My Teacher

My Teacher
MT part 28



Keluarganya sudah berkumpul di tempat yang sama. Mulai dari Mami Hana, Papi Ibra, Winanti, hingga Resa. Mereka tampak bergosip.


Kedatangan Nessa dan Endi membuat mereka menghentikan obrolannya. Sepertinya tengah mengobrolkan keduanya.


"Maaf lama." ucap Nessa sembari menyalami para orang tua.


"Nggak apa-apa. Maaf ya, Sayang, harusnya kamu istirahat saat pulang sekolah, eh malah nyasar di sini." seru Winanti sambil mengelus punggung tangan Nessa.


"Eh ya, langsung masuk aja yuk! Pilih-pilih dulu. Papa sama Ibra temenin Rey masuk ke dalam." ujar Winanti memberi arahan.


Ya, Nessa dan Endi memang melakukan fitting baju. Namun, keduanya di ruangan yang berbeda. Perempuan sesama perempuan, laki-laki sesama laki-laki. Jadi, baik Nessa maupun Endi, mereka tidak tau pakaian pasangannya saat akad nanti.


Mereka juga akan melalui proses lamaran yang akan dilaksanakan pada besok malam. Untuk cincin dan semua perlengkapannya hanya Terima bersih saja karena semuanya sudah diurus oleh para orang tua.


Hanya sebentar mereka melakukan fitting, lagi pula hanya acara sederhana saja. Kalau untuk resepsi nanti mereka akan melakukan fitting baju sekali lagi. Mungkin akan terlihat mewah. Hanya tinggal menunggu waktu kurang dari satu tahun saja.


Setelah selesai, mereka semua langsung pulang. Nessa yang awalnya berangkat dengan Endi, kini pulangnya juga bersama pria itu. Untuk apa? Untuk pendekatan. Kata para orang tua. Memang keduanya masih cukup canggung. Untuk panggilan pun masih formal. Nessa yang memanggil Endi dengan panggilan yang sama yaitu Bapak. Sementara Endi pun masih betah memanggil dirinya saya, saya-kamu. Sungguh rumit. Intinya mereka hanya memerlukan waktu. Mungkin mengenal lebih dalam lagi nanti saat sudah waktunya kata SAH terdengar.


Hari tidak terasa terlewati. Proses lamaran pun sudah dilewati dengan lancar. Kini mereka hanya melewati satu langkah saja menuju halal. Cincin sudah tersemat di jari masing-masing.


"Tidak boleh dilepas." kata Mami dan Papinya waktu itu.


Nessa pun hanya menuruti. Rasanya ada yang aneh dan mengganjal saat cincin yang begitu indah melingkari jari manisnya. Itu bagaikan sebuah mimpi baginya.


Setiap kali berjalan, Nessa selalu menyembunyikan tangan sebelah kirinya. Selama kurang dari sebulan, Vella yang tau Nessa hanya mengenakan cincin pemberian Papinya. Dan Vella percaya itu.


Namun, semuanya yang Nessa tutupi rapat akhirnya tercium juga di oleh Vella.


Siang itu saat selesai pelajaran agama Islam. Seperti biasa Nessa yang selalu menjadi babunya untuk mengantarkan buku tugas ke meja Endi.


Nessa dan Vella berjalan tepat di belakang gurunya. Nessa di sebelah kanan dan Vella di sebelah kiri. Nessa memegang setengah tumpukan buku tulis dengan sebelah tangannya yaitu tangan kanan, sementara Vella ikut membantu Nessa dengan membawa setengah bukunya lagi.


"Nes, bentar lagi ujian. Belajar bareng yuk!" ajak Vella. Karena seperti tahun-tahun sebelumnya mereka selalu belajar bersama.


"Boleh."


Keduanya terus mengobrol hingga tidak terlalu memperhatikan jalan. Endi yang berhenti pun tidak mereka ketahui, alhasil Nessa dan Vella menabrak tas punggung Endi yang lumayan besar.


Buku-buku yang mereka bawa jatuh berserakan. Kebetulan koridor perpustakaan sepi, jadi, tidak ada yang melihat mereka.


"Maaf, Pak." keduanya sontak meminta maaf.


"Iya, tidak apa-apa. Saya bantu."


Endi juga ikut membantu Nessa dan Vella merapikam buku tulisnya. Seketika Vella menghentikan pergerakannya. Bukan karena sudah selesai, namun, gadis itu terfokus ke jari manis Nessa dan juga Endi.


"Kok sama?"


"Apa yang sama, Vella?" tanya Endi.


Awalnya Nessa tidak mengerti. Namun, saat melihat arah pandang Vella, membuatnya melebarkan kedua matanya dan angsung meringis. Nessa memejamkan matanya erat serta langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya. Bukan Vella namanya yang tidak kepo. Ia langsung menarik tangan Nessa dan mendekatkannya ke tangan Endi.


"Vella, tunggu, Vel!" teriak Nessa, namun Vella tidak memperdulikannya. Bukan marah atau apa, Vella hanya merasa sedikit kecewa. Sudah dari awal ia curiga, namun kecurigaannya selalu disangkal. Apalagi saat Vella bertanya pada Nessa.


Sungguh, Nessa merasa bersalah. Nessa hanya terdiam sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Biarkan dulu. Dia perlu waktu." dua kalimat yang langsung membuat air mata Nessa jatuh.


"Jangan menangis, Nessa. Tangismu adalah duka buat saya." Endi merogoh sakunya dan mengeluarkan sapu tangan lalu memberikannya pada Nessa. Ia ingin sekali menghapus air mata itu, ia ingin memberikan sandaran untuk gadis itu. Namun, status yang masih belum halal dan juga tempat umum yang membuatnya harus membuang pikirannya.


"Vella, P-pak."


"Saya tau. Kasih dia waktu untuk lebih mengerti."


Nessa khawatir kalau Vella tidak mau berteman dengannya lagi. Apalagi hari ini mereka berangkat bersama menggunakan motor Nessa. Sudah tentu Vella juga akan bersamanya, tapi, Nessa tidak tau tanggapan Vella nantinya.


🌼🌼🌼


"Vella, bukain pintunya, Vel!" sedari tadi Nessa mengetuk pintu kamar Vella. Ya, gadis itu menyusul Vella sampai ke rumah saat pulang sekolah tadi.


Mama Vella yang saat itu kebetulan lewat menghentikan langkahnya.


"Masih juga belum dibuka?" tanya Mama Vella membuat Nessa menggeleng.


"Vella marah sama Nessa, Tante. Vella gak mau temenan lagi sama Nessa." ucap Nessa sendu.


Fera, Mamanya Vella hanya tersenyum sambil mengelus kepala Nessa yang terbungkus jilbab.


"Duduk dulu yuk! Nanti Tante usahain bujuk Vella."


"Caranya, Tan?" dengan pipi yang masih basah, Nessa mendongak. Gadis itu menurut saat Fera membawanya duduk di sofa ruang tamu.


"Gak usah dipikirin, biar nanti urusan Tante."


"Sekarang, cerita sama Tante... ada apa?"


Nessa ragu, tapi, akhirnya ia memberanikan diri untuk menceritakan semuanya.


"Jangan kasih tau siapa-siapa, Tan."


"Nggak kok. Rahasia aman kalau sama Tante. Yang sabar ya, Nessa yang kuat, anak kuat kan?" Nessa mengangguk.


"Ini sudah sore, sebaiknya Nessa pulang aja, nanti dicari orang tuanya. Bukan maksud Tante ngusir Nessa."


Nessa akhirnya tersenyum sambil mengusap matanya. "Makasih, Tante. Tolong bujuk Vella ya? Nessa berharap banyak sama Tante."


"Tenang aja, nanti Tante usahain."


"Kalau gitu Nessa pamit, Tan. Assalamu'alaikum."