
Sore harinya Nessa akan berbelanja ditemani oleh sang suami. Pasangan suami istri itu tampak berjalan mengelilingi isi supermarket dengan Endi yang mendorong troli belanjaan sedangkan istrinya memilih bahan makanan.
"Dek, mau ini nggak?" tanya Endi sambil mengangkat kemasan buah anggur.
Nessa menoleh, melihat suaminya yang memegang kemasan buah anggur yang tampak segar. "Mas mau? Ambil aja." balas wanita itu.
Endi hanya menganggukkan kepalanya lalu memasukkan dua kemasan anggur yang dikemas menggunakan plastik bening.
Setelah memilih beberapa buah-buahan, keduanya berpindah tempat menuju rak belanjaan barang pribadi seperti sabun dan pencuci wajah.
"Dek, tadi Mama ada nelfon. Katanya nitip salam ke adek."
"Wa'alaikumsalam. Eh, emangnya kapan Mama nelfon? Kok aku enggak?" heran wanita itu.
"Kebetulan tadi Papa bicarain soal bisnis dan mereka nanya tentang adek. Mereka juga bilang belum ada waktu untuk pulang ke sini." ujar Endi.
"Yahhh..." Nessa menghela nafasnya pelan.
Endi dengan sigap mengusap pucuk kepala sang istri dengan lembut. "Jangan sedih gitu dong. Mungkin mereka lagi menikmati liburan makanya lama pulang. Do'ain aja dari sini supaya mereka sehat selalu."
"Aamiin." koor Nessa mengangguk.
"Mas, kayaknya lupa deh sama susunya." ucap Nessa ketika baru teringat sesuatu.
Endi tampak melihat barang-barang di dalam troli belanjaan. "Iya kayaknya, Dek. Nanti aja sekalian." balas Endi menyarankan.
"Aku aja yang ke sana, nanti biar Mas gak bolak-balik bawa troli nya. Bentar aja kok sambilan Mas pilih belanjaan di sini."
"Beneran? Mas tungguin di sini loh ya. Nanti kalau ada butuh apa-apa tinggal panggil aja." sebenarnya Endi tidak setuju kalau istri pergi sendirian. Namun, jika ia ikut, itu akan terlalu sulit karena mereka membawa dua troli sekaligus dan itu pasti berdempetan jika berpapasan dengan yang lainnya.
"Beneran, Mas. Lagian itu deket kok. Ya udah, aku ke sana dulu ya?"
"Hati-hati, Sayang."
"Oke, Mas."
Begitu mendapat izin dari suaminya, Nessa langsung berjalan menuju rak susu ibu hamil yang terletak di rak paling tepi.
Setelah mengambil beberapa kotak susu bubuk dengan berbagai macam varian rasa, Nessa langsung kembali lagi menemui suaminya.
Dari jarak jauh, Nessa tersenyum sambil membalas lambaian tangan Endi. Suaminya begitu tampan jika tersenyum. Apalagi saat ini suaminya masih memakai pakaian kerjanya. Hal itu membuatnya tampak lebih keren di mata Nessa. Ditambah adanya sedikit janggut di dagu Endi membuat Nessa merasa gemas jika melihatnya.
Brukk
Tiba-tiba dari jalur persimpangan rak, ada seorang perempuan yang berjalan mundur. Alhasil perempuan itu menabrak Nessa dan barang belanjaan Nessa pun terjatuh berserakan di lantai.
Nessa langsung menunduk, pertama-tama ia mengambil barang belanjaan perempuan itu lalu mengambil barang belanjaannya.
Dari arah kejauhan, tampak Endi memasang wajah khawatir, begitu melihat istrinya hampir terjatuh, jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Ia melepaskan begitu saja pegangan troli dan berjalan cepat menuju sang istri. Namun, karena banyak orang yang berlalu lalang membuatnya berdesak-desakan dan ia menjadi berjalan lebih lamban. Tidak mungkin ia menyerobot saja sedangkan di sisi kanan dan kirinya ada rak belanjaan. Jika ia menerobos, maka, rak itu akan langsung tersenggol dan mungkin saja akibatnya lebih fatal.
"Maaf, Mbak. Lain kali lebih hati-hati jika berjalan apalagi di tempat yang ramai." tegur Nessa lembut karena tidak ingin membuat perempuan itu emosi. Namun, yang namanya sudah memiliki sifat pemarah, maka, akan susah jika ditegur biarpun itu sangat sangat lembut.
"Heh! Lo tuh yang hati-hati." balasnya menyolot dengan nada tinggi. Hal itu membuat mereka langsung menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya. Ada melirik abai, dan ada yang menggunjiing kepada perempuan yang menabrak Nessa.
Nessa bangkit dari jongkoknya setelah memunguti barang belanjaannya.
"Ohh, ternyata lo rupanya anak maba." sontak Nessa mendongak dan melihat si pelaku. Begitu melihat siapa perempuan itu, Nessa hanya membatin istighfar.
"Udah salah, nyolot lagi." terdengar bisik-bisik dari pengunjung lainnya.
Perempuan itu melirik ke belanjaan di tangan Nessa. "Owh, ternyata cewek murahan."
Namun, tanpa diduga perempuan itu mendorong bahu Nessa cukup keras membuat Nessa terdorong ke rak di sampingnya. Nessa meringis karena menahan nyeri di bahunya.
"Awas, Mbak!!!" teriak seorang pengunjung ke arah Nessa. Orang-orang yang berada di sekitar rak itu langsung berjauhan karena melihat barang-barang dari rak paling atas sudah hampir terjatuh karena dorongan tadi cukup keras.
Nessa langsung mendongak ke atas dan terkejut saat melihat barang-barang di rak atas terjatuh. Ia langsung mengambil aba untuk melarikan diri. Namun, baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara yang cukup nyaring yang jatuh ke lantai.
Nessa memejamkan matanya erat-erat karena begitu takut. Namun, ia tidak merasakan sakit di tubuhnya sedikitpun. Yang Nessa rasakan hanya sebuah pelukan hangat yang menyelimuti tubuhnya.
Nessa membuka kedua matanya dan melihat sekarang ia berada di pelukan seorang pria. Awalnya Nessa ingin memberontak, namun, aroma tubuh pria itu membuatnya tenang sekaligus khawatir.
"Kamu nggak apa-apa, Sayang?" sebuah seruan lembut mengalun di telinganya.
Semua pengunjung berserta staff yang bekerja langsung berdatangan melihat mereka.
"Mas gak apa-apa kan?" Nessa tidak menjawab pertanyaan dari suaminya karena ia khawatir dengan kondisi pria itu.
"Selama kamu aman, Mas merasa aman." jawab Endi membuat Nessa terharu. Ya, sebelum barang-barang menimpa tubuh Nessa, pria itu langsung belarian cepat menuju istrinya.
Keduanya langsung berdiri. Endi memegang kedua bahu istrinya membantu wanita itu untuk bangkit. Mereka tidak terkejut lagi saat melihat para pengunjung berkerumun di depan mereka.
"Manajer supermarket ini dimana?" tanya Endi menghampiri beberapa karyawan supermarket itu.
"Saya, Pak." seorang pria berumur datang dari arah kerumunan.
Endi melirik pria itu sekilas. Ia berbalik, melihat satu per satu orang-orang yang tampak berkerumun ramai. Lalu, pandangannya terjatuh pada seorang perempuan yang saat itu langsung berlari saat Endi melihatnya.
"Bapak kenal saya kan?" manajer itu menganggukkan kepalanya karena memang ia mengenali sosok Endi.
"Saya ingin pelakunya ditangkap dan menghadap saya sekarang."
"Baik, Pak."
"Ayo, Sayang." Endi menuntun istrinya keluar dari keramaian.
•••
"Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja." seorang perempuan berdiri menundukkan kepalanya di hadapan Endi.
"Nama kamu siapa?" tanya Endi.
"Sisi Alindri." jawab perempuan itu.
Endi meliriknya sekilas. Namun, sedetii. kemudian ia langsung memalingkan wajahnya. "Saya kasih kamu toleransi. Kesalahan kamu cukup fatal karena membahayakan banyak nyawa. Kamu hanya perlu minta maaf kepada pengunjung supermarket dan karyawannya. Terutama kepada Nessa. Kamu kenal Nessa kan?"
Sisi menganggukkan kepalanya.
"Hari ini juga. Saya tidak mau tau, atau kasus ini akan saya serahkan ke pihak berwajib. Tenang saja, semua biaya kerugian saya yang tanggung karena saya tau, kamu masih anak sekolahan."
"Baik, Pak."
Sisi menundukkan kepalanya dengan segala penuh rasa dendam yang kini mulai bersarang di hatinya. Sisi tidak tau siapa yang ada di hadapannya saat ini. Yang hanya ia tau bahwa Nessa lah yang sudah menjadi biang masalahnya.
.
.
.
nih lanjutannya, maaf kemarin enggak up soalnya gak bisa ngetik karena sakit perut bulanan😅😅