My Teacher

My Teacher
MT part 17



Keduanya duduk saling berhadapan. Saat ini mereka berada di ruang tamu, dan masih dalam pantauan Winanti, begitu juga dengan Wulan yang duduk tidak jauh dari mereka.


Wulan itu sebenarnya adalah teman seangkatan Endi. Sebelumnya keduanya sempat dekat, namun takdir berkata lain. Ternyata yang mendapatkan Wulan adalah Abangnya sendiri. Keduanya sudah sepakat untuk merahasiakan itu semua. Dan mereka pun menjalin hubungan antar saudara ipar. Endi juga sudah berhasil melupakannya.


Ingat minggu kemarin? Saat Endi mendapat telfon. Iya, itu dari Wulan. Wanita itu meminta Endi untuk menjemputnya di bandara dan mengantarkannya ke rumah Tante Wulan.


"Saya harap ini dapat kamu rahasiakan." ujar Endi diakhir kalimatnya setelah mereka mengobrol banyak.


"Saya janji, Pak." balas gadis itu yang kini sudah lebih rileks mengobrol dengan Endi.


"Santai aja, Nessa. Saya gak makan orang kok, kenapa kamu harus setakut itu?" ucap Endi sedikit terkekeh.


"T-takut? Saya gak takut, Pak." sangkal Nessa akan teori Endi.


"Lalu?"


"Bukan apa-apa, Pak. Kalau gitu saya ke sana dulu, Pak. Duluan." Nessa langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju Winanti. Gadis itu langsung tersenyum saat melihat Enze tengah merentangkan tangannya saat melihat kedatangan Nessa. Rupanya balita itu sudah lengket dengan Nessa.


Sementara Endi masih dalam posisinya, duduk sambil termenung.


"Nessa, saya sudah melakukan kesalahan besar. Dan saya juga harus bertanggung jawab terhadap kamu. Saya dan kamu... kita."


🌼🌼🌼


Hari-hari berlalu, kini Nessa sudah kembali ke kediamannya. Soal kejadian itu akhirnya sudah sampai ke telinga Mami dan Papinya. Awalnya Nessa takut, tapi, bayangan dirinya akan di marahi habis-habisan sudah lenyap berganti dengan sebuah pelukan. Mami Hana hanya memberinya sebuah pelukan dan mengatakan kepada Nessa agar tidak terlalu memikirkan kejadian itu.


Dan untuk Nessa, gadis itu selalu menghindari gurunya, baik di sekolah maupun di rumah saat Nessa masih tinggal di kediaman Winanti.


Saat ini Nessa tengah berbaring di kasurnya yang empuk. Kasur yang sudah lima hari ini tidak ia temui. Gadis itu tampak sedang melakukan panggilan video dari sahabatanya, Vella. Keduanya saling bercerita sambil bercanda hingga suara tawa mereka terhenti saat Mami Hana membuka pintu kamar Nessa pelan, karena tidak ada sahutan dari dalam akhinya Mami Hana membuka pintu kamar Nessa yang tidak terkunci.


"Eh! Bentar ya, Vel. Gue tutup dulu soalnya ada Mami."


"Oke, Nes." jawab Vella dari sebrang sana. Mereka pun mengakhiri sesi curhatannya.


Nessa menegakkan tubuhnya sambil duduk di atas kasurnya saat sang Mami mendekatinya dan duduk di sisi kasur.


"Habis ngobrol sama siapa sih sampe Mami panggil aja gak denger?" tanya Mami Hana lembut.


Nessa hanya menyengir dengan khasnya. "Vc sama Vella, Mi. Maaf, tadi gak kedengeran karna asik ngobrol."


"Gak pa-pa, Sayang. Mami cuma mau ngasih tau pesan dari Mama Wina. Dia bilang kita harus dateng diacara ulang tahun anaknya."


Nessa mengangguk-angguk. Lalu gadis itu teringat akan anak bungsu Winanti yang baru datang dia hari yang lalu. Orangnya cantik, baik, tidak sombong. Karena Winanti sempat mengenalkan kepada anak bungsunya yang baru datang dari Depok. Hanya pergi berlibur saja dan nanti akan kembali lagi karena sekolah masih berlangsung.


"Iya, Mi. Tasya belum pulang ke Depok kan?" tanya Nessa mengenai anak bungsu Winanti yang bernama Tasya.


"Belum, Sayang. Besok kamu ikut Mami ya? Kita nyari kado."


"Kira-kira nanti Nessa ngasih apa ya?" ujar gadis itu menerawang.


Mami Hana mengelus pelan rambut Nessa lalu melayangkan satu kecupan di keningnya.


"Terserah kamu. Istirahat ya? Udah malam, Mami ke kamar dulu."


"Siap, Mami. Tidur yang nyenyak, Mi."


"Iya, Sayang."


Nessa berpikir bahwa anak Winanti yang berulang tahun adalah Rasya, anak bungsu Winanti. Gadis itu tidak bertanya lagi siapa yang akan berulang tahun, dan semoga saja ia tidak salah sasaran saat mengucapkan ucapan selamat ulang tahun?


🌼🌼🌼


Setelah pulang sekolah, Nessa dijemput oleh Mami Papinya. Karena sebelumnya Nessa berangkat diantar oleh mereka.


Masih dengan seragam sekolahnya, Nessa diajak pergi ke mall untuk mencari kado.


"Nessa ngasih apa ya?" gadis itu bermonolog sambil berjalan melewati toko-toko yang ada di dalam mall tersebut.


"Kemarin Tasya bilang, dia sukanya itu sepatu. Ha iya sepatu!" pekik Nessa senang saat telah menemukan barang kesukaan Tasya.


Sementara Mami dan Papinya saling pandang. Dan mereka pun paham, Nessa berpikir yang berulang tahun adalah Tasya.


"Mi, Pi. Temenin Nessa milih sepatu sini!" pinta Nessa sembari menarik tangan Mami Papinya.


"Pelan-pelan, Sayang. Barangnya gak bakalan habis kok, kalau perlu mallnya Papi beli buat kamu."


"Ih! Jangan, Pi. Mentang-mentang banyak duit, asal nyebut aja." balas Nessa tapi masih fokus memilih sepatu.


"Ini aja kali ya? Mi, bagus gak?" tanya Nessa menunjukkan sepatu pilihannya.


"Bagus-bagus." jawab Mami Hana mengangguk.


Setelah memilih kado dari Nessa, kini saatnya Mami dan Papinya memilih kado. Keduanya memasuki kawasan toko pria. Nessa sempat bingung dan menanyakannya.


"Sekalian buat Rey. Kamu juga pilih, Sayang." tutur Papi Ibra sambil melihat-lihat jam tangan.


Nessa tidak banyak tanya, dirinya juga ikut memilih. Nessa terpisah dengan orang tuanya, gadis itu berjalan menuju jajaran dasi.


Tangannya bergerak menyentuh dasi-dasi yang terpajang di sana. Dan pilihannya jatuh pada dasi biru mengkilap. Entah kenapa ia jadi membayangkan Endi yang memakai dasi itu, mungkin cocok untuknya. Tanpa ragu Nessa mengambilnya, dua, ya gadis itu memilih dia warna. Warna berbeda dan motif berbeda. Yang biru mengkilap motif polos dan yang satunya biru gelap dengan motif garis-garis dipadukan dengan warna silver.


"Di sini rupanya." seru Mami Hana khawatir saat putrinya entah pergi ke mana.


"Nyari apa sih?" tanya Mami Hana.


Nessa mengunjukkan dua barang itu.


"Itu? Mau cari lagi?" tawar Mami Hana.


"Sini, Mi." Nessa menarik tangan Maminya pelan, memasuki toko pakaian pria.


Mami Hana hanya memantau Nessa saat gadis itu memilih kemeja putih polos. Tanpa sadar wanita itu tersenyum. Dan tiba-tiba ia dikejutkan dengan kedatangan Papi Ibra.


"Kenapa senyum-senyum sendiri, Mi?" tanya Papi Ibra ikut kepo.


"Tuh! Liat Nessa, Pi." Mami Hana menunjuk Nessa yang tengah sibuk memilih pakaian.


"Syukurlah. Jadi, kalau dia salah orang kan jadi gak bingung mau kasih kado apa."


Nessa pun datang sambil membawa kemeja putih polos lalu memberikannya kepada Papinya.


"Buat Papi?" tanya Ibra salah sangka.


"Kemeja Papi udah banyak. Itu bukan buat Papi, tadi kan Papi nyuruh Nessa buat nyari lagi."


Papinya hanya ber'oh iya saja.


"Udah?"


"Satu lagi, Pi."


Mami dan Papinya saling pandang. Tidak banyak tanya mereka mengikuti langkah Nessa dari belakang. Ternyata Nessa memasuki toko jam tangan. Sedikit merutuki sifat putrinya yang terlalu ribet itu. Kenapa tidak barengan dengan Papinya tadi saat memilih jam tangan. Eh gadis itu malah pergi sendiri ke toko lain.


"Mirip kamu, Mi." ledek Papi Ibra.


Mami Hana hanya melotot tidak terima. Ya, meskipun semuanya benar.