
Angel membuka matanya, hal pertama yang ia lihat adalah langit langit putih. Angel menatap sekelilingnya ia menyadari dirinya tengah berada di ruang Uks.
Angel meringis memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Apa kau sudah baik baik saja?" Angel menoleh kearah pria yang duduk di sofa.
"Daniel. Sejak kapan kau disini?" Tanya Angel dengan nada sedikit ketus. Daniel menatap Angel masih dengan tatapan dinginnya.
"Kau pingsan dan aku menjagamu. Apa itu salah?" Hati Angel berdenyut sakit mendengar perkataan kasad Daniel.
"Daniel, ada apa dengan mu? Kau sangat berubah"
Daniel tidak merespon perkataan angel. Ia mengambil mangkuk dan segelas air untuk Angel.
"Makanlah, lalu minum obatmu" Angel menatap kesal kearah Daniel, ia menepis uluran mangkuk itu.
"Aku tanya kenapa kau berubah? Kau berbeda Daniel"
"Sudahlah Angel, jangan membahasa hal yang tidak penting. Cepat habiskan makanan mu dan minum obatmu"
"Aku tidak menyangka kau menjadi seperti ini. Katakan apa salah ku Daniel!" Air mata Angel mulai menetes. Daniel merasakan sesak di hatinya ketika melihat Angel menangis.
"Sudahlah jangan menangis"
Angel tidak memperdulikannya, ia menangis meraung raung sambil memaki maki Daniel.
"Jangan menangis katamu? Lalu, apakah aku harus tertawa? Apakah aku harus tertawa saat kau mengataiku 'murah' saat kau memberikan tatapan dingin dan perkataan kasar mu? Katakan apa yang harus aku lakukan"
"Cukup Angel! Jangan merasa paling tersakiti! Apa kau pikir aku bahagia? Kau pikir aku tidak terluka melihat kedekatan mu bersama guru sialan itu huh? Aku jadi meragukan perasaanmu padaku Angel" Angel membeku mendengar perkataan Daniel. Ia tidak menyangka inilah yang Daniel pikirkan tentangnya.
"Jika memang kau tidak mencintaiku lalu untuk apa kau meresponku selama ini. Aku benci jika seseorang memberiku harapan palsu. Kau membuat seakan hanya ada aku didalan hatimu tapi ternyata tidak. Kau memang tidak pernah mencintaiku Angel. Penyesalan terbesarku adalah mencintaimu.
Camkan itu!"
Angel merasa perih dan sakit di hatinya. Ia tidak sanggup mengutarakan betapa hancurnya perasaanya saat ini. Daniel meninggalkannya begitu saja tanpa peduli Angel menangis dalam diam di ruangan itu.
Daniel berjalan dengan langkah tegap ia menatap tajam kepada siapapun.
"Aku tenggelam pada perasaan yang tidak pernah ada" Guamnya.
Disisi lain Erlyn tengah duduk tenang di bangkunya di temani Emma.
"Erlyn apa kau tidak melihat keadaan Angel. Dia pingsan tadi" Tanya Emma.
"Aku akan melihatnya nanti"
mereka terdiam cukup lama
"Erlyn, apakah Daniel dan Angel masih berhubungan?"
"Entahlah Emma, kenapa kau menanyakannya?"
"Aku memperhatikan mereka akhir akhri ini, interaksi mereka tidak seperti biasanya. Daniel yang semula sangat peduli dengan Angel kini hanya memberikannya tatapan Dingin. Bukankah itu sangat aneh?"
"Tidak ada yang aneh dari itu semua. Bukankah itu biasa? Pertengkaran bisa terjadi di setiap hubungan. Mereka pasti bisa menyelesaikannya" Jelas Erlyn. Emma melihat Erlyn sambil bertanya tanya. Mengapa tidak ada khawatir atau perasaan semacam itu dari Erlyn.
Bukankah dia sahabatnya? Lalu kenapa dia terlihat sangat tenang Batin Emma.
Disi lain Angel terbaring tidak berdaya, tubuhnya sangat lemas ia lapar dan kepalanya pusing. Angel menusap air matanya dengan kasar. Pertanyaan itu selalu muncul di benak Angel. 'Apakah Daniel membenciku?'
Peerhatian Angel teralih ketika suara berat itu memanggilnya.
"Mr. William" lirih Angel
"Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa kau sudah baikAngelWilliam berjalan mendekati Angel. Ia meletakan punggung tangannya di kening Angel. William menautkan alisnya
"Setelah maag mu kambuh sekarang kau malah demam" William menatap Angel dengan seksama, wajahnya tampak pucat dan matanya sembab
"Apakah kau sedang menangis?"
Angel memalingkan wajahnya lalu mengusap sisa sisa air matanya.
"Tidak sir, sir bolehkan saya ijin pulang saya tidak mengikuti pembelajaran hari ini saja" William tampak menimang nimang keputusan. Lalu mengagguk.
"Kau boleh pulang setelah menghabiskan makananmu dan meminum obatmu"
"Saya menyuruhmu makan disini bukan dirumah. Cepat habiskan makananmu dan saya akan mengantarmu pulang"
Angel menggelengkan kepalanya.
"Tidak Sir, saya akan pulang sendiri" Angel menunduk hormat setelah menolak tawaran William"
"Kau pikir saya sedang menawarimu? Itu adalah perintah!"
Angel menghela nafasnya, percuma menolak pria ini karna sepertinya dia tidak mengerti dengan kalimat penolakan. Toh juga ia sedang sakit bagaimana jika nanti dia pingsan dijalan atau tidak bisa menemukan kendaraan untuk kembali kerumahnya.
"Apa hanya aku yang merasa kau sangat aneh akhir akhir ini?"
"Arlab benar, kau tampak aneh teruatam kepada Angel"
"Diamlah, aku sedang tidak ingin bicara" Kenzo mengelus bahu Daniel.
"Jika kau memiliki masalah bicarakanlah baik baik. Kau bisa menyakiti perasaanya jika seperti ini" Daniel menatap sinis kearah Lardo
"Apa dia pernah peduli jika aku yang tersakiti?"
"Apa yang kau katakan Daniel, apa selama beberapa tahun kalian dekat kau belum mengenalnya. Apa kau lupa bagaimana perhatiannya Angel kepadamu huh?"
"Apa kau membelanya sekarang Kenzo?"
Daniel berdiri lalu meninggalkan ketiga temannya begitu saja.
Disi lain Angel kembali kekelasnya ditemani William. Ia harus melewati lautan bisika bisikan gaib dari koridor sekolah. Angel menahan sakit hatinya ketika mereka berkomentar buruk kepanya.
"Percepat jalan mu Angel, saya tidak memiliki banyak waktu" Angel menghela nafasnya lalu mempercepat langkahnya.
Rasa pusing kembali menyerang Angel hingga akhirnya Angel hampir ambruk. Untungnya lengan kekar William sigap menangkapnya reflek Angel mengalungkan tangannya di leher William selama beberapa detik.
"Sepertinya kau tidak bisa melanjutkannya hingga dikelas. Saya akan menyuruh seseorang mengambilkan tas mu"
Angel mengagguk.
"Ah Daniel, kemarilah" Angel menegang ketika nama Daniel lah yang William panggil. Sekilah Angel melirik kearag Daniel yang mendekatinya, ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang ketika Daniel berdiri di depannya.
"Ada yanh bisa saya bantu sir?"
Daniel mencuri pandangan kearah Angel yang menunduk. Hatinya kembali berdenyut nyeri ketika melihat wajah pucat Angel.
"Tolong ambilkan tas Angel dikelas, dia tidak bisa mengambilnya"
"Yes sir"
Angel mengusap air matanya yang jatuh, ia tidak sanggup berdekatan dengan Daniel. Tatapan dinginnya membuat Angel terluka.
"Tetaplah disini, saya akan mengambil kunci mobil saya"
Angel mengagguk sebagai jawaban.
Beberapa saat kemudian Daniel datang membawa tas Angel dan menjulurkan kepada Angel.
Tubuh Angel menegang ketika tangan Daniel mengelus rambutnya.
"Istirahatlah diirumah, jangan memikirkan hal lain" Angel menatap manik Daniel. Meski member perkataan yang hangat tatapannya masih sama tetap datar dan dingin.
Angel menerima uluran tasnya. Setelah itu Daniel langsung pergi. Disaat yang bersamaab William datang kearahnya membawa kunci mobil.
"Ayo"
Angel mengukuti William dari belakang. Angel menyadari dari kejauhan Daniel mesih memandanginya. Entah apa yang dipikirkan pria itu.
"ku harap pilihan mu yang terbaik Angel"
-----
DANIEL