
Bagi anak sekolah, hal yang paling mereka hindari adalah ujian atau ujian praktek. Misal, ujian praktek dalam pelajaran seni budaya. Pastinya bernyanyi atau menari. Bahkan laki-laki yang seperti robot pun harus cosplay menjadi jelly. Tapi, untuk kelangsungan nilai, mereka pun terpaksa melakukan itu. Ya, meskipun hasilnya bikin siswa perempuan tertawa bengek.
Ketika ujian tiba, siswa laki-laki yang awalnya malas pun kini cosplay menjadi profesor. Sok-sokan belajar, namun nyatanya materi yang mereka baca bahkan satu pun tidak ada yang terlintas di otaknya. Titik kepasrahan pun sudah berada di ambang keputusasaan.
Waktu yang sebelumnya merema habiskan untuk bermain ataupun menongkrong kini malah mereka habiskan membaca semua materi baik dari materi kelas 10 sampai kelas 12. Rasanya otaknya mau keluar berceceran, namun, ancaman yang datang dari keluarga ataupun kerabat membuat mereka menambal kuat otak itu agar tidak berceceran.
Helaan nafas pun terdengar sesaat mereka melaksanakan ujian terakhir. Keluar ruangan kelas dengan dadaa terasa plong. Berusaha tidak memikirkan nilainya nanti bagaimana. Selama seminggu ini mereka bertarung dengan kertas putih dan banyak lembar soal. Penjelasan, perhitungan, dan pertimbangan mereka lawan. Bagaimana tidak, diri mereka sendirilah yang akan menjadi penentu apakah lulus sekolah ataukah tidak.
Kata orang-orang banyak, masa putih abu adalah masa di mana semua rasa mereka rasakan. Jatuh cinta, putus cinta, persahabatan, kekompakan, kebersamaan, keputusasaan, kepasrahan. Semuanya dirasakan. Masa di mana masa itu tidak bisa terulang kembali.
Suara riuh gemuruh disertai musik menjadi pelengkap mereka dalam merayakan hari kelulusan. Ya, setelah melewati beberapa bulan dan melewati masa-masa ujian, akhirnya mereka semua dinyatakan lulus. Sorak tepukan tangan terdengar. Warna seragam putih mereka pun kini sudah berubah warna. Bercampur berbagai macam warna. Ada yang menangis baru, ada yang tertawa, dan bahkan ada yang sedang jatuh cinta. Ada juga sebagian dari mereka memanfaatkan momen langka ini untuk melakukan sesi foto. Ada juga yang memanfaatkan momen ini untuk menyatakan perasaannya. Sulit untuk dijelaskan, hanya bisa dirasakan.
Beberapa hari setelah acara kelulusan, mereka tampak menikmati liburan sambil mencari universitas yang akan mereka masuki.
Seperti gadis yang bernama lengkap Nessa Ibrahim Halana ini. Acara kelulusannya dirayakan dengan sederhana namun tetap meriah baginya. Bagaimana tidak, gadis itu lulus dengan nilai yang sangat memuaskan dari hasil belajarnya. Dan juga gadis itu lulus dengan sudah menyandang status seorang istri.
Setelah melewati beberapa bulan dengan penuh kejengkelan, akhirnya masa-masa itu terlewati. Bagaimana tidak jengkel, rupanya perubahan yang dilakukan suaminya itu membawa pengaruh besar. Banyak siswi perempuan yang bahkan secara terang-terangan menyatakan perasannya kepada gurunya sendiri. Bahkan yang awalnya mengejekkk, kini malah berbanding terbalik. Nessa yang biasa membantu gurunya itu sekarang malah sulit. Bahkan mereka secara rebutan untuk membantu pria yang menjadi guru agama Islam mereka. Awalnya mereka tidak percaya bahwa guru yang mereka ejeekk itu kini bahkan berubah menjadi jelmaan pangeran.
Acara memperingati hari kelulusannya, mereka rayakan tepat di halaman rumah Nessa. Ya, syukurlah halaman rumahnya luas. Kedua orang tua serta mertuanya sudah hadir bahkan sebelum persiapan dilakukan.
Nessa juga mengundang sahabatnya, Vella, beserta kedua orang tua Vella. Dan syukurnya juga kedua orang tua Vella menyambut dengan baik undangan itu. Kali ini Nessa juga mengundang teman laki-lakinya, yaitu Deca. Masih ingat dengan Deca kan? Anak IPA yang sempat mengejar Nessa namun berhenti karena sadar diri, hehe.
Halaman rumah Nessa kini menjadi ramai dengan suara Deca yang melakukan karaoke. Beruntung suara pemuda itu lumayan merdu, jadilah tidak merusak suasana mereka.
Saat acara sedang berlangsung, tiba-tiba berhenti dua buah mobil tepat di depan pekarangan rumah Nessa. Ya, sudah dikatakan kalau halaman rumahnya itu luas.
"Assalamu'alaikum." seru rombongan itu ramai.
Nessa bahkan sempat berhenti membalikkan daging di tungku panggangan. Gadis itu menyambut dengan hangat rombongan yang datang.
"Wa'alaikumsalam. Nessa kira kalian nggak datang." ujar Nessa menyalami satu-satu rombongan itu. Para orang tuanya pun bahkan ikut turut menyambut kedatangan rombongan itu.
"Nggak dong. Maaf ya agak lambat, tadi Bunda nyiapin kado buat kamu. Tuh ada di bagasi. Erlan, tolong kamu ambil, nak!"
"Ck! Kok gue sih." gerutu pria itu, namun, tetap menuruti.
"Kok Bunda jadi repot. Ini kan cuman acara kecil-kecilan aja. Eh! Duduk dulu yuk!" ajak Nessa seketika tersadar.
"Suami kamu mana?" tanya wanita separuh baya yang seumuran dengan Papinya.
"Ada di kamar, lagi ganti baju soalnya tadi gak sengaja terkena saos." terang Nessa membuat mereka mengangguk.
"Kakek, apa kabar?" pandangan Nessa teralihkan pada seorang pria tua yang duduk di kursi roda. Keriput sudah jelas tentu tampak, tapi, rambut pria itu bahkan awet hitam. Hanya sedikit saja uban yang tumbuh.
"Alhamdulillah, Kakek sehat. Kamu bagaimana kabarnya? Udah lama gak jenguk Kakek ke rumah."
"Hehe, Nessa sibuk, Kek. Mungkin besok-besok baru bisa main ke rumah Kakek."
Ya, yang datang itu adalah keluarga kandung Endi, suaminya. Bunda, Ayah, Kakek, serta kembarannya pun ikut datang. Sebenarnya Erlan malas untuk datang, namun, karena paksaan dari pria itu yang menjadi Kakeknya itu, dia pun terpaksa. Kalau tidak menurut, pastilah akan diancam dengan berbagai ancaman.
Sebulan yang lalu, Endi beserta istrinya datang menjenguk Kakeknya dan kebetulan orangtuanya juga baru datang dari luar negeri. Jadilah, pertemuan pertama dengan segala kecanggungan pun tidak terelakkan.
"Rey, kamu masih ingat dengan ucapan Kakek waktu lalu kan?" tanya Kakeknya.
"Iya, Kek." jawab Endi mengganguk. Rupanya kedatangannya sangat dinantikan. Buktinya saat pertama kali bertemu, keluarga sangat antusias dan bahkan Endi yang memiliki umur matang itu pun harus terpaksa menerima dirinya yang dimanja. Namun, hati kecilnya sangat bahagia karena telah bertemu dengan darah dagingnya.
"Kakek harap kamu bisa membawa perusahaan berkembang pesat lagi."
Saat itu juga Erlan datang dengan membawa sebuah kado besar di tangannya.
"Kado menyusahkan!" cibir pria itu menghempaskan kadonya di atas tanah. Seketika mata Bundanya menatap horor, apalagi tatapan dari Kakeknya.
Bergegas pria itu bersembunyi di balik tubuh sang Ayah. Laki-laki yang menjadi ayahnya pun hanya terkekeh pelan. Dirinya saja tidak bisa membantah istrinya apalagi sang ayah.
"Kakek, Ayah, dan Bunda masuk aja ke dalam ya? Di luar dingin." ujar Nessa menyarankan.
"Bunda di sini aja bantu-bantu yang lain. Biar Kakek dan Ayah kamu aja yang masuk ke dalam. Oh ya, ajak Papi sama Papa kamu juga biar ada temannya."
Nessa pun mengangguk, lalu memanggil Papinya beserta Papa dan juga Papa Vella yang kebetulan ikut hadir menerima undangan dari Nessa. Para tetua laki-laki pun akhirnya masuk ke dalam rumah. Sedangkan para wanita kini berada di luar. Hanya dirinya, Mami Hana, Mama Winanti, Mama Vella, Deca, dan Erlan. Sementara suaminya kini berada di dalam untuk menemani orang tua sebentar.
Sedari tadi Nessa sibuk membantu yang lain, begitu juga dengan sahabatnya, Vella.
"Ca, lo bantu nih kipasin." suruh Vella sambil memberikan kipas kepada Deca.
"Lo mau ke mana?" tanya Deca heran tetapi tetap menerima kipas dari Vella dan menggantikan posisinya.
"Duduk, hehe. Pegel tangan gue. Tolongin ya, lo kan udah baikan sama gue, awas aja mancing-mancing emosi."
Deca hanya menanggapi dengan memutar bola matanya tengah. Ya, keduanya yang sebelumnya tidak akur kini memutuskan untuk baikan saja.
Mereka terpisah jarak dengan para tetua perempuan. Hanya ada dua laki-laki di dekat mereka, yaitu Deca dan Erlan.
"Kak, tolong ambilin kecap." pinta Nessa kepada Erlan.
Erlan hanya berdecak, dengan malas dia mengambil botol yang bertuliskan sambal ekstra pedas lalu memberikannya kepada Nessa tanpa melihat terlebih dahulu.
"Kak, ini bukan kecap, tapi, cabe." protes Nessa saat menerima barang yang salah.
"Benarkah?" tanya Erlan sambil meneliti botol itu. Sesaat dirinya hanya menyengir, kemudian mengambilkan lagi botol yang satunya.
"Nah, ini baru benar." Erlan pun hanya mengangguk-angguk.
"Percuma tua, tapi, gak bisa bedain mana botol kecap, mana botol cabe." sindir Vella sambil menguap lalu menutup mulutnya.
Sedangkan Erlan yang telinganya sungguh tajam langsung melihat Vella dengan mata tajamnya. Sayangnya bukan Vella namanya yang kalau takut saat melihat tatapan tajam dari seorang pria. Dirinya hanya takut kepada tatapan tajam Papanya daripada pria asing.