
Tidak terasa hari sudah berlalu. Kini Nessa sudah disibukkan dengan dua statusnya sebagai istri dan mahasiswi. Untungnya masih semester awal, jadi, tugas masih belum sepenuhnya menumpuk. Seperti biasa Nessa bangun pagi untuk membuat sarapan untuk mereka. Setelah membuat sarapan simpel, Nessa segera naik ke lantai atas lagi menuju kamarnya untuk membangunkan sang suami. Setelah sholat subuh tadi memang keduanya memilih kembali tidur. Rasa kantuk yang menyerang Endi membuatnya harus terpaksa beristirahat sebentar. Ya, pria itu saat ini sudah fokus mengurus perusahaan sang Papa yang telah pensiun muda. Sedangkan statusnya sebagai guru harus dia relakan. Yup, Endi sudah mengundurkan diri sebagai guru di SMA Nessa dulu. Sebulan yang lalu acara konferensi pers telah dilakukan yang mengumumkan bahwa dirinya lah yang akan menjadi pemimpin baru di perusahaan sang Papa.
"Mas, bangun. Mau ke kantor kan?" seru Nessa sambil menggoyangkan pelan lengan suaminya. Posisinya saat itu setengah menunduk ke bawah.
Pria itu menggeliat pelan saat mendengar suara merdu yang setiap hari menjadi alarmnya itu. Matanya menyipit untuk menyesuaikan dengan cahaya kamar. Gorden kamar pun sudah Nessa buka. Menampakkan sinar matahari yang masih malu-malu untuk menampakkan cahayanya. Jam dinding juga sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.
"Mmmm... iya, Sayang." ucap pria itu dengan suara serak. Panggilan sayang yang keluar dari mulut Endi selalu membuat istri salah tingkah. Ya walaupun panggilan itu bukan pertama kalinya dia dengar. Namun, rasanya masih tetap sama. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan memenuhi kepalanya.
Hal yang pertama kali Endi lihat saat membuka mata adalah wajah ayu milik istrinya. Begitu juga sebaliknya. Rasanya sangat betah berlama-lama memandangi kekasih halalnya.
"Ayo, mandi dulu, siap-siap." ucap Nessa lagi dengan suara lembutnya. Gadis itu mengambil bantal yang menganggur dan menyusunnya. Namun, saat akan menarik selimut untuk merapikannya, tapi, selimut itu masih tertahan oleh suaminya.
"Mas, lepasin dulu. Aku mau rapiin ini." Nessa menghela nafasnya saat suaminya sudah berulah. Rutinitas pagi yang selalu terjadi akibat permasalahan tentang selimut yang mengakibatkan Nessa mengalah.
Namun, rupanya respon Endi seperti biasa. Pria itu menggelengkan kepalanya, menolak untuk melepaskan ujung selimut yang dia tahan.
"Nanti keburu siang. Mas juga harus ke kantor. Katanya nanti ada meeting." bujuk Nessa. Suaminya malah semakin menarik selimut itu dan mendudukinya hingga Nessa tidak bisa menariknya lagi.
"Morning kiss." pinta Endi membuat Nessa menarik nafas dalam lalu menampilkan sebuah senyuman yang membuat dirinya tampil lebih cantik. Suaminya itu sungguh kelewatan manja!
Tanpa banyak kata Nessa menarik dirinya lebih mendekat lalu langsung mendaratkan satu ciuman di pipi kanan suaminya. Setelahnya Nessa menjauhkan lagi wajahnya.
"Udah kan?" Endi pun menggelengkan kepalanya, sontak hal itu membuat Nessa mengerutkan keningnya.
"Apa lagi?" ujar gadis itu berusaha sabar.
"Bukan di sini. Tapi, di sini..." jari telunjuknya dia letakkan tepat di atas bibirnya. Bola mata Nessa langsung melebar, spontan dirinya menggelengkan kepalanya.
"Mesum!" cibir Nessa. Rupanya Endi tidak kehabisan akalnya. Pria itu langsung menarik sebelah tangan istrinya sehingga membuat wanita itu terjerembab tepat di atasnya.
"Mas!" pekik Nessa sedikit terkejut karena aksi suaminya.
"Cuma morning kiss kok, enggak lebih. Lebihnya biar nanti malam aja." ucapnya disertai kerlingan matanya sebelas. Nessa langsung meringis pelan, membayangkan perkataan suaminya barusan. Setiap hari Nessa sudah kenyang dengan tingkah dan tingkat kemesuman suaminya yang kian menjadi. Apakah setiap laki-laki seperti itu kalau sudah mendapat madunya?
Disaat otak Nessa tengah berpikir dan berpetualang, tiba-tiba hidungnya terasa pedas saat tangan kejar suaminya menjepit ujung hidupnya.
"Hayooo, mikirin apa?" goda Endi berhasil menimbulkan semburat merah di pipi Nessa.
"E-enggak." tampik Nessa berusaha tenang.
"Masa? Pasti lagi mikir kotor kan? Maksud Mas tuh lebih nanti malam itu kita perbanyak sholawat dan istighfar. Nanti malam jum'at loh. Sunnah rosul." kali ini bukan hanya menggoda, tapi, Endi secara terang-terangan mengatakan persoalan malam jum'at itu yang katanya sunah rosul bagi semua pasangan halal. Yang belum halal, silahkan gigit jari aja sambil ngebayangin sendiri.
"Mana ada aku mikir kotor. Yang ada tuh Mas suka su'udzon sama istri sendiri." terang Nessa tetap kekeuh.
"Iya, iya, kali ini Mas ngalah aja sama istri tercinta ini." Endi menjepit pelan ujung hidung Nessa menggunakan jari jempol dan telunjuknya. "Ade udah mandi?" tanya Endi sembari mengelus pelan punggung belakang istrinya.
"Belum. Lepasin dulu!" titah Nessa bergerak gelisah. Dirinya mencoba untuk lepas dari jeratan suaminya yang saat ini menyekapnya erat.
"Sayang, mandi bareng yuk!" tutur Endi tiba-tiba. Nessa membalasnya dengan gelengan kepala.
"Gantian, Mas." tolak Nessa.
"Sayang, kamu tau gak? Manfaatnya banyak loh kalau melakukan intim di pagi hari. Salah satunya bisa membuat kita terhindar dari stres. Baik juga untuk kesehatan dan sistem kekebalan tubuh." kalau sudah begini bagaimana Nessa bisa menolak? Lagi pula sah sah saja bagi mereka untuk melakukan hal apapun tapi masih dalam batas agama.
Tau bagaimana reaksi Endi saat ini? Ya bisa dikatakan seperti kucing kelaparan yang diberi makanan ikan.
.
.
.
"Baiklah anak-anak. Mungkin materi kita cukup sampai di sini mengingat waktunya sudah habis. Jangan lupa tugasnya besok sudah harus ada di atas meja saya. Sekian terimakasih, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." kelas yang awalnya ramai kini jadi sunyi seiring dengan mereka yang sudah bertaburan keluar kelas.
Tiba-tiba seorang gadis cantik berkacamata menghampiri meja Nessa. "Hai, Nes. Kita ke kantin yuk!" ajak gadis yang mengenakan kacamata.
Nessa hanya mengangguk lalu membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas tote bag berwarna putih polos miliknya.
Keduanya berjalan beriringan melewati banyak sekali mahasiswa yang berlalu lalang.
"Eh, aku ke perpustakaan dulu ya. Ini lupa mah ngembaliin buku yang waktu lalu aku pinjam." seru Nessa yang tiba-tiba teringat pada buku di dalam tasnya yang tadi pagi dia bawa. Rencananya Nessa akan mengembalikan buku itu ke tempat semulanya, yaitu perpustakaan kampus.
"Oh, iya, iya. Aku temenin ya? Sekalian mau cari buku buat referensi tugas dan nambah ilmu." keduanya saling mengangguk dan berjalan bersamaan menuju perpustakaan. Sebelum masuk, mereka terlebih dahulu menunjukkan Kartu Tanda Mahasiswa atau biasa yang disingkat KTM. Fungsi KTM salah satunya adalah sebagai akses untuk keluar masuk perpustakaan, atau meminjam dan mengembalikan buku.
Tujuan mereka yang awalnya ingin pergi ke kantin pun diurungkan. Keduanya kini tampak asik berkeliling memutari rak-rak buku.
"Nanti kita ke cafe depan aja gimana?" saran Tiara, teman barunya yang sudah dua bulan ini berkenalan dengannya semenjak awal masuk kuliah, ya bisa dibilang bertemu pas masa ospek.
"Boleh aja. Eh ya, habis ini kita gak ada mata kuliah lagi kan?" tanya Nessa yang dibalas anggukan oleh Tiara.
"Kenapa emangnya?" tanya Tiara.
"Bukan apa-apa. Tiba-tiba kepikiran aja mau jenguk mertua." ujar Nessa pelan, takut ada orang lain yang mendengarnya. Untuk status, Nessa tidak menutupinya sejak mendaftarkan dirinya ke Universitas. Tapi, dia cukup diam saja dan menjawab ketika ada yang bertanya. Dan selama beberapa bulan menjadi mahasiswa, baik Tiara maupun teman-temannya belum mengetahui sosok dari suami Nessa.
"Wuih. Asik kayaknya." celetuk Tiara takjub.
"Hehe, ya gitu. Eh ya, kalau kamu mau ikut juga boleh kok. Lagian sepi juga kalau aku sendiri yang jenguk, biasa ditemani mas suami."
"Emmm... emangnya boleh? Takutnya sih ngeganggu waktu kamu gitu." Tiara sepertinya agak ragu untuk menerima tawaran dari Nessa.
"Gak masalah. Tapi, kamu ada waktu kan? Kalau setuju, nanti habis dari sini kita langsung aja berangkat." untuk kedua kalinya mereka gagal untuk makan bersama baik di kantin maupun di cafe depan kampus.
"Oke lah kalau gitu. Aku ngikut, sekalian pengen kenalan sama keluarga kamu. Siapa tau kan masih ada yang glowing." seru Tiara dengan centilnya.
Nessa pun hanya tertawa pelan. "Ada kok, Ra. Cowok, sama kayak mas suamiku. Tapi, jangan pangling ya." goda Nessa tiba-tiba kepikiran dengan saudara kembar suaminya yang sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya.
.
.
.
Hai ges, update nya aku selang-seling ya wkwk. Mungkin kalau aku up di sini, tak up di sana, up di sana dan mungkin tak up di sini. Biasa, baru ini aku ngetik dari pagi tadi. Soalnya sibuk, jari kerasa kriting ni, dari pagi nulis mulu, beda kalau sekarang,nulis pake ketik di keyboard😁🤣🤣