
"Sayang, bangunin Rey gih! Udah mau ashar soalnya, Papi ngajakin jamaah di masjid." titah Mami Hana sambil memencet remot televisi.
"Iya, Mi." jawab gadis itu.
Nessa yang saat itu tengah berbaring di sandaran sofa langsung bangkit dan berjalan menuju tangga yang menghubungkan ke kamarnya.
Begitu pintu kamarnya dibuka, tampak pria yang kini berstatus suaminya masih tertidur pulas. Apakah begitu letihnya hingga sampai saat ini dia belum bangun?
Perlahan gadis itu mendekat. Ia berhenti tepat di sisi kasur Endi tertidur. Nessa memandangi lekat garis-garis ketampanan suaminya yang baru ia sadari karena selama ini, inilah pertama kalinya ia melihat secara dekat dan dalam jangka waktu yang lumayan panjang.
Nessa hampir lupa dengan tugas awalnya yang ingin membangunkan Endi, eh malah dirinya terpana.
Tangannya terulur menyentuh lengan kekar itu dan menggoyangkannya perlahan.
"Pak."
Satu kali panggilan tidak membuat tidurnya terusik.
"Pak, udah mau ashar loh."
"Mmmm... iya."
Perlahan kedua matanya terbuka dan sedikit menyipit karena menyesuaikan dengan cahaya.
Sementara menunggu Endi bangun, Nessa bersiap-siap. Menyiapkan pakaian sholat untuk suaminya. Hal itu adalah hal pertama yang Maminya ajarkan. Mulailah dari hal yang paling terkecil, maka nanti seiring waktu akan berkembang.
Saat kembali, Nessa menemukan suaminya terduduk di atas kasur, namun, matanya kembali terpejam.
"Pak, Nessa dulu loh ini yang masuk kamar mandi, ya?"
Saat itu juga Endi langsung membuka kedua matanya. Dengan malas pria itu beranjak dari tempat semulanya. Menyambar handuk dan bersiap-siap untuk mandi.
Sementara itu, Nessa juga begitu. Malahan gadis itu sudah lebih cepat.
"Mau ke mana?" tany Nessa sambil memasang wajah horornya.
"Ya mandi." jawba Endi masih mengumpulkan nyawanya.
"Nessa dulu baru Bapak. Tadi udah dibangunin dari awal, eh malah tidur lagi. Resiko loh ya!"
Endi tidak merespon perkataan Nessa barusan.
"Ya udah, bareng aja."
Kedua mata Nessa hampir keluar, ia tidak bisa habis pikir bagaimana bisa pria itu berucap tanpa berpikir lebih dulu.
"No!" ujar Nessa menolak mentah.
"Kenapa? Bukankah kita sudah halal, malahan nantinya akan mendapatkan pahala."
"Mimpi aja!"
Blam
Pintu kamar mandi ditutup kasar oleh Nessa. Sementara Endi hanya terkekeh karena sudah berhasil mengerjai istrinya. Ah, pria itu baru sadar. Hal barusan bukanlah bagian dari dirinya? Lalu kenapa bisa? Apakah efek kata sah yang tadi pagi terucap.
🌼🌼🌼
"Gimana, Rey?" tanya Papi Ibra saat mereka dalam perjalanan pulang. Jalan kaki? Ya tentu saja. Alangkah baiknya seorang laki-laki yang hendak pergi ke masjid itu jalan kaki. Karena setiap langkah mereka pasti akan menjadi amal ibadah.
"Apanya yang gimana, Pi?" tanya Endi balik.
"Kamu sama Nessa? Papi cuma berpesan aja sama kamu, tolong sedikit bersabar menghadapi Nessa. Papi tau, sekarang pasti kalian merasa asing. Perlu kamu tau, dulu saat Papi menikah sama Mami, kami juga dijodohkan."
Endi sedikit kaget dibuatnya.
"Papi juga tau, pasti kamu nanti akan tersiksa. Yang penting jangan kebobolan. Kamu ngerti kan apa yang Papi katakan?"
"Iya, Pi. Rey ngerti."
Jelas Endi mengerti karena dirimu juga pria dewasa. Namun, Endi juga sedikit malu karena mertuanya membuka obrolan semacam itu.
Sontak Papi Ibra menghentikan langkahnya yang otomatis Endi pun ikut berhenti.
"Terserah kamu, Rey. Sekarang Nessa udah menjadi tanggung jawab kamu. Tapi, alangkah baiknya dirundingkan dulu. Dan juga apa kamu udah dapat lokasi?"
"Rey lagi nyari, Pi. Tolong bantu Rey."
Papi Ibra menepuk-nepuk bahu Endi dan memberikan senyumnya.
"Pasti. Pasti akan Papi bantu."
"Makasih, Pi."
Endi begitu bersyukur memiliki mertua yang sangat baik. Orang tuanya saja sudah baik, apalagi anaknya kan?
Tidak sadar mereka sudah sampai di kediamannya dan obrolan mereka pun terhenti begitu saja.
Endi dan mertuanya berpisah karena mereka masuk ke kamarnya masing-masing.
Saat masuk ke dalam kamar, Endi menemukan Nessa tengah melipat sajadahnya karena baru selesai melaksanakan sholatnya.
"Assalamu'alaikum."
"Eh? Wa'alaikumsalam."
Nessa segera mendekat, menyambar tangan Endi dan menciumnya. Sontak hal tersebut membuat hati pria itu berdesir.
Nessa belajar dari hal yang terkecil.
Endi juga membalas perlakuan Nessa dengan cara mengusap pucuk kepala gadis itu. Sangat asing, namun harus segera diasingkan agar tidak membuat hubungan keduanya renggang.
Nessa menjauh dan berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil pakaian ganti untuk suaminya.
"Terima kasih, istriku."
"Sama-sama."
Nessa langsung beranjak dari dalam kamar. Rasanya hatinya begitu goyah. Apa itu? Ia bagaikan istri yang sudah lama menikah. Padahal tadi Nessa mati-matian menahan gugup. Namun, semuanya harus ia singkirkan demi belajar menjadi istri yang baik dan sholehah.
"Hayo, kenapa senyum-senyum?"
Nessa segera merubah ekspresinya dan menatap pemilik suara dengan tatapan sebal.
"Papi ngagetin Nessa. " ujar Nessa manyun.
Papinya hanya terkekeh. Itu sangat lucu di matanya saat melihat putrinya yang seperti sedang dipergoki.
"Mami mana?" tanya Nessa.
"Ada tuh di kamar." jawab Papinya sambil meliriknya dengan tatapan meledek.
Nessa membalas tatapan Papinya dengan tatapan sengitnya, seperti biasa keduanya saling memperdebatkan hal yang tidak jelas.
🌼🌼🌼
Malam menyapa, setelah isya, anggota keluarga Nessa langsung masuk ke kamar. Bedanya kalau dulu setelah isya, Nessa dan orang tuanya selalu bercengkrama di ruang keluarga. Dan sekarang? Keadaan mungkin tidak lagi sama. Mami dan Papinya juga mengerti kalau putri mereka butuh pendekatan.
Nessa duduk bersandar di head board sambil memainkan ponselnya. Seperti biasa ia sedang chatting dengan Vella.
Sementara Endi duduk di atas sofa sambil memegang ponselnya entah memainkan apa. Keduanya sama-sama terdiam hingga Endi bersuara karena ia harus mengobrolkan hal yang penting dengan Nessa.
"Nessa, apa arti pernikahan ini untuk kamu?" tanya Endi setelah meletakkan ponselnya di sofa kosong di sampingnya.
Nessa segera menghentikan aktivitasnya, sebelumnya ia juga sempat mengabari Vella.
"Menurut Bapak?" tanya Nessa balik.
"Saya tau kita sama-sama canggung dan sama-sama asing. Kita menikah karna perjodohan. Menurut saya pernikahan itu hal yang tidak boleh disepelekan. Saya tidak mau adanya surat perjanjian yang seperti drama-drama di novel. Karna bagi saya, pernikahan itu cukup satu kali seumur hidup. Oleh karena itu, apa kamu mau menjalani pernikahan ini dengan ketentuan syariat islam? Belajar menerima, menghargai, memberi, dan belajar untuk mencintai hanya karena Allah semata. Ketika saya mengucapkan nama kamu di ijab kabul, mulai saat itu hingga seterusnya, saya sudah menjatuhkan pilihan saya kepada kamu. Saya akan belajar mencintaimu. Hanya karena Allah."
"Nessa, izinkan saya mencintaimu."