My Teacher

My Teacher
MT part 24



Nessa yang mendengarnya terkejut bukan main. Ia baru tau kalau Papinya itu sosok yang paling kejam kalau ketenangannya sudah terusik.


"Maaf, selama ini Papi menyembunyikan hal sebesar itu dari kamu. Papi cuma gak mau kamu membenci Papi." ucap Ibrahim menundukkan kepalanya.


Nessa meraih tangan Papinya dan menatap dalam bola matanya.


"Bagaimana bisa Nessa membenci Papi? Papi itu kuat, sosok Ayah yang paling hebat untuk Nessa. Papi gak perlu minta maaf soal itu. Itu hanya masa lalu, jangan Papi ungkit lagi."


Nessa langsung memeluk Papinya. Nessa tersenyum sambil mengusap bahu laki-laki itu.


Ibrahim langsung menegakkan tubuhnya dan menatap sekelilingnya.


"Rey, apa kamu ingat?" tanya Papi Ibra sambil melihat Endi yang terdiam.


"Maaf, Rey sempat lupa. Rey kira waktu itu Tante Hana yang terluka." jawab Endi ternyata salah paham. Dulu ia kira yang terkena tusukan itu adalah Hana. Dan yang paling mengejutkan adalah Endi juga baru tau kalau Nessa lah sosok bayi yang sempat ia tunggu kehadirannya.


"Cantik kan, Rey?" sahut Mami Hana yang tadinya menyimak.


Endi hanya menundukkan kepalanya. Dulu kalau ditanya seperti itu wajahnya menjadi memerah karena malu.


"Jadi gimana? Apa kalian menerima perjodohannya?" seru Resa.


Nessa terdiam.


"Mama kasih waktu kamu untuk memikirkannya. Tapi, tolong jangan terlalu lama."


Nessa mendongakkan kepalanya menatap Winanti.


"Makasih, Ma."


"Iya, Sayang."


"Sekarang sudah jelas bukan?" tanya Papi Ibra membuat semuanya mengangguk.


"Sudah mau malam. Ayo kita pulang."


"Ib, Nessa bisa tinggal di sini sebentar?" tanya Winanti meminta izin.


Laki-laki itu hanya menatap Nessa, karena yang seharusnya memberi jawaban itu putrinya.


"Terserah Nessa. Kalau gitu kami pulang dulu. Sayang, kamu di sini dulu ya? Mungkin mau melakukan pendekatan juga bisa."


"Papi ih!"


"Becanda, Sayang. Kalau gitu Papi sama Mami pulang dulu. Nanti kalau mau pulang minta diantar aja, kalau mau dijemput gak bisa soalnya Papi sibuk."


"Sibuk apa? Di kantor sibuk, di rumah juga sibuk." sindir Nessa.


"Rahasia. Kalau gitu Papi pulang dulu. Kamu baik-baik di sini."


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Selepas kepulangan Mami Papinya, kini Nessa tampak canggung melihat Winanti dan Resa. Apalagi Endi, yang sedari tadi tampak memperhatikannya.


"Kenapa, Nak? Ada yang mau ditanyakan lagi? Silahkan kalau ada." ujar Resa.


Nessa menggeleng sebagai jawaban. "Nggak ada, Pa."


"Baiklah kalau gitu. Sekarang kita siap-siap, udah mau maghrib."


Semuanya menganggukkan kepala mendengar penuturan Resa.


Kebetulan saat ini kondisi Nessa sudah membaik. Suhu badannya sudah turun, namun indra perasaan sedikit berkurang. Bahkan saat makan makanan enak pun Nessa merasakan hambar.


🌼🌼🌼


Sepertinya Papinya begitu sibuk hingga tidak sempat untuk menjemput Nessa. Jadilah sekarang gadis itu meminta untuk diantarkan pulang ke kediamannya. Siapa lagi kalau bukan Endi yang jadi sasaran. Biasanya pria itu akan menggunakan sepeda motor, namun, saat malam-malam begini alangkah baiknya menggunakan mobil. Apalagi Endi membawa gadis itu yang sudah jelas baru sembuh.


"Mau mampir?" tanya Endi menoleh ke arah Nessa sebentar.


Sebenarnya saat melewati jajanan pedagang kaki lima tadi, Nessa ingin mampir. Namun, rasanya sangat canggung untuk keduanya. Apalagi sudah jelas-jelas mereka tau kalau keduanya sudah dijodohkan saat Nessa masih berada di dalam kandungan.


Endi yang melihat gerak-gerik Nessa pun tau. Pria itu menghentikan mobilnya di bahu jalanan yang lumayan sepi.


Pria itu mengesampingkan tubuhnya hingga saat ini menghadap Nessa.


"Mau makan apa?" tanya Endi menatap Nessa lekat.


Nessa menggeleng ragu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah kaca jendela yang tertutup sempurna. Wajahnya tiba-tiba memerah entah kenapa. Tatapan itu, tatapan itu yang akhir-akhir ini sering membuatnya salah tingkah dan malu sendiri. Padahal tidak ada salah apa-apa kan?


Dan juga akhir-akhir ini yang selalu membuat Nessa salah tingkah adalah saat melihat penampilan Endi yang 180° jauh berbeda. Tiba-tiba terbesit rasa ingin tahunya.


"Pak, Nessa boleh tanya?" ujar Nessa memberanikan diri menatap gurunya.


"Mmm... jangan tersinggung ya, Pak?" ucap Nessa pelan.


"Insyaa Allah enggak."


"Gini, Pak. Soal penampilan Bapak, kenapa Bapak selalu menyamar?" anggap saja sebagai penyamaran lah ya.


Endi hanya mengangguk-angguk, mengerti arah pembicaraan Nessa.


"Kamu mau tau alasan saya?"


Nessa mengangguk.


"Tunggu saya melantunkan ayat suci Al-Quran sebagai pembuka ijab kabul kita nanti." jawab Endi disertai tatapannya yang dalam hingga membuat Nessa susah untuk mengartikannya.


"Kok gitu?" protes Nessa dengan wajahnya yang sudah memerah. Jelas ia salah tingkah, bukan tidak mengerti, namun berusaha untuk meyakinkan saja.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" tanya Endi.


Entah kenapa tiba-tiba didaa mobil tersebut hawanya sangat berbeda. Nessa pun sampai merinding dibuatnya.


"B-bukan gitu, Pak." balas Nessa tergagap.


"Mau makan apa?" tanya Endi mengalihkan pembicaraan agar Nessa nyaman di dekatnya.


"Seblak di pinggir jalan dekat halte."


Endi yang mendengar itu sontak menggelengkan kepalanya menolak.


"Yang lain?"


Nessa menghela nafasnya. Percuma bertanya kalau jawabannya saja tidak dikabulkan.


"Kamu baru sembuh, Nessa. Lupa?"


"Ya udah, sate deket kuburan aja." ujar Nessa sedikit kesal.


"Baik." balas Endi langsung menancapkan pedal gasnya. Mobil yang biasanya dipakai Papanya untuk pergi ke kantor pun melesat. Nessa tidak tau tujuannya di mana. Apa iya ke kuburan?


Feeling Nessa sangatlah tepat. Benar saja, Endi membawanya ke sebuah rumah makan sate yang letaknya tidak jauh dari area pemakaman.


"Pak, Bapak serius?" tanya Nessa terkejut.


Endi hanya mengangguk iya.


"Ayo turun!" ajak Endi yang saat itu tengah membuka sabuk pengamannya lalu membuka pintu mobil dan keluar.


Nessa yang merasa ditinggalkan langsung keluar dengan cepat. Lalu berjalan tepat di samping pria itu.


"Kok ke sini sih, Pak?" protes Nessa.


"Kan kamu bilang tadi maunya di sini. Jadi, saya turuti."


"Astaghfirullah. Saya becanda kali, Pak. Yakali kita makan di dekat kuburan." Nessa sampai dibuat geleng-geleng kepala.


"Saya serius. Sudah, ayo masuk! Jangan khawatir, tempat ini adalah langganan saya yang dijamin kualitasnya dan tentunya halal, tidak pakai campuran yang lainnya." ujar Endi menjelaskan dengan maksud lain, Nessa pun mengerti itu. Maksud Endi adalah dagangannya tidak memakai ilmu Hitam atau apapun itu. Jelas murni, tanpa ada campur tangan makhluk halus.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, eh Mas Endi. Tumben baru ke sini lagi?" sambut ibu-ibu pemilik dagangan itu.


"Iya, Bu. Akhir-akhir ini lumayan sibuk, jadi tidak sempat ke sini." jawab Endi sopan.


"Ke sini bareng siapa? Adeknya ya?" tebak wanita itu. Endi pun hanya diam, mau menjelaskan tapi takut.


Endi hanya diam sambil tersenyum menanggapi, tidak menjawab tidak ataupun iya.


Apa kabar dengan Nessa? Gadis itu tidak meladeni. Mendengar penuturan pemilik dagangan itu rasanya Nessa ingin memperjelas bahwa dirinya bukan adik Endi, gurunya itu.


"Eh! Silahkan duduk kalau gitu. Mau pesan berapa?"


Endi segera mengajak Nessa untuk duduk.


"50 tusuk aja ya, Bu? 20 tusuknya makan di sini dan sisanya bungkus. Sekalian minumnya, satu aja." ujar Endi.


"Oke kalau gitu. Tunggu sebentar ya, Mas?"


Endi hanya mengangguk.


Keduanya saling diam. Jika Nessa yang mengamati sekeliling, beda lagi dengan Endi yang tampak mengecek ponselnya karena ada beberapa pesan masuk.


"Mas Endi? Apa kabar, Mas? Ma Syaa Allah, lama gak ke sini."