My Teacher

My Teacher
MT part 72



"Nes, kamu gak papa?" tanya sahabatnya, Tiara, saat Nessa memegang perutnya dengan raut wajah meringis.


"M-mules, Ti. Temenin aku ke toilet ya?" pinta Nessa berharap. Akhir-akhir ini perutnya sedikit nyeri dan ngilu entah apa penyebabnya Nessa tidak tau itu. Padahal Nessa sudah cek up kandungan untuk memeriksanya, namun, dokter mengatakan kalau kandungannya baik-baik saja.


"Iya, ayo!" Tiara mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Nessa.


Nessa terus memegang perutnya yang terasa ngilu. Padahal sebenarnya dia tidak ingin buang air besar.


"Sabar, Sayang. Abi bentar lagi pulang." lirih Nessa mengusap lembut perutnya di balik luar pakaiannya. Dan ajaibnya saat Nessa mengatakan itu, sakitnya langsung mereda.


"Mungkin dia kangen kali, Nes, sama papanya." sahut Tiara yang melihat sedari tadi.


"Iya. Eh ya, tunggu bentar ya? Aku mau ke dalam dulu. Tolong titip tas." ujar Nessa memberikan tasnya kepada Tiara.


"Aman, Nes." balas Tiara.


Lima menit kemudian Nessa sudah keluar dari dalam toilet. Ia dan Tiara tampak berdiri di cermin wastafel sambil Nessa yang mencuci tangannya.


"Pak Endi kapan pulang?" tanya Tiara yang memang memanggil Endi dengan sebutan Pak.


"Mungkin lusa kali. Soalnya semalam bilangnya sih gitu."


"Sabar ya, Nes. LDR itu emang berat. Aku aja gak yakin kalau ditinggalin gitu." celetuk Tiara.


Nessa langsung terkekeh dibuatnya. "Makanya cepet jadi jodoh."


"Lama, Nes. Masih belum dapet yang klop."


"Oh ya, habis ini gak ada kelas lagi kan?" tanya Nessa sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tas untuk melihat jam.


Tiara menggelengkan kepalanya. "Aku mau pulang aja deh. Kamu mau ikut gak? Sekalian aja nginap, lagian di rumah cuma ada aku sama Tasya." pinta Nessa berharap.


Tampak Tiara mempertimbangkan permintaan Nessa untuk menginap di rumahnya. "Oke deh. Tapi, satu malam aja ya? Aku juga gak enak kalau nginep di rumah orang."


•••


Kicauan burung membangunkan semua orang yang berada di rumah yang sama itu. Beruntungnya hari ini adalah weekend dan mereka bisa bersantai-santai sebelum hari senin tiba.


"Bumil, ayo bangun. Sarapan. Sya, Tasya. Kalian berdua, ayo bangun." pagi-pagi Tiara sudah membuang suasana di rumah itu berisik karenanya. Nessa yang sebetulnya sudah bangun sedari tadi, namun, karena hormon kehamilannya itu membuat sang wanita betah berlama-lama berada di atas kasur. Tidak kembali tidur, melainkan Nessa membaca buku agenda kehamilannya.


Karena mendengar teriakan cempreng Tiara, Nessa bangkit dengan malas. Sejujurnya ia masih ingin berlama-lama di kasur entah mengapa.


Nessa keluar dari kamarnya bersaman dengan Tasya yang sudah rapi karena sehabis mandi.


"Kak." sapa gadis itu.


"Iya. Turun yuk!" ajak Nessa. Tasya pun segera menggandeng lengan wanita itu dan mereka menuruni anak tangga perlahan.


"Sarapan dulu." seru Tiara yang sudah meletakkan rapi sarapan di atas meja makan.


"Tumben rajin." sahut Nessa seakan meledek sahabatnya.


"Selalu kali, Nes. Udah ah, ayo sarapan. Aku mau pulang cepet. Tadi mama nelfon katanya ada urusan penting." Tiara menarik kursinya lalu duduk di sana. Disusul dengan Nessa dan adik iparnya.


Sesaat suasana hening karena mereka sudah menyantap nasi goreng buatan Tiara. Rasanya memang tidak kalah enak dengan masakan restoran.


Sesudah sarapan, rupanya Tiara sudah mau pulang ke kediamannya. Sebenarnya Nessa masih ingin mengajaknya untuk menghabiskan waktu weekend. Tapi, tidak apa lah. Tiara juga ada urusan.


Kini di rumah itu hanya ada Nessa dan Tasya. Keduanya tampak duduk di depan TV sambil menonton siaran drama.


"Kak." panggil Tasya tiba-tiba. Nessa menoleh ke arah gadis itu dengan alis yang bertaut.


"Masa sih?" gumam Nessa. "Ya udah, kamu tunggu di sini ya? Kakak mau ke atas dulu buat ngeceknya."


"Hati-hati, Kak." balas Tasya lalu kembali fokus menonton televisi setelah melihat kakak iparnya mulai melangkah jauh.


Sedangkan Nessa yang sudah berada di lantai atas pun segera mengambil ponselnya yang memang ia simpan di atas nakas. Dan benar saja, ada dua panggilan tidak terjawab dari nomor suaminya.


"Halo. Assalamu'alaikum, Mas." ucap Nessa setelah memanggil balik nomor suaminya.


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Ada di mana?" tanya Endi di seberang sana.


"Di rumah aja kok. Tadi nonton TV sama Tasya. Oh ya, Mas. Tadi aku ajak Tiara nginep di sini. Gak apa-apa kan? Tapi, dianya udah pulang kok." tanya Nessa hati-hati. Takut kalau suaminya melarang dirinya membawa teman sampai menginap di rumah mereka.


"Gak apa-apa kok. Senyamannya kamu aja. Oh ya, Mas cuma mau ngabarin kalau nanti pagi jam 8 Mas udah berangkat. Berarti kalau di sana udah siang."


Raut wajah Nessa langsung berbinar mendengarnya. Ia tidak menyangka kalau waktu kepulangan sang suami telah tiba. Nessa terdiam karena merasakan sesuatu yang berbeda. Ia menghitung angka menggunakan tangannya.


"Mas. Di sini baru jam 7. Berarti di sana jam 1 sini hari dong? Kok Mas gak istirahat?" tanya Nessa sedikit khawatir dengan kesehatan pria itu.


Endi yang berada di sana hanya terkekeh. Ia senang kalau istrinya sekhawatir itu dengannya. "Mas baru selesaiin semua pekerjaan. Makanya besok pagi bisa pulang."


"Kalau belum selesai jangan dipaksain, Mas. Aku gak apa-apa kok nunggu beberapa hari lagi."


"Udah selesai semua kok. Kalau gitu Mas tutup telfonnya ya?"


"Iya. Selamat istirahat, Mas."


"Iya, Sayang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." hampir saja Nessa menjerit senang. Tampak Nessa menghitung jadwal kepulangan suaminya. Endi mengatakan bahwa dia akan berangkat jam 8 pagi. Sedangkan jarak perjalanan tempuh antara Swiss dan Indonesia itu sekitar 17 jam 35 detik. Jika di sana jam 8 pagi berarti di Indonesia jam 2 siang. Yang berarti perkiraannya Endi akan tiba di bandara sekitar pukul setengah 8 pagi.


Nessa yang senang segera menghubungi mami dan bundanya untuk memberi kabar bahwa suaminya akan segera pulang. Nessa juga memberitahu kalau dia akan memberikan sedikit kejutan kecil-kecilan saat suaminya tiba nanti.


Tangannya langsung turun mengusap perutnya yang masih rata. Wanita itu tersenyum. "Hai, Sayang. Abi bentar lagi mau pulang loh. Kita sabar dulu ya." lirih Nessa pelan.


Setelah berbincang-bincang dengan perutnya, Nessa beranjak keluar dari kamarnya untuk menemui Tasya yang masih duduk di ruang tengah.


"Siapa yang nelfon, Kak?" tanya gadis itu ikut penasaran.


Bukannya langsung menjawab, Nessa malah tersenyum menatap adik iparnya. "Mas mu. Katanya mau pulang."


"Wahhhh! Jam berapa?" tanya Tasya ikut senang.


"Mungkin sampainya besok pagi. Eh ya, kamu mau gak bantuin kakak?"


"Apa tuh?"


Nessa mendekatnya wajahnya tepat di depan telinga gadis itu dan berbisik pelan.


"Mau gak? Gak sendirian kok, nanti juga ada mami sama bunda."


"Siap, Kak."


.


.


.


sebenernya bingung mau lanjutannya karna feelnya udah gak dapet lagi🥺tapi aku paksain karna emg ga rela aja berhentiin ceritanya cuma sampai di sini🙂🙂 Sia-sia dong ntar aku ngetik ampe jari kriting trus ngehalu ampe jungkir balik 🤣🤣