupan lagi di pipinya.
"Kamu istri Mas. Mas gak mungkin marah sama bidadari Mas yang satu ini." Nessa tersipu malu. Ah, gadis itu malu-malu kucing. Membuat Endi seketika gemash dan ingin sekali menggigitnya.
Mulai dari kening, pipi, mata, hidung. Semuanya mendapatkan kecupan sayang dari Endi. Sampai pria itu berhenti sambil menatap bibir merah alami yang tertutup rapat itu.
Nessa bahkan tidak berkutik saat suaminya memperlakukannya seperti itu. Endi memandang istrinya dengan tatapan memohon.
Gadis itu hanya mengangguk kecil membuat seulas senyum terbit di bibir pria itu. Tidak banyak kata ia langsung mengecup sekilas lalu melepaskannya. Melihat istrinya yang masih terpejam, Endi langsung mendaratkan ciumannya. Nessa hanya mampu terpejam sambil menahan debaran jantungnya yang semakin cepat berdetak. Tangannya langsung mendingin. Bibirnya masih terkatup rapat.
Hanya bertemu, namun, lama-lama Endi mulai bergerak. Awalnya yang hanya kecupan kini berubah menjadi sedikit luma tan. Walaupun ini bukan pertama kalinya, tapi, Nessa tetaplah Nessa yang masih kurang ilmu pengalaman. Dirinya hanya diam saat pergerakan suaminya kini kian terasa.
Satu gigitan kecil membuat Nessa seketika membuka mulutnya. Endi hanya tersenyum di sela-sela aktivitasnya.
Nessa hanya diam tidak berkutik dan menerima semua perlakuan suaminya yang kini semakin menuntut.
Sebuah senyuman terukir di bibir Endi. Setelah memberikan ruang untuk istrinya dan merasa cukup. Ia kembali melancarkan serangannya.
Sebuah rasa yang membuat keduanya terlena. Nessa tidak munafik, ia sangat menyukai rasa yang diberikan suaminya, kekasih halalnya.
Keduanya saling merapat. Menikmati rasa yang begitu candu. Langit malam yang gelap dengan gemerlap bintang dan sinar bulan menjadi saksi keduanya bertukar rasa. Mungkin ribuan kupu-kupu sudah terbang di lubuk hatinya. Sebuah rasa nikmat yang Allah berikan untuk pasangan halal itu.
Menikmati indahnya alunan syahdu yang pastinya akan menjadi candu. Bagaikan air sungai yang mengalir deras lalu terjun ke dasar juram. Terlena akan rasa yang begitu memabukkan hingga lupa akan malam yang kini semakin gelap.
Entah sudah berapa lama keduanya bertukar rasa. Dan entah kapan posisi keduanya begitu intim. Endi mendekap erat tubuh istrinya yang kini berada di dalam kungkungannya.
Pria itu melepaskan tautannya. Tersenyum bahagia, sementara Nessa yang berada di bawahnya hanya diam sambil membalas senyuman itu. Tatapannya begitu teduh.
Tangan kekar itu bergerak untuk membuka kancing teratas piama istrinya. Satu telah berhasil, lalu ia lanjutkan hingga berhenti di kancing ketiga.
Endi menggelengkan kepalanya beberapa kali. Hampir saja dirinya khilaf akan kenikmatan yang diberikan istrinya.
"Dek, m-maaf..." ujarnya meminta maaf, sedikit memberi jarak antara keduanya.
Gadis itu terengah dengan tatapan sandu. Dadanya naik turun sembari menghirup banyak oksigen di sekitarnya.
Nessa tersenyum simpul saat melihat suaminya meminta maaf. Padahal kan mereka itu pasangan suami istri. Bukan pasangan yang belum mahram di mata Allah. Kini saatnya tugas Nessa memanjakan kebutuhan batin suaminya. Tidak mungkin kan dirinya berlama-lama dan membuat sosok pria yang menjadi imamnya untuk menuntunnya ke surga-Nya itu merasakan tersiksa? Ya walaupun di dalam lubuk hati Nessa paling dalam, ia masih belum siap. Bukan belum siap untuk melaksanakan tugas sesungguhnya. Namun, Nessa hanya belum siap karena dirinya ingin memberikan kesan pertama yang sangat besar untuk suaminya.
"Mas, mau sekarang?" tanya Nessa berusaha melupakan rencananya itu. Ia ingin memberikan kesan yang paling menakjubkan. Dan sepertinya Nessa harus berkonsultasi kepada Maminya ataukah mertuanya?
Endi menggelengkan kepalanya pelan. Bukan bermaksud menolak, namun, logikanya masih memikirkan kalau istrinya itu masih seorang pelajar. Apalagi sudah kelas 12 semester 2. Endi tidak ingin membuat konsentrasi Nessa pecah gara-garanya. Ia lebih rela menahan gejolak di dadanya, demi istrinya. Pria itu tidak ingin egois yang hnya karena bisikan setan ia jadi merebut kehormatan istrinya.
"Mas gak ingin bikin konsentrasi kamu pecah. Mungkin cukup sampai di sini aja dulu perkenalannya." balas Endi menekan gejolak di hatinya.
"Tapi, emangnya Mas kuat?" tanya Nessa melihat ekspresi suaminya yang seperti frustasi.
"In Syaa Allah kuat, Dek. Sekarang ayo kita tidur." ajak Endi yang kini sudah berbaring di samping istrinya lalu menepuk pelan lengannya sebelah kanannya, mengkode istrinya agar berbaring di lengan kekarnya.
"Beneran?" tanya Nessa sekali lagi, bergerak perlahan lalu membaringkan kepalanya di lengan kekar itu.
"Iya, syuttt. Jangan berisik lagi, Dek." balas Endi mulai memejamkan matanya sambil mendekap erat tubuh istrinya. Membawa kepala Nessa masuk ke dalam pelukannya.
Dalam hitungan menit rupanya pria itu sudah terlelap sambil tangannya tidak terlepas dari pinggang istrinya. Nessa yang sedari tadi terjaga hanya diam memandangi wajah tampan itu, berbeda sekali kalau tampilannya di sekolah.
Nessa hanya mampu tersenyum melihat kesabaran pria itu. Ia pun membalas pelukan suaminya dengan erat. Menyusul pria itu yang kini sudah memasuki alam mimpi.