My Teacher

My Teacher
MT part 79



"Pelan-pelan, Dek."


"Ini udah pelan, Mas."


"Aduhh duhh duhhh!!"


"Ini loh sampai bengkak gini."


Nessa tampak meniup-niup pelan bagian belakang kepala suaminya sambil mengoleskan minyak herbal sinergi menggunakan cotton bud.


"Huekkkk..." tiba-tiba saja ia merasa mual hebat saat aroma minyak itu langsung tercium di hidungnya.


Sontak Nessa menjauhkan cotton bud yang sudah terolesi minyak herbal sinergi di ujung kapasnya dan sedikit menjauh dari suaminya.


"Kenapa, Dek?" tanya Endi khawatir. Pria itu langsung duduk tegak menghadap istrinya.


Nessa menutup hidungnya seraya menggelengkan kepala. "Bau, Mas. Aku gak suka baunya." ucap Nessa.


"Kirain mual lagi. Tapi, gak apa-apa kan? Nanti Mas pindahin aja minyaknya, jangan simpan di dekat adek." Endi bergerak memindahkan botol minyak tersebut ke tempat lain yang jaraknya lumayan jauh dari istrinya.


Setelah menyimpan botol minyaknya dengan aman, Endi kembali lagi mendekati sang istri.


"Cewek yang tadi, adek kenal?" tanya Endi setibanya di dekat istrinya.


"Yang mana?" tanya Nessa bingung. Ia terlihat sibuk dengan handuk kecil dan baskom berisi air hangat.


"Itu loh yang tadi marah-marah gak jelas."


"Owh, itu." Nessa mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kenal enggaknya sih. Dia itu kakak tingkat aku di kampus. Tadi pagi juga sempat ketemu." tutur Nessa.


"Dia pernah nyakitin adek kayak tadi? Kalau sekali kejadian sih Mas masih bisa kasih toleransi. Tapi, kalau udah lebih dari sekali, mungkin kesabaran Mas bakalan habis."


Mendengar penuturan suaminya membuat Nessa langsung melepaskan barang-barang di tangannya. Ia berbalik setengah karena posisinya tadi duduk miring. Nessa langsung meraih wajah suaminya. "Gak boleh ngomong gitu. Mungkin tadi cuma kecelakaan aja, ya emang mau kejadian. Bukan salah siapapun. Soal dia yang nyakitin aku, enggak pernah kok kecuali tadi."


"Sebenarnya Mas marah, Dek. Mas takut kalau terjadi apa-apa dengan adek dan dedek bayinya. Soalnya kan dokter udah pernah bilang, kandungan adek itu sangat rawan." ya, memang benar kalau kandungan Nessa itu rawan. Banyak faktor yang mempengaruhinya, termasuk kehamilan di usia muda. Itu akan sangat rentan.


"Mas tenang aja, semuanya akan baik-baik aja kalau Allah sudah menghendaki."


"Aamiin." ucap Endi mengaminkan diselipkan do'a di dalamnya.


"Oh ya, katanya tadi pagi adek juga ketemu sama dia." ujar Endi tersadar.


"Ketemu biasa aja, Mas. Tadi dia minta tolong angkat barang ke laboratorium. Untungnya tadi ada yang bantuin angkatin kardusnya."


"Alhamdulillah. Mas gak izinin kalau adek ngerjain hal gituan. Apalagi angkat barang yang berat-berat. Kalau dia minta tolong lagi, bilang aja adek gak bisa."


"Iya, kok. Tadi Tiara juga gak ngizinin."


Nessa tidak menceritakan semua kisahnya. Tentang siapa yang menolong mereka dan bahkan mereka sempat berkenalan.


Flashback on


"Nanti kalau dia nyuruh-nyuruh kalian, abaikan aja. Apalagi disuruh angkat barang yang berat. Jangan mau." seorang pemuda berjalan ke arah mereka setelah mengantarkan kardus itu ke laboratorium.


"Iya, Kak." jawab Tiara, sedangkan Nessa hanya mengangguk.


"Oh ya, tadi sebelumnya kita sempat ketemu di kantin. Kenalin nama gue Rendi." pemuda itu mengulurkan tangannya bermaksud untuk berjabat tangan sebagai tanda perkenalan mereka.


Namun, baik Nessa dan Tiara sama-sama mengangkat kedua tangan mereka dalam posisi menelungkup saling bertemu.


"Eh, hehe..." pemuda itu lekas menarik tangannya saat melihat respon kedua perempuan di hadapannya.


"Ah iya, kenalin ini temen-temen gue." Rendi menunjukkan kedua temannya yang berdiri di sampingnya. "Ramon dan Bagas."


"Hai." kedua temannya langsung menyahut memperkenalkan diri mereka.


"Nama kalian siapa?" tanya Rendi lagi.


"Tiara, dan ini Nessa." sahut Tiara sambil tangannya mengarah ke Nessa.


Flashback off


Allahu Akbar Allahu Akbar


Suara seruan adzan maghrib berkumandang di mesjid maupun surau di daerahnya. Mendengar itu membuat pasangan suami itu lekas bangkit untuk mengambil wudhu.


Setelah melaksanakan 3 rakaat sholat, Nessa bergegas bangkit untuk pergi ke dapur setelah suaminya membaca do'a. Namun, belum berdiri sepenuhnya, tiba-tiba tangannya ditarik siapa lagi kalau bukan ulah Endi, suaminya.


"Mau kemana?" tanya Endi lembut.


"Mau ke dapur, Mas. Tadi belum sempat masak."


Endi menggelengkan kepalanya. "Kita makan di luar aja nanti. Setelah isya kita berangkat." ujar pria itu mengusulkan dan beruntungnya istrinya menyetujui.


.


.


.


Selesai sholat isya, keduanya langsung bertolak ke tempat makan yang berada di luar. Hanya mengendarai sepeda motor, ditambah terpaan angin malam membuat suasana semakin syahdu. Apalagi ditemani oleh orang-orang yang tersayang. Sepanjang jalan berpelukan erat. Seolah dunia hanya milik mereka berdua.


Endi memberhentikan motornya di depan sebuah warung makan kulineran yang mana menjual makanan khas daerah. Keduanya mulai memasuki area warung makan tersebut lalu duduk di tempat yang sudah disediakan. Hanya duduk lesehan sembari menunggu buku menu datang.


"Mau pesen apa, Dek?" tanya Endi menoleh ke samping, dimana tempat istrinya duduk. Nessa tampak sibuk memainkan ponselnya sambil sesekali tersenyum. Jari-jari tangannya bergerak lincah di atas papan keyboard ponsel.


Wanita itu langsung mengalihkan pandangannya. Jari jemarinya berhenti bergerak. "Nasi aja." jawab wanita itu mendapat anggukan kepala dari suaminya.


Tidak sampai 15 menit mereka menunggu, akhirnya pesanan makanan mereka sudah sampai. Endi memesan dua porsi nasi padang dan untuk minumannya, Endi memesan teh hangat.


"Ayo, Sayang. Nanti dulu main ponselnya." tegur Endi hanya geleng-geleng kepala melihat istrinya yang tampak tersenyum sesekali tertawa dengan jari-jarinya bergerak lincah di atas keyboard.


"Eh! Iya, Mas." sentak Nessa kaget. "Bentar ya." sambungnya.


"Chat sama siapa sih sampai ketawa-ketawa gitu?"


Nessa tidak menghindar saat suaminya melihat isi ponselnya.


"Vella, Mas." ujar Nessa memberitahu.


Sedangkan Endi hanya membulatkan mulutnya paham.


"Apa kabar dianya?" tanya Endi.


"Alhamdulillah, baik. Katanya bulan depan pulang." balas Nessa antusias.


"Cepat juga ya. Adek aja belum dapat jatah liburan semester."


"Hehe... dia ada urusan di sini nanti sekalian liburan. Gak sabar banget aku, Mas. Kangen tau."


"Tinggal sebulan lagi, Dek. Nih! Makan dulu biar kenyang." pria itu menyodorkan satu suapan ke mulut istrinya. Suapan langsung dari tangannya.


Nessa membuka mulutnya menerima suapan langsung dari suaminya. Wanita itu tersenyum di sela kunyahannya. Lagi-lagi ia kembali memainkan ponselnya. Hanyut dalam obrolan chat bersama sahabatnya sampai ia sendiri tidak sadar makanannya tersisa sedikit.


"Suapan terakhir." ucap Endi mengangkat tangannya lalu menyodorkan ke mulut istrinya perlahan.


"Ngammmm..."


"Aduh! Jangan digigit, Dek." Endi refleks meringis pelan saat ujung jarinya digigit oleh istrinya. Tidak sakit, tapi, sedikit ngilu lah terkena gigi istrinya.


Wanita itu tersenyum tanpa rasa bersalah. "Kirain itu tadi daging ayamnya, makanya aku gigit." ujarnya berbohong.


"Udah mulai nakal ya?" seringaian jahat muncul di wajah Endi, namun, Nessa malah menjulurkan ujung lidahnya lalu menatap suaminya dengan tatapan meledek.


"Tunggu aja, nanti Mas balas kalau udah sampai rumah." ancam suaminya.


"Huuuuu takutttt..."


"Dua kali." ujar Endi.


"Tiga kali." lanjut Nessa.


"Oke, tiga kali." final Endi membuat mata Nessa membulat. Jika orang lain mendengar obrolan mereka, mungkin saja terkesan receh dan random.


"Ihhh! Curang. Tadi aku gigit tangan Mas cuma satu kali. Masa Mas mau balas tiga kali." protes Nessa.


"Yang mau gigit jari adek siapa?" tanya Endi benar-benar gemas dengan segala tingkah polos istrinya.


"Lah itu tadi."


"Hahaha..." Endi tertawa pelan dibuatnya. "Denger ya istri Mas yang cantik." sontak wajah Nessa memerah malu.


Endi yang melihatnya kembali dibuat tertawa. Tiba-tiba pria itu mendekat, mendekatkan wajahnya tepat di depan telinga istrinya.


"Tiga kali di atas ranjang maksudnya." bisik Endi.


"Mas!" mata Nessa melotot sempurna.


"Bwahahahahahha..." tawa Endi meledak. Membuat sebagian pengunjung menatap mereka heran. Nessa mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Malu ih diliatin orang." ucap Nessa pelan sembari menarik-narik pelan ujung baju suaminya.


"Biarin." kali ini Endi membalas istrinya dengan menjulurkan ujung lidahnya.