My Teacher

My Teacher
MT part 18



"Masyaa Allah, anak Mami cantik banget." puji Mami Hana pangling saat melihat penampilan putrinya.


Nessa hanya tersipu malu. Biar bagaimanapun juga Nessa tetaplah Nessa yang kalau dipuji pasti malu.


"Mami juga gak kalah cantik kok. Tuh liat! Papi aja ganteng, jadi serasi."


Acaranya hanya sederhana yang dihadiri orang-orang terdekat saja, mungkin keluarga Nessa tentunya.


Mami dan Papinya memakai pakaian senada, sementara Nessa memakai rok dan atasannya blouse polos berwarna peach dipadukan jilbab berwarna yang senada dengan bajunya.


"Udah? Sayang, kadonya udah disimpan di bagasi?" tanya Papi Ibra.


"Aman, Pi." jawab Nessa.


"Ya udah, kita berangkat sekarang."


Mereka bertiga langsung menaiki mobil dengan Nessa duduk sendiri di jok belakang, sedangkan Maminya duduk di samping Papinya. Selama perjalanan, Nessa tampak memainkan ponselnya. Gadis itu tengah chattingan dengan Vella. Sesekali ia tertawa membuat Maminya yang berada di depan hanya menggelengkan kepala.


Acaranya berlangsung di sebuah restoran mewah bernuansa klasik. Sesampainya di sana Papi Ibra langsung memarkirkan mobilnya. Lalu mereka semua turun bersamaan.


"Rame ya, Mi?" ujar Nessa saat mereka baru memasuki restoran.


"Enggak kok, ini cuma dihadiri oleh orang-orang terdekat aja."


Nessa hanya mengangguk mengerti.


"Eh! Mereka dateng tuh." ucap Winanti saat melihat Nessa dan kedua orang tuanya mendekat.


Dan mulailah para wanita cipika-cipiki, salam-salaman, gosip-gosipan.


"Kamu cantik banget, Sayang." puji Winanti yang juga pangling melihat Nessa. Padahal gadis itu hanya memakai make up yang natural, tidak menor-menor. Lalu, kenapa semuanya sampai selebay itu?


"Makasih, Ma. Mama juga cantik."


"Ah bisa aja kamu. Duduk dulu yuk!" ajak Winanti.


"Tasya mana, Ma?" tanya Nessa saat tidak melihat kehadiran bocil itu. Ya, bocil. Nessa memanggilnya bocil. Saat ini Tesya masih sekolah, menduduki kelas 2 SMP.


"Ada kok, lagi ditoilet. Tadi minta dianterin sama Abangnya."


Gadis itu mengangguk.


Sesaat kemudian suasana menjadi sunyi saat Resa datang sambil memukul gelas menggunakan sendok hingga menimbulkan suara dentingan yang cukup nyaring.


Dan saat itulah Nessa langsung berbisik ke Maminya.


"Mi, Nessa mau pipis." bisik Nessa pelan.


"Yuk! Mami antar." ucap Mami Hana.


Nessa menurut, karena memang dirinya juga tidak tau di sebelah mana arah toilet, gadis itu juga takut nantinya ia akan tersesat. Dan itu pasti akan sangat merepotkan.


Sementara di ruang tersebut, acara pembukaan sudah dimulai.


"Baik semuanya. Terima kasih karena sudah menghadiri acara ini. Saya selaku orang tua dari anak saya, sangat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah berkenan menghadiri acara peringatan ulang tahun anak saya yang bernama Dimas Endi Rey yang ke-26 tahun. Semoga acara ini diberkati oleh Allah SWT. Aamiin ya rabbal alamin."


🌼🌼🌼


Nessa keluar dari toilet dengan raut wajah lega. Begitu keluar, Nessa menemukan Maminya tengah menjaga pintu toilet.


"Udah, Sayang?" tanya Mami Hana.


"Udah, Mi."


"Ya udah, yuk balik lagi. Pasti acaranya udah dimulai."


Nessa mengangguk, ia menggandeng lengan Maminya. Sesampainya di tempat, mereka sudah diberi pertanyaan oleh Winanti.


"Dari toilet, Win. Nessa tadi kebelet."


"Owh, ya sudah."


Kini saatnya sesi ucapan selamat untuk yang berulang tahun. Tamu-tamu yang datang segera menaiki atas panggung dan memberikan selamat. Kini saatnya Nessa yang mengucapkan selamat.


"Hei, Cil. Selamat ultah ya. Semoga panjang umur, sehat selalu, semoga apa yang dicita-citakan tercapai. Aamiin." ujar gadis itu sambil menyerahkan kado kepada Tasya.


Semua anggota keluarga menatap Nessa heran dan bingung tentunya.


"Kak, bukan aku yang ulang tahun." bisik Tasya pelan.


"Haa? Memangnya siapa?" tanya Nessa, wajahnya sudah memerah menahan malu. Bisa-bisanya ia salah sasaran.


"Tuh!" Tasya mengkode Nessa agar melihat ke arah samping Tasya. Berdiri seorang pria dengan stelan baju batiknya sambil menatap tamu-tamu.


Nessa meringis, ia berbalik dan melihat kedua orang tuanya, Winanti serta Resa yang menatapnya cekikikan. Tidak ada yang berniat membantunya saat ini.


"Oh, salah ya? Berarti yang ulang tahun itu--"


"Iya, Kak. Bang Rey."


Rasanya Nessa seperti disambar petir dengan kekuatan volt tinggi.


"Mati aku!" batin Nessa meringis sembari menundukkan kepalanya.


"Nessa?"


Ah, ya. Suara itu. Rasanya Nessa ingin tenggelam di dasar laut. Nessa mulai mengangkat wajahnya dan melihat sosok pria itu.


"B-bapak yang ultah?" tanya Nessa dengan bodohnya.


Pria itu hanya mengangguk, netranya teralihkan ke tangan Nessa yang memegang sebuah kado.


"Untuk saya?" tanya Endi meneliti.


"Ah, bukan, Pak, bukan. Ini, i-ni... buat Tasya. Ya, buat Tasya. Nih, Cil! Kakak kasih ke kamu. Semoga suka ya." ujar Nessa gelagapan sendiri.


"Owh, bukan ya?" sahut Endi hanya mengangguk-angguk. Tidak dipungkiri ia juga merasa kecewa.


"Hbd ya, Pak." ujar Nessa yang langsung berlari ke arah Mami dan Papinya.


"Mi, Pi. Kok gak bilang Nessa sih?" wajahnya sudah cemberut serta bibir yang manyun.


Mami dan Papinya malah tertawa duluan.


"Kamu kan gak nanya, Sayang. Jadi, mana Mami sama Papi tau." jawab Mami Hana membuat Nessa dongkol.


"Nessa malu tau, Mi, Pi. Yakali Nessa salah orang, huh. Sebel."


"Hahaa, kan kamunya gak tanya dari awal. Makanya Papi gak bilangin. Kadonya kamu kasihin?" goda Papi Ibra


"Nessa kasihin ke Tasya." balas Nessa ketus, sambil melipat tangannya di dadanya.


"Kan ada lagi tuh kadonya. Yang kamu pilih tadi sore." seru Papi Ibra yang memang benar. Memangnya barang-barang tersebut untuk apa dan untuk siapa tentunya? Sedangkan Papinya saja sudah menyetok banyak di lemari. Masa iya Nessa yang memakainya?


"Nanti aja, Pi. Sekarang Nessa masih malu. Nessa laper, mau makan. Mami, ayo temenin Nessa makan!" ucap Nessa menggebu-gebu.


"Hahaha, iya, iya. Mami temenin. Win, aku nemenin Nessa dulu ya, laper katanya." ujar Mami Hana memberitahu Winanti.


"Mami, jangan kenceng-kenceng, Nessa tambah malu!"


Sontak semuanya tertawa melihat tingkah laku Nessa yang menurut mereka sangat lucu. Bagaimana tidak, dalam waktu kurang satu jam gadis itu sudah membuat malu.


"Makan yang banyak, Sayang." sahut Winanti. Nessa hanya tersenyum kaku menanggapi.