My Teacher

My Teacher
MT part 23



Tampak Nessa duduk di antara Mami dan Papinya. Ada juga Winanti dan Resa, serta Endi.


Mereka semua terlihat mengobrol serius.


"Apa yang pengen kamu tanyakan, Nak?" ujar Resa mengambil start.


"Banyak, Pa."


"Tanyakan satu per satu. Insyaa Allah kami akan menjawabnya."


"Kenapa Mami, Papi, Mama dan Papa mengambil keputusan itu?"


Resa melirik istrinya, begitu juga dengan Mami Hana dan Papi Ibra.


"Kalian berdua dengarkan baik-baik. Gak ada yang memotong pembicaraan ya?"


Keduanya saling mengangguk.


18 tahun yang lalu


Ada sepasang suami istri yang saat ini dilanda kebahagiaan. Tampak perut wanita itu membuncit. Iya, dialah Hana, istri dari seorang Ibrahim Wijaya, seorang pengusaha muda yang baru-baru ini bisnisnya meroket sampai ke berbagai negara.


Rival? Tentunya ada. Banyak, ada banyak sekali yang ingin menjatuhkan kekuasaannya. Salah satunya adalah pria tua, pembisnis hebat yang sudah lama berkecimpung di bidang perindustrian. Namanya Yako Manuga.


"Tumbuhlah menjadi anak yang kuat, Nak. Papi menunggumu di sini." bisik Ibrahim tepat di depan kandungan istrinya.


Dug


"Wah! Pinter kamu ya? Udah bisa ngerti ucapan Papi."


Tangannya tidak berhenti mengusap lembut perut Hana yang sudah membuncit. Kandungan istrinya sudah memasuki bulan ke sembilan. Dan sudah diprediksi sekitar satu minggu lagi, bayi yang ada di dalam kandungannya akan lahir ke dunia.


"Mas, aku ada janji sama Wina hari ini." ucap Hana memberitahu.


Sontak hal itu membuat Ibrahim menghentikan usapan di perut istrinya.


"Di luar bahaya, Sayang." balas Ibrahim memberi pengertian.


"Sebentar aja kok, Mas. Boleh ya?" bujuk Hana.


"Sebentar ya? Tapi, Mas gak bisa antar kamu karna Mas ada meeting dengan Resa nanti siang."


"Iya, nggak pa-pa kok, Mas. Biar nanti aku naik taksi."


"Berangkatnya Mas antar, nanti insyaa Allah kalau meetingnya cepat, Mas akan jemput kamu."


"Iya, iya. Jangan terlalu khawatir."


"Jelas Mas khawatir, kamu sedang mengandung anak kita."


Pagi itu Ibrahim sudah siap dengan pakaian kantornya. Akhir-akhir ini ia memang banyak menghadiri rapat di mana-mana. Banyak perusahaan-perusahaan yang mengajukan kontrak kerja sama.


"Nanti kalau sudah selesai telfon Mas." ucap Ibrahim saat mereka sudah sampai di sebuah rumah megah.


Hana mengangguk mengiyakan perkataan suaminya.


"Mas pamit dulu. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam, hati-hati, Mas."


"Iya, Sayang." balas Ibrahim dari dalam mobil.


Wanita itu pun memasuki kawasan rumah megah tersebut. Sesampainya di sana ia sudah dijemput oleh sahabatnya.


"Hai, Na. Baru sampai?" tanya Wina, nama aslinya Winanti.


"Iya, baru aja kok. Jadi kan?" tanya Hana.


"Jadi dong. Eh ya, naik apa ke sini?"


"Tadi diantar Mas Ibra."


"Ayo, masuk dulu. Kasian kamu baru sampai." ajak Winanti.


"Rumah sepi?" tanya Hana saat merasakan sepi di rumah Winanti.


"Iya, Mama Papa dan lagi di Jakarta, mereka bawa Denis. Di rumah cuma ada aku, Rey, sama Kakek."


"Kamu sama dia baik-baik aja kan?" tanya Winanti sambil mengusap perut Hana.


"Baik-baik. Dia suka aktif, apalagi kalau udah diajak ngobrol sama Mas Ibra."


"Hehe, pasti kalau udah lahir anak Papi banget nih."


Hana hanya tertawa menanggapi.


Satu jam Hana di rumah Winanti, kini mereka pun sudah bersiap-siap untuk berangkat ke tujuannya.


"Hai, Rey. Gimana kabarnya anak ganteng?" tanya Hana menyapa anak kedua Winanti.


"Baik, Tante. Kabar Dedek bayi gimana? Belum mau keluar ya?" pertanyaan itu keluar dari bibir bocah yang baru berusia 9 tahun.


Hana terkekeh mendengarnya. "Belum, Sayang. Kenapa? Rey udah gak sabar pengen liat Dedek bayi? Cantik loh." goda Hana membuat wajah Rey memerah.


"Cie malu." goda Hana lagi. Rey yang malu pun langsung bersembunyi di balik tubuh Mamanya.


"Haha, udah, Na. Kasian Rey malu tuh." ucap Winanti membela putranya.


"Hahaha. Ya udah, kita berangkat sekarang ya? Eh ya pamit dulu sama Kakek. Udah lama aku gak jenguk Kakek, dia pasti kangen."


"Ya udah, sama. Kakek ada di ruang keluarga."


Hana pun mengangguk, bumil itu berjalan pelan ke arah ruang keluarga untuk sekedar pamit kepada Kakek Winanti.


"Halo, Kek. Hana datang nih." sapa Hana.


"Hana? Masyaa Allah, tambah cantik kamu, Nak. Belum lahir juga ya?" tanya pria tua yang duduk di kursi.


"Belum, Kek. Kata dokternya seminggu lagi."


"Hana sama Wina mau pamit, Kek. Mau ke butik sebentar ambil baju yang udah siap."


"Kalian hati-hati. Langsung pulang." pesan pria tua itu seolah-olah ada arti dibalik kalimatnya.


"Waalaikumsalam."


"Udah?" tanya Winanti.


Hana mengangguk.


Mereka pun keluar bersaman. Sebelumnya Winanti menitipkan Kakeknya pada pelayan di rumahnya.


Setelah dari butik, mereka langsung pulang. Seperti apa yang dikatakan oleh Kakek Winanti.


Di perjalanan, Hana merasakan gelisah. Karena khawatir, ia langsung menelfon Ibrahim yang saat itu kebetulan masih melakukan meeting dan ponselnya ia ubah dalam mode silent.


"Kenapa, Na?" tanya Winanti sembari melirik Hana yang terlihat gelisah.


"Perasaanku aja kali ya, Win? Kok aku ngerasa ada yang ngikutin kita." jawab Hana sembari melirik ke belakang.


Winanti yang mengemudi pun melihat dari kaca spion.


"Nggak ada kok, Na."


Hana hanya diam tidak menanggapi.


Akhirnya mereka pun sampai di kediaman Winanti. Mereka langsung masuk, Hana semakin gelisah saat tidak sengaja melihat bayangan orang hitam melintas di belakangnya.


"Win." lirih Hana memanggil.


Bumil itu merasakan aura yang berbeda. Entah itu hormon kehamilannya ataukah memang benar adanya.


Entah mengapa tujuan awak Hana saat ini adalah menemui Kakek Winanti.


"Ka--kek."


Mereka melotot saat melihat Kakek Winanti yang diikat di kursi yang ia duduki sebelumnya.


Hana langsung membalikkan badannya. Dan benar saja, ada segerombolan orang berpakaian hitam tengah menatap mereka horor.


"Rey, masuk ke kamar, Nak!" titah Winanti dan langsung dituruti oleh putranya. Rey yang merasa keadaan tidak aman langsung berlari cepat masuk ke kamarnya dan menguncinya lalu bersembunyi di kolong tempat tidur.


Sementara itu, Ibrahim yang baru selesai meeting langsung membuka ponselnya. Begitu banyak panggilan tidak terjawab dari istrinya.


"Res." panggil Ibrahim menatap Resa. Kini hanya tersisa mereka berdua di dalam ruangan.


Resa juga menatapnya dengan tatapan yang sama. Tidak berlama-lama keduanya langsung berlari keluar ruangan.


Mereka menggunakan satu mobil dengan Resa yang mengemudi. Ibrahim sempat menelfon orang suruhannya untuk mengecek kondisi rumah Resa. Istrinya, anaknya. Ibrahim mengingat itu. Tangannya mengepal serta tatapan tajam.


"Cepat, Res!" titah Ibrahim tidak sabaran.


"Ini udah ngebut, Ib. Kita harus tenang."


Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya mereka sampai di kediaman Resa. Dari luar sudah tampak keributan saat orang suruhan Ibrahim menyerang lawan mereka.


Ibrahim dan Resa langsung turun tangan. Keduanya tidak perduli lagi dengan luka lebam dan goresan mengenai tubuh mereka saat melawan rivalnya.


"Masuk, bos!" teriak anak buah Ibrahim saat keadaan sudah lumayan lengah. Lawan mereka pun hanya tersisa beberapa dan itu bisa diatasi oleh mereka.


Mendengar teriakan anak buahnya, baik Ibrahim maupun Resa langsung masuk ke dalam. Keadaan rumah begitu berantakan. Banyak darah yang berceceran. Pikiran mereka langsung melayang pada istri dan anak-anaknya.


"SAYANG AWAS!!" teriak Ibrahim dengan cepat berlari menuju istrinya. Namun sudah terlambat. Suara tusukan begitu nyaring terdengar di telinga mereka.


Ibrahim dan Resa melotot. Dan saat itu emosi Ibrahim langsung memuncak. Ia langsung menghabisi lawannya dengan membabi buta. Begitu juga dengan Resa, keduanya saling melengkapi.


Tidak sadar, lawan mereka sudah tumbang semuanya. Ibrahim segera berlari menuju istrinya yang tampak menangis sambil memeluk pria tua yang baru saja menolongnya. Ya, yang terkena tusukan tadi adalah Kakek Winanti dan Resa.


"M-mas, Ka-kek..." ujarnya terbata. Sementara Winanti terikat di kursi dalam keadaan lemah. Ia hanya bisa menangis, tidak bisa berteriak karena mulutnya sudah ditutup dengan lakban. Resa yang melihat itu segera menolong istrinya.


"H-hana..."


"Iya, i-ini Hana, Kek." ucap Hana bergetar.


"K-amu, Ib-ra?"


"Saya di sini, Kek." balas Ibra cepat, air matanya juga menetes.


"Kek, bertahanlah, ambulans akan segera datang. Kakek bertahan, Ibra mohon." pinta pria itu. Biar bagaimanapun juga, sosok Kakek Winanti adalah panutan baginya. Pria tua itu yang sudah membantunya sukses, dan mengajarinya banyak hal.


"K-kakek c-uma min-ta s-satu permin-taan..."


"Apa, Kek. Kakek minta apa? Ibra janji akan mengabulkannya."


Tangan yang berkeriput itu terangkat dengan gemetar. Hana yang sadar segera memegangnya dan menuntunnya. Ternyata Kakek Winanti ingin menyentuh perut Hana.


Dengan bergetar, Kakek Winanti berkata. "J-adikan dia cu-cu me-nantuku."


"Kakek gak salah?" tanya Resa terkejut. Kini Winanti sudah terlepas dari ikatannya. Dan mereka semua berkumpul di sekeliling Kakek Winanti sembari menunggu ambulans datang menjemput.


"J-adikan d-dia cucu m-menantu-ku."


"H-hana janji, Kek."


"Ibra akan mengabulkan permintaan Kakek."


"Wina dan Mas Resa juga, Kek."


Tangisan. Itulah yang terjadi saat mereka melihat sosok pria tua yang sangat berarti di kehidupan mereka kini sudah berpulang kepada-Nya.


"Awwssshhh... Mas, perutku sakit." Hana meringis saat merasakan sakit yang teramat. Sepertinya putrinya itu sudah tidak sabar untuk melihat dunia barunya.


Ibrahim terkejut bukan main.


"Sayang?"


Tanpa banyak kata Ibrahim segera menggendong istrinya. Kebetulan saat itu ambulans yang sempat ia telfon datang. Sementara jasad Kakek Winanti akan diurus oleh mereka, dibantu anak buah Ibrahim.


"Selamat datang putri kecil Papi. Semoga kamu menjadi anak kuat. Selamat datang di dunia ini Nessa Ibrahim Halana."


Sejak saat itu Ibrahim memulai buruannya. Menghabisi setiap keturunan yang telah sempat melukai istrinya dan telah menghabisi sosok pria yang paling berarti di hidupnya.


Janji itu adalah janji yang harus ditepati. Janji itu adalah awal dari segalanya untuk kehidupan putri kecilnya.


Flashback off