My Teacher

My Teacher
MT part 77



Setelah sekian lama izin tidak masuk kuliah, akhirnya Nessa bisa kembali belajar bersama semua teman satu fakultasnya. Jika saat melihat dosen menjelaskan materi di depan, Nessa jadi teringat masa-masa SMA-nya. Bagaimana serunya mereka saat saling berebutan menjawab pertanyaan dari guru dan bahkan asiknya berdebat dengan teman yang ambisius ketika presentasi di depan.


Hari ini sudah satu minggu lebih ia mulai aktif di kampusnya. Mengikuti serangkaian acara yang diadakan. Di awal memang tampak terlihat menarik dan menyenangkan. Namun, saat di pertengahan dan dipenghujung rasanya seperti meledak.


Nessa begitu serius saat mendengarkan dan menyimak penjelasan materi dari dosennya. Waktu berjalan begitu cepat, 90 menit berlalu akhirnya kelas sudah selesai. Nessa langsung membereskan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tasnya.


"Nes." Tiara datang menghampirinya dan duduk di bangku depannya yang tampak kosong karena sebagian mahasiswa sudah keluar kelas.


"Mau ke kantin gak?" tawar Tiara.


"Boleh."


"Ayok!"


Keduanya berjalan beriringan menuju kantin kampus. Baik Nessa dan Tiara lebih memilih tempat yang sedikit sepi dari kerumunan.


"Mau pesen apa?" tanya Tiara.


"Samain aja."


"Oke, aku pesen bakso. Tunggu di sini bentar ya? Gak lama kok."


"Sip." Nessa mengangkat jempolnya ke udara.


Saat Tiara sedang memesan makanan mereka, tanpa diduga sekumpulan pemuda berjalan ke arahnya. Nessa menyibukkan dirinya dengan ponselnya sambil membalas pesan dari suaminya.


"Permisi."


Sontak Nessa menoleh ke samping karena ia terkejut saat mendengar sapaan dari jarak yang lumayan dekat.


Nessa meliriknya sekilas, saat tau bahwa yang bicara barusan adalah laki-laki, ia segera mengalihkan pandangannya.


"Maaf, siapa?" tanya Nessa. Bisa Nessa lihat tadi sekilas bahwa mereka berjumlah tiga orang.


"Boleh duduk di sini?" tanpa menunggu jawaban dari Nessa, tiga orang pemuda itu langsung duduk di hadapannya.


Jelas Nessa merasa risih, ia meraih tasnya dan langsung berpindah tempat. Tiga orang pemuda itu sontak memandangnya bingung.


Tidak lama kemudian Tiara datang dengan membawa satu nampan berisikan dua mangkok bakso beserta dua gelas minuman.


"Kok pindah, Nes?" tanya Tiara bingung karena ia melihat keberadaan Nessa di tempat yang berbeda.


"Itu." Nessa mengkode ke arah sampingnya. Tiara melirik sekilas, sesaat ia menganggukkan kepala mengerti.


"Mereka ngomong apa tadi?" tanya Tiara sambil mereka menyantap bakso.


"Enggak ngomong apa-apa. Mereka langsung duduk di situ, ya jelas aku pindah lah." Tiara menganggukkan kepalanya.


Mereka langsung melanjutkan memakan makanan mereka sampai habis tidak tersisa. Saat Nessa sedang menyeruput minumannya, tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara notifikasi dari ponsel mereka masing-masing.


Sebelum Nessa membuka ponselnya, Tiara sudah lebih dulu bergerak.


"Eh, Nes. Kita berdua dipanggil ke ruang Pak Wendi." ujar Tiara sambil membaca pesan yang masuk di grup whatsapp mereka.


"Ngapain?" Nessa bingung sekaligus penasaran.


Tiara mengangkat kedua bahunya. "Enggak tau. Eh, sekarang katanya, Nes. Kamu udah selesai makan kan?"


"Udah kok ini."


"Ya udah, ayok. Takutnya penting."


"Oke..."


•••


"Kalian bisa kan bantu saya? Karena dari yang saya lihat, kalian bisa untuk tampil ke depan. Tenang, kalian hanya cukup memberikan materinya saja tanpa menjelaskannya langsung. Sekarang saya ada keperluan penting, istri saya mau melahirkan."


Nessa dan Tiara saling melirik.


"In Sya Allah bisa, Pak." jawab Nessa memutuskan.


"Baiklah. Saya sangat berterima kasih kepada kalian berdua. Oh ya, sepertinya saya harus pergi sekarang."


"Kalau begitu kamu berdua juga pamit, Pak."


"Semangat untuk kalian."


"Iya, Pak."


Begitu keluar dari ruangan dosennya, Tiara langsung menghembuskan nafasnya berat.


"Ya kali kita yang ngasih materi, Nes. Kamu tau kan kakak tingkat di semester 4 tuh kayak gimana. Yang ada malah digosipin."


"Kan kita cuma jalanin amanah aja dari Pak Wendi. Pahala loh, Ti."


"Huftt!! Iya deh."


•••


"Kalian berdua, mau kemana?" sebuah teriakan nyaring membuat kedua perempuan itu menoleh secara bersamaan.


Setelah memberikan materi kepada kakak tingkat mereka, Nessa dan Tiara langsung keluar. Namun, mereka dikejutkan oleh sebuah teriakan dari arah belakang mereka.


"Iya, Kak. Ada apa?" sahut Tiara bertanya.


"Kalian maba kan?" tebak seorang wanita yang memanggil mereka tadi.


"Iya, Kak. Kenapa?" kali ini Nessa yang menjawab.


"Tolong bawa ini ke laboratorium." pinta wanita itu memerintah.


"Tapi, saya dan teman saya tidak pergi ke arah sana, Kak." jawab Tiara karena memang arah gedung laboratorium itu sangat jauh dan mereka tidak sejalan dengan gedung laboratorium.


"Tidak ada tapi-tapian. Angkat sekarang. Kalian itu, anak baru tapi malas-malasan."


Tiara yang sedari awal sudah panas sejak keluar dari ruang kelas kakak tingkatnya jelas langsung terpancing emosi. Namun, selalu ada Nessa di sampingnya yang berhasil membuat hatinya tenang.


"Gue tunggu kalian di sana dalam waktu 10 menit. Kalau enggak, kalian pasti tau kan? Gue itu salah satu anggota BEM di kampus ini."


Sontak Tiara mencibir sambil melihat kepergian wanita itu. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah bawah. Dimana ada sebuah kardus berukuran lumayan besar yang di dalamnya ada peralatan laboratorium.


"Enak aja main suruh. Emangnya kita babu. Mentang-mentang kakak tingkat, jangan asal memerintah gitu aja dong." cibir Tiara.


"Udah, Ti. Istighfar." ucap Nessa mengelus pelan lengan Tiara.


"Huhh!! Astaghfirullah." ucap Tiara mengelus dadanya pelan.


Karena tidak ingin membuat masalah baru, Nessa langsung berjongkok untuk membawa kardus itu.


"Ehhh ehhh!! Ngapain?? Simpan di bawa, simpan sekarang!" titah Tiara begitu tau saat Nessa hampir mengangkat kardus itu.


"Apa lagi, Ti?" tanya Nessa heran.


"Itu berat. Aku enggak rela ya kalau keponakanku kenapa-kenapa. Pokoknya ini aku yang bawa. Titik no debat." larang Tiara langsung menyingkirkan Nessa sehingga wanita itu berpindah di sampingnya.


"Ughh!!! Berat juga ternyata." keluh Tiara berhasil membuat Nessa tertawa.


"Hihihii... udah tau berat, masih aja mau angkat sendiri." ujar Nessa terkikik geli.


"Aduh, Nes! Jangan ketawain lah. Do'ain aja deh, ingat ya! D-o-a-i-n, bukan bantuin." Tiara mengeja satu persatu kata tersebut.


"Bantuin lah, ngapain cuma do'ain. Itu mah gak pindah-pindah kardusnya ntar."


"Aku menoleh bantuan darimu, Nyonya. Biarkan Aunty Tiara yang angkat kardus ini sendirian." ucap Tiara mendrama.


Waktu mereka terkuras habis dengan mengobrol dan bercanda. Hingga mereka tidak sadar bahwa sekumpulan pemuda berjalan ke arah mereka.


"Perlu bantuan?" tanya salah satu dari mereka.


Nessa dan Tiara langsung menghentikan tawa mereka.


"Boleh, Mas. Kebetulan ini kardusnya berat." balas Tiara jujur sekali. Sedangkan Nessa sudah menunduk malu mendengar perkataan blak-blakan dari sahabatnya.


"Mau dibawa kemana?"


"Laboratorium, Mas. Boleh tolong cepat gak, Mas? Soalnya takut nenek gayung marah-marah."


"Nenek gayung?"


"Itu, ada kakak tingkat cewek yang asal nyuruh aja. Udah tau ini berat, ngapain suruh kami berdua yang bawa. Udah gitu sok-sokan bilangnya anggota BEM."


"Kalau boleh tau siapa namanya?"


"Siapa tadi, Nes?" Tiara malah bertanya kepada Nessa.


"Sisi Alindri." jawab Nessa memang melihat nama lengkap wanita tadi karena ia melihatnya di almamaternya.


"Sisi?" monolog ketiga pemuda itu bersamaan.