
1 bulan kemudian...
Tidak terasa hari demi hari sudah terlewati. Ada banyak cerita yang jika disampaikan itu tidak cukup 1 hari. Hari demi hari perut Nessa semakin berisi. Kandungannya sudah memasuki bulan keempat. Sampai saat ini pun mereka belum juga melakukan USG.
Pagi ini Nessa tersenyum disepanjang perjalanan menuju kampus. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari kepulangan Vella dari London. Ya meskipun sebentar, itu sudah cukup bagi Nessa untuk menghapus rasa rindunya.
"Nanti pulang mau dijemput?" tanya Endi. Tangan kirinya tetap stay menggenggam jemari tangan Nessa, sementara sebelah tangannya memegang stir kemudi.
"Boleh, agak siangan ya, Mas. Soalnya hari ini cuma ada kelas pagi."
"Siap, Sayang." balas Endi. Dengan santai ia mengecupi punggung tangan istrinya padahal mereka masih di dalam perjalanan. Sementara Nessa hanya membiarkan saja.
"Emangnya Vella sampai ke sini jam berapa?" tanya Endi sedikit penasaran.
"Katanya agak siangan, ya mungkin sekitar pukul 1." jawab Nessa.
Setelah menempuh waktu yang cukup panjang, akhirnya mereka sampai di depan gerbang kampus tempat Nessa belajar.
"Sampai depan aja ya, Dek? Kapan-kapan Mas antar sampai ke kelas. Soalnya sekarang Mas ada meeting." tampak Endi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Iya, gak apa-apa, Mas. Mas hati-hati ya berangkatnya."
"Iya, Adek Sayang. Semangat ya belajarnya, yang rajin. Nanti Mas kasih hadiah." Endi mengusap-usap pucuk kepala istrinya yang tertutupi jilbab.
"Mainnya pakai sogok. Emang boleh?" Nessa menaikkan kedua alisnya.
"Boleh kok sama istri sendiri." balas Endi. Tiba-tiba ia mendekat. "Yang enggak boleh itu sama istri orang." bisik pria itu dibalas pelototan tajam dari istrinya.
"Nakal kamu, Mas." Nessa yang gemas langsung saja mencubit pinggang suaminya.
"Aduh! Lama-lama tangannya mirip kepiting, Sayang. Tajam banget."
"Salah siapa!" balas Nessa tidak mau kalah. Wajahnya menekuk cemberut.
"Utututu, istri siapa ini kok gemes banget." Endi langsung mencubit pelan kedua pipi istrinya yang akhir-akhir ini bertambah chubby.
"Istri Bapak Dimas Endi Rey." tutur Nessa membuat Endi tersenyum gemas.
"Gemes banget Mas tuh sama adek. Pengen gigit." ujar Endi.
"Gigit aja." tantang Nessa.
"Nanti aja di rumah." Endi mengerlingkan sebelah matanya membuat Nessa bergidik geli melihatnya.
"Genit banget matanya, Pak." sahut wanita itu jujur.
"Genit juga sama istri sendiri."
"Iya deh iya si paling istri."
"Lahh, malah ngejek."
"Siapa yang ngejek? Mas aja tuh."
Tiba-tiba obrolan mereka terhenti saat tiga orang pemuda mendekati mereka. "Hai, Nessa." sapa mereka santai sekali. Mengabaikan keberadaan Endi yang saat ini melihat mereka heran.
"Oh, hai." balas Nessa sedikit kaku, takut suaminya marah karena ia berkenalan dengan laki-laki asing.
Nessa melirik suaminya. Ekspresi yang Endi perlihatkan datar-datar saja.
"Kalian siapa?" akhirnya Endi buka suara. Melihat jarak pemuda yang sedikit berdekatan dengan istrinya membuat Endi langsung menarik pinggang sang istri hingga jarak mereka terkikis habis. Nessa yang tidak menyangka hal itu akan terjadi jelas terkejut. Namun, ia tidak bisa membantah.
"Ekhem... maaf, ini abangnya Nessa ya? Kenalin saya Rendi, di sisi kanan saya itu Ramon, dan itu Bagas." Rendi, pemuda itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sebagai tanda perkenalan.
"Endi." pria itu membalas jabatan tangan Rendi. Ya, memang sedikit bingung karena Rendi dengan pedenya mengatakan bahwa dirinya adalah abang Nessa. Abang? Abang suami maksudnya. Tapi, apakah ada?
Sedangkan Nessa yang mendengarnya meringis pelan sambil memejamkan matanya. Namun, melihat ekspresi tenang dari suaminya malah membuat Nessa khawatir. Padahal yang dirasakan Endi saat ini biasa-biasa saja. Karena ia tau persis bagaimana istrinya. Tidak mungkin Nessa yang mengajak kenalan lebih dulu.
Karena tidak ingin membuang waktu, Endi akhirnya memilih pamit.
"Mas pamit ya, Dek? Hati-hati."
Nessa mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya. "Mas juga hati-hati. Kabarin kalau udah sampai kantor."
"Siap, Sayang."
Cup
Tanpa malu dengan keadaan sekitar, Endi dengan santai mencium kening istrinya lalu melangkah pergi sambil melambaikan tangan.
"Nes." lambaian tangan Nessa seketika berhenti. Ia segera berbalik, namun, tidak melihat lawan bicara.
"Iya, kenapa, Kak?" tanya Nessa.
.
.
.
Kelas Nessa sedari tadi sudah selesai, namun, karena ada tugas dadakan, akhirnya ia mengundurkan niatnya untuk pulang lebih awal. Seperti saat ini, ia dan Tiara baru saja keluar dari perpustakaan sambil membawa laptop mereka.
Baru saja mereka keluar dari perpustakaan dan masih berada tidak jauh dari sana, lagi-lagi mereka bertemu dengan rombongan Rendi.
Tiara mendengus kesal, sementara Nessa hanya menarik nafas panjang.
"Ra, jagain ini bentar ya?" Nessa menyodorkan laptopnya.
"Mau kemana?" tanya Tiara.
"Mau ke toilet. Kamu tunggu di sini aja, gak lama kok."
"Hu'umm... oke deh. Nanti kalau ada apa telfon aja ya."
"Oke."
"Nessa mau kemana?" seru Rendi mendekati Tiara.
"Ke toilet." jawab Tiara sedikit ketus.
Sedangkan Rendi hanya mengangkat kedua bahunya bingung melihat tingkah dingin Tiara.
Sementara itu, Nessa tampak mencuci tangannya di wastafel setelah menuntaskan apa yang mendesak keluar sedari tadi.
Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang saling bersahutan. Arahnya seperti memasuki area toilet perempuan.
Nessa segera menyudahi mencuci tangannya dan bersiap untuk keluar. Namun, rombongan perempuan tadi terlanjur masuk ke dalam area toilet.
Brukk
Seorang wanita menyenggolnya menyebabkan tasnya terjatuh. Refleks Nessa berjongkok untuk mengambil barang-barangnya yang terjatuh.
"Eh, Si! Bukannya ini ya yang lo omongin tadi?"
"Mana?" seorang wanita menerobos rombongannya dan melihat Nessa yang berjongkok sambil mengemasi tasnya.
"Ckckck!!! Kebetulan banget ketemu di sini." wanita itu berdiri sombong dengan tangan menyilang di depan dadanya.
"Habisin aja sekalian, mumpung dia sendiri. Gara-gara dia kan lo dikeluarin dari anggota BEM." sahut temannya.
"Gue gak ada pikiran ke sana. Tapi, makasih udah ngasih ide."
Nessa segera berdiri. Di sekelilingnya sudah ada rombongan Sisi yang berdiri melingkar menghadangi jalan keluarnya.
"Eh! Eh! Liat, Si! Kayaknya dia hamil deh. Wowwww..."
"Udah gue duga, paling dia jadi simpanan om-om. Gue kan udah pernah cerita ke kalian waktu itu gue ketemu dia di supermarket bareng om-om."
"Kayaknya gak cukup deh satu om-om. Buktinya tuh dia deketin Rendi, ketua BEM kampus."
"Muka aja sok polos. Tampilan alim, tapi, hhhh..."
"Ternyata suhu."
"Hahahaha..." tawa mereka keluar membuat Nessa merasa tidak nyaman.
"Maksudnya apa?" tanya Nessa berusaha untuk sabar.
"Heh! Sok polos banget sih lo itu." ujar Sisi.
"Lo cuma anak maba udah sok-sokan caper sana sini. Apa kelakuan buruk lo itu lo tutupin pake jilbab?"
"Stop!" tekan Nessa. "Jangan bawa-bawa jilbab atau segala macam."
"Udah sih, Si. Habisin aja, mumpung sepi ini. Gak ada CCTV-nya juga." ucap temannya mengompori.
"Kalian pergi dulu." titahnya mendapat anggukan dari rombongannya.
"Nessa Nessa. Itu kan nama lo?" Sisi berjalan memutari tubuh Nessa.
"Lo gak usah sok polos, hanya mengandalkan orang untuk keselamatan lo itu. Gara-gara lo, gue dikeluarin dari anggota BEM kampus. Dan lo udah buat gue malu seumur hidup gue. Gue tuh sebenernya malas berurusan sama orang. Tapi, kebalikannya, jika orang itu udah ganggu ketenangan hidup gue, gue gak bisa tinggal diam."
Nesaa terdiam. Bukan dirinya lemah. Namun, ia hanya menjaga apa yang seharusnya menjadi harga diri seorang perempuan. Bisa saja Nessa membalas perkataan Sisi dengan tak kalah tajam dan pedas. Namun, yang seharusnya keluar dari mulutmu itu adalah kalimat-kalimat Allah.