My Teacher

My Teacher
MT part 39



Setelah acara makan siang, keduanya memilih menghabiskan waktu untuk bertukar cerita di gazebo belakang dengan ditemani minuman dan cemilan.


"Dek."


"Hmmm??" Nessa mendongak dengan raut wajah bertanya.


"Setuju gak kalau kita pindah rumah?"


Ekspresi Nessa lumayan terkejut, namun ia masih bisa menguasainya.


"Kenapa?" tanya Nessa.


"Sekarang kamu adalah tanggung jawab Mas. Semua kebutuhan kamu Mas yang tanggung. Mas gak nyaman kalau kita terus-terusan tinggal di rumah orang tua." jawab Endi sambil memandangi langit biru.


Nessa teringat akan pesan orang tuanya dan Mbok Jum tadi.


"Turuti perintah suami selagi itu masih di jalan yang benar."


Jelas Nessa mengingat kalimat itu yang entah sudah ribuan kali ia dengar.


Nessa hanya mengangguk tipis. "Nessa ikut aja. Mau pindah di mana? Rumahnya udah dapat?" tanya gadis itu beruntun.


Endi bernafas lega karena istrinya tidak menolak tawarannya untuk pindah rumah. Walau umur Nessa yang masih muda, tapi, gadis itu sudah bisa mengimbangi pemikirannya. Bukankah jodoh itu adalah cerminan diri? Iya, kalimat itu Endi percayai.


"Alhamdulillah. Dua hari yang lalu Mas iseng-iseng lihat postingan di media sosial. Dan baru-baru ini Mas juga udah mengeceknya, dan alhamdulillah semoga gak mengecewakan."


"Jauh?"


Endi hanya tersenyum. "Nggak juga kok. Kalau dihitung-hitung setengah perjalanan ke sini dan setengah perjalanan ke rumah Mama."


Gadis itu perlahan mengangguk.


"Kalau mau, kita bisa lihatnya barengan. Nanti kalau Adek setuju ya alhamdulillah, kalau enggak ya juga gak pa-pa, kita bisa cari lagi yang lain."


"Boleh." sahut Nessa.


Tangan pria itu terulur untuk mengusap kepala istrinya yang dibalut jilbab instan.


"Maaf."


Seketika Nessa mendongak, mempertemukan netra keduanya dan menyelami masing-masing.


"Kenapa minta maaf?" tanya Nessa tanpa mengedipkan matanya.


"Maaf karna dengan pernikahan ini Adek nggak bebas, bahkan lulus sekolah pun belum. Maaf karna udah mengacaukan cita-cita Adek yang ingin Adek gapai. Maaf juga karna--"


"Syuttt..." Nessa meletakkan jarinya tepat di depan bibir pria itu hingga membuat Endi berhenti berbicara.


"Ini udah takdir. Insyaa Allah Nessa akan menerimanya dengan lapang dada dan menjalaninya dengan ikhlas. Nessa nggak menyalahkan siapa-siapa, karna Nessa tau, jalan Allah itu yang terbaik. Jadi, jangan minta maaf lagi. Cukup jadi suami yang selalu menemani Nessa aja itu udah cukup. Nessa nggak mau lebih. Semenjak status Nessa berubah, saat itu juga Nessa sadar kalau Nessa punya tanggung jawab yang besar."


Mata pria itu sudah berkaca-kaca lantaran terharu. Istri kecilnya begitu dewasa, bahkan ia saja salut dibuatnya.


"Adek gak menyesal menikah sama Mas?"


Nessa menggelengkan kepalanya. "In Syaa Allah enggak."


"Mas juga gak menyesal menikah sama kamu."


"Pak Dimas juga bisa romantis ya?" celetuk Nessa membuyarkan suasana diiringi dengan kekehannya.


"Panggil sekali lagi." pancing Endi sambil menaikkan sebelah alisnya.


Sedangkan Nessa sudah mengambil ancang-ancang untuk melarikan diri.


"Pak Dimas... Aaaaaaakkkkk Mbokkkk, hahahahaa..."


Nessa tertawa terpingkal-pingkal sambil berusaha berlari menghindari kejaran Endi. Rumah yang awalnya sunyi kini riuh seketika, pecah dengan suara tawa Nessa diiringi suara tertawaan Endi. Sedangkan Mbok Jum yang tengah menyapu lantai di ruang tengah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Mbok, tolongin Nessa!!" gadis itu berlari menuju Mbok Jum yang sibuk menyapu lantai ruang tengah.


Nessa memutar-mutar tubuh Mbok Jum seiring dengan mengindari Endi yang sudah mendekat. Mbok Jum yang diperlakukan seperti itu langsung tertawa dan merasakan pening sekaligus.


Sontak Nessa memegang tubuh Mbok Jum dan langsung menuntunnya untuk duduk di atas sofa. Begitu Mbok Jum duduk, rupanya Endi masih belum puas. Sehingga terjadilah kejar-kejaran di antara keduanya. Bahkan gadis itu langsung menuju kamarnya dengan menaiki anak tangga hati-hati.


Begitu pintu ingin Nessa kunci, rupanya ia terlambat. Endi sudah membuka pintu terlebih dahulu sehingga tubuh Nessa sedikit terdorong ke belakang karena menahan pintu agar tidak terbuka.


"Nessa panggilin Papi loh, Pak." ancam Nessa sambil beringsut mundur ke belakang.


Dengan santai Endi berjalan maju sambil menunjukkan ekspresi jahilnya.


"Papi lagi sibuk kerja sama Mami." balas Endi membuat Nessa bungkam.


"Nessa lapor ke Mama Papa!"


"Lapor? Apa yang mau dilaporin? Emang Mas ada nyakitin kamu?"


Nessa menggeleng tipis. "Iya juga ya." gumamnya pelan tapi masih terdengar.


"Pokoknya nanti Nessa laporin... Bapakkkkkk jangan deket-dekettt!!" teriak Nessa saat Endi semakin mendekat.


"Sekali lagi kamu panggil saya Bapak, maka terimalah akibatnya!"


"Ck!"


"Oo sudah berani ya?" seru Endi memasang wajah devil membuat bulu kuduk Nessa merinding.


"Hap! Dapat kamu." koor Endi sambil menggelitiki perut Nessa hingga gadis itu tertawa karena merasakan geli di perut dan pinggangnya.


"Hahahhaaa... Pakkkk, berentiiii. Geli!!"


Gadis itu tertawa sejadi-jadinya, tangannya berusaha menjauhkan tangan Endi yang terus menggelitikinya. Sampai-sampai sudut matanya basah, dan itu membuat Endi tidak tega. Jadilah pria itu menghentikan gelitikannya dan terduduk di lantai keramik. Nafas keduanya ngos-ngosan.


Nessa menghirup banyak oksigen. Setelah tenang, rasanya tidak puas karena melihat suaminya malah duduk anteng sedangkan dirinya menjadi korbannya.


"Bapak curang! Gantian dong!" serang Nessa balik menggelitiki pinggang Endi yang saat itu dalam mode tenang. Sontak pria itu terjungkal ke belakang karena mendapat serangan mendadak dari istrinya.


Endi yang aslinya orangnya gelian jadi tidak tahan. Alhasil untuk menghindari serangan istrinya, pria itu menangkap pergelangan Nessa dan mengangkatnya ke atas hingga Nessa berhenti menggelitiki pinggangnya.


Sejenak, keduanya terdiam. Endi baru menyadari posisinya yang terbaring sedangkan Nessa duduk di sampingnya. Karena Endi menangkap pergelangan tangan istrinya, alhasil tubuh Nessa tertarik ke depan. Hingga membuat posisi keduanya sedikit intim.


Dengan posisi seperti itu, Nessa bisa melihat lebih jelas wajah suaminya dari dekat. Hidung yang mancung, bola matanya sangat meneduhkan, alisnya tebal dan juga bibirnya.


Karena merasakan istrinya yang terdiam, dengan jahilnya Endi menarik lagi tangan istrinya hingga Nessa jatuh sepenuhnya di atas dada bidang pria itu. Tangan kanan Endi dengan cekatan memegang punggung belakang Nessa dan tangan kirinya menangkap pinggangnya.


Nafas Nessa tercekat. Ia sedikit terkejut dengan perbuatan Endi barusan. Kedua mata Nessa hanya berkedip-kedip beberapa kali. Hal itu malah membuat Endi gemas dengan tingkah istrinya yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.


Tiba-tiba Endi menggulingkan tubuhnya hingga kini Nessa berada di bawahnya.


"P-pak. L-epas-in!" cicit Nessa pelan. Jantungnya? Jangan ditanyakan lagi. Sudah seperti orang selesai maraton 100 kali putaran. Oksigen di sekitarnya serasa menipis.


Endi terdiam dengan sorot mata teduh. Bibirnya terkatup sempurna. Kalau boleh jujur, jantungnya juga ikut berdetak cepat.


Karena tidak mendapati respon dari suaminya, Nessa pun memanggilnya lagi.


"Pak--" ucapan Nessa terpotong.


"Nessa." panggil Endi lebih dulu.


Nessa terdiam untuk mempersilahkan suaminya bicara. Tangannya menahan dada bidang pria itu. Sungguh! Posisi tersebut sangat membuat Nessa gugup dan grogi.


"Izinkan saya menyentuh ini!"


Bibir Nessa terkatup rapat saat jari suaminya mengusap lembut bibirnya. Nessa tercekat, otaknya langsung berpikir keras.


"Boleh?" ujar Endi sekali lagi.


Ingin sekali Nessa berteriak dan mengatakan tidak, namun rasanya tidak mungkin. Pria itu berstatus suaminya dan sudah jelas halal baginya.


Akhirnya Nessa mengangguk ragu. Tangannya mencengkram erat baju yang dikenakan Endi. Tanpa sadar pria itu tersenyum tipis saat melihat istrinya yang ternyata sudah siap. Buktinya saat Nessa mengangguk, saat itu juga ia memejamkan matanya erat karena takut dan malu tentunya.


First kissnya yang ia jaga selama ini telah hilang diambil oleh suaminya sendiri? Apakah Nessa harus senang? Tentu saja iya. Walau rasa cinta itu belum hadir di hatinya, namun, sudah ada benih-benih yang muncul sedikit demi sedikit yang akan membuat mereka nantinya akan semakin lengket.