
Saat ini Nessa tengah dilarikan ke rumah sakit. Di dalam mobil, Nessa tampak meringis menahan sakit di perutnya. Lagi-lagi kejadian yang tidak mengenakkan terjadi kepadanya. Di sampingnya ada Tiara yang menemani. Sementara Vella menyetir mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Sungguh, hatinya terasa sakit melihat sahabatnya kesakitan.
Di belakang mereka tampak sebuah mobil mengikuti mereka. Itu adalah rombongan Rendi. Tadi saat Vella menggendong Nessa, mereka bertemu dengan rombongan Rendi. Mereka menjadi bahan tontonan, belum lagi dengan kondisi Nessa. Entah apa yang dilakukan Sisi sampai membuat kondisi Nessa menjadi seperti itu.
Sesampainya di rumah sakit, Nessa segera dilarikan ke ruang IGD.
Vella tampak mondar-mandir sambil mencoba menelfon Endi. Setelah panggil ke-tiga barulah panggilannya tersambung.
"Nessa ada di rumah sakit, Pak. Vella share loc sekarang."
Tut
Panggilannya Vella putuskan sepihak. Lalu tak lama kemudian ia mengirimkan lokasinya saat ini. Sementara di seberang sana, Endi terkejut bukan main. Jantungnya berdetak kencang. Berulang kali ia mengucapkan istighfar.
"Astaghfirullahalazim. Ya Allah, semoga istriku baik-baik saja." rapalnya dengan segera beranjak dari tempatnya. Ia bahkan mengacuhkan pekerjaannya yang terbengkalai di atas meja.
Endi begitu khawatir sekarang. Ia takut. Ia sangat takut jika ada sesuatu yang buruk menimpa istrinya. Bukan hanya istrinya yang ia khawatirkan, melainkan calon bayi mereka yang masih berada dalam kandungan Nessa.
Endi membawa mobilnya laju. Hingga dalam waktu singkat ia sudah sampai di lokasi yang. sempat Vella berikan kepadanya.
Tring
Satu pesan masuk.
~Vella
[Langsung ke IGD, Pak.]
Endi yang sudah berada di lobi rumah sakit hanya bisa melihat pesan yang dikirim oleh Vella. Ia langsung berlari menuju ruang IDG.
Begitu sampai di sana, Endi dibuat cukup terkejut oleh kehadiran beberapa laki-laki yang duduk di kursi tunggu, tidak jauh dari Vella yang berdiri mondar-mandir di depan ruang IDG.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." ketiga pemuda itu yakni Rendi dan kawan-kawannya langsung tersadar.
Endi langsung mendekati Vella.
"Apa yang terjadi?" tanya Endi khawatir.
"Vella gak tau, Pak. Awalnya Vella mau jemput Nessa di kampus sekalian mau ngasih kejutan. Tapi, malah Vella yang dapat kejutan." Vella berusaha untuk tersenyum, menutupi luka di hatinya.
Endi terdiam, meraup wajahnya kasar. "Astaghfirullahalazim." sudah puluhan, bahkan ratusan ia mengucap istighfar. Namun, rasa cemas di hatinya belum juga hilang.
Ketiga pemuda yang awalnya duduk di kursi tunggu akhirnya berdiri. Mendekati Endi dan Vella yang berdiri di depan ruang IDG.
"Hai, Bang." sapa Rendi melambaikan tangannya tipis.
Endi langsung mengalihkan pandangannya. "Iya? Kalian bukannya yang tadi pagi? Kenapa kok bisa ada di sini?" cerca Endi banyak pertanyaan.
"Hehe, itu, Bang. Kami khawatir liat Nesaa, makanya ikutan deh ke sini." jawab Rendi tanpa beban.
Endi hanya mengangguk saja tanpa mau menanggapi dengan perkataan. Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang IDG.
"Dengan keluarga pasien?"
"Saya, Dok." jawab Endi cepat.
"Ternyata bener itu Abangnya Nessa." batin Rendi mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sang Dokter memandangi Endi dari bawah sampai ke atas dengan tatapan seakan bertanya status Endi apakah sebagai abang, paman, atau suami.
"Saya suaminya, Dok." tutur Endi.
Deg
"Maaf, salah satu bayi di kandungan istri anda tidak bisa diselamatkan. Kami akan segera melakukan tindakan untuk mengeluarkan jasadnya."
Deg!
Detik itu juga jantung Endi seperti berhenti berdetak. Seketika oksigen di sekitarnya tidak ada lagi. Sesak, itu yang ia rasakan sekarang. Matanya tiba-tiba memanas lalu bening-bening cairan bening tampak bergenang di matanya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Endi dengan suara bergetar.
"Alhamdulillah, saat ini keadaan istri anda sudah lebih baik. Saya sarankan untuk ke depannya agar waspada lagi supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Apalagi sebelumnya istri anda sudah pernah mengalami pendarahan. Kandungan sangat rentan, belum lagi usianya masih muda." tutur sang dokter panjang lebar.
"Baik, Dok. Saya akan lebih waspada dalam menjaga istri saya. Apakah saya boleh bertemu istri saya sebentar?" tanya Endi meminta izin.
"Silahkan, saya beri waktu 10 menit karena setelahnya kami akan segera melakukan tindakan lebih lanjut."
"Baik, Dok."
Endi sempat berpamitan kepada Vella dan yang lainnya sebelum memasuki ruangan IGD. Hatinya berdenyut saat melihat sosok wanita terbaring lemah dengan infus yang menancap punggung tangannya.
"Sayang." lirih Endi mendekati istrinya. Ia meraih tangan Nessa dan menggenggamnya. Endi menarik kursi kursi yang berada tidak jauh dari tempatnya dan membawanya di samping ranjang.
Tiba-tiba air matanya menetes begitu saja. Pandangannya menjadi buram penuh dengan genangan air mata. Kepalanya tertunduk. Pria itu terisak pelan.
"Hiksss... maaf, Sayang. Maaf." lirihnya sangat pelan karena takut membangunkan istrinya.
"M- aafin A- abi, Sayang. M-aaf. Abi minta maaf. Ya Allah." bendungan air matanya tidak dapat tertahankan lagi. Endi menangis hebat di samping istrinya. Badannya bergetar, pria itu sesegukan.
Bayang-bayang senyuman istrinya teringat di benaknya. Bagaimana bahagianya Nessa saat tau ada kehidupan kecil di dalam rahimnya. Padahal, Endi tau umur Nessa masih sangat muda untuk mengandung. Tapi, Endi juga tidak bisa menyalahkan siapa pun karena ini semua adalah anugerah dari Tuhan. Tuhan memberikan kepercayaan kepada mereka untuk menjaga amanahnya. Namun, ternyata mereka gagal menjadi calon orang tua.
Lama pria itu terisak, tiba-tiba ia mengangkat kepalanya saat merasakan sentuhan lembut di kepalanya. Endi bergegas menghapus jejak air matanya yang masih tertinggal sangat jelas di pipinya. Pria itu meraup wajahnya kasar.
"Ada yang sakit, hem?" tanya Endi berusaha tersenyum meskipun hatinya terluka.
Nessa tersenyum, sebelah tangannya terulur menyentuh rahang suaminya dan mengelusnya pelan. Nessa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Jangan nangis lagi." suara wanita itu terdengar serak.
"Enggak. Mas gak nangis, Sayang." kilah Endi.
"Masa?" goda Nessa tersenyum.
"Tadi itu kelilipan serangga."
"Iya, iya. Aku percaya." final Nessa mengalah saja.
Endi terdiam sempurna. Matanya tertuju pada perut istrinya yang masih tampak berisi. Nessa yang mengerti itu segera mengalihkan perhatian suaminya.
"Mas kenapa bisa ada di sini? Emangnya gak ada kerjaan di kantor?" tanya Nessa langsung berhasil membuat perhatian suaminya teralihkan.
"Tadi Vella nelfon Mas dan ya... gitu deh." Endi tidak bisa menjelaskan lebih lanjut karena setiap kali ia mengingat itu selalu membuat hatinya terasa berdenyut. Ia masih tidak menyangka. Tidak rela jika apa yang ia tunggu-tunggu selama ini malah diambil kembali oleh sang Pencipta.
"Eh iya. Vella udah pulang ya ternyata."
Endi menganggukkan kepalanya.
"Mas udah makan siang?" tanya Nessa.
"Nanti aja." jawab suaminya.
"Nunggu apa lagi? Mas makan aja dulu sekarang. Nanti baru ke sini lagi."
Endi menggelengkan kepalanya. "Nanti bareng adek aja." sesaat Endi tersadar. Ia melirik jam tangannya. Ternyata sudah hampir 10 menit ia berada di dalam ruangan tersebut.
"Adek siap-siap sekarang ya? Mungkin dokternya udah ada di luar." Endi berdiri dari duduknya. Ia meraih jari jemari tangan Nessa dan menciuminya berkali-kali. Lalu, berpindah di kening istrinya. "Mas tunggu di luar. Semangat, Umi." ucapnya pelan disusul dengan senyuman di bibirnya. Meyakinkan istrinya bahwa semuanya baik-baik saja.