My Teacher

My Teacher
MT part 70



Dua bulan sejak mengetahui kehamilan Nessa, semua anggota keluarga menyambutnya dengan gembira. Alangkah bahagianya mereka menantikan kehadiran cucu pertama dari pernikahan Nessa dan Endi.


Dan dua belakangan ini, Endi digempur habis-habisan dengan sindrom couvadenya yang membuatnya selalu merasakan tidak enak kalau ingin makan ataupun mencium bau yang menurutnya tidak sedap. Dan sekarang efeknya alhamdulillah sudah lumayan berkurang. Ya, walau tiap pagi harus absen di depan wastafel.


Nessa beruntung karena ia tidak merasakan efek kehamilannya. Tapi, ia juga kasihan melihat suaminya yang menderita. Tapi, apa boleh buat?


Hari ini Nessa sama sekali tidak ada kelas, alhasil dirinya selonjoran di rumah. Nessa tidak begitu bosan, karena siang nanti mertuanya akan menjenguknya sambil membawakan makanan pesanannya tadi pagi. Yup, Winanti akan menjenguknya.


Dan hari tidak terasa sudah siang. Bunyi bel rumahnya membuat Nessa segera bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu. Nessa sudah tidak sabar.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, Ma. Silahkan masuk!" sambut Nessa begitu hangat akan kedatangan mertuanya.


Mama Winanti masuk dan langsung menuju dapur untuk meletakkan rantang makanannya lalu menyalin ke wadah. Diikuti Nessa di belakangnya.


"Mama juga bawakan salad buah untuk kamu. Bagaimana kabar cucu mama hari ini? Sehat?" setelah menyalin makanannya ke wadah, wanita itu berjalan mendekati Nessa dan mengelus perut rata menantunya.


Nessa tersenyum, tidak dapat lagi menyembunyikan kebahagiaannya. "Alhamdulillah, sehat kok, Ma. Tadi pagi juga mas Rey gak muntah-muntah." jawab Nessa.


"Alhamdulillah kalau gitu. Mama lega dengernya. Ya sudah, sini duduk!" Nessa menurut, ia duduk di kursi meja makan sambil melihat mertuanya yang tampak mengambil piring.


"Gado-gado spesial ala mama. Semoga suka ya, sayang."


Yup, pagi hari tadi Nessa sempat menginginkan gado-gado dan itu harus buatan mama Winanti. Tidak boleh membeli ataupun ada campur tangan orang lain.


"Eummm... enak, Ma. Nessa suka." seru Nessa saat baru saja memasukkan sesendok gado-gado ke dalam mulutnya.


"Alhamdulillah. Mama ikut seneng. Oh ya, nanti ada yang pengen mama obrolin sama kamu. Habisin dulu ya makanannya." Nessa mengangguk.


Selang beberapa menit akhirnya gado-gado itu habis, ludes tak bersisa. Nessa begitu menikmatinya sampai-sampai ia hampir lupa kalau mertuanya tadi ingin bicara.


"Mama pengen ngomong apa?" tanya Nessa.


"Kita santai-santai di gazebo. Bawa juga salad buahnya, siapa tau nanti kamu pengen."


Saat sudah berada di gazebo, keduanya sempat terdiam karena menikmati angin yang berhembus di belakang rumah.


"Begini, tujuan mama datang ke sini juga pengen ngasih tau kalau lusa mama sama papa kalian akan pergi ke Swiss karena papa ada perjalanan bisnis. Mungkin cukup lama karena kebetulan cabang perusahaan papa yang ada di sana ada sedikit kendala. Cabang kecil kok, tapi, sepertinya harus papa yang menanganinya langsung. Gak mungkin kan kalau papa minta tolong sama Rey, sedangkan kamu masih hamil muda."


Nessa sempat tercekat. Kerongkongannya kering. "Berapa lama, Ma?" tanya Nessa.


"Mama juga belum tau. Mungkin sampai kendalanya selesai. Papa juga ngajak mama liburan ke sana, hehe. Jadi, lama deh kayaknya." tutur Mama Winanti dengan sedikit cengiran.


Meskipun perusahaan utama sudah Resa serahkan kepada putranya. Tapi, Desa masih ada cabang di luar negeri. Mau meminta bantuan Endi rasanya tidak mungkin mengingat saat ini Nessa tengah hamil muda. Pasti nanti akan membutuhkan Endi disetiap saat.


"Ish, liburan. Gak ngajak-ngajak." Nessa hanya bercanda saja untuk mencairkan suasananya.


"Sebentar aja kok. Gak lama. Nanti kapan-kapan kalau kalian ada waktu luang dan kamu sudah bisa diperbolehkan melakukan perjalanan jauh, ya bisa menyusul." terang Mama Winanti memberikan pengertian.


"Iya, Ma. Mama tenang aja kok. Nanti jangan lupa bawa oleh-oleh."


"Tenang, Sayang. Mama gak akan lupa. Oh ya, kalau mama sama papa gak ada di sini, kami titip Tasya ya? Kalau ditinggal nanti pasti kesepian, secara dia kak gak suka kalau rumah dalam keadaan sepi."


"Pintu rumah selalu terbuka untuk siapapun itu. Nessa malahan senang karena ada yang menemani Nessa. Ya walau Tasya selalu pulang duluan."


"Mama beruntung dan bersyukur memiliki menantu seperti kamu, Sayang. Semoga rumah tangga kalian selalu dijaga oleh Allah. Dan semoga dihindarkan dari masalah besar. Mama berterima kasih karena kamu sudah mau menerima anak mama, Rey. Terima kasih karena sudah menyayanginya, terimakasih karena sudah memberikan cinta untuknya. Mama berharap semoga kalian selalu dilimpahkan bahagia dengan adanya mama ataupun tanpa adanya mama papa."


"Pasti dong. Mama kan pengen gendong cucu mama nanti. Aduh! Jadi gak sabar."


'Sabar, Sayang. Kamu akan terlahir menjadi anak yang paling beruntung yang dikelilingi oleh keluarga yang akan memberikanmu kasih sayang.


"Besok mama mau belanja buat kebutuhan di sana. Kamu mau ikut?" tawar Mama Winanti.


"Boleh, Ma. Jam berapa? Mungkin setelah Nessa kuliah ya?"


'Untung besok cuma ada matkul pagi, bukan siang.


•••


"Apa kabar, beb? Huwaa... kangen banget. Lama udah gak telfonan kayak gini. Kalau diingat-ingat tuh hampir sebulan yang lalu ya? Lo apa kabar? Sehat kan di sana?" pertanyaan beruntun keluar dari bibir Nessa. Ia duduk bersandar dengan kaki selonjoran dengan laptop yang menyala di atas pahanya yang beralaskan bantal.


Di layar laptop itu tampak wajah penuh dari seseorang yang begitu ia rindukan. Panggil saja dia Vella. Sahabat Nessa yang sudah ia anggap sebagai saudara meskipun beda keyakinan. Kalau dihitung ini adalah kali ketiga merekam berkomunikasi lewat video call. Sedikit berbeda, namun, apa boleh buat. Jarak mereka terlalu jauh.


"Baik, baik kok. Oh ya, gimana kabar ponakan gue? Masih lama banget ya. Ughh... jadi gak sabar pengen gendong." di seberang sana, Vella berbaring telungkup sembari menghadap layar laptopnya.


Nessa terkekeh kecil. "Masih lama kali, Vel. Baru juga dua bulan. Lo kapan balik ke indo? Kemarin gue ketemu tante loh. Gak sengaja ketemu di pusat perbelanjaan."


"Oh ya? Trus, kalian ngobrolin apa?" tanggal Vella cepat.


"Enggak apa-apa sih. Cuman ngobrol biasa aja. Ntar deh, gue pengen tanya."


"Hmm. Tanya apa?" tanya Vella bangkit dari berbaringnya dan berpindah posisinya menjadi duduk tegak. Tangannya terangkat untuk membetulkan ikat rambutnya yang berantakan tak karuan.


"Lo udah punya pacar?"


Vella langsung tergelak. Mana mungkin!


"Boro-boro pacar, nyari temen yang sefrekuensi aja susah."


"Masa sih? Secara lo kan cantik, Vel. Jadi, pria mana yang gak tertarik liat lo?"


"Banyak kok, buktinya kakau mereka mau mendekat aja langsung mundur kalau gue udah bertitah. Serasa jadi kejam mulut gue, Nes."


"Haha, ada untungnya juga naroh sahabat yang blak-blakan kayak elo."


"Dikira barang kali pake naroh segala. Oh ga, tumben sepi? Pak Endi kemana?" tanya Vella sembari celingukan.


"Ada, lagi di ruang kerja. Sibuk, biasa kalau udah ngurus pekerjaan kantor. Istri sendiri suka dianggurin." lawak Nessa sembari tertawa.


"Yeee... tahan dulu kali, Nes."


"Apanya yang ditahan, Vel?" beo Nessa.


Secepat mungkin Vella menggelengkan kepalanya. Sahabatnya itu benar-benar polos atau kurang mengerti? Entahlah, Vella juga tidak tau.


Obrolan mereka terus berlanjut hingga larut malam. Karena mengingat waktu mereka berbeda, dengan terpaksa keduanya mengakhiri obrolannya karena hari sudah malam bagi Nessa, sedangkan di tempat Vella masih siang.


.


.


.