My Teacher

My Teacher
MT part 84



Keesokan harinya Vella langsung menjenguk Nessa. Gadis itu juga membawa mamanya. Orang tua mereka memilih keluar, memberi ruang untuk mereka mengobrol satu sama lain.


"Berapa lama lo di sini?" tanya Nessa tanpa adanya kecanggungan di antara mereka.


"Mungkin semingguan. Gue gak bisa lama." jawab Vella.


"Gak apa-apa. Seenggaknya lo udah nunjukin diri di depan gue." sahut Dena.


"Oh ya, gimana rasanya tinggal di negeri orang?" sambung Dena.


"Ya enggak gimana-gimana. Mungkin belum terbiasa aja. Biasanya kan ada orang tua dan temen yang nemenin. Tapi, di sana gue bener-bener sendirian gak ada temen." curhat Vella. Nessa langsung terkekeh pelan mendengarnya.


"Lagian udah ada yang deket kenapa milih yang jauh?"


"Pengen aja sih. Nyobain gimana rasanya jauh dari keluarga dan teman-teman. Ternyata rasanya gak seenak yang gue bayangin."


"Ya iyalah gak enak. Gue juga gak bisa nyalahin lo sih. Karena itu semua hak lo. Intinya gue cuma bisa ngasih support aja dari jauh. Dan do'ain semoga lo sehat selalu di sana."


"Aaaaaaa... gue jadi gak rela buat ninggalin lo." rengek gadis itu langsung memeluk Nessa mendrama.


"Ish! Manja banget perasaan." biarpun mengejek, Nessa tetap membalas pelukan sahabatnya. Ia mengusap-usap pelan bahu Vella untuk memberikan semangat.


"Biarin. Pokoknya kalo gue gak ada, lo harus janji buat jaga diri sendiri. Jangan diam aja kalo ada yang jahatin lo. Dan juga lo harus jagain dua keponakan ucul gue. Nanti kalo udah gede, mereka gue bawain banyak mainan. Bila perlu tiap hari sampai rumah lo penuh sama mainan." refleks Nessa melepaskan pelukannya dan menatap Vella aneh.


"Bikin sendiri kalo mau bawain mainan. Penuhin rumah lo aja sendiri, jangan rumah gue." balas Nessa.


"Pelit amat sih. Nanti gue ambil satu ya? Satunya buat lo." ucap Vella enteng.


"Enak aja. Anak juga anak gue. Yang ngandung gue, kenapa jadi lo yang mau ngambil?" protes Nessa.


"Kita kan sahabat. Anak lo juga anak gue. Beda lagi kalo suami, suami lo ya suami lo, suami gue ya suami gue."


"Udah ah, ngapain sih bahas yang random." ujar Nessa menyudahi.


"Mending kita makan aja. Udah lama kan gak makan bareng?"


"Boleh tuh." sahut Vella.


"Tapi, lo belum sembuh total. Lo makan ini aja." ujar Vella lagi sambil menyodorkan parsel buah yang ia bawa tadi.


Senyuman Nessa langsung surut begitu mengetahui Vella malah menyodorkan buah-buahan kepadanya. Jujur, Nessa ingin sekali makan makanan normal seperti bakso dan lainnya. Sedangkan di rumah sakit ia hanya makan bubur dan makanan yang tidak ada rasanya.


"Gini deh, nanti malam gue bawain makanan buat lo." mendengar itu membuat Nessa tersenyum sumringah.


"Beneran?" kata wanita itu bersemangat.


"Iya. Tapi, gue bawain makanan yang cuma boleh lo makan aja. No berminyak, ni pedas."


"Oke." jawab Nessa tidak mempermasalahkan.


.


.


.


Senyum Nessa seketika luntur saat ia membuka sebuah toples berukuran persegi panjang yang ternyata isinya tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Sedangkan Vella yang membawakan itu hanya tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Sesuai. Tadi siang gue tanya dokternya dan ya, dia bilang lo cuma boleh makan buah-buahan dan banyak yang mengandung magnesium. Jadi, gue bawain aja salad buah. Itu gue sendiri loh yang bikin. Lo bisa liat kan di situ tuh ada pisang, buah apel, alpukat, pepaya, stroberi. Trus ditambah apa tuh sayuran... eh bayam ya." tutur Vella panjang lebar.


Sedangkan di sofa, Endi menahan senyumnya melihat interaksi antara istrinya dan juga Vella.


"Makan kok. Enak kok, tadi Mama gue udah nyobain kok. Rasanya gak kalah sama masakan di restoran." ujar Vella lalu menusuk potongan buah alpukat menggunakan garpu lalu menyodorkannya ke mulut Nessa.


"Aaakkk dulu, beb. Ayo buka mulutnya." pinta Vella menuntun Nessa.


Bagaikan anak yang diberi perintah oleh ibunya, Nessa langsung membuka mulutnya. Menerima suapan dari Vella.


"Gimana? Enak kan?" tanya Vella meminta masukan dari Nessa terhadap rasa makanan yang ia buat sendiri.


Nessa masih terdiam sambil mengunyah potongan kecil buah alpukat itu.


"Lumayan." ujar Nessa menilai rasa makanan itu.


"Lumayan kok lahap." sindir Vella melihat Nessa yang entah sudah suapan ke berapa yang ia makan.


"Nih! Coba."


Vella membuka mulutnya saat Nessa menyodorkan satu potongan kecil buah pepaya.


Vella terdiam mencerna rasa salad buah buatannya. Ekspresinya seketika berubah menjadi aneh. "Bentar... ini, kok rasanya aneh ya?" lidahnya terus menyecap rasa yang tertinggal.


"Namanya juga salad. Ini enak kok. Gue kasih bintang 8 dari 10 bintang." koreksi Nessa.


"Tapi, emang enak kok." lanjut Vella.


"Pak Endi, mau gak?" tawar Vella kepada suami sahabatnya.


Endi yang sedang membaca majalah segera mengalihkan pandangannya menatap mereka. "Makan aja, jangan lupa habiskan." jawab pria itu.


"Oke deh, Pak."


*Drttt


Drttt*


Tiba-tiba ponsel dari dalam tas Vella bergetar. Gadis itu langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.


"Siapa?" tanya Nessa penasaran.


"Eemmmm... ini, orang yang ngurusin berkas gue di sini."


"Gue pamit dulu ya, Nes? Enggak apa-apa kan?"


"Hu'ummm... gak apa-apa. Mungkin ada yang penting."


"Besok gue ke sini lagi. Sekalian ajakin Tiara juga."


"Oke, hati-hati di jalan ya. Udah malam soalnya."


"Siap. Cepet sembuh ya." Vella menepuk-nepuk pelan ubun-ubun Nessa.


"Makasih." Nessa tersenyum, merasakan rasa kasih sayang seorang sahabat kembali.


"Pak Endi, Vella pamit dulu ya? Nitip Nessa."


Endi menutup majalahnya dan berdiri menghampiri keduanya. "Iya. Hati-hati di jalan."


"Siap, Pak."


Endi menatap istrinya setelah kepergian Vella. Pria itu tersenyum begitu melihat istrinya tersenyum menatapnya.


"Udah malam. Adek bobok ya?"


Nessa menganggukkan kepalanya.


Endi menarik selimut sampai sebatas dada Nessa. Pria itu menundukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya.


"Good nite, Sayang."


Cup


Endi mencuri ciuman singkat di bibir tipis istrinya. Ia tersenyum menatap Nessa yang tampak terpejam.


.


.


.


Vella langsung menemui orang suruhannya yang mengurusi berkas-berkas pentingnya. Mereka bertemu di sebuah restoran yang cukup ramai didatangi akhir-akhir ini.


"Ini berkas-berkasnya sudah selesai semua kan, Pak?" tanya Vella sembari membolak-balikkan kertas putih itu.


Laki-laki yang seumuran dengan orang tuanya itu menganggukkan kepala.


"Bapak tolong antar langsung ini ke rumah saya ya? Nanti ada orang tua saya yang ambil berkas ini begitu sampai di rumah."


Vella merogoh ponselnya dan mengetikkan sesuatu di sana.


"Semuanya sudah saya transfer ya, Pak."


"Baik, Nona. Terima kasih."


"Terima kasih kembali, Pak."


"Kalau begitu saya pamit dulu."


"Iya, Pak. Hati-hati."


Laki-laki itu langsung beranjak pergi meninggalkan Vella yang duduk sendirian di restoran itu. Gadis itu belum mau beranjak dari sana.


Sembari mengulur waktu, Vella memesan minuman dan cemilan untuk menemaninya bersantai. Suasana di restoran itu cukup sepi karena hari sudah cukup malam.


Tidak sengaja Vella melihat sepasang kekasih yang baru saja masuk ke dalam restoran. Namun, sepertinya sepasang kekasih itu tengah bertengkar. Itulah yang ditangkap oleh mata Vella. Lalu tiba-tiba mereka duduk tepat di meja di samping Vella. Suara keduanya jelas terdengar oleh Vella karena jarak mereka lumayan dekat. Beberapa kali Vella melirik dan tidak sengaja matanya bertabrakan dengan netra mata laki-laki itu. Vella langsung mengalihkan pandangannya.


Jujur, Vella tidak nyaman dengan sekitarnya. Ia yang awalnya ingin menikmati suasana malam yang sepi eh malah disuguhi pemandangan yang merusak matanya. Apalagi telinganya yang terasa geli mendengar panggilan yang membuatnya ingin muntah.


Vella yang merasa pusing langsung berniat untuk pergi ke toilet sekaligus ingin buang air kecil. Gadis itu meninggalkan tas serta ponselnya.


Namun, ketenangan Vella dirusak tidak sampai di situ saja. Sesampainya di toilet, ia malah mendengar suara-suara yang seharusnya tidak ia dengar.


"Ssshhhh... jangan di sini."


"Mumpung sepi, Sayang."


"Aaahhhhh, t-tunggu... itu ada orang yang masuk."


"Biarin aja. Kamu jangan berisik."


"Aakkhhh... shhtttt... pelan-pelan, Yank."


"Ini udah pelan juga, ouhhhhh..."


Suara-suara kotor itu memenuhi gendang telinga Vella. Ia memasang wajah sebalnya. Gadis itu mempercepat aktivitasnya di dalam toilet. Setelah selesai, Vella langsung keluar dari dalam sana dan menatap ngeri pintu toilet di sebelahnya. Yup, suara-suara itu berasal dari toilet sampingnya.


"Kayak gak ada tempat lain aja." Vella sampai dibuat geleng-geleng kepala. Walaupun ini bukan pertama kalinya ia mendengar suara aneh itu, namun, Vella selalu geli saat tidak sengaja mendengarnya. Vella paling sering mendengar suara-suara aneh itu saat ia berada di luar negeri saat di toilet kampus.


Dan yang membuat Vella hampir frustasi adalah saat ia kembali ke mejanya, pasangan kekasih tadi malah belum pulang dan masih saja bertengkar. Tampak wanita yang berpenampilan mencolok itu berusaha merayu sang pria. Sedangkan sang pria tampak acuh tak acuh.


Vella berjalan menuju mejanya. Saat ingin duduk kembali, tiba-tiba ada yang meraih tangannya dan menariknya sehingga ia terjatuh tepat di pangkuan seorang pria.


"Sayang, kamu kok lama sih di toilet? Aku udah nunggu dari tadi loh." alis Vella langsung mengernyit. Karena yang menariknya adalah pria yang duduk di meja sampingnya.


Vella memberontak ingin bangkit, namun, pinggulnya malah ditahan oleh pria itu. Tangan pria itu mencengkram pinggul Vella cukup erat dan menekannya sehingga membuat Vella merasa sesak.


Plakkk!!


Sontak Vella langsung menampar pria itu sehingga menimbulkan bekas jari di pipi pria itu.


"Lo itu siapa sih main asal tarik aja. Kenal juga enggak! Lepasin gue gila!!!" umpat Vella marah.